Cinta Di Venesia

Cinta Di Venesia
" Memutar Waktu "


__ADS_3

Clara masih tiduran di kamar Pallazo de Roma meskipun waktu telah menunjukan pukul 09.00 pagi. Hari ini ia seperti tak punya energi untuk bangun lebih awal seperti kebiasaannya.


Berulangkali ia memukuli bantal yang tak bersalah sebagai ungkapan penyesalan. Penyesalan yang sama seperti saat ia masih sering bersama Herlambang.


Andai waktu bisa diputar ke belakang, tetap saja tak akan merubah keadaan jika sikapnya terus saja menganut ideologi "Jaim seumur hidup" dan tak mau mengakui perasaannya pada Herlambang.


Menurutnya ia tidak jaim juga, di semester tiga dulu, ia sempat jalan sama Aldo, yang jadi buah bibir cewek - cewek di kampus, terutama di Fak. Akuntansi. Selain tampan Aldo juga tajir.


Itu membuktikan ia bukanlah benar-benar wanita priyayi yang masih menjunjung norma ketimuran. Tapi waktu sungguh membuktikan bahwa Clara tak pernah berani bila berhadapan dengan Herlambang.


Ketika masih jalan sama Aldo, beberapa teman ceweknya, sempat mencibir Clara dengan tuduhan cewek matre, Clara tak mau ambil pusing.Ibunya selalu berpesan agar selalu menutupi kerajaan bisnisnya, ternyata itu adalah langkah paling efisien untuk melindungi Clara dari hal-hal yang tidak diinginkan terutama dari niat jahat pihak-pihak yang bisa saja membahayakan masa depannya.


" Do gue cinta sama lu.." kata Clara enteng dan tanpa beban. Aldo seperti di atas awan, hidungnya kembang kempis.


'Clara-Clara... Tentu saja lu bakalan jatuh cinta sama gue..Sudah puluhan cewek bilang kayak gitu. Siapa sih yang bisa nolak gue ? ' Kata Aldo dalam hati.


" Hem... Oke.. Okeee.. kita jalanin aja dulu.. " kata Aldo sengak. Sebagai cowok tajir dan tampan, Aldo jarang menyatakan cinta kepada cewek, ia sangat confidence bahwa ceweklah yang akan mengejarnya.


Hubungan Clara dan Aldo bubar saat Aldo "meminta lebih". Pukul 02.00 ketika pulang dari Hard Rock untuk merayakan ulang tahunnya, Aldo meminta Clara cek in di sebuah hotel bintang lima.Aldo yakin Clara tidak mungkin menolak, selain silau dengan ketajirannya, Clara pasti takut kehilangannya.


" Raa... Please hanny.. Ini buat bukti cinta kita.." kata Aldo sambil merengek-rengek. Clara ingin menamparnya, tapi niat itu ia urungkan. Clara harus berpikir ulang, ia tak ingin ada kejadian yang mengerikan menimpa dirinya karena di jok belakang ada dua orang teman Aldo yang masih 'ON'.


" Do sorry bisa gak lu turunin gue di sini.." pinta Clara. Tak ada satupun orang di jalan yang sudah hampir pagi. Tapi tak ada pilihan lain.


" Raaaa... Please sekali ini aja.. Sueer gue janji.." Aldo masih merengek-rengek. Tangannya jadi tambah erat mencengkeram lengan Clara, namun Clara terus berontak...


Aldo terlihat memberi aba-aba kepada dua temannya dari spion kabin. Clara terus berontak, ia seperti sudah melihat bahaya di depan mata, ia berteriak kencang... tapi tak satupun orang yang mendengar. Seketika mobil oleng lalu terhenti, bukan karena menabrak trotoar, tapi ada sepeda motor yang menghalangi.


" Siapa mereka ?" tanya teman Aldo di jok belakang. Aldo baru mau menjawab tapi keduanya keburu turun dari mobil.


" Cari ****** ajaaaa ni orang...!" kata temannya yang memakai tindik di hidungnya. Mereka tak sabar dan segera turun, dari dalam mobil Clara melihat keduanya mengeluarkan senjata tajam. Clara masih ketakutan.


Dalam temaram tower lamp di pinggir jalan, Clara beberapa kali pernah melihat pengendara motor itu di dalam kampus, tapi ia tak pernah kenal namanya.


" *******..!!" tanpa pikir panjang dua teman Aldo merangsek sambil menghunus pisau. Herlambang nampak tenang dalam menghidari serangan mereka.


Hanya butuh waktu 2 menit bagi Herlambang , keduanya telah tersungkur tepat di bawah ban mobil. "Gak sesuai ama tampang lu...!" Kata Herlambang dalam hati.


" Do... Turun lu..!!" teriak Herlambang . Aldo gemeteran.


" Vin. .. sekarang giliran lu.." kata Herlambang pada Kevin . Aldo sudah tak bisa berdiri. Ia tahu siapa dua laki-laki di hadapannya.


" Gak sampe ati gue ma lu.." kata Kevin sambil mencengkeram krah Aldo. Aldo hampir mewek, tapi Herlambang sudah gak sabar...

__ADS_1


" Buuk...! " darah muncrat dari hidung Aldo terkena pukulan Herlambang yang sedang emosi. Kevin melepaskan cengkeramannya.


" Gedebruuuk...!! " Tubuh Aldo yang memang sudah setengah fly jatuh ke tanah.


" Sekali lagi lu bikin ulah, lu bakalan gue bikin ****** ! Terus kalo lu belom puas, gue Herla.. anak Mapala , dan lu pasti kenal dia kan ?" Herlambang menunjuk ke arah Kevin . Sekarang Clara jadi tahu cowok yang mukulin Aldo.


Aldo sudah tak bisa bicara, ia masih menahan sakit karena hidungnya terus berdarah. Clara masih belum tahu apa yang harus dilakukan.


*******


Clara jadi trauma sejak kejadian itu, ia ingin menceritakan pada ibunya, tapi niat itu ia urungkan, ia gk kebayang pembalasan yang akan diterima Aldo jika keluarganya tahu.


Clara hanya menceritakan kejadian itu pada Winda. Winda tak terkejut, ia sudah diceritakan sebelumnya oleh Raras pacar Kevin.


" Jadi lu udah tau Win...?" tanya Clara keheranan.


" Ya udahlah...mungkin gue orang pertama yang tahu kejadian itu keleeees.."


" Sotoy banget sih luuu..."


" Jiaaaaah dibilangin gk caya..." Winda ngeledek Clara.


" Btw gimana critanya lu bisa tau duluan...? "


" Asal lu tau aja yaaa... Raras ceweknya si Kevin nelpon gue tadi pagi.. Makanya gue buru-buru kesini pengen tau kabar lu..." jelas Winda.


" Yaeyalaaaah... otomatis... Raras itu anak bude gue lagiiii....! "'


" Terus lu kenal dung ma Herla ? "


" Herla... Herlambang kali... " kata Winda.


" Yaya.. Mungkin juga... "


" Hehehehee... Wani piroooo...? "


" Iiiiihh.... Winda... Ngomong gaaaak luu... " pinta Clara sambil nyubit perut Winda.


" Diiiih knapa jadi kek gini sih luu... "


" Makanya jawab... Lu kenal gak sama si Herla ?"


" Ngggggaaaaaak.... " Clara melepaskan cubitannya. Winda meringis kesakitan.

__ADS_1


" Gila lu, sampe kobes kek gini kulit sosialita..."


" Biarin..."


" Kalo lu mau kenal Hercules, eh Herlambang lu kudu masuk Mapala.. "


" Hemmm... Cerdas juga ide lu... "


" Auuuuugh aaah... Sakit ni tauuu gak seech..."


" Eaaaa... Eaaaa maaf deh.."


Sejak saat itulah Clara niat banget masuk Mapala, untuk bertemu Hercules.


*******


Clara masih ngulet. Ia mengambil remote untuk mengatur suhu kamarnya agar tidak terlalu dingin. Hari ini sebenarnya ia dan Delova ingin mengunjungi Coloseum sebagai bagian dari itinerary tournya, namun ia masih malas untuk keluar kamar. Hatinya masih gondok lantaran kemarin ia tak sempat minta no hp Herlambang.Bukan gak sempat, tapi jaim.


" Kriiiiig... Kriiiiig..." telpon di samping tempat tidurnya berdering. Clara mengambil gagang telepon.


" Clara kamu baik-baik aja kan ?" suara Delova terdengar dari dalam gagang telepon.


" Eh... Delova.. Ya aku baik-baik saja.." rasanya ia ingin segera pulang ke Munchen. Biarlah Andini yang mengurusi soal keinginannya membeli property di sini. Ia ingin menutup kisah lamanya bersama Herlambang. Di kota Roma yang besar ini kemana ia harus mencarinya ?


" Clara... Clara.. kamu pasti menyesal ya tidak lama bersama Hercules di sini..." ledek Delova. Clara manyun aja.


" Sok tahu..."


" Sebagai guide sekaligus sahabatmu aku tahu apa yang harus aku lakukan." Clara masih diam saja, sambil menyalakan tipi.


" Kamu pasti ingin tahu no hp Hercules... Iyakan ?" tanya Delova.


" Emang kamu punya ? "


" Tentu sajaaaa... " ada matahari di wajah Clara.


" Kok bisa gimana caranya kamu dapat Delova ?"


" Nanti aku ceritakan.. Sekarang jadi aku harus bagaimana Clara..? "


" Kalau begitu... Kamu segera jemput aku yaaaaa.. "


" Baik Nona Clara... "

__ADS_1


" Jiaaaah gk usah lebay deh... " Tiba-tiba saja energi yang tadi hilang seperti berkumpul kembali. "Ahhh... Cinta.. Kau bisa merubah apa saja..." Kata Clara dalam hati.


"


__ADS_2