Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan
Bab 30 Teringat


__ADS_3

Amara membaca berkas yang berada di dalam maps yang ada di atas meja Arkana.


20 menit telah berlalu, Amara sudah sangat bosan, selama 20 menit itu dia sudah melakukan berbagai hal di ruangan itu.


Amara meletakan hp yang sedari tadi menemaninya menunggu Arkana selesai meeting.


Amara bertopang dagu. “lama-lama sesak juga duduk disini.” *huuuuh* menghebuskan nafas kasar.


“lebih baik aku keliling perusahan, siapa tahu ketemu cafetaria kan bisa ngisi perut sekalian.” Amara beranjak dari tempat duduk.


Amara melangkah keluar ruangan, karyawan yang berada di lantai itu beberapa sedang mengikuti meeting.


Jadi tidak terlalu ada yang memperhatikan Amara keluar dari ruangan Arkana.


Amara berjalan turun dari lantai satu ke lantai berikutnya menggunakan tangga darurat.


Amara memilih tangga darurat dari pada lift karena agar bisa menikmati pemandangan di luar perusahan Arkana.


Amara tanpa sadar sudah berada di lantai dasar, dia berjalan keluar menuju taman yang menyejukan, menyegarkan, dan menghilangkan penat.


Interior dan desain perusahan Arkana memang bisa membuat orang yang tadinya lelah bisa seketika menghilang rasa lelahnya.


Amara duduk di kursi yang sudah tersedia di taman. Dia membuka kaleng soda yang ia beli tadi di kotak Blue Mart.


Amara menikmati udara yang menghembus mengusap lembut wajah Amara, berhembus menyusup sela-sela rambut Amara yang tergerai.


Daun-daun kering berjatuhan tertiup angin, matahari sudah sangat terik, tapi panasnya tidak sampai membakar kulit Amara, karena cuaca disana terasa dingin jadi sinar mataharinya menghangatkan.


25 menit Amara duduk menikmati suasana taman perusahan Arkana ditemani sekaleng soda.


Tiba-tiba_ *buk* Arkana tiduran di atas paha Amara.*ahhhh* “nyamanya.”

__ADS_1


“mas malu di lihatin orang.” mendorong tubuh Arkana agar menjauh darinya.


Arkana memejamkan matanya. “biarkan aku tidur 10 menit saja, aku lelah.”


Amara hanya menatap wajah Arkana yang semakin tampan dilihatnya saat sedang memejamkan matanya tanpa tingkah yang sanggat dingin.


Saat di rasa Arkana sudah tertidur lelap Amara menyentuh wajah Arkana dengan ujung jari telunjuk, ia menyusuri membelai lembut dari dahi hingga dagu.


Ayah, ibu, nenek, Alex, aku rindu kalian. Nenek terimakasih telah mempertemukan ku dengan mas Arkana aku akan mencoba yang terbaik.Amara.


Pandangan Amara teralihkan tertuju ke pena yang berada di saku kemeja Arkana.


Dia mempunyai ide untuk menjahili Arkana, Amara menggambar di wajah Arkana dengan pena itu.


Amara menahan tawanya karena ulahnya yang menjahili Arkana.


Arkana terbangun langsung duduk disamping Amara.


Amara kali ini tidak bisa menahan tawanya, Arkana yang melihat Amara tertawa merasa bingung.


Alih-alih menjawab pertanyaan Arkana, Amara malah semakin kencang tertawanya melihat hasil karyanya yang berada di wajah Arkana.


“apa aku harus tertidur dipangkuanmu lagi agar kamu bisa tertawa seperti ini?”


Amara menggerakan tangannya kearah Arkana menandakan *tidak*.


Arkana terlihat sangat bingung karena ulah Amara yang tertawa begitu lepasnya yang dia tidak tahu sebabnya.


Tawa Amara berubah menjadi tangisan, Amara menunduk menutup mukanya dengan kedua tangannya.


Arkana menjadi panik dan khawatir, dia berusaha menenangkan Amara, mengusap sayang punggung Amara. “sudah jangan bersedih.” memegang kepala Amara dan menyenderkan dibahunya.

__ADS_1


Amara menangis di bahu Arkana, Arkana membiarkan Amara meluapkan segala rasanya.


Arkana menepuk bahu Amara pelan, sesekali mencium lembut kepala Amara.


Lalu ia menengadah melihat ke langit.


Aku tidak akan pernah membiarkanmu bersedih bahkan mengeluarkan air matamu lagi. Arkana.


***


Mereka kembali ke ruangan Arkana, Arkana sudah menyadari apa yang membuat Amara tertawa lepas tadi.


Arkana mendengus kesal *huh*. Mimik muka Arkana berubah setelah mengetahui ia dikerjai oleh Amara, dia berjalan dan membiarkan Amara berdiri di depan pintu tanpa menyuruh duduk menunggu, Arkana pergi ke tolilet untuk membersihkan wajahnya dari hasil karya Amara.


Arkana keluar dari toilet. “apa kamu sangat senang membuat malu suamimu di depan orang banyak?” mengeringkan muka dengan tisu.


“maafkan aku.” menunduk dan menahan tawanya.


Arkana duduk di atas meja kerjanya. “duduk!” Arkana menunjuk sofa.


Amara berjalan tertunduk, dia duduk di sofa sesuai perintah Arkana.


Karena tidak mau membuat Arkana lebih marah lagi.


Arkana melangkah menghampiri Amara, dia duduk di meja tepat di depan Amara.


Arkana mengunci kaki Amara dengan kakinya agar Amara tidak bisa kabur dari hadapanya.


Arkana menyilangkan kedua tanganya di depan dada. “saat kamu tertawa rasanya aku ingin menciummu tadi.” *tch*


Amara membelalakan matanya dan sepontan menutupi mulutnya, kakinya terus di goyangkan ke kiri dan ke kanan berharap bisa lepas dari himpitan kaki Arkana.

__ADS_1


“kenapa?” tanya Arkana. “mau teriak?” mendekatkan wajahnya ke wajah Amara. “ruanganya kedap suara.” *cup* mengecup bibir Amara lalu menyeringai.


Bersambung...


__ADS_2