
Keluarga Amara sudah sampai kediaman sahabat nenek. Amara dan Alex tertegun melihat mewahnya rumah sahabat nenek karena mereka baru pertama kali berkunjung. halaman depan rumah yang luas lampu taman yang menerangi setiap sudut, air mancur yang indah menambah kemegahan. udaranya segar karena banyak pepohonan dan juga bunga-bunga yang indah. beda sekali dengan rumah orang tua Amara yang minimalis halaman depannya pun hanya untuk garasi dan taman kecil lumayan untuk penghijauan depan rumah.
Sesampainya disana keluarga Amara disambut baik.
"Ya ampun sudah lama sekali kita tidak bertemu?" Nenek Beti memeluk nenek.
Nama sahabat nenek adalah Beti Buana. Beliau salah satu petinggi di negara ini. Perusahan-perusahan logistik, pangan, dan sandang sebagian besar beliau yang memegangnya.
Beliau orangnya ramah, baik, dan tegas.
Sama persis dengan nenek Amara.
Nenek Beti tinggal sendiri hanya ditemani oleh beberapa pelayan rumah.
"Aku sangat sangat merindukanmu, semakin tua semakin sukses saja kamu ini"Hahaha tertawa ringan, dengan membalas pelukan sahabatnya melepaskan rindu.
"Dan kamu semakin tua semakin lincah saja"hahaha. Keduanya saling melempar pujian. "Ayo ayo masuk, kita lanjutkan didalam saja." Nenek Beti mempersilahkan keluarga Amara untuk masuk ke Rumahnya yang megah itu.
Setelah selesai makan malam, mereka melanjutkan pembicaraannya. Dan sekarang menjadi lebih serius dibandingkan tadi.
Keheningan tercipta ketika nenek Beti berbicara serius.
"Bagaimana kelanjutan yang kita bahas waktu dulu?" Nenek Beti mempertanyakan rencana bersama sahabatnya dulu.
"Aku sudah membahasnya bersama cucuku, dan tentu saja cucuku yang baik akan menurutinya." menjawab penuh penegasan bahwa tidak boleh ada yang menolaknya. "Iya kan Amara sayang?" membelai kepala cucunya.
Apakah aku akan dijodohkan ? Kapan nenek meminta persetujuanku, dan tidak pernah menceritakan dengan siapa aku akan dijodohkan!. Amara
Amara masih bingung untuk menjawab, karena dia belum 100% mengerti arah pembicaraan neneknya.
"Setujukan Amara untuk nikah muda?nenek sudah ingin menimbang buyut, dan menambah erat persahabatan dengan nenekmu." Nenek Beti
"E-eh, nek Amara belum kepikiran sampai situ, Amara baru saja lulus SMA." ragu-ragu
__ADS_1
"Kan kuliah boleh walaupun sudah menikah. Jadi nenek tidak akan melarang mu untuk kuliah setelah menikah dengan cucu nenek." meyakinkan. "Pasti cucu nenek pun tidak akan melarangmu untuk kuliah."
"Tapi.."
Amara terdiam melihat ke arah ayahnya yang memberi isyarat untuk menuruti permintaan neneknya.
Diskusi tentang perjodohan pun selesai. Akhirnya Amara hanya pasrah menerima perjodohan itu, dengan syarat harus kenal terlebih dahulu dalam waktu 1bulan (waktu yang disepakati bersama, sebenarnya Amara meminta waktu 3bulan tapi nenek Beti menolaknya).
Pembicaraan yang tadi hanya dilakukan dengan ketegangan, sekarang berubah menjadi tawa bahagia.
"A-aanu nek maaf, cucu nenek siapa yah namanya, dan apakah ini orangnya?" sambil menunjuk foto yang sedang Amara lihat.
"Namanya Arkana."Nenek mengguk mengiyakan pertanyaan Amara.
Ganteng juga haha, kenapa sekarang tidak disini?. Amara
"nek pulang yuk!" Alex yang sudah mulai bosan dengan suasana yang bukan selera dia.
"wah tidak terasa sudah sangat larut malam, baiklah ayo kita pulang." Nenek
nenek Beti mengingatkan Amara agar tidak melupakan pertemuan pertaman dengan cucunya yang sudah dia atur agar mereka bertemu dan saling mengenal, lalu menikah.
Rumah Amara---
Pagi hari Amara rajin membantu ibunya di dapur, walau mereka mempunyai pelayan rumah tapi ibu Amara masih sering memasak sendiri.
"kamu tidak lupa kan nak untuk bertemu dengan cucu nenek Beti?"
"tidak bu, memang kenapa?"
"jangan telat yah, nanti nenekmu bisa-bisa marah."
"iya bu."
__ADS_1
"kamu tidak ingin ke salon dulu?"
ngapain ke salon dulu, ini kan cuma ketemu calon suami yang tak diinginkan.Amara
"ah, tidak perlu bu." tetap dengan fokus menyiapkan bumbu dapur untuk memasak.
mereka memasak sambil membicarakan sesuatu, hingga sesekali mereka tertawa dan entah menertawakan apa.
pembicaraan mereka semakin asik tak terasa masakan sudah siap dihidangkan untuk sarapan.
Selsai sarapan Amara pamit untuk bekerja part time nya yang dia lakukan jika libur sekolah untuk mengisi waktunya.
Amara Wijaya anak pertama dan mempunyai satu adik. hobiku membaca, dan aku sering menggunakan waktu liburanku untuk bekerja, dari pada harus liburan menghaburkan uang. aku baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas, maaf semuanya aku baru memperkenalkan diri hehe. Aku mempunyai wajah yang tidak terlalu cantik, tapi full manis, rambut lurus yang bervolume, kulitku sawo matang, cita citaku menjadi pembawa berita.
Dan sekarang aku menjadi barista di salah satu caffe dekat rumah.
PUKUL 2 SIANG
Jam kerja Amara habis, dia bergegas untuk pulang karena mengingat dia harus bertemu dengan cucu nenek Beti.
Amara berpamitan kepada rekannya yang lain.
Sebenarnya tempat janjian mereka tidak terlalu jauh dari tempat Amara bekerja.
Amara sudah menunggu di tempat mereka untuk bertemu.
"mas tolong buku menu nya saya mau pesan." Ucap Amara dengan melambaikan satu tanganya ke arah waiters caffe tersebut.
"silahkan mba, mau pesen apa?"
"pesen es jeruk satu, jangan terlalu manis ya mas." sambil menyodorkan buku menu kepada waiters tersebut. " Terimakasih mas." Senyum.
"baik mba, tolong ditunggu yah mba."
__ADS_1
Setelah kepergian waiters itu, sudah ada sosok tinggi tegap di depan Amara yang membuat semua mata tertuju kepadanya semua orang terpesona.
Bersambung........