Cinta Di Venesia

Cinta Di Venesia
" DARA itu telah pergi "


__ADS_3

Herlambang dan Clara masih terlelap di dalam kamar. Tadi malam adalah malam terindah bagi keduanya sebagai puncak dari kisah cinta anak manusia. Setelah "malam pertama" itu, tentu ada konsekwensi yang harus mereka terima, sebuah tanggung jawab.


Semalam Clara menangis, menyesali keadaannya. Berulangkali Herlambang membelai rambut Clara, seolah ingin menguatkan kekasih hatinya bahwa semua itu telah terjadi, dan sebagai laki-laki ia pasti akan bertanggung jawab.


" Bukan itu maksud gue Her...gue yakin lu bakalan tanggung jawab.... " kata Clara sambil terisak.Beberapa kali punggung lengannya mengusap airmata yang terus mengalir di pipinya. Airmata yang entah mewakili apa. Ia sakit sekali saat pertama kali Herlambang menyentuhnya, namun di sisi lain ia menemukan rasa bahagia yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.


Herlambang mendekap erat tubuh Clara, sebagai pria dewasa ia tak pernah takut apapun atau pada siapapun, tapi melihat Clara sesenggukan perih hatinya bagai luka yang disilet-silet.


" Raa... asli gue minta maaf... " kata Herlambang lirih, meski kata maaf tak akan merubah keadaan, namun hanya kata itulah yang dimiliki Herlambang untuk menenangkan kekasih hatinya, Clara menutup mulut Herlambang dengan kedua jarinya.... Jari lentik yang tak pernah dijamah laki-laki kecuali Herlambang.


" Her.. Itu bukan semata salah lu.. Gue juga ikut andil....." kata Clara, kali ini Clara menyandarkan wajahnya ke dada Herlambang,dada yang bidang itu jadi basah oleh airmata. Herlambang sudah tak bisa berkata - kata, ia hanya bisa menatapi sprey tak beraturan yang telah ternoda darah. Berulangkali ia mengucap kata sesal karena 'DARA itu telah pergi...bukan pada saat yang tepat '


" Raa... Apapun akan gue lakukan asal lu mau maafin gue.. " Clara tak bicara, ia hanya meyakinkan hatinya bahwa Herlambang adalah laki-laki pilihannya. Laki-laki yang selama ini selalu menjadi obsesinya, laki-laki yang tak akan pernah merendahkan martabat seorang wanita, lebih dari semuanya Herlambang adalah laki-laki yang bisa menjaga kehormatan diri dan keluarganya.


" Her.. Maafin gue..." kata Clara setengah berbisik.


" Kenapa.. ?" tanya Herlambang.


" Gue telah merampas kehormatan lu..." Herlambang jadi nervous, mana ada dalam situasi seperti ini justru perempuan yang minta maaf.


" Clara... Lu tuh aneh... Harusnya gue yang minta maaf Raaa..."


" Her gue bangga sama lu... di mata gue, lu laki-laki yang bisa menjaga nama baik keluarga...dari anak tukang jahit lu bisa sukses kek sekarang... jujur gue malu sama diri gue....lu laki-laki terhormat Herla...." Isakan Clara seperti memecah dinding dan langit-langit kamar.


Duuuuuuar....!!! Seperti ada halilintar yang menyambar kepala Herlambang. "Laki-laki terhormat ??? Apanya yang terhormat ??? Lahir dari keluarga gembel, tidur bukan dengan istrinya, sekarang malah merenggut kehormatan sahabatnya.... apanya yang terhormat.....!!!! Claraaaa asli gue gak bakalan maafin diri gue....!!!" jerit Herlambang dalam hati.


Suasana jadi hening dan sepi.

__ADS_1


' Andai saja Clara tahu keadaan gue sekarang...gue gak lebih baik dari laki-laki penghibur....!! ' Herlambang berteriak lagi dalam hati......


***


Zurich Oerlikon, pukul 18.00


Rosetta baru saja memasuki kamar apartemennya di Swiss. Ia sering mondar mandir antara Roma dan Swiss, bukan sekedar transaksi bisnis,tetapi juga untuk mengamankan assetnya.


Kadang sebuah langkah perlu diambil agar sesuatu yang telah diraih dengan kerja keras jadi tak sia-sia. Ia baru saja memenangkan gugatan terhadap Pretty Jeisey, pacar gelap Nicholas mantan kekasihnya. Beruntung Pretty tak sekalian ia bunuh, karena Rosetta masih mempertimbangkan bahwa Pretty tidak sepenuhnya bersalah, sehingga ia hanya menyelamatkan asset miliknya yang diakui oleh Nicholas.


Pengkhianatan, seringkali membuat seseorang jadi gelap mata. Hal itulah yang terjadi pada dirinya beberapa tahun lalu,saat Nicholas mengelabuinya. Meski Rosetta bukan gadis baik-baik, dan pernah beberapa kali melakukan hubungan intim dengan partner bisnisnya, tapi itu bukanlah alasan bagi Nicholas untuk berkhianat. Ia lebih menghargai sikap Nicholas yang terbuka daripada harus main belakang.


Hp Rosetta berdering.....


" Halooo Madame..." sapa Dr. Carolline di ujung telepon.


" Ada kabar bahagia untukmu nyonya.. Hasil labmu positif.... Kau akan melahirkan bayi berdarah Indonesia....." kata Caroline.


" Apaaa.... Ya Tuhan... Aku begitu bahagia mendengarnya dok... Baiklah terimakasih dokter....."


" Kau masih di Swiss...? " tanya Caroline.


" Ya.. Untuk beberapa hari lagi... " jawab Rosetta dengan hati yang berbunga-bunga.


" Baiklah.. Jaga kandunganmu baik-baik nyonya Rosetta... "


" Grazie dok.... " Rosetta menutup telepon. Berulangkali Rosetta mengelus-elus perutnya. Ia senyum penuh bahagia , akan lahir bayi mungil dari laki-laki yang paling

__ADS_1


dicintainya....Herlambang.


Rosetta bergegas mengambil hp pribadinya dari dalam tas, jarinya segera memencet tuts telepon, ia ingin segera menghubungi Herlambang untuk membagi kebahagian............... tapi niat itu ia urungkan. ' Ah... nanti saja, biar aku bisa lebih jelas melihat kebahagiaan di wajah Herlambang... " katanya dalam hati.


Rasa bahagia tak terperi setelah mendengar kabar dari dokter Caroline membawa pikirannya kembali mengenang perjumpaannya dengan Herlambang.


Perjumpaan itu sendiri bukan sesuatu yang telah direncanakan, melainkan tak terduga. Ketika itu dirinya sedang berkendara dalam keadaan depresi di sekitar Bala, setelah hubungannya kandas dengan Nicholas. Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan jika didalamnya ada pengkhianatan. Tadinya ia menepis kabar miring soal Nicholas yang selingkuh, sampai akhirnya ia membuktikan dengan mata kepalanya sendiri.


Tiba-tiba saja mobil yang dikendarainya terperosok ke bibir pantai setelah hilang kendali, beruntung ia masih selamat, tak jauh dari tempat kejadian ia melihat laki-laki yang sedang melukis berlari ke arahnya.


" ..stai bene.. Madame ? " tanya laki-laki itu sambil memapah dirinya keluar dari kabin. Ia seperti kebingungan saat melihat darah keluar dari kening Rosetta, dengan sigap ia menghapus dengan saputangannya.


" Tidak apa-apa.. Hanya luka gores.. Semua akan baik-baik saja.. " jawab Rosetta. Rosetta tak menyangka bahwa hari itu ia akan berjumpa dengan laki-laki WNA. Entah karena rasa berterimakasih atau WNA itu memang cool, Rosetta jadi ingin lebih jauh berkenalan.


" Oyaa terimakasih, sedang apa kau di sana ?" pertanyaan konyol, katanya dalam hati. Ia tahu WNA itu sedang melukis karena ada tripod dan kain kanvas. WNA itu hanya tersenyum, manis sekali.


" Melukis.."


" Boleh aku melihatnya ?" tanya Rosetta.


" Tentu saja..." mereka jalan beriringan disertai angin laut yang berhembus.


WNA itu melanjutkan lukisannya. Rosetta hanya terdiam sambil memandang ke arah pantai. Rambutnya yang panjang dan ikal berterbangan di hempas angin. WNA itu tak banyak bicara, ia terlalu cool. Tapi laki-laki seperti itulah yang ia suka. Laki-laki yang tak butuh wanita tapi sangat menghargainya.


WNA itu mengambil jaket, lalu menutup tubuhnya...


" Pakailah Madame.. Angin sangat kencang..." Benarkan ? Ia laki-laki yang tak butuh wanita tapi sangat menghargainya.

__ADS_1


Sejak saat itu sebuah hubungan kembali ia bangun. Rasanya ia telah jatuh cinta pada WNA itu.


__ADS_2