
Delova sangat mahir mengemudi. Mobil Chevo 3000 Cc itu begitu nyaman meski kecepatannya mendekati 250 Km/jam. Sesekali Clara terlihat memegangi hand pull bagian depan,kadang beberapa kali terlihat kakinya menekan lantai kabin secara berlebihan saat Delova bermanuver.
Di Jakarta, meski menggunakan mobil yang memiliki cc besar paling banter ia sampai di angka 140 itupun di jalan bebas hambatan. Ia takut melebihi batas kecepatan yang terpampang di pinggir jalan tol :
Max : 100 Km/jam
Min : 60 Km/jam
Dari jok belakang Herlambang hanya senyum senyum melihat tingkah Clara. Dari spion kabin Delova melirik Herlambang, ia seperti mengisyaratkan bahwa Clara takut dengan kecepatan tinggi.
" Orang Italia itu memang kuper... Tapi soal nyetir gak seperti orang Indonesia... Ya gak Her..." kata Delova mencairkan suasana . Clara berasa disindir.
" Emang kenapa ?" tanya Clara.
" Aku dengar mereka pelan sekali jika mengemudi rata-rata 100 Km per jam....." kata Delova.
" Itu tidak ada hubungannya dengan keberanian, jalanan di sana memang tidak seperti di sini, " kata Clara garing.
" Oyaa..."
" Di samping itu, bisa jadi karena memang kapasitas mesinnya yang kecil.. " kata Clara tak mau kalah.
" Kata beberapa wisatawan yang pernah aku pandu, mereka memang pelan kok... tau gak kenapa ? "
" Nggaaak... "
" Mereka takut kanvas remnya cepat habis...!! Hahahaha... " Delova tertawa, Clara cemberut.
" Itu soal lain.... Her napa lu diem aja. ..Indonesia di skak nih.. .. !! "Herlambang angkat bahu.Ia masih asyik memandangi Clara.
Chevo 3000 Cc itu melesat kencang meninggalkan kota Roma.
*******
Mereka tiba di Venesia menjelang magrib. Sebelum memasuki Laguna Venesia , Delova memarkir mobilnya di sebelah barat, mobil tersebut tidak ia parkir bersama kendaraan wisatawan atau agen travel lainnya.
Sebagai guide profesional, segala kemungkinan harus dipersiapkan dengan baik. Persiapan adalah bagian terpenting dalam memenangkan persaingan.Sampai hari ini ia selalu kebanjiran job, itu karena ia selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang.
Salah satu persiapan terbaiknya saat ini adalah mengambil keputusan untuk melalui jalan darat, hal itu juga disampaikan oleh Pioli atasanya di Pioli Agente, "untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan" katanya.
Ia sependapat dengan Pioli, bagaimanapun Rosetta adalah orang yang memiliki banyak akses di Roma, memakai jalur penerbangan sama halnya memancing harimau tidur, lewat manifest penerbangan Rosetta akan dengan mudah mendeteksi posisi Herlambang.
Clara dan Delova membuka bagasi belakang. Herlambang masih melihat-lihat ke beberapa spot di sekelilingnya. Ia dan Rosetta sering menikmati akhir pekan di sini, apalagi di awal-awal mereka saling kenal, atau fase pertama saat mereka saling jatuh cinta. Itu tak lain karena Venesia memang tempat yang sangat Romantis. 'Ah...... kenangan yang indah meski tak seindah kenagannya bersama Clara di gunung Salak..' gumam Herlambang.
__ADS_1
" Her bawa tuh...!!" kata Clara membuyarkan lamunannya.
" Oke..."
Dengan menumpang vaporetto ketiganya bergegas ke sebuah hostel. - Bellinda Alya - Hostel itu bukanlah hotel bintang lima dan sangat jarang diminati wisatawan. Bahkan meskipun Herlambang beberapa kali ke sini, ia tak pernah mendengarnya, atau ada guide lokal yang menawarkannya. Clara sudah under estimate terhadap hostel Belinda Alya ini, kali ini ia merasa kurang nyaman dengan pilihan Delova.
" Pangeran dan Permaisuri. .. Ayo silahkan masuk...!! " kata Delova saat tiba di depan pintu. Di belakang front table hanya ada wanita setengah baya yang bertugas sebagai penerima tamu. Clara menarik nafas... 'Benar-benar pilihan yang salah..' kata Clara dalam hati.Tadinya Clara berharap Delova akan menempati hotel termewah di sini, karena ini momen penting baginya. Sejak pertemuannya dengan Herlambang ia sudah memutuskan akan menyatakan cintanya lebih dulu , karena menunggu Herlambang untuk "nembak" ke dirinya, akan sama seperti dulu... Gak bakalan mungkin.
" Del kamu gak salahkan ?" tanya Clara. Wanita setengah baya itu menatap ke arah Clara.
" Kenapa Ra..." Delova balik bertanya.
" Kumuh...!!" Dalam hati......Herlambang membenarkan ucapan Clara. Meski ia termasuk jajaran "OKB" alias orang kaya baru, tempat ini sungguh tak layak buat dirinya, apalagi Clara. Delova hanya mengernyitkan alisnya yang tebal.
" Velencia.. Ijinkan aku masuk.." kata Delova pada wanita setengah baya itu.
" Silahkan Madame... Kau tentu tidak lupa jalannya kan ?" Delova tersenyum manis.
" Tentu saja aku ingat.." kata Delova. 'Jalan ?... Jalan mana lagi ? Sudah jelas cuma ada 1 kamar.. Belagu banget..!' kata Clara dalam hati. Mereka mengarah pada satu koridor selebar setengah meter. Clara masih bersungut-sungut menyesali pilihan Delova.
Di ujung koridor terdapat lukisan replika Monalisa yang diselimuti debu. Entah apa yang dilakukannya Delova seperti menempelkan sidik jarinya ke bagian belakang lukisan itu. Seketika dinding di samping Clara berdiri terbuka otomatis. Clara dan Herlambang terkejut luar biasa, karena setelah itu, kira kira sepuluh meter di hadapannya terhampar sebuah kolam renang dengan kamar kamar berdinding kaca tebal di sekelilingnya. Luar biasa.Ini mirip sekali dengan hotel bintang lima.
" Delova..!!!" seru Clara tak bisa menutupi keheranannya.
" Okelah.. Kurasa malam ini kita beristirahat saja dulu.. Besok baru kita menikmati pulau bidadari..Laguna Venesia...kalian hanya sahabatkan jadi tidak boleh tidur satu kamar.." kata Delova.
" Kenapa ?" tanya Herlambang. Clara kaget mendengarnya.
" Kalian bukan muhrim...!! " kata Delova. Clara dan Herlambang sangat terkejut dengan ucapannya. namun Delova hanya terlihat santai. 'Aku tak harus memberi tahu kalian bahwa aku seorang muslimah.' kata Delova dalam hati.
" Apakah kau muslim Delova.. " tanya Clara.
" Tentu saja bukan... "jawab Delova dengan senyum kecil. Baginya iman kepada Tuhan tak harus memperlihatkan identitas sampai sedemikian rupa untuk menarik simpati seseorang.
" Baiklah aku setuju.. " kata Herlambang.
" Ya aku juga.. " imbuh Clara. Mereka bertiga berpencar menuju kamar masing-masing. Di kejauhan terdengar suara hati yang memecah malam.
'Delova kamu tuh gak ngerti yaa kek gimana perasaanku...' kata Clara dalam hati.
'Delova harusnya kau tahu dooong perasaanku...' kata Herlambang dalam hati.
Gerimis kecil mengiringi kegalauan hati masing-masing.Clara mematikan lampu kamarnya, Herlambang berusaha memejamkan matanya. Mereka berharap masih ada bibit cinta yang akan tersemai di Venesia.
__ADS_1
*******
Kamar Delova masih menyala. Ia mengintip dari balik jendela, kamar Clara dan Herlambang sudah gelap
" mungkin mereka kelelahan..." katanya dalam hati. Sementara lampu taman di tepi kolam, masih menyala di hempas gerimis yang tak diundang.Air di kolam renang itu jadi mengingatkannya pada satu ketika.
Ia menyetel lagu kesukaannya, lagu yang tak sengaja ia dengar saat mendampingi nyonya Lieshandini, staf khusus diplomat RI di Roma, lagu yang dipopulerkan ulang oleh Ariel-NOAH..
"Terlalu indah di lupakan
Terlalu sedih di kenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau ku tinggalkan
Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu
Kepadaku
Engkau kan menunggu
Andaikan kau datang kembali...
Jawaban apa yang kan kuberi...
Adakah jalan yang kau temui
Untuk kita kembali lagi
Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini ku akhiri.... "
Delova menatap ke luar jendela, bayangan Andrea seperti tersenyum ke arahnya. Ia dan Andrea memilih jalan yang tak semua orang belum tentu bisa melakukannya. Menahan rasa cinta untuk pekerjaan yang lebih besar....tugas rahasia.
__ADS_1