
Pagi di Venesia dipayungi oleh rintik gerimis. Gemericik air hujan yang memantul di permukaan kolam renang seolah sedang bersuka ria. Butiran airnya melompat-lompat seperti balita yang kegirangan, tetapi tidak dengan hati Herlambang. Meski ia sudah bersiap-siap sejak pagi , hatinya masih diliputi kegelisahan seperti tadi malam.
Dari balik jendela ia melihat Delova mengetuk pintu kamar Clara, tak seberapa lama penghuni kamar nampak terlihat di balik pintu. Clara menggunakan celana Jeans belel dan kaos putih, itu kaos merk 'Planet Surf' yang dibeli Herlambang saat mendapat cek dari Andini.Ternyata kaos itu masih seperti baru. Seingatnya memang beberapa kali saja Clara memakainya. " Sayang kalo dipake terus..nanti jadi cepat rusak...." kata Clara waktu itu diiringi senyum bahagia.
Clara, kenapa kaos itu menjadi sangat berharga di hatimu, memang itu adalah kaos termahal yang pernah dibeli Herlambang sepanjang hidupnya, tapi bukan itu masalahnya. Bagi sebagian orang barangkali nominal uang bisa menjadi ukuran, tapi tidak dengan Clara, ternyata kaos itu menjadi sesuatu yang berharga dan istimewa sehingga ia terkesan hati-hati sekali memakainya agar tak cepat rusak.
Melihat kesetiaan Clara, setidaknya ketika ia menyimpan kaos itu dengan apik,hilang semua keberanian yang dimiliki Herlambang untuk menyatakan cinta, bahkan untuk sekedar meralat keputusannya soal persahabatan, karena ternyata dirinya tak bisa setulus Clara dalam menjaga cinta, belum lagi soal "statusnya" dengan Rosetta, sungguh sangat naif dan memalukan kalau ia masih mengharapkan Clara mau menyintainya.
Pintu kamar Herlambang diketuk.
" Her... Udah siap belom.. ? Tanya Clara saat tiba di depan pintu. Herlambang masih gugup. Seperti ada genolak perang yang sedang terjadi di dalam relung hatinya.
" Jiaaaa... Cakep banget siiih luu...Asli kayak Clara....!!! " kata Herlambang sambil berusaha membuang semua kegelisahan dan kesedihan. Ia tak ingin merusak suasana :
"Aku harus jadi lelaki
Yang seutuhnya lelaki
Tangis kubuang
Dada kubusungkan
Duka derita
Kusembunyikan...." katanya dalam hati.
" Ah lebay banget sih lu...kenapa sekarang lu jadi melow kek gini... !!" jawab Clara keheranan seperti menangkap jalan pikiran Herlambang.
" Siapa yang melow sih Raaa... Gue cuma bilang kalo lu cakep banget hari ini...!! " jawab Herlambang.
__ADS_1
" Laaaah emang baru tauuu.. Kemana aja lu selama ini....." kata Clara sambil beberapa kali membetulkan krah kaos yang tidak bersalah. Seolah ia ingin memberitahu Herlambang bahwa ia masih menyimpan kaos pemberiannya. Herlambang pura-pura gak engeh.
" Ok.. Jika semua sudah siap ayoo kita segera berangkat..!!" kata Delova. Herlambang dan Clara berjalan di belakangnya. Mereka tidak melewati pintu "Monalisa" seperti saat mereka datang, melainkan lewat "pintu belakang" . Ah bukan, ternyata itu bukan pintu belakang, melainkan lobby sebuah hotel, De Capellietra. Luar biasa, jika di lihat dari sebelah utara Bellinda Alya sangat kumuh tetapi jika dilihat dari arah selatan De Capellietra tampak sangat mewah. Keduanya dipisahkan oleh koridor rahasia yang terhubung satu sama lain. Entah untuk tujuan apa, pemiliknya mendesain hotel jadi serumit itu. Hidup memang paradoks tergantung dari sisi mana melihatnya.
***
Tidak seperti travel agen lainnya yang selalu mengajak wisatawan ke ikon-ikon terkenal di Venesia, di hari pertama Delova justru mengajak Clara dan Herlambang mengunjungi pulau Motilio, sebuah pulau kecil di gugusan pulau-pulau Venesia. Pertimbangan Delova mungkin karena Clara dan Herlambang sudah tak asing lagi dengan ikon seperti St. Basilica, Rialto Bridge atau Piazza San Marco. Entah saat ini sedang off sesion atau memang Motilio bukan destinasi favorit, suasana di sana tak seramai ikon mainstream lainnya.
Setibanya di Motilio, gerimis tadi pagi tak juga mau berhenti, mendung malah menutupi hampir semua langit Venesia.Pot-pot dengan bunga warna-warni yang bertebaran di pinggir jalan ditambah beberapa canopi beragam corak milik kedai - kedai kopi yang menyembul ke badan jalan menambah suasana kian romantis. Dalam balutan mendung dan gerimis, nampak beberapa pasangan bergandengan di bawah payung ditemani burung-burung kanal yang terbang hilir mudik.
"Sepertinya kalian harus memakai payung.. gerimis sudah tak mau kompromi...!! " seru Delova sambil memberikan payung kepada Herlambang ketika gerimis membesar. Herlambang segera membukanya. Plug ! Payung merah itu kini telah mengembang.
" Woooow.....so sweet banget...!!" teriak Delova saat melihat Clara dan Herlambang dalam satu lingkaran payung.Delova sendiri menggunakan mantel.Mata Clara dan Herlambang berpapasan. Ada getaran yang merambati hati mereka, namun sangat sulit untuk diungkapkan melalui kata-kata.Perasaan yang sempat hilang untuk beberapa waktu.
" Oke... Sekarang aku mau beristirahat dulu kalian bisa jalan-jalan sambil menikmati suasana di Motilio..." kata Delova, Clara dan Herlambang bertatapan lagi.
" Oke.. " jawab Clara.
" Baiklah.. " kata Herlambang.
Herlambang dan Clara menyusuri jalan dan lorong yang diapit oleh rumah-rumah penduduk. Di bawah payung bahu mereka saling menempel, muncul lagi getaran seperti saat di gunung Salak. Mereka ingin bicara, namun tak ada sepatah katapun yang keluar. Aneh, saat persahabatan yang ada di pikiran maka kata-kata bisa mengalir begitu deras, namun saat berubah mindset berpacaran kata-kata mulai terhenti. Clara dan Herlambang masih terdiam. Hanya bahu mereka yang berbicara.Hanya jemari mereka yang berkata-kata.
Beberapa kedai di pinggir jalan sudah mulai buka, beberapa karyawannya terlihat sibuk merapikan bangku dan meja serta mengatur pot-pot bunga yang masih basah di guyur hujan. Di kejauhan nampak beberapa gondola dan vaporeto hilir mudik membelah kanal-kanal di laguna. Dari kejauhan terlihat Herlambang melingkarkan tangannya di pinggang Clara sementara Clara menempelkan kepalanya di pundak Herlambang. Ternyata masih ada cinta di Venesia untuk mereka.
***
Mereka tiba di Belinda Alya pukul 21.00
" Gimana... Seru gak jalan-jalannya ?" tanya Delova saat memasuki hostel.
__ADS_1
" Jiaaah pake nanya segala lagi..kayak gak pernah pacaran aja.." jawab Herlambang sambil tersenyum ke arah Clara.
" Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya..."
" Btw masih mau jalan lagi gak nanti malam..." tanya Delova.
" Kayaknya gak Del.. Kakiku sudah pegal-pegal nih...." jawab Clara.
" Baiklah kalau begitu, jadi aku bisa beristirahat lebih lama..ok see you.. " kata Delova. Sambil meninggalkan keduanya.
" Baiklah sampai nanti.. " jawab Clara.
Herlambang masih di kamar Clara, rasanya tak ingin sedetikpun ada waktu yang berlalu.
" Her.. Lu mau minum apa ?"
" Kalau ada bir aja.. " kata Herlambang, Clara sedikit terkejut, tapi ia tak ingin berspekulasi lebih jauh, 'waktu memang bisa merubah kebiasaan seseorang' katanya dalam hati.
" Ada....!! " Clara bergegas ke arah kulkas. Clara mengambil dua buah kaleng bir.
" Ra lu suka juga ?"
" Gak juga..gak sering sih tapi pernah satu dua kali gue minum bir.. " jawab Clara.
Mereka duduk berdua di atas sofa, Clara bersandar di bahu kekasihnya. Berulangkali Herlambang mengecup kening Clara.Dalam....dalam sekali seakan-akan ia tak mau lagi kehilangan Clara. Cinta adalah kekuatan, ia akan mempertahankan apapun yang bakal terjadi.
Malam semakin larut, Herlambang beranjak untuk kembali ke kamarnya, namun Clara seperti tak ingin ia segera pulang. Sejenak Herlambang terdiam, tak lama kemudian ia berjalan ke arah stop kontak. "Klik" lampu telah dimatikan. Clara ingin mengatakan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang bisa keluar karena bibirnya telah dihujani ciuman Herlambang.
Setelah itu tak ada lagi kata-kata yang terdengar, kecuali desah nafas keduanya yang memecah sunyi di gelap malam. Cinta telah dileburkan keduanya untuk menyemaikan benih-benih.
__ADS_1