Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan
Bab 29


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Arkana dan Amara semakin dekat, Arkana selalu memperhatikan Amara, menjaga dan selalu menghibur Amara yang masih sering bersedih dikala rindu dengan keluarganya yang telah tiada.


Matahari sudah menampakan dirinya tinggi hingga cahayanya menembus jendela kamar Arkana, membelai hangat tubuh Arkana yang sedang bermimpi indah memaksa untuk segera bangun dari mimpinya.


Arkana mengeliat, mengercipkan mata menyadarkan dirinya dari mimpi indah.


Ia duduk bersadar pada sandaran tempat tidur, menarik selimut menutupi kaki hingga perut.


Matanya menatap ke luar jendela kamar, membidik seseorang yang berada di luar sana.


Senyum tipis muncul dibibir tipis Arkana, matanya menyipit seakan berbicara sedang menatap cintanya.


Sedangkan yang berada di luar tidak menyadari tatapan cinta dari Arkana.


Amara menyirami tanaman setelah selesai memasak untuk sarapan.


“tch, pagi-pagi sudah menggodaku.” Arkana menyilangkan tangannya ke depan dada senyumnya tidak pudar dari bibirnya ia terus memggerutu karena melihat penampilan Amara yang sungguh menggoda pagi hari.


Arkana menyibakan selimut yang menyelimuti sebagian tubuhnya, dia turun dari tempat tidurnya. “benar-benar panas sekali.” memegang dada. “kenapa deg-degan begini? __“sial, sudah satu bulan tidak bisa berbagi keringat.” gerutu Arkana sambil memaki diri sendiri berjalan menuju kamar mandi.


Arkana tidak berani mencumbu Amara setelah terakhir kali mereka bercumbu setelah perdebatan Arkana dengan Reza.


Ucapan Amara terus terngiang saat itu.


Kamu tidak lebih dari ********, aku sedang berduka dan kamu memakanku tanpa ampun, berdebat dengan Reza dan melampiaskan amarahmu terhadapku.


Kata-kata yang membuat Arkana tidak berani berbuat kepada Amara, dan Amara menjadi canggung karena kata-katanya.


Tapi Amara mencoba bersikap seperti biasa saja seperti tidak pernah mengucapkan kata-kata laknat itu.


Walaupun terkadang saat teringat membuat dia malu dan merasa canggung.


Saat ketika Arkana sudah mencoba mendekati Amara, tiba-tiba mudurkan langkahnya karena teringat ucapan Amara.

__ADS_1


Hingga kini mereka berdua belum satu kamar.


Amara masih bersih keras meminta tidur di kamar yang terpisah, karena untuk menenangkan pikiran alasan Amara hingga kini tidak satu kamar dengan Arkana, padahal mereka baik-baik saja.


Arkana keluar kamarnya menuju meja makan, dia berpakaian sangat rapih dan semakin terlihat tampan dengan paduan warna yang basic. Kemeja warna navi tanpa jas, celana bahan hitam membuat penampilan Arkana sangat elegan walau basic.


Arkana menyisir rambutnya dengan tangan. “pagi Ra.” ucap Arkana.


“em, pagi mas.” memgembangkan senyumanya. “mas, mau kemana?”


“ada urusan di kantor.” *sruput, gluk, gluk, gluk* “ah”. Arkana minum jus yang dibuat oleh Amara.“kamu libur? _ kenapa belum siap-siap?”.


“aku masuk siang mas.” ucap Amara dengan tangan yang masih sibuk menyiapkan makan untuk Arkana dan untuknya.


Arkana menarik kursi *sret* lalu duduk. “kalo begitu ikut denganku ke kantor.”


Menyodorkan piring yang berisi nasi dan lauk pauk milik Arkana. “tapi mas, apa tidak apa-apa?” menatap Arkana nanar.


“kenapa, kamu kan istriku.” *hup* melahap makanan yang di sajikan Amara.


Mungkin nanti bakal banyak yang mencaci maki aku ketika mereka tau aku istri mas Arkana. Amara.


Setelah selesai menyantap sarapan yang disajikan Amara, mereka berdua berangkat memuju kantor Arkana.


“aku langsung meeting, kamu tunggu di ruanganku Zen akan mengantarkanmu.” mengecup kening Amara sebelum turun dari mobil.


Amara mengangguk mengerti. “tapi mas, apa aku boleh berkeliling melihat perusahaanmu?” bertanya dengan harap-harap cemas.


“tunggu aku selesai aku akan mengantarmu berkeliling.” Arkana turun dari mobil lalu memerintahkan Zen untuk mengantar Amara ke ruangannya.


Amara berjalan menuju ruangan yang cukup besar di lantai paling atas gedung ini setelah pintu lift terbuka.


Pandangan para karyawan yang berada di lantai yang sama dengan ruangan Arkana tertuju kepada Amara dengan pandangan yang penuh tanda tanya.


Amara samar-sama mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


-Siapa dia?


-Kenapa ada wanita seperti itu berjalan dengan sekertaris tuan Arkana.


-apa mungkin pacarnya.


-tidak mungkin tuan Arkana menyukai wanita seperti itu.


Amara memepercepat jalannya mengekor dibelakang Zen.


Amara masuk kedalam ruangan Arkana lalu duduk dikursi milik Arkana dan menyenderkan tubuhnya.


“sungguh gila, hanya masuk kedalam ruangan harus melewati rintangan yang bisa merusak gendang telingaku.” *fyuhh* menghembuskan nafasnya kasar. Setelah berjalan cepat dan menahan nafasnya.


Zen berpamitan untuk pergi ke ruang rapat menyusul Arkana.


Amara berkeliling melihat sekeliling ruangan, dia melihat beberapa dokumen yang berjejer tertata rapih di rak samping meja Arkana.


Pasti memyenangkan menjadi prisidir utama, tinggal duduk dan tanda tangan. Amara.


(haha tidak semudah itu tuti membangun perusahaan, yah namannya juga anak baru lulus sekolah dan baru masuk kuliah kan yah.)


**Bersambung...


Maafkan teman-teman karena akhir-akhir ini tidak update karena terhalang sinyal huhu.


Hari ini mau update banyak kalo kondisinya memungkinkan.


Karena karya ini masih ditulis dan di update langsung. Jadi harus mikir dulu hehehe


Terimakasih yang setia menunggu ku.


Aku janji walau yang baca hanya satu orang, aku tetap nulis.


Dan semoga makin banyak yang menikmati :)

__ADS_1


Selamat membaca, jangan lupa kritik dan sarannya. Dan juga like** :)


__ADS_2