Cinta Di Venesia

Cinta Di Venesia
" Pembunuhan di Capellietra "


__ADS_3

Clara bergegas membuka pintu ketika Delova mengetuk kamarnya.Saat berdiri hampir saja ia berteriak karena terasa perih di bagian kewanitaannya.Seperti ada yang berbeda. Sesaat ia tersenyum kecil mengingat peristiwa tadi malam.


" Tok.....!! " suara pintu di ketuk.


Clara hampir lupa , seraya tangannya menyingkap selimut untuk menutupi tubuh kekasihnya yang masih tertidur lelap, ia tak ingin sampai Delova melihatnya..... Tentu saja karena itu pemandangan yang sangat privacy.


" Halo Clara.. Kau sudah bangun ?" tanya Delova.


" Ya begitulah... Seperti yang kau lihat..." jawab Clara. Delova memandangi seisi ruangan. Matanya seperti menyelidik.


" Hemm... Aku seperti mencium aroma laki-laki di kamar ini..." kata Delova sambil tersenyum . Clara cembetut.


" No komen... " jawab Clara.


" Baiklah.. Aku hanya ingin memberitahu jika hari ini jadwal untuk keluar aku hold..." kata Delova.


" Kenapa begitu ?" tanya Clara.


" Hujan sejak tadi malam hingga pagi, aku kuatir hari ini akan terjadi hujan lagi ...." jawab Delova.


" Benarkah hujan turun sejak tadi malam ?" tanya Clara. Ia melihat ke sekeliling, dan memang benar, air di kolam renang hampir luber ke permukaan.


" Tentu saja itu benar... " jawab Delova.


" Oyaa... ? Masa sih ? Aku baru tahu..!!! " seru Clara, sambil menahan rasa perih di sekitar selangkangannya.


" Tentu saja... Mungkin kau terlalu sibuk tadi malam... " ledek Delova.


" Bisa jadi..baiklah kalau begitu... cuaca di luar memang masih mendung dan sangat dingin.... " kata Clara lirih.Delova mengangkat bahu, ia mengerti kemana arah Clara bicara.


" Ra.. aku selalu ada di sebelah, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku bila kau perlu sesuatu.... "


" Baiklah... " kata Clara.


Pintu ditutup. Clara kembali lagi ke atas ranjang, lalu menyelinap ke balik selimut, ia seperti ingin mengulangi kejadian tadi malam. Sungguh ia tak mau kehilangan momen.


***


Apartemen Lungotevere, pukul 11.00.


" Seperti biasa...!! " kata Jean kepada kasir di Lount Cafetaria.


" Baiklah Jean, apa tuan Herlambang masih belum mau keluar kamar ?" tanya Bella, ia gadis cantik berdarah Yahudi.Sejak Herlambang menempati apartemen itu, ia jadi rajin bersolek. Ia menaruh hati pada WNA itu.


" Ya.. dia masih sibuk melukis..." jawab Jean. Bella menyerahkan dua kotak Hot Pizza. Bella sudah biasa melayani Jean, sesuai permintaannya belakangan ini, Bella selalu memberi 2 kotak Hot Pizza, yang satu tak ada isinya... hanya kotak kosong.


" Grazie Bella... Sungguh kau wanita yang sangat cantik.." kata Jean sambil memberi kartu debit. Bella merasa tersanjung dengan ucapan Jean.


Jean berjalan ke arah lift nomor 2.Pintu lift terbuka, ada seorang laki-laki yang masuk ke dalam lift bersamaan dengannya. Laki-laki itu berumur sekitar 35 tahun. Badannya tegap, berambut klimis, dan memakai setelan jas hitam. Dari gayanya ia seperti berasal dari Irlandia.


" Kau selalu membeli Pizza dua kotak nyonya... Banyak sekali.." katanya sesaat setelah mereka berada di dalam lift.


" Ya satu untuk tetanggaku, ia sedang malas keluar.." jawab Jean. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya.


" Kau hendak kemana tuan...?" tanya Jean, ia hampir hapal penghuni Lungotevere, tapi ia tak pernah melihat laki-laki ini sebelumnya.

__ADS_1


" Aku ingin menemui sahabatku.. " jawabnya sambil tersenyum.


" Oh.. Siapa namanya ?"


" Tuan Rich... Apakah kau kenal dengannya nyonya ?" tanya-nya.


" Hemm.. Ya aku mengenalnya dia seorang bankir...." kata Jean. Pintu lift terbuka, Jean segera keluar. Laki-laki itupun ikut keluar. Ia berpura-pura mencari kamar, namun matanya selalu mengikuti langkah Jean.


Saat Jean membuka pintu kamar Herlambang untuk meletakan kotak Pizza, tiba-tiba laki-laki itu berlari ke arahnya, sambil menodongkan pistol ke kepala Jean, lalu menyuruh Jean masuk kamar.


Ia mencengkeram leher Jean ke atas tembok, Jean mulai sesak nafas,


" Cepat katakan atau kau kutembak..!!" ancam laki-laki itu.


" Ti.. Tid..Tidak tau tuan.." Jean hampir saja mati karena sesak nafas. Ia memeriksa pakaian Jean, dan mendapati Hp miliknya.


" Cepat kau telpon dia.. Tanya di mana dia sekarang... Cepat...!! "


" Baik..baaik.." Jean memencet nomor Herlambang.


" Halo Jean.. " sapa Herlambang dari seberang sana.


" Hem.. tuan sedang di mana kau sekarang..?" tanya Jean berusaha sewajarnya, karena laki-laki itu terus mengancamnya.


" Ah ku kira ada apa Jean.. Aku sedang di Venesia..."


" Baiklah tuan.." telepon di tutup.


Laki-laki itu merampas hp milik Jean....Lalu menyeretnya ke toilet... tak lama kemudian ia juga merobek baju Jean. Jean tak bisa berbuat apapun karena ia dalam tekanan.


Setelah hasratnya terpenuhi, laki-laki itu merapikan pakaiannya, lalu bercermin di depan toilet.Ia menghapus sisa lipstick milik Jean di wajahnya. Sebelum meninggalkan Jean, ia melempar handuk ke arah Jean yang sudah tergolek lemas di atas lantai toilet.


***


Delova menutup pintu kamarnya. Klik. Pintu telah terkunci dengan baik. Ini saat yang tepat untuk membaca semua berita. Ia selalu menggunakan akun samaran untuk mengakses situs-situs di dunia maya. Di jaman seperti ini, tentu saja data pribadi sangat rentan untuk disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.


Berita Internal


Sandi : XWZ. ALFA SERA UNI


Stat : 28/Cf.63/01M


Odr : 57 BT


Sdr : 0,5 LT


Org : CAPELLIETRA


List : TOP URGENT


Fr : 2803-PIOLI


Dan seterusnya........


Delova sangat terkejut, ia sama sekali tak menyangka bisa secepat ini.

__ADS_1


" Delova apa kau sudah menbacanya...? " Tanya Andrea di ujung telepon.


" Monitor... " jawab Delova.


" Baiklah... Lobby Capellietra !"


" Siap aku segera kesana.." jawab Delova.


" Kau sudah memastikan mereka berdua aman ?" tanya Andrea.


" Tentu saja.. Kupastikan mereka berdua aman..! " jawab Delova.


Andrea sudah berada di Venesia dua hari sebelum Clara dan Herlambang tiba, untuk memastikan semua dalam kondisi aman. Bahkan saat mereka jalan-jalan berdua di Motilio Andrea-lah yang mengawasi keduanya, ia bergantian tugas saat Delova beristirahat di cafe Vinesta.


***


Alesto tiba di Capellietra tepat pukul 12.00. Ia diiringi oleh empat orang laki-laki berbadan tegap, wajah mereka umumnya tampak sadis dan brutal.


Berdasarkan informasi yang ia terima, sepasang turis Indonesia itu terlihat keluar dari Capellietra kemarin siang dan kembali lagi ke hotel pukul 21.00, namun sejak pagi tadi turis asal Indonesia itu tak kelihatan keluar dari Capellietra , sehingga mereka merangsek masuk ke dalam hotel.


Sebagai mantan agen rahasia pasti ia sudah menghitung setiap kemungkinan. Dari salah satu informannya, waktu yang tepat untuk mengeksekusi adalah pukul 12.00 siang saat penghuni hotel pergi berwisata.


Mereka memasuki lobby hotel. Alesto menanyakan kamar yang dihuni oleh sepasang kekasih asal Indonesia.


" Nona, bisakah kau tunjukan kamar yang dihuni atas nama Herlambang..? " Tanya Alesto pada reseptionis.


" Tentu saja.. Dia ada di kamar 404...." jawab wanita cantik dari balik front table.


" Good... Kau cantik sekali nona.. nanti malam apakah bisa kau kupakai ? " tanya lelaki di sebelah Alesto. Ia bernama Kurtz. Dialah yang telah memperkosa Jean dua hari yang lalu.


" Tentu saja bisa selama kau masih punya uang... Hahahahha..." jawab salah satu temannya. Wanita reseptionis itu tersenyum getir, ingin rasanya ia menampar wajah keduanya.


Alesto memberi aba-aba, mereka segera bergegas ke arah kamar 404, sementara Alesto menunggu di lobby sambil sesekali matanya menatap tajam ke arah luar.


Seketika itulah Andrea memasuki lobby Capellietra, ia sempat berpapasan dengan Alesto, merasa aksinya bakal diketahui, Alesto mengeluarkan Barreta' 92 dari balik jaketnya lalu berbalik ke arah Andrea.


Alesto mengarahkan pistol itu ke arah Andrea..........


" Maaf tuan...!! " teriak Alesto setengah berteriak. Andrea segera menoleh ke belakang.


" Dooorr.... Dooorr.....!!!" seketika tubuh Alesto tersungkur ke lantai bersimbah darah. Saat Alesto berbalik arah, Delova dengan sigap menembak Alesto dari arah belakang dengan jarak tak lebih dari 10 meter.


Sementara itu, ke empat orang tadi sudah tiba di kamar 404, mereka mendobrak pintu kamar seraya menodongkan pistol. Kurtz memerintahkan temannya untuk memeriksa bathroom setelah ia tak menemukan orang yang dicarinya.


Beberapa saat kemudian, mereka mendapati tak ada satupun orang di kamar 404.


" Siaaaaal..........!! Kita telah dijebak...!!" kata Kurtz sambil berteriak.


" Door.. Door.. Door...!!!" Kurtz menembakan pistolnya beberapa kali ke tempat tidur untuk meluapkan kekesalannya.


Mereka segera berhamburan keluar namun rentetan peluru telah dimuntahkan oleh Andrea dan Delova saat mereka melewati pintu kamar. Seketika itu pula mereka tewas bersimbah darah. Dalam keadaan sekarat Kurtz masih ingin menembak ke arah Delova, sayang Andrea telah lebih dulu menembak kepalanya. Kurtz mati mengenaskan.


" Lucy....Cepat hubungi pihak yang berwajib katakan telah terjadi pembunuhan di sini...!!" perintah Andrea kepada Lucy reseptionis Cepellietra.


" Baik tuan...." Lucy segera menghubungi pihak kepolisian. ' itulah balasan setimpal bagi laki-laki yang suka merendahkanku....' katanya dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu Andrea dan Delova kembali ke hostel Bellinda Alya melalui koridor pintu 'Monalisa' . Mereka tak ingin ada sepasang matapun yang melihat mereka keluar dari Capellietra.


__ADS_2