Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan
Bab 26 peningkatan


__ADS_3

Muka Amara begitu memerah dan merasa susah menelan mi yang berada di dalam mulutnya.


*tuk* Arkana menyentil dahi Amara. “bernafas bodoh!”


Amara menghela nafas dan menelan sekaligus makanan yang ada di mulutnya.


Amara mengusap bibirnya. “apa-apaan sih mas, kalo aku kesedak gimana?”


“aku tolongin.”


Kenapa jantungku berdetak kencang.Amara.


Amara mendengus kesal, lalu meraih gelas yang ada disamping meminum dengan rakus untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang ujarnya.


Kenapa melihat dia minum seperti itu aku semakin panas. Arkana.


Arkana terus melihat leher Amara, rambut yang di cempol memperlihatkan setiap garis leher Amara yang begitu menggoda.


“aku jadi ikut haus melihat kamu minum seperti itu.”


Amara berhenti minum, menaruh gelas dengan gugup hingga mengeluarkan bunyi*grumpang*.


Arkana melihat tingkah Amara yang gugup membuat dia menjadi terkekeh sendiri.


Amara menatap Arkana kesal. “puas ngetwainnya?” tanya Amara.


“belum.” masih tersenyum. “kamu tidak mau mengambilkan aku minum, aku haus.” ucap Arkana.


“Ambil sendiri!”Amara memundurkan kursi yang ia duduki lalu berdiri.


Ketika hendak melangkah pergi tangan Amara di tahan oleh Arkana, lalu menariknya membawa tubuh Amara pada pelukanya lalu mengecup singkat bibir Amara.


“aku bilang, aku haus.”


Amara terkejut, Amara menatap Arkana. “tinggal ambil mas, apa susahnya?”


“eeeeem...” Arkana menggelengkan kepalanya. “aku menginginkan yang disini.” ******* bibir Amara.


Amara lagi-lagi terdiam karena terkejut hingga lupa bernafas, dan lagi-lagi disadarkan oleh Arkana.


“kali ini mungkin kamu sudah membuatku jatuh cinta.” ucap Arkana lalu kembli mencium bibir Amara.

__ADS_1


Amara hanya mengangguk mendengar ucapan Arkana. Saking terkejutnya Amara tidak bisa berkata-kata dan Amara mulai menikmati suasananya.


Walau ini pertama kali bagi Amara dan Arkana, tapi naluri mereka bisa mengimbangi satu sama lain.


*uhukk*hahaha aku sok tau nih nulisnya.


Biarlah!! Semoga kalian menikmati tulisanku 😚😊


Arkana membawa Amara ke dalam kamarnya, dengan keadaan bibir masih menempel satu sama lain.


Arkana seperti tidak rela untuk melepaskan ciumanya pada bibir Amara yang terasa manis baginya.


Arkana mendudukan Amara di ujung tempat tidur, Arkana menggiring Amara agar merebahkan badannya tapi Amara menolak.


“kenapa?”


“a, a, anu emm aku mau ke kamar mandi dulu.” ucap Amara terbata-bata.


Arkana tidak memberi jawaban. Tetapi dia mendaratkan ciumanya kembali dibibir Amara lalu menelusuri ke daun telinga Amara seraya berbisik. “aku sudah tidak kuat menahanya.”


“aaaa...!” Amara berteriak kaget dengan apa yang didengarnya dan mendorong tubuh Arkana agar menjauh dari tubuhnya.


“aku tau, tapi mas Arkana saja masih punya pacar, dan kita hanya sepasang pasturi tanpa cinta.” ucap Amara.


“dan katamu kamu tidak peduli dengan itu?” balas Arkana.


Bagaimana laki-laki ini bisa seperti ini dihari aku kehilangan keluargaku?. Amara.


“aku laki-laki normal!” Arkana berbisik. “salahmu sendiri kamu menggodaku tadi.”


Arkana sudah tidak bisa menahan hasratnya, dia ******* bibir Amara dengan sangat rakus, menciumi satu persatu hidung dan mata Amara.


“malam ini, kamu milikku.” berbisik.


“mas Arkana!__” menahan tangan Arkana yang hendak menyusup masuk ke dalam baju tidur Amara.


Arkana hanya menatap tajam Amara.


“emmm__ aku malu, tolong matikan lampunya.” Amara berkata dengan gugup.


Namun Arkana tidak menghiraukan perkataan Amara, dia sudah sangat sangat tidak bisa menahanya.

__ADS_1


Ternyata laki-laki yang selalu menolak untuk di sentuh. Bisa luluh dan tergoda hanya dengan melihat Amara meneguk air minum.


Malam semakin larut, mereka bermandian keringat.


Arkana yang baru pertama kali melakukannya tidak terlalu kesulitan dengan situasi seperti itu, mungkin karena nalurinya.


dia pun berbuat dengan sangat halus hingga Amara pun tidak dibuat mengerang kencang karena kesakitan Amara dibuat senyaman mungkin.


Permainan ranjang mereka pun telah usai setelah 1jam berlalu.


Amara meringkuk ke dada bidang milik Arkana.


Aroma parfum Arkana sangat menenagkan walau sudah tercampur keringat, Amara terlelap dalam pelukan Arkana.


***


Arkana membuka mata perlahan dan mengerjapkan matanya menyadarkan diri.


Dia melihat ke sisi sampingnya ternyata Amara sudah terlebih dahulu bangun.


Arkana menyandarkan tubuhnya disandaran tempat tidur, dia tersenyum mengusap-usap tengkuknya mengingat kejadian semalam.


Arkana mengedarkan pandangan ke tempat tidur miliknya, melihat adegan ulang yang ia lakukan dengan Amara.


Tiba-tiba Arkana terdiam, senyumnya pun menghilang dari bibirnya raut wajahnya berubah menjadi raut wajah yang bersalah.


Arkana mengacak-acak rambutnya. “bodohnya aku!” memaki diri sendiri. “bagaimana bisa aku melakukan itu disaat dia sedang berduka.”


“argggahhh___!!”Arkana berteriak.


Arkana turun dari tempat tidurnya, melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari keringat yang menempel.


Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian Arkana keluar kamar.


Dia mencari-cari keberadaan Amara disekeliling rumah namun tidak menemukanya.


Arkana menuju ke kamar Amara, dia membuka pintu dan mengedarkan pandangannya kesegala sudut ruangan tapi tidak ada juga.


Saat Arkana hendak menutup pintu kamar Amara dia mendengar suara erangan kecil dari dalam kamar mandi Amara.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2