
Bandara Internasional Dubai, pukul 22.00
Franz tiba di Dubai bersama hati yang dibakar cemburu. Beberapa kali ia melihat arloji, lalu berjalan mondar-mandir ke arah yang tak menentu.
Entah kenapa, jarum jam seperti lama berlalu. Ia ingin segera bertemu Syahmir , lalu menembak kepalanya dari jarak dekat. Jika perlu ia lakukan itu di depan Andini.
Ia ingin melihat Syahmir memelas ampun di hadapan Andini sebelum ia meletuskan kepalanya. Tapi saat ini ia jadi bertambah kesal saat Fuad taxi langganannya itu belum nampak juga batang hidungnya.
Sesaat Franz ingin membatalkan jemputannya. Fuad terlalu lama..... katanya dalam hati.
"Tin.. Tin...!!" Fuad membunyikan klakson taxinya. Agak setengah jengkel Franz akhirnya masuk juga ke dalam taxi itu.
" Maaf tuan, sedikit ada kendala saat menuju ke bandara. Putra Mahkota sedang ada kunjungan... Jadi arus lalu lintas diblokir...." kata Fuad berusaha menjelaskan soal keterlambatannya. Franz malas berkomentar. Itu tak penting.... kata Franz dalam hati.
Bagi Franz saat ini..........tidak ada yang lebih penting kecuali menyelamatkan asset yang sedang disabotase oleh Syahmir.
" Apakah langsung ke Burj Khalifa tuan... ?" tanya Fuad. Ia gelisah ketika melihat wajah Franz yang memerah. Ia khawatir keterlambatannya itu membuat Franz marah.
Franz memang sedang marah tapi bukan pada Fuad. Fuad hanya membuat Franz kesal karena memperlambat rencananya untuk menembak Syahmir.
" Bukan... Hotel Der Alma...!!" kata Franz menjawab pertanyaan Fuad. Sejenak Fuad seperti kaget. Biasanya Franz langsung menuju Burj Khalifa saat tiba di Dubai.
Tentu saja Fuad tak paham masalahnya.
Franz sudah tahu di mana lokasi terakhir Syahmir dan Andini. Data itu ia ambil dari foto dan video yang dikirim Syahmir kepadanya.
**
Taxi berhenti di lobby hotel Der Alma. Beberapa petugas langsung menyambut tamu-tamu yang datang, termasuk Franz. Sesaat langkah Franz terhenti karena ada seseorang yang menghadangnya. Franz agak terkejut. Ini tak seperti biasanya.
" Maaf pemeriksaan standar Tuan untuk mengantisiapasi kejadian yang tak diinginkan..." kata petugas itu. Ah bukan, dia bukan petugas.Laki-laki yang menghadangnya tidak memakai seragam, melainkan pakaian freeman.
Franz mencium ada gelagat yang tidak beres. Franz memasukan tangannya ke dalam jaket, lalu mengokang Glog yang berada di dalam jaketnya. Sebentar lagi akan terjadi baku tembak.......kata Franz dalam hati.
Sebagai agen intelijen Franz sudah terlatih untuk mencium bahaya. Franz melihat ke sekelilingnya. Ada enam atau tujuh orang yang berdiri, bagi Franz mereka bukan sekedar berdiri, melainkan siap-siaga. Franz tahu dirinya telah dikepung.
" Maaf.. Tolong angkat tangan anda Tuan...!" kata laki-laki itu. Franz akan kehilangan satu langkah jika ia mengangkat tangannya. Ia harus kabur, tapi posisinya sudah terkepung.
Resiko yang harus diambil adalah melawan.
Dari kantong jaket ia menekan platuk dan mengarahkan tepat ke jantung laki-laki yang menghadangnya itu. Tapi niat itu ia batalkan. Sepintas Franz melihat orang yang menghadangnya menggunakan rompi anti peluru di balik jasnya, tembakan ke arah jantung akan sia-sia.
" Dlep.. Delp....." Franz menembak kedua kaki laki-laki itu, lalu menendangnya dengan keras.
__ADS_1
Orang itu langsung jatuh ke belakang.
" Tangkaaap....!!" Laki-laki itu berteriak untuk memerintahkan teman-temannya. Perkiraan Franz tak meleset, enam orang yang tadi ia duga mengepungnya saat ini mengeluarkan pistol dari balik jaket mereka.
Beberapa kali Franz berguling-guling di atas lantai. Ia harus menghindari tembakan pengepungnya.
" Darr... Darr.. Darr.....!!!" tak satupun tembakan mereka yang mengenai sasarannya.
Franz mengambil pistol kesayangannya. Ia mencium pistol itu. Pistol yang selalu ia gunakan dalam situasi tertentu.
" Duaaar... Duaaar...!!" Franz melepaskan peluru ketika ada kesempatan menembak. Dua orang pengepung tersungkur bersimbah darah saat kepalanya meletus terkena peluru kaliber 90 mm.
Tinggal empat orang.... Kata Franz dalam hati. Ia melompat ke luar gedung. Ia tahu tempat terbuka bukanlah pilihan terbaik sebagai medan pertempuran dengan personil yang tidak seimbang. Namun ia masih ada waktu untuk berlari ke arah tiga buah mobil yang sedang terparkir sebagai benteng pertahanan, untuk selanjutnya barlari ke balik semak-semak.
"Darr.. Darr..Darr....!!" beberapa tembakan pengepung hampir mengenai Franz. Namun agen intelijen Mossad itu dengan lincah menghindar. Franz lompat ke balik Jeep warna hitam yang tengah terparkir.
Pengepung itu menahan pengejaran untuk mengatur jarak, dua orang yang tidak sempat berlindung harus meregang nyawa ketika Franz memuntahkan pelurunya.
" Duaarr.... Duaaarr....!!" mereka tersungkur dengan kepala yang terlanjur pecah. Franz sangat efisien dalam mengeluarkan pelurunya. Ia jarang gagal menembak target, bahkan untuk obyek bergerak.
Kelebihan agen Mossad selain lihai menyadap arus informasi adalah menembak obyek yang bergerak. Dan Franz sudah terlatih untuk kedua hal itu.
Tinggal dua orang.... kata Franz dalam hati. Ia sedang mengalkulasi kemungkinan selanjutnya.
Dari jarak sekitar dua puluh meter Franz melihat salah satu pengepung sedang berkomunikasi lewat hp.
Franz mengambil inisiatif menembak kaca mobil yang berada di sampingnya, ia ingin melarikan diri dengan mobil itu.
" Duaaarr...!!" hanya dengan satu kali tembakan kaca mobil temperlite itu telah buyar seperti jagung.
Franz menyetater mobil tersebut......bersamaan dengan mesin yang menyala mobil itu melambung ke udara dan hancur berkeping keping......
" Ia telah masuk perangkap.....!!" kata salah satu pengepung.
**
Syahmir memberikan selembar cek pada Risjkad. Eksekusi terhadap Franz harus dibayar mahal.
Sebagai laki-laki penghibur tentu saja ia tak akan sanggup mengeluarkan uang sebanyak itu.
Cek itu milik Andini. Dia kecewa pada Franz karena gagal melaksanakan tugas. Andini harus mengambil tindakan ini setelah mengetahui orang-orang kepercayaannya telah tewas.
Pioli, Pierlo dan Romanio tak becus mengemban tugas, dan Franz adalah orang yang merekomendasikan mereka.
__ADS_1
Tugas yang gagal itu membuat Andini harus segera mencuci tangan. Jika Franz dibiarkan hidup, maka otak pembunuhan cepat atau lambat akan mengarah kepadanya. Untuk itulah ia harus membuang duri dalam daging... Duri itu adalah Franz.
Lebih jauh......tidak menutup kemungkinan Franz akan memanfaatkan situasi Andini yang terjepit untuk memerasnya di kemudian hari.
Tentu saja itu tak boleh terjadi....
" Baiklah Syahmir... Senang bekerja sama denganmu..." kata Risjkad. Setelah menerima cek dari Syahmir.
" Tentu saja...kau harus segera memberi komisi untukku..." kata Syahmir. Risjkad tersenyum kecut. Ia membenarkan kata-kata bosnya soal Syahmir. Laki-laki yang hanya mengandalkan penampilan dan tampang.
" Baiklah... Ngomong-ngomong siapa orang yang telah menyuruhmu..?" tanya Risjkad seolah menyelidik. Syahmir terdiam untuk sesaat. Ia tak boleh memberitahunya, itu pesan Andini.
Sebenarnya bukan itu yang ada di benak Syahmir. Ia tak mau Risjkad kenal langsung dengan Andini, karena itu akan menghilangkan komisi-komisi selanjutnya terkait proyek melenyapkan nyawa orang.
Syahmir itu memang tampan, ia mirip aktor Bollywood. Sayangnya ia tak secerdas Franz, bahkan terlalu jauh membandingkan keduanya.Tidak bisa apple to apple membandingkan Franz dengan Syahmir.
Syahmir selalu menggunakan emosi yang terbakar saat melakukan tindakan.
Termasuk saat ia mengirim foto dan video kepada Franz. Tentu saja itu sangat merugikan dan bisa berakibat fatal. Andini tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika video dan foto itu terlanjur beredar di media..??
Dasar laki-laki ***** yang hanya mengandalkan otot.....kata Andini saat melihat send yang terkirim di hp nya. Ia ingin marah ketika itu, tapi saat itu bukan timing yang tepat.
Soal Franz harus mati itu sudah dipikirkan matang-matang olehnya.Andini hanya tinggal menyuruh Risjkad. Orang kepercayaannya dalam urusan melenyapkan nyawa orang.
Masalahnya ia harus mengganti sosok Franz untuk menggantikan perannya sebagai laki-laki yang memberinya fantasi di dalam kamar, maka Andini memilih Syahmir. Ia tampan dan berotot kekar.
Tapi ia tak mengira Sayhmir bisa sebodoh itu. Beruntung Syahmir memang laki-laki yang bodoh,sehingga Andini bisa menghapus foto dan video yang tak senonoh itu tanpa harus bersusah payah.
Syahmir tetap menanyakan komisi itu kepada Risjkad.
" Jika besok kau tidak memberi komisi, aku akan bilang pada bos agar tidak menggunakan jasamu lagi...." kata Syahmir kepada Risjkad dengan setengah mengancam.
Risjkad hanya tersenyum.
Aku sudah lama mengenal bosmu Syahmir... Jauh sebelum kau mengenalnya.... Jika aku bertanya siapa yang menyuruhmu... Itu untuk memastikan bahwa kau benar-benar laki-laki yang bodoh.........kata Risjkad dalam hati.
" Bagaimana ok deal ?... Kalau ok aku harus sudah terima komisiku besok...." kata Syahmir lagi.
Risjkad enggan bercakap-cakap lagi. Ia segera menarik laci mejanya untuk mengeluarkan sesuatu.
Akhirnya kau mau juga membayar komisiku...... kata Syahmir dalam hati. Ia tersenyum puas saat melihat Risjkad membuka laci mejanya.
" Dleep... Dlepp...!" dua peluru segera bersarang di jantung Syahmir, ia tewas di hadapan Risjkad. Tak lama kemudian ia menelpon seseorang.
__ADS_1
" Semua sudah dieksekusi dengan baik bos...." kata Risjkad.
" Bagus....." jawab Andini di kamar hotel Der Alma.