
Arkana menciumi Amara di seluruh wajah Amara, dari pipi, dahi, dagu, hidung, mata dan bibir.
Dia terus mengulang-ulang mendaratkan ciumanya di seluruh bagian wajah Amara.
“yahhhh, stop mas udah, udah! .” Amara mendorong dada bidang Arkana menjauh dari hadapannya.
Arkana memegang tangan Amara yang berada di dadanya, tersenyum dan menatap dengan tatapan yang seakan-akan ingin menerkam mangsanya.
“apanya yang lucu, kenapa tersenyum?” Amara memandangi diri sendiri.
Apa ada yang aneh denganku? Batin Amara.
“tcih, kamu memang aneh kan?” Arkana melepaskan genggamanya, lalu berdiri berjalan menuju pintu.
Amara mengerutkan dahinya. “apa mas Arkana bisa mendengar suara hatiku?” tanyanya dengan muka polos.
Arkana balik badan lalu tersenyum tipis dan mengakat satu alisnya. “hemmm...” Arkana membuka pintu. “kamu betah disini?”
Amara bangkit dari duduknya, dia sedikit berlari menghampiri Arkana.
Amara memegang lengan kiri Arkana dan menyembunyikan mukannya di balik lengan Arkana. “apakah aman jika kita keluar sekarang?” tanya Amara sambil mengintip ke luar ruangan.
Arkana tersenyum, matanya berbinar melihat tingkah Amara yang sedang khawatir itu terlihat menggemaskan bagi Arkana, tangan kananya mengusap pucuk kepala Amara.
“teruslah bersembunyi di sini sampai kita sampai di parkiran.”
Amara menuruti kata Arkana, pada kenyataanya semua karyawan sedang istirahat makan siang, jadi tidak ada satu pun karyawan yang di sana kecuali OB(Office Boy) yang sedang membersihkan tempat kerja masing- masing karyawan.
Sesampainya di basement Amara benar - benar baru membuka matanya dan keluar dari persembunyianya.
Arkana terkekeh karena berhasil menjahili balik istri kecilnya.
“fyuuuhhh” Amara membetulkan rambutnya yang berantakan karena terus menyembunyikan mukanya di balik lengan Arkana. “aku tidak akan kesini lagi, tantangannya begitu berat!” masuk kedalam mobil.
Arkana menyunggingkan senyumannya, dia hanya melihat tingkah polos istri kecilnya yang menggemaskan baginya. Dia terus mengamati Amara saat berjalan masuk ke dalam mobil, matanya begitu bersinar setiap orang yang melihat Arkana pasti tau itu tatapan penuh cinta.
Amara mengeluarkan kepalanya dari balik jendela mobil. “Mas!”
__ADS_1
Suara Amara menyadarkan Arkana yang sedari tadi melihatnya tanpa berkedip.
Arkana lalu masuk kedalam dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota.
“mas sampai depan kampus saja ia.”
“kenapa?” tanpa memandang Amara.
“aku masih tidak enak dengan kak Gita.” berbicara dengan nada sendu khawatir.
“baiklah.”
Arkana menghentikan mobilnya sedikit jauh dari depan kampus Amara, dia tidak ingin Amara terlalu menghawatikan sesuatu.
Sebenarnya sekarang sudah tidak masalah lagi bagi Arkana jika harus mengakui Amara sebagai istrinya di depan Gita mantan kekasihnya. Toh, Gita menghianatinya terlebih dahulu.
Padahal sama saja sih hahaha.
Amara hendak memegang hendel pintu, tapi tertahan oleh suara Arkana. “stop!”
Amara memalingkan badanya menghadap Arkana. “ada apa?”
“tapikan aku juga sudah menemani mas Arkana di kantor!” serunya tidak mau kalah.
“itukan kemauan mu sendiri.” mendekatkan wajahnya ke wajah Amara.
Wajah Amara memerah memanas, menelan ludah dengan susah payah. Amara memundurkan badanya dengan pangkuan kedua tangannya menyangga tubuhnya agar tidak terjatuh kebelakang. “a-a-apa ibalannya?” dengan terbata-bata Amara menjawab.
Arkana menujuk bibirnya dengan jari telunjukna, di ikuti dengan senyum kemenangan.
“pipi saja ya?” ucap Amara dengan nada mengharap iba dari Arkana ada keringanan.
Arkana mengkat satu alisnya, dan memundurkan wajahnya dari wajah Amara, dia duduk dengan normal. “baiklah.”
*Cup* Arkana membalikan wajahnya saat Amara akan mencium pipi Arkana, alhasil Amara mengecup bibir Arkana.
“yahh.... Kenapa berbalik!” dengan wajah yang memerah karena menahan malu takut ada yang melihatnya.
__ADS_1
Arkana tersenyum dengan mata yang berbinar penuh kemenangan. “lama!” jawab singkat Arkana.
Amara keluar dari dalam mobil dengan raut wajah malu dan pipi yang sangat merah.
Amara berbalik, berjalan mundur dan melambaikan tangan ke arah Arkana, dengan senyum yang sangat manis.
Amara pergi masuk ke dalam halaman kampus.
Di berjalan menuju kantin, karena Nita dan Reza sudah menunggunya di sana.
Ketika hampir sampai di kantin Amara berpapasan dengan Gita yang sedang berjalan dengan teman-temannya.
Amara menyapa Gita dengan senyum dan menundukan kepalannya.
Gita membalas sapaan Amara.
Amara harap-harap cemas kalau-kalau Gita sadar akan dirinya, dan untungnya Gita waktu itu tidak mengetahu kalo Arkana bersama Amara.
Amara sudah berkumpul dengan Nita dan Reza tapi matanya tetap masih mengawasi Gita yang menghampiri laki-laki dan menggandeng mesra.
“mau minum?” tawar Reza.
“e, eh mineral Za.”
“liat apa sih?” tanya Nita dan ikut melihat ke arah yang sedang Amara lihat tapi dia tidak menemukan apa-apa.
Amara menutup mata Nita dengan telapak tangannya. Lalu mereka berbincang-bincang sebelum masuk ke kelas mereka.
Setelah selesai kelas, Amara pulang menggunakan taxsi.
“ah, lelahnya.” merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk miliknya.
Setelah beberapa menit melepas lelahnya Amara pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari debu-debu yang menempel di badanya.
Amara memegang gagang pintu, tiba-tiba.
BUGH!
__ADS_1
Arkana memeluk Amara dari belakang. “jam berapa ini?” tanyanya.
Bersambung....