Cinta Di Venesia

Cinta Di Venesia
"Satu Tanda Tanya"


__ADS_3

Clara masih asyik membolak balik album foto, disana ada dirinya bersama Herlambang, ketua Mapala yang menjadi incaran mahasiswi di kampusnya. Herlambang bukanlah siapa - siapa. Dia hanya anak seorang tukang jahit. Dia juga bukan kekasihnya. Tetapi matanya yang teduh dan dalam, kerap membuat langit-langit di kamar Clara jadi penuh cahaya bintang.


Clara juga masih menimbang-nimbang tawaran Om Pras, soal melanjutkan study ke Jerman agar mengikuti jejak Andini sepupunya. Ayah Clara, R. Seobandi pun setuju dengan inisiatif Prastowo,adik semata wayangnya itu.


R.Seobandi dan R. Prastowo adalah dua kakak beradik, dua pengusaha trans-nasional yang diperhitungkan oleh banyak koleganya di manca negara. Pada 1997 majalah Forbes, ingin menobatkan mereka sebagai orang terkaya ke- 9 di dunia... tiga tingkat di bawah Warren Buffet, namun tanpa alasan yang jelas deputy senior sekaligus tangan kanan Malcolm Stevenson Forbes, merevisi edisi tersebut. Beberapa sumber di internal menyebutkan bahwa itu atas keinginan Mr. Soebandi yang tidak ingin namanya muncul di majalah itu.


Bagi sebagian orang, tampil di majalah sekelas Forbes bisa jadi sebuah gengsi dan impian, namun popularitas bagi sebagian orang justru menjadi boomerang yang mempersempit ruang gerak.


**


Ketika itu, dua hari setelah tawaran om Pras, Clara memutuskan untuk mengiyakannya . Ia terobsesi oleh Andini sepupunya. Dalam berbagai kesempatan Andini selalu mengirimi foto-foto yang mengisaratkan kemapanan status sosial setelah menyelesaikan study di LMU Munchen.


Meski om Pras adik ayahnya, usia Andini terpaut lebih tua 4 tahun dari Clara. Om Pras merried by accident.


"Om Pras, Clara ok-in deh...!! " ujar Clara lewat sambungan telepon.


"Serius kamu.? Bagaimana dengan Papa dan mamamu ?" tanya Om Pras agak nervous.


"Lho kan mereka yang suruh..tapi ada syaratnya.."


"Apa ?"


" Clara mau traveling dulu full satu tahun...!!"


" Lama banget, gak kelamaan tuh.?" om Pras menggoda.


" Gak bisa ditawar...titik...!!!" Clara menutup telepon. Om Pras di seberang sana memaklumi sifat keras kepala keponakannya.


**


Fiumicino, 23 Agustus pukul 07.00 sebagian masih tertutup kabut. Dari lantai 6 apartemen Lungotevere bandara Leonardo da Vinci tampak masih menggeliat, seolah malas bangun dari tidur. Sedikit saja orang yang lalu lalang di jalanan. Bahkan beberapa lampu taman masih nampak menyala.

__ADS_1


Herlambang menyingkap gordyn, kemudian mengambil sebatang rokok. Di Italia rokok tak ubahnya barang mewah. Beruntung lewat jalur khusus, Herlambang tak pernah kekurangan stock, hanya saja ia harus menjaga etika. Ada area dan waktu tertentu buat seseroang menghisapnya.


" Kriiiing... Kriiiing.." suara telepon di atas buffet berdering.


" Buongiorno signore...." sapa suara di ujung telepon.


" Buongiorno..." jawab Herlambang.


" C'è una chiamata per te.."


" Va bene..." Herlambang kembali melanjutkan pembicaraan setelah line disambungkan. Beberapa kali raut wajahnya berkerut,seperti ada sesuatu yang sulit untuk dikerjakan.Telepon ditutup.


Hidup itu penuh misteri. Orang pinter bisa kalah sama orang bejo. Lima tahun yang lalu, Herlambang dan Kevin memenuhi panggilan sebuah lowongan kerja, sebuah informasi loker dari Winda sahabat kental Clara, tidak disangka malah Herlambang yang diterima,padahal nilai akademis Kevin jauh lebih bagus dari Herlambang.


" Gila bener... Aku kan lebih pinter dari kamu.. Masa malah kamu yang diterima...!!" kata Kevin, saat wawancara selesai. Wajah Kevin nampak kesal. Beberapa kali tangannya menyambit trotoar yang tak bersalah.


Herlambang tak komentar, dalam hati ia cuma membenarkan ucapan Kevin. Tak seharusnya ia diterima, mengingat Kevin memang lebih memiliki kans besar untuk diterima ketimbang dirinya.


Malah saat belum genap dua minggu ia bekerja, bu Chely memanggilnya ke ruangan. Bu Chely adalah Direktur HRD yang terkenal sadis, banyak karyawan yang tidak suka padanya. Berbagai kebijakan seringkali memberatkan karyawan, salah sedikit bisa saja langsung di-cut, sedang Serikat Pekerja tak ada satupun yang berani membela nasib karyawan. Mereka seolah menyelamatkan diri masing-masing.


" Benar kamu Herlambang?" tanya bu Chely. Wajahnya dingin dan keras.


" Benar, bu... .."


"Good.... Silahkan duduk .." bu Chely mempersilakan Herlambang untuk duduk di sofa. Sofa dengan kulit original yang empuk. Tak ada karyawan yang diterima bu Chely di ruangan itu. Paling banter di ruangan kedua yang terletak bersama stafnya. Ruangan itu lebih besar dari rumah yang dikontrak Herlambang di Jakarta.


" Hemmm...kamu rupanya..... " bu Chely seperti bergumam sambil membolak balik berkas CV Herlambang.


" Baiklah, Herlambang, kamu mendapat promosi jabatan sebagai Direktur Marketing untuk wilayah Roma - Italia . Selamat..!!" bu Chely menjabat tangan Herlambang.


Herlambang masih belum percaya dengan ucapan bu Chely..... Sedemikian mudahkah karir sebagai Direktur Marketing ?? Cuma butuh waktu 2 minggu.....!!!

__ADS_1


Ini seperti mimpi........ kata Herlambang dalam hati.


" Maaf bu Chely, apa saya tidak salah dengar ? " tanya Herlambang, jujur saja jabatan itu seperti tak pantas berada di pundaknya. Apalagi cuma dalam waktu dua minggu. Bukankah banyak pegawai lama yang lebih potensial ??


" Tidak.... Tidak ada yang salah... hidup itu susah ditebak dan penuh misteri... " jawab bu Chely singkat.


" Sekarang kamu bisa tinggalkan ruangan ini... Saya tak banyak waktu..."


"Baik bu.." Herlambang segera bergegas.


" Oya.. Segala sesuatu yang kamu butuhkan bisa tanya Winda di depan. Ok..?" bu Chely mempersilakan Herlambang untuk keluar.


Itulah kejadian lima tahun yang lalu, sebelum ia menetap di Fiumicino, Italia.


**


Clara tiba di Bandara Leonardo da Vinci tepat pukul 21.00 menggunakan Etihad Airlines. Sesekali ia membetulkan wool karena udara terlalu dingin. Sambil menunggu agen travel ia membuka gallery di dalam handphone. Beberapa kali ia tersenyum sendirian.


Fotonya bersama Herlambang menjadi sorotan.


Ah.. Aku tak boleh jatuh cinta hanya karena dia handsome atau coolman.Nothing.... Katanya dalam hati.


Baginya parameter paling logis untuk laki-laki adalah karakter. Tanpa itu tak banyak yang bisa diperbuat. Buat Clara materi bukanlah persoalan penting dalam hidupnya, ayahnya seorang konglomerat di tanah air.


Tapi soal Herlambang..... laki-laki yang pernah menggenggam jemarinya di kaki gunung Salak..... ia sungguh paket komplit. Tak banyak laki-laki seberuntung dia. Herlambang cuma kalah pada status sosial. Dia laki-laki yang punya karakter.... dia juga seseorang yang keras kepala dan susah diatur.


Jadi sebuah tantangan untuk mengubah sikap kepala batu jadi air es yang menyejukkan....... Kata Clara dalam hati.


Satu dua kali, Clara dan Winda sahabatnya juga pernah ke rumah Herlambang. Ada juga foto selfie bersama ibu dan Fita adik Herlambang dengan backround mesin jahit tua milik ibunya. Yang membuat Clara jadi rajin ke rumahnya karena Fita, gadis cantik namun tuna rungu.Dalam keterbatasannya berkomunikasi Fita adalah figur yang hangat dan menyenangkan.


" Maaf apa Anda Clara ?" tanya seseorang . Sejenak Clara sempat terkejut, bukan karena ia sedang menatap handphone, melainkan karena orang yang sedang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


**


__ADS_2