
Hari ini adalah hari terakhir berlibur ketiga sahabat ini.
mereka sedang bersiap-siap pergi ke bandara, penerbanganya sore hari dan mereka tidak ingin telat lagi seperti saat keberangkatan mereka ke kota ini.
Nita yang tadinya membawa koper cuma satu, sekarang harus menambah koper karena kalap berbelanjanya.
Amara telah selesai memecking miliknya sendiri, dia membantu Nita yang bawaanya bertambah satu kali lipat dari sebelumnya.
“beli apa saja sih kamu nit?” mengkat satu - satu barang milik Nita. “sampai harus beli koper lagi!” geleng-geleng karena heran terhadap sahabatnya yang doyan banget belanja.
“banyak macam, dan kalo pun aku kasih tau kamu ngga akan bayarin kan?” jawab Nita.
“Ogah, mending buat makan!” menjulurkan lidahnya ke arah Nita mengejek.
“dasar tomboy, ngga punya selera fashion yang bagus.” melirik dan memandangi Amara dari ujung rambut hingga ujung kaki. “itu, itu mulu yang kamu pake!”
“suka-suka donk.” dengan tangan yang cekatan menata barang - barang milik Nita.
“kamu tu cantik sebenarnya, tapi kalo dandananya begitu siapa yang mau coba sama kamu?” tertawa mengejek dan menyilangkan tangannya didepan dada.
“banyak yang ngantri gini-gini juga.”
“heleh, mimpi”.melengos memandang ke arah lain“buruan ah, nanti kita telat nih.”
Setelah selesai mengemasi barang-barang, mereka bertiga menuju ke bandara.
waktunya pas sekali, dan nama mereka tidak perlu dipanggil oleh petugas bandara.
Mereka menaiki pesawat, diperjalanan pulang mereka hanya tidur. tanpa disadari waktu 1,5 jam sudah terlewati.
mereka sampai di kota tercinta, mereka dijemput oleh sopir Reza.
Diperjalanan pulang ke rumah pun mereka hanya diam dan sesekali bercerita tentang kejadian saat mereka berlibur.
mereka terlalu lelah mungkin.
Reza mengantar terlebih dahulu Amara, karena rumah Nita dan Reza satu komplek, dan rumah Amara lebih dekat dari bandara.
“Akhirnya kita sampai juga.” Amara menggeliat setelah keluar dari mobil.
“aku langsung pulang yah ra.” Reza berpamitan, setelah selesai menurunkan koper milik Amara dari bagasi mobilnya.
“aku juga langsung ya.” Nita membuka kaca jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya melihat ke arah Amara dan Reza.
__ADS_1
“terimakasih Za.” Amara menepuk punggu Reza dan tersenyum.“kalian berdua hati-hati dijalan ya.” melambaikan tangan.
Setelah kepergian Nita dan Reza, Amara masuk ke rumah.
ternyata nenek Beti dan Arkana berada di rumah Amara.
“loh, ada nenek Beti.” Amara terkejut, lalu menghampiri nenek Beti bersalaman.
Pantesan, aku kira mobil mewah milik siapa yang terparkir di jalan depan rumah.
taunya si Tuan Es Batu. Amara.
Tidak hanya dengan nenek Beti Amara bersalaman. Ibu, Ayah, dan Neneknya Amara memberi salam. Amara adalah gadis yang sopan, walau tomboy.
“iya, baru saja sampai.” mengusap sayang punggung Amara, yang duduk disampingnya. “bagaimana liburanya?”
“seru nek, kan bareng sama kedua sahabat Amara nek.” Amara tersenyum.
Amara menceritakan apa yang ia lakukan saat berlibur, mereka semua mendengarkan apa yang di ceritakan oleh Amara.
mereka tertawa mendengar kejadian lucu yang Amara ceritakan.
“lalu bagaimana pertemuan dengan Arkana?” tanya nenek Beti.
Apa yang mau di ceritakan, masa mau bilang kalo tuan Es batu ini merencanakan sesuatu untuk membatalkan perjodohan ini ! Amara.
Awas saja sampai bilang kalo aku mau menggagalkan perjodohan ini. Arkana
Arkana menatap tajam Amara, dan Amara membalas tatapan tajam Arkana.
Amara seperti bisa mengartikan tatapan tajam milik Arkana, ia lalu mengarang cerita dan dibuat sebahagia mungkin karena bertemu Arkana.
Arkana masih menatap Amara sekarang tatapannya melemah, dan tercetak garis melengkung samar di bibirnya.
Bagus juga gadis bodoh ini mengarang ceritanya.Arkana.
“maaf, boleh kah saya mengajak Amara keluar sebentar?” tanya Arkana tiba-tiba saat keheningan tercipta.
“oh iya silahkan nak Arkana.” jawab ibu Amara serya tersenyum.
“terimakasih.” tersenyum.
Arkana berdiri melangkahkan kakinya dan menarik tangan Amara yang masih shok karena Arkana yang tiba-tiba mengajaknya keluar.
__ADS_1
Bisa sopan juga tuan Es Batu.Amara.
“mau kemana ?” tanya Amara yang mengekor di belakang Arkana.
“jangan banyak bicara.”
mereka berdua masuk kedalam mobil milik Arkana. Arkana melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dalam perjalanan hanya Amara yang bersuara tidak berhenti menanyakan mau dibawa kemana dia sebenarnya.
10 menit perjalanan mobil itu berhenti di parkiran taman kota.
Arkana turun dari mobil, disusul oleh Amara.
“kenapa kesini ?” berlari kecil mengikuti langkah besar Arkana.
“Aku bosan di rumah mu!” Duduk di kursi taman.
“lagian kenapa mau kerumah ?” berdiri di depan Arkana. “bukannya kemarin di kota QQ sama pacar kamu ?”
Arkana menarik tangan Amara, agar Amara duduk di sampingnya.
“sakit !” mendengus kesal. “tinggal nyuruh duduk kan bisa, kenapa harus narik-narik tangan sih!.
“kelamaan!” melipat tangan di dadanya.“kamu menghalangi pemandangan.”
Mereka diam.
Arkana memejamkan matanya dan menikmati udara di taman ini.
Amara sesekali melirik menatap wajah Arkana yang sangat tampan.
Maha karya sang pencipta yang terukir sangat rapih, indah untuk dipandang.Amara.
“sadar Amara!.” menampar pipinya sendiri.
“kenapa?” Arkana membuka matanya.“tidak pernah melihat orang yang gantengnya kaya aku ?” menyunggingkan ujung bibirnya.
“hah?” melongo.“dasar makhluk dingin yang PeDe nya selangit.”
Arkana tertawa, lalu memejamkan matanya kembali.
“bangunkan aku setelah 10 menit, dan kamu aku perbolehkan memandang wajahku sampai puas.” tersenyum menggoda.
Bersambung....
__ADS_1