Cinta Di Venesia

Cinta Di Venesia
" Nyawa Tak Bertepi "


__ADS_3

Clara masih terisak-isak dalam pelukan Herlambang. Peristiwa yang hampir merenggut nyawanya itu menjadi beban traumatik yang kelewat dalam. Ia merasa tak pernah jahat sedikitpun kepada seseorang, tapi kenapa ada yang menginginkan nyawanya ?


Herlambang kian erat memeluk Clara, ia paham betapa berat beban yang kini sedang dalam pundaknya.


Sebagai wanita yang nyaris tak pernah didera penderitaan dan tumbuh besar di lingkaran keluarga terhormat hampir semua orang di sekitarnya memperlakukan ia bak puteri raja. Bahwa kemarin ia hampir mati itu menjadi pukulan berat ke dalam bathinnya.


Catarina berusaha menenangkan Clara, juga Andrea dan Gress. Tapi mereka tak bisa. Clara masih syok.Hingga telepon Andrea berdering di antara isak tangis Clara.


" Delova bisakah kau bicara dengan Clara... ?" Andrea berkata sebelum Delova mengatakan sesuatu.


" Tentu saja Drea... Cepat berikan telponnya..." pinta Delova. Suasana hening sejenak, hanya desir angin yang bersuara. Clara berusaha tenang dan terlihat mengusap airmatanya.


" Del.... " kata Clara, namun ia masih tak sanggup berkata-kata.


" Baiklah sayang...... Berikan telponnya ke Andrea...." pinta Delova, ia tahu bahwa Clara tak mungkin bisa berbicara untuk saat ini.


"Drea cepat kau bawa mereka ke Rich House..." perintah Delova kepada Andrea.


" Ok....." jawab Andrea.


**


Rich House, pukul 14.20


Rich House adalah hotel butik.Sebenarnya bangunan itu lebih mirip bungalow yang berukuran besar. Di sekelilingnya banyak tumbuh pohon-pohon pinus.


Rich House terletak sekitar 20 km setelah keluar dari hutan Berlia, tempat mobil yang ditumpangi Clara meledak. Karena jaraknya yang tak begitu jauh, tadinya Delova menginap di sana untuk tujuan menyelidiki sebab-sebab kejadian itu.


Namun hal aneh yang ia dapati.... TKP itu telah benar-benar bersih saat ia tiba di sana. Seolah tak pernah ada kejadian apapun.


Mereka datang saat Delova sibuk menghubungi beberapa temannya di Capdown...


Capdown adalah lembaga underground yang didirikan alumni kamerad Rusia. Mereka sering bertukar informasi terkait banyak hal.Meski belum begitu jauh informasi yang didapat, ada satu informasi yang baru masuk ke Capdown.


Informasi itu terkait tewasnya pemilik Dubai's Syndicate di apartemennya beberapa hari lalu.


Delova meminta Anthoni Numaghedov sahabat lamanya untuk menggali informasi lebih jauh kasus tersebut, karena meskipun tak begitu jelas Clara pernah mengucap soal Dubai's kepadanya.


Delova segera berlarian keluar hotel saat melihat Clara datang. Ia dipeluk oleh Catarina, wajahnya tertunduk kelu. Gress, Andrea dan Herlambang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


" Sayang kau baik-baik sajakan...!!" kata Delova sambil memeluk Clara. Clara hanya mengangguk. Tak lama kemudian Delova melirik ke arah Catarina yang berada tak jauh darinya. Catarina menangkap bahwa itu isyarat agar mereka segera masuk ke dalam.


Delova menyiapkan beberapa minuman hangat dan sandwich, lalu menyarankan agar Catarina segera membawa Clara ke kamar.


" Dia perlu istirahat..." kata Delova. Yang lain terdiam.


"Setelah semuanya membaik aku ingin berdiskusi dengan kalian.....!!" kata Gress. Gress seolah ingin menumpahkan pengab di dadanya.Andrea menatap Gress dalam-dalam.


"Itu lebih baik teman... sudah lama kita jadi mesin pembunuh...." kata Andrea menambahkan.


**


Romanio terlihat gusar. Wakil Gubernur Venesia itu kembali meneguk Crainh Verya.... salah satu minuman tinggi alkohol. Minuman itu dibuat dengan mengendapkan ekstrak anggur merah, kemudian dipermentasi. Biasanya disimpan ke dalam tanah paling cepat 5 tahun sebelum dikonsumsi.


Crainh Verya ibarat mobil Ferrari yang dibuat sangat terbatas hanya untuk kalangan tertentu.


Romanio tersandar di kursi kulit yang mirip kursi raja-raja. Ada dua orang wanita di ruangan itu (tanpa busana) . Tak ada seorangpun di Venesia akan menyangka jika wakil gubernur mereka memiliki tabiat seperti itu.


Romanio sedang dalam gelisah. Bisa jadi ini adalah waktu dia berada di ujung tanduk. Sudah hampir satu minggu tak ada satupun pihak rumah sakit di Venesia yang menerima 3 jenazah korban bom mobil, hingga dia memerintahkan Nicola Parety kapolda kesayangannya itu agar mengerahkan sejumlah tim Buser mengecek satu persatu rumah sakit di sana.


Hasilnya NIHIL.


**


Pierlo baru saja berendam di kolam renang sambil menghisap Gurkha Black. Di benak Pierlo awan jadi berwarna emas perak saat asap cerutu itu keluar dari hidungnya.


Ia tak habis pikir bagaimana korban bom mobil itu sampai hari ini belum ditemukan.


Ia segera keluar dari air kolam,lalu bergegas menghubungi Pioli.


" Pioli kau harus bertanggung jawab untuk semua ini..... jika sampai besok pagi mereka belum kau temukan...... Aku pastikan besok sore kau tak lagi melihat matahari terbenam.....!!!" kata Pierlo mengancam Pioli.


**


Gigi Pioli gemerutuk menahan marah. Sudah beberapa kali ia menghubungi Gress, Andrea dan Delova.... namun tak satupun hp milik mereka yang dapat dihubungi.


Ia mulai membaca arah permainan, apakah mereka membelot ? Bisa jadi.... katanya dalam hati.


Sebagai alumni kamerad ia berinisiatif menghubungi Capdown.

__ADS_1


" Selamat Datang di Capdown....mohon masukan member code Anda........" demikian jawaban dari telepon yang dihubungi Pioli. Tentu saja Pioli hafal kode anggota miliknya.


Dengan segera Pioli menekan tombol keyboard.


" Maaf.... member code yang anda masukan SALAH... silahkan masukan member code anda dengan benar... " jawab telepon itu setelah Pioli menekan kode anggotanya.


Pioli merasa sudah benar. Kode itu tak pernah ia rubah selama 20 tahun terakhir. Ia coba mengingat... tapi memang itu kode yang ia miliki.


Pioli mencoba memasukan kode itu pelan-pelan.... tadi bisa saja aku salah pencet... kata Pioli dalam hati.


" Maaf.... member code yang anda masukan SALAH... silahkan masukan member code anda dengan benar... " jawab telepon itu lagi.


Pioli merasa ada yang aneh... Tak biasanya kode itu ditolak oleh sistem Capdown ?


Namun ia mantan agen intelijen, tak ada kamus putus asa dalam hidupnya. Kali ini Pioli memasukan kode anggota dengan sangat hati-hati.... Ia percaya bisa saja dalam kondisi pikiran kalut ia salah tekan.


Pioli memasukan beberapa karakter hurup dan angka sesuai kode anggotanya.......


" Maaf.... member code yang anda masukan SALAH untuk ketiga kalinya........maka dalam waktu beberapa detik sistem komunikasi anda akan dihancurkan..... " jawab telepon itu.


BLEEEP.......!! Handphone Pioli mati seketika, tentu saja Pioli tahu akan hal itu.


Handphone itu akan mati selamanya.


Namun sebagai agen intelijen yang memiliki cukup jam terbang ia telah mencadangkan semua data di dalam hp itu.......


Pioli nampak ketakutan, bukan karena handphone itu rusak, melainkan ia akan berurusan dengan seluruh anggota Capdown.


Tak ada jalan keluar jika para alumni kamerad turun tangan.... kecuali kematian.


Untuk beberapa saat Pioli memikirkan jalan keluar bagi masalah yang sedang ia hadapi. Tak ada jalan... semua seperti buntu.


Pioli tersadar, ia harus segera keluar dari gedung ini. Ia tahu tak lama lagi bakal ada beberapa orang yang datang ke tempatnya. Satelit Atruts akan menangkap kordinat terakhir saat ia menghubungi Capdown.


**


Saat Pioli masuk ke dalam mobil, ia sudah merasa ada beberapa pasang mata yang mengawasinya. Namun ia berusaha tetap tenang seolah tak akan terjadi apa-apa.


Mobil itu baru berjalan beberapa meter....... Tiba-tiba saja mobil itu melambung ke udara disertai ledakan yang sangat keras......!!!

__ADS_1


Pioli telah tewas dan hancur berkeping-keping bersama body mobilnya.........


__ADS_2