
Clara gelisah menunggu kedatangan Delova. Sudah lima belas kali ia melihat arlojinya, dan tiga puluh dua kali melihat ke pintu lobby.
" Ugggh... Kemana sih tuh orang.." gumam Clara. Tapi Delova belum tampak batang hidungnya. Siang itu hanya sedikit saja orang yang berada di dalam lobby. Ia hanya melihat seorang anak laki-laki mengambil video di ruangan dengan posisi memutar.
Clara tambah gelisah.
Lima belas menit, baru Delova datang. Clara memasang wajah cemberut.
" Sorry yaaa bos.. Ada sedikit kendala.." Clara no komen.
" Gak usah lebay.. Ayuuuk kita jalan !"
Mereka bergegas ke arah jalan Pietro Barbieri untuk selanjutnya menuju Coloseum.
Mobil baru melaju kira-kira 15 menit, Clara menyuruh Delova berhenti.
" Del... aku jadi bad mood nih..gimana kalau kamu segera saja hubungi Herlambang.. Biar kita jalan bertiga.." Clara sudah tak sabar ingin segera bertemu dengannya. Ia ingin melihat matanya yang dalam.
"Baiklah kalau begitu, aku segera hubungi Hercules.." Delova menepikan mobilnya.
"Il telefono che stai chiamando non è attivo..."
"Hemmm... Nomornya gak aktif Ra.." kata Delova. Akhirnya mereka memutuskan untuk ngopi dan kongkow di pantai Santa Marinella, agar tak jauh untuk kembali ke hotel.
Delova memesan Cream Latte dan sandwich,
" Ra kamu pesan apa.. .?"
" Gado-gado..! " jawab Clara sekenanya.
" Oke.. Gado-gado.." Delova menulis di surat pesanan : GADO-GADO . Clara tersenyum melihat tingkah Delova yang seperti anak kecil.
" Kau sahabat yang lucu Delova..." kata Clara pelan.
" Delova gitu looooch..."
" Hahahahahahaha..." suara mereka pecah, namun tak terdengar ketika ditelan ombak Santa Marinella.
*******
Rosetta sedang bersama Herlambang. Ia seperti menangkap sesuatu yang berbeda di dalam diri kekasihnya itu.
" Her.. Sejak semalam aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirimu....ada apa hanny.. Apakah ada hal yang mengganggumu ?"
" Tentu saja tidak.."
" Apa Pierlo mengecewakanmu ?"
" Ah tidak... Ia juga sudah menandatangani akte pembelian.."
" Baguslah kalau begitu.. Kapan dia melakukan pembayaran ?"
" Jika tidak ada halangan mungkin besok dananya sudah masuk ke rekening.. "
" Kalau begitu apa yang membuatmu agak berbeda... Hanny.. Kupikir kita sudah sangat terbuka selama ini...." kata Rosetta lembut. Herlambang membuang pandangannya ke arah jendela.
" Aku rindu ibuku.. " jawab Herlambang sekenanya. Rosetta tersenyum kecil.
" Baiklah kau bisa atur kapan waktu yang tepat untuk menjenguknya.. "jawab Rosetta. Dalam beberapa hal, Herlambang harus mengakui bahwa Rosetta adalah figur yang dewasa. Ia keibuan, namun juga tegas. Itulah kenapa ia bisa jatuh cinta padanya.
__ADS_1
" Apakah kau akan menemaniku Ros..? "
" Tentu saja...karena aku juga harus menyayangi ibumu...." Raut wajah Herlambang seketika berubah. Rosetta menangkap perubahan itu.
" Hemm.... tapi bila kau keberatan mungkin ada baiknya aku tidak ikut Her..."
" Bukan begitu maksudku...." jawab Herlambang, ia tidak ingin melukai hati Rosetta.
" Apapun yang terbaik untukmu, aku akan melakukannya Her..." Rosetta menyaput lembut lengan Herlambang.
" Baiklah, aku akan memikirkannya, sebelum aku memutuskan untuk ke Jakarta... "
" Kabari aku sebelumnya..."
" Tentu Ros.." Herlambang memeluk Rosetta, namun wanita itu masih merasakan sesuatu yang berbeda. Rosetta adalah wanita yang sangat cerdas.
*******
Delova mengirim kontak Herlambang,
" Ting...! "
" Tuh nomornya Ra... " kata Delova. Clara meng - save nomor Herlambang. Sejenak Clara terkesima saat melihat foto profil milik Herlambang. Gunung Salak ! Apakah ia masih mengingat peristiwa itu ? Malam api unggun misalnya, atau saat menakut-nakuti dirinya dengan kuntilanak, atau saat ia menemaninya masak Indomie tumis untuk sarapan pagi anak Mapala ? Ah mungkin aku hanya terbawa perasaan, kata Clara dalam hati.
" Idih malah bengong, bukannya langsung telpon !"
" Hemmm..." Clara memencet qwerty, ia ingin menghubungi Herlambang. Namun gak jadi.
" Ya ampuuuuuun gini hari masih ada ya orang kayak kamu..." kata Delova bingung. Clara tak komentar.
" Kalo di sini... Kamu bisa jadi perawan tua Ra... Bakalan gak dapet cowok, karena mereka agresif...!!"
" Ting.." Pesan terkirim.
*******
Semalam Herlambang sebenarnya ingin segera menghubungi Delova untuk menanyakan soal Clara. Tetapi itu tak mungkin, karena sejak sore Rosetta sudah ada di kamarnya.
Herlambang membuka hp, ada satu kali panggilan tak terjawab dari Delova. Tak lama kemudian muncul kiriman video bertuliskan :
--Apa kau tak melihat kegelisahan Clara untuk segera mendapati nomormu ?--
Dalam video itu terlihat Clara yang lima belas kali melihat arloji, dan tiga puluh dua kali melihat pintu lobby.
Salah satu kehebatan yang dimiliki seorang agen rahasia adalah membuat skenario kejadian, dan itu membutuhkan akurasi dan intelegensi yang tinggi, kata Delova dalam hati.
Herlambang jadi merasa bersalah setelah melihat video itu.
" Hallooo... Delova ? Maaf hp ku baru aktif." kata Herlambang di seberang sana.
" Tak ada masalah, kau pasti mau menanyakan kabar Clara kan ?"
" Heeem..."
" Baiklah... Aku sambungkan ya ke Clara.." Clara berbicara.
" Her lagi di mana lu ?" Delova jadi keheranan, kenapa ya tiba-tiba Clara jadi lancar banget ngomongnya....
" Di rumah... "
__ADS_1
" Hebat lu ya udah punya rumah di sini.."
" Apartemen maksud gue Ra... Lu di mana nih ? Serlok yaa gue otw ke sana.. "
" Ok... " hp ditutup.
Delova dan Clara kembali terlibat pembicaraan.
" Del.. Kamu pernah gak jatuh cinta..?" tanya Clara. Delova terdiam. Ia ingin bercerita, namun ia mengurungkan niatnya. Terlalu pahit untuk diceritakan, katanya dalam hati.
" Ya pernahlah Ra...."
" Umur berapa tuh ?"
" Sejak masih TK kali yaaa..."
" Ahh yang bener.. Ini pertanyaan serius.."
" Beneran... sejak TK aku memang sudah jatuh cinta pada yang namanya senjata...tapi kalo jatuh cinta sama cowok baru di SMA..."
" Siapa namanya..?"
" Andrea Naravova. "
" Oh gituu.. Sekarang apa dia jadi suamimu ?" Delova hanya terdiam.
" Kadang dalam beberapa hal persahabatan bisa lebih baik keadaannya dari pernikahan... Dan itulah yang kami lakukan.. "
" Ohhhh... Gitu.. " Clara manggut-manggut.
" Sekarang dia sudah punya anak ?"
" Sudah.. Siapa namanya.. ?"
" Rosario.. Dia anak laki-laki yang cerdas dan menggemaskan... "
" Oyaaa... ? ada fotonya ?" Delova memberikan foto Rosario yang ia save di gallery. Clara sangat terkejut... Bukankah itu anak yang tadi ia lihat saat di lobby ? Delova senyum - senyum.
" Sepertinya tadi aku lihat dia di lobby hotel sedang merekam video... " tanya Clara.
" Tentu saja, dan video itu telah aku kirimkan ke Herlambang....!"
" Apaaaaaa ?" Clara jadi gemes.
" Ahhhh.. Aku kan jadi maluuuu Del.. Keliatan banget butuh sama dia..." kata Clara mirip anak kecil.
" Kejujuran itu penting, selama ini kamu tuh jaim.. Seolah tak butuh Herlambang.. Padahal.... " Delova meneruskan kalimatnya...
" Cinta mati...." Ejek Delova, Clara cuma bisa tersipu malu...
" Uuuuh dasaaaar.... " teriak Clara. Delova terlihat cuek.
" Raaa.. Kamu tahu gak tugas guide profesional selain memandu turis...? "
" Gak tau..tuh... Emang apalagi ?"
" Jadi Mak Comblang....!! " kata Delova.
" Anjrrriiiiit....gue baru mau seriuuuus dengerinnya.. .!"
__ADS_1
" Hahahahahhahahahha......" mereka tertawa bersama. Hidup memang indah bila disertai persahabatan, namun ia akan berubah menjadi api saat muncul permusuhan.