Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan
Bab 23 Kepergian 2


__ADS_3

Amara dihubungi pihak bandara, karena pesawat yang keluarga Amara tumpangi mengalami kebakaran sayap, dan akhirnya pesawat itu terjatuh ke lautan.


Penumpang pesawat itu tidak ada yang selamat satu pun, karena sebelum terjatuh terjadi ledakan.


Amara dihubungi oleh pihak bandara untuk datang langsung ke lokasi kejadian.


Untuk berdoa bersama untuk para korban.


***


Arkana menyusul ke tempat lokasi kejadian bersama neneknya.


Dia berlarian kesana kemari mencari Amara, dan nenek Beti menunggu ditemani oleh Zen sekertarisnya.


Arkana menemukan Amara, walau tampak dari arah belakang Arkana sudah mulai paham dengan tubuh Amara.


Arkana berjalan cepat menuju Amara, lalu memeluknya dari belakang.


“mas Arkana?!.” dia terkejut karena pelukan Arkana yang secara tiba-tiba.


Lalu Amara membalas pelukan Arkana, dan membenamkan mukanya pada dada bidang Arkana. Amara menangis tanpa bisa ia jeda, nenek Beti menghampiri Amara dan mengusap sayang punggung Amara, Amara berbalik memeluk nenek Beti.


Matahari sudah membenamkan dirinya, kini terang berganti petang.


Amara yang sedari tadi tidak mau makan, minum, mau pun pulang, dibujuk oleh Arkana dan Akhirnya mereka pulang.


Selama didalam mobil Amara terdiam dan hanya memandangi keluar jendela.


Sesekali Arkana melihat Amara mengusap matanya, Amara masih menangis tanpa suara.


“sudah jangan menangis lagi.” Arkana menghentikan mobilnya di depan rumah makan. “kita makan dulu ya, kamu dari tadi belum makan kan?” Arkana melepaskan seat belt Amara.


“mas, aku sekarang hanya sendirian.” Air matanya terjatuh kembali. “aku tidak punya siapa-siapa sekarang.” hiks hiks hiks Amara menangis.


“tidak, kamu tidak sendiri ada Aku yang akan selalu ada untuk kamu.” Arkana memeluk dan mengusap sayang kepala Amara.


“Apa mas Arkana akan menyayangiku?” hiks hiks hiks...


“hemmm...” mengangguk dan mengela nafas.


Mereka turun menuju rumah makan, dan makan terlebih dahulu sebelum pulang.


Amara terlihat sangat sedih, dan sesekali setelah melahap makananya Amara tiba-tiba menangis lagi.

__ADS_1


Arkana mencoba untuk menenangkan Amara. Pasti tak mudah bagi Amara karena kehilangan keluarga yang ia sayangi secara bersamaan.


Setelah selesai Arkana mengajak Amara untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Amara langsung masuk dan menuju ke kamarnya.


Dia berbaring di tempat tidur.


Amara kembali menangis lagi.


“kenapa Tuhan, kenapa harus bersamaan kau ambil mereka.” hiks hiks hiks Amara menangis, dia menutupi mukanya dengan kedua tangan.


“lalu bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku?” hiks hiks hiks tangisanya semakin menjadi, Amara meringkuk memeluk bantal guling.


Arkana yang mendengar suara tangisan Amara dia melangkah pelan menuju kekamar Amara, dia melihat dari cela pintu yang tidak tertutup rapat.


Arkana memegang gagang pintu hendak masuk kedalam kamar Amara untuk menenangkanya, tapi dia mengurungkan niatnya saat hp Amara berbunyi.


Amara menjawab panggilan masuknya, panggilan dari sahabatnya.


Amara kembali menangis, saat menceritakan semuanya.


Sahabatnya baru tahu, lantaran Amara tidak bercerita tentang keluarganya yang akan pergi ke kampung halaman neneknya.


Reza : “Ada aku dan Nita Ra, jangan sedih.”


Kita selalu ada untukmu, kamu sudah makan?”


“hemmm...” hiks hiks hiks tangisan Amara semakin menjadi.


Reza : “aku akan kerumahmu sekarang.”


Amara tidak menjawab Reza, dan Reza pun tanpa bertanya lagi langsung mematikan sambungan panggilanya.


Amara tertidur setelah terputusnya sambungan telponnya dengan Reza.


***


(Reza)


45menit berlalu, Reza sudah berada di halaman rumah Amara.


Rumah Amara tampak sepi tidak berpenghuni.

__ADS_1


Reza beberapa kali melakukan panggilan tapi tidak dijawab oleh Amara.


Ini yang ke 6x nya Reza melakukan panggilan, dan diangkat oleh Amara.


“Ara, aku sudah didepan rumahmu, tapi rumahmu tampak kosong.” ucap Reza.


Amara : “astaga... Za aku berada dirumah mas Arkana, aku akan mengirimkan alamatnya.”


“oke, aku akan segera kesana.” ucap Reza.


Setelah mematikan panggilan telvonnya dengan Amara, hp Reza berdering pertanda pesan masuk.


Reza membaca alamat yang diberi Amara, lalu Reza memasukan hpnya kedalam saku jaket levisnya, dia menggunakan helem, dan menyalakan motornya lalu melajukan dengan kecepatan full.


Ia Reza sangat mencemaskan Amara, tidak dipungkiri walau sekarang sudah menjadi sahabat Amara, tapi rasa sayang dan cintanya terhadap Amara tidak pernah luntur sedikit pun.


Reza memecah jalanan malam yang ramai.


Dia terlihat sangat cemas dan mengkhawatirkan Amara.


Hingga lupa mengabari Nita sahabatnya.


Cukup jauh rumah Arkana dari rumah Amara, 1jam perjalanan dengan menggunakan motor, Reza sudah sampai di rumah Arkana, dia menghentikan motornya, melepaskan helem yang ia kenakan turun dari motor dan memencet bel yang berada didekat pintu gerbang.


Didepan memang dijaga oleh satpam, Reza dibukakan pintu oleh satpam yang berjaga di rumah Arkana.


Dia membawa masuk motornya, lalu ia berjalan menuju pintu, ketika hendak mengetuk pintu Arkana telah membuka pintu itu terlebih dahulu.


“kak, Amara mana?” ucap Reza.


“ada apa?” tanya Arkana seraya menyilangkan tangan kedepan dada.


“aku khawatir dengan dia, sekarang dia sedang berduka.”


“aku tau, tenang saja ada aku disini.”


“tapi...” belum selesai berbicara.


“Za...” teriak Amara dari dalam.


Reza mendongakan kepalanya mengedarkan pandangannya ke dalam rumah mencari sumber suara yang memanggil namanya.


“Ara, kamu baik-baik saja kan.” membalas pelukan Amara yang tadi tiba-tiba memeluk dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2