
Pukul 06.10 pagi hari.
“apa-apaan ini kenapa tidak ada bahan makanan sama sekali!” membuka kulkas. “cuma ada telur” mengambil telur, mengamati dua butir telur yang ada di tangan kanan dan kiri.
Masak apa ini hanya dua butir telur?. Amara.
Amara mengupas buah setelah menggoreng telur untuk sarapan.
Dua butir telur yang tadi akhirnya hanya di goreng ceplok, karena tidak ada bahan lainnya lagi.
Selesai memasak Amara hendak membangunkan Arkana, tapi langkahnya terhenti ketika ia sadar bahwa dia tidak tau di ruangan yang mana Arkana tidur.
Amara hendak melanjutkan langkah kakinya untuk mencari Arkana dengan cara mengetuk satu persatu ruangan yang ada di rumah ini.
Belum sempat Amara melangkahkan kakinya Arkana sudah muncul dari balik pintu samping kamar yang Amara tempati.
“pagi mas Arkana.” menebarkan senyum manisnya.
Arkana hanya memandang Amara sekilas lalu memalingkan lagi pandanganya, dan fokus memasang jam tangan di tangan kirinya sambil berjalan menuju pintu depan.
“loh mas Arkana!” mengejar Arkana. “isih sarapan dulu.” berhenti didepan Arkana.
“tidak perlu.” mendorong tubuh Amara ke samping. “minggir aku telat.”
“mas Arkana tunggu, aku nebeng yah.” memasang muka imutnya.”
“tidak.”melanjutkan jalannya.
Amara berlari mengambil tas dan buah yang telah ia kupas, lalu menyusul Arkana menuju garasi.
“aku ikut.” Amara masuk ke dalam mobil.
“turun!” Arkana melototi Amara.
“tidak mau!” memakan buah.
Arkana menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
Lalu ia membiarkan Amara ikut dalam mobilnya, sebenarnya ini terlalu pagi untuk Arkana pergi ke kantor. Tapi dia sudah berjanji untuk menjemput Gita.
“mau kemana?” tanya Arkana tanpa memalingkan pandanganya dari jalanan di depan.
“kampus.”
Arkana kembali diam tidak bertanya lagi, keheningan tercipta di antara mereka.
Amara mengeluarkan hp dan berselancar di media sosial miliknya untuk mengurangi rasa mistis dekat dengan Arkana. Hahaha.
“mas Arkana, boleh ngga kalo aku tiba-tiba suka sama mas Arkana.” menaruh hp ke dalam tasnya lalu menghadap Arkana yang ada di kursi samping.
Arkana tersedak ludahnya sendiri, tidak percaya dengan ucapan gadis yang sekarang menjadi istrinya.
“mas Arkana tidak perlu khawatir, aku tau kok mas Arkana sangat sayang sama pacar mas Arkana.” melipat tangan ke depan dada.
“itu tau.”
“ngga ada salahnya untuk mencoba, lagian mas Arkana kan sekarang suami aku. Kalo mas Arkana terlahir untukku, pacar mas Arkana bisa apa.”Amara tertawa karena tidak percaya dengan apa yang diucapkannya sendiri.
Arkana mengerem mendadak mobilnya, berhenti di depan gedung apartemen milik Gita.
“loh, kok berhenti disini?”
“pindah kebelakang.” membukakan pintu.
“tidak mau, aku kan istrimu!” mempertahankan tempat duduknya.
“cepat!” menarik tangan Amara keluar.
“baik, baik tidak udah kasar, aku bisa sendiri.” mengibaskan tangan yang di genggam Arkana. “aku akan bilang ke pacar mas Arkana kalo kita sudah menikah.” menjulurkan lidahnya dan keluar lalu pindah ke tempat duduk belakang.
“awas saja kalau kau berani, akan ku buat kamu janda hari ini juga!” berjalan meninggalkan Amara, menjemput Gita yang sudah menunggu di pintu depan Apartemen.
“tidak ada ruginya juga jadi janda, lagian mahkotaku masih utuh.” gerutu Amara.
Amara memandangi punggung Arkana yang sedang berjalan menyusul kekasihnya, ada perasaan marah dalam diri Amara melihat Arkana berjalan menjemput kekasihnya.
__ADS_1
“hmmm.... Aku seperti pelakor di antara mereka.” gerutu Amara.
Arkana masuk kedalam mobil di barengi dengan Gita. Gita yang belum sadar ada Amara di bangku penumpang bersikap manja kepada Arkana minta di pasangkan seat belt.
“ekheeemmmmm!” Amara berdehem. “halo, ada anak di bawah umur di sini.” menyilangkan tangan di depan dada.
“siapa kamu?” Gita menatap sinis Amara.
“perke...” Amara mengulurkan tangannya.
“dia adik tiriku.” sambar Arkana. Lalu melototi Amara.
“oh... Aku Gita adek manis, pacar kakamu.” menebarkan senyumanya.
“hati-hati dengan kakaku, dia manusia es batu.” Amara tertawa.
Gita membalas tawa Amara kecut. Arkana hanya diam dan mengamati Amara lewat kaca sepion. Arkana menatap tajam ke arah Amara.
Amara yang tersadar di tatap tajam oleh Arkana langsung membungkam mulutnya sendiri dengan ke dua telapak tangannya.
“ayo sayang jalan, aku harus mengajar mahasiswa baru untuk MOS hari ini.” mengelus sayang pundak Arkana.
Arkana melajukan mobilnya, membelah jalanan kota, jalanan masih sedikit renggang.
Gita dan Arkana berbincang-bincang asik, sedangkan Amara yang merasa dirinya pelakor diantara mereka hanya bisa pasrah mendengarkan percakapan mereka.
Gita yang bercerita akan cita-citanya menjadi penyayi go internasional, dan Arkana menjadi pendengar yang baik serta mensurpot kekasihnya itu.
Sebenarnya Arkana sudah menaruh rasa tidak suka kepada Gita. Tapi itu semua tertutup rasa sayangnya untuk Gita.
Mulai saat ini Arkana tidak lagi menyuruh sekertarisnya untuk memata-matai Gita.
Arkana berpikiran, jika Gita benar-benar selingkuh dia pun sama seperti Gita.
Arkana yang terlalu cinta dengan Gita, hingga menutup telinganya tidak mendengarkan penjelasan sekertarisnya yang telah memata-matai Gita.
Bersambung....
__ADS_1