
Rosetta baru tiba di salah satu rumah mewahnya. Rumah yang terletak di jalan Santos Delora yang berada di Dolomites itu adalah bangunan yang paling berbeda dengan rumah yang ada di sekitarnya. Dolomites tak ubahnya daerah Puncak-Jawa Barat di mana banyak terdapat villa.
Di kaki bukit sebelah selatan, Rosetta membangun sebuah villa megah dengan aksentuasi rumah Joglo, secara khusus ia mengimpor ukiran jati dari Jepara sebagai ornamen exteriornya, termasuk Gebyok, untuk interior Rosetta mendatangkannya dari Solo dan Jogja, seperti patung sepasang kekasih, Roro Blonyo. Beberapa wisatawan tampak kagum dengan bangunan itu, bahkan ia sering mendapat telepon dari koleganya kapan ia berniat untuk menjualnya.
Bagi Rosetta bangunan Joglo itu bukan soal harganya, melainkan aspek psiko spiritualnya. Dalam beberapa literasi soal kebudayaan yang ia pelajari di Rembrandt Institue , rumah Joglo sangat kaya akan pilosofi. Itulah mengapa ia mencintai Jawa sebagai salah satu pusat budaya.
Tetapi lebih dari semua itu, keinginannya membangun rumah Joglo karena kekasihnya, Herlambang. Pada saatnya nanti ia ingin menghabiskan hari tua bersamanya di sana.
" Lukisan yang indah Madame.." kata Angelica saat menjumpai lukisan di ruang tengah. Ia adalah kurator sekaligus designer , dalam usianya yang masih muda, Angelica sudah mengantongi gelar doktoral di bidang seni.
" Tentu saja..." jawab Rosetta bangga. Lukisan itu adalah potret dirinya. Di pojok bawah sebelah kiri, ada tanda tangan pelukisnya.
" Herlambang..." kata Angelica ketika membaca nama pelukisnya. Ia seperti sedang berpikir keras untuk menentukan seberapa besar index artistiknya. "lukisan yang luar biasa..." gumamnya.
" Saya sering menilai karya beberapa pelukis top Indonesia Madame, Sirhadi,Dullah, Joko Pekik, Nashirun, tapi saya belum pernah sekalipun mengenal lukisan karya Herlambang..." kata Angelica.
" Lupakanlah Angelica...aku jadi ragu-ragu untuk menjualnya.. "kata Rosetta .
" Tapi untuk saat ini saya berani membelinya setengah juta dolar Madame.." kata Angelica, ia yakin suatu saat lukisan itu akan memiliki nilai lebih.
" Bagaimana kalo 1 juta ?" tanya Rosetta.
" Baiklah akan aku pertimbangkan dalam beberapa hari, aku akan memberimu kabar secepatnya... " ujar Angelica. Rosetta tersenyum kecil.
" Tak perlu Angelica, tiba-tiba saja aku jadi tak berniat menjualnya... " kata Rosetta sambil menyeruput wine.
" Kenapa bisa begitu Madame ?" tanya Angelica, padahal ia di undang oleh Rosetta sebagai kurator yang akan menjual lukisan itu ke beberapa kolektor. Rosetta hanya terdiam." aku suka senyum penuh misteri dalam lukisan itu, sama dengan misteri yang menyelimuti hubungan cintaku dengan Herlambang" kata Rosetta dalam hati.
" Baiklah kalau begitu.. 1 juta aku bayar saat ini juga Madame...." kata Angelica. Ia begitu yakin dengan penawarannya. Beberapa kolektor memang tak pernah berpikir soal harga, selama mereka yakin bahwa pelukisnya hanya akan menelurkan karya dalam jumlah sedikit. Sebagai kurator seni yang disegani, Angelica pasti sudah memikirkan keuntungan apa yang akan dia dapatkan.
" Luar biasa...! Kau terlihat sangat bernafsu untuk membelinya Angelic.."
" Tentu saja, dari guratannya aku tahu bahwa lukisan ini hanya akan terlahir satu kali saja di dunia..guratan kanvasnya benar-benar penuh jiwa..." kata Angelica sambil terus menatap lukisan itu.
" Adakah beberapa hal yang bisa kau katakan mengenai lukisan itu ?" tanya Rosetta menelisik.
" Tentu saja Madame, dalam beberapa studi yang aku dalami, terlihat pelukis ini sangat lembut menyaput kuas di bagian tertentu, namun ada bagian kuas yang ia beri tekanan lebih... " kata Angelica sambil menunjuk bagian-bagian lukisan itu.
__ADS_1
" Terlihat jelas di sini Herlambang menekan sangat lembut kuasnya pada bagian hati obyek, di sisi lain ia memberi tekanan yang kuat pada bagian bibir obyek... "
" Menakjubkan.. Dari mana kau dapat kesimpulan itu ?"
" Lihatlah..!" Angelica menunjuk bagian hati.
" Di sini ketebalan sapuannya hanya sepermil mikron, betapa lembut dan sangat hati-hati, belum lagi soal paduan warna... Sungguh sebuah mozaik yang indah...!! "
" Ada lagi yang bisa kau jelaskan Angelica ?" tanya Rosetta lagi.
" Tentu saja Madame.. Kau sedang dalam keadaan sedih saat dilukis, dan pelukis itu mengerti sekali akan perasaanmu..... "
" Dari mana kau tahu ?"
" Dari senyuman di lukisan itu !! " Rosetta terperanjat, ia tak menyangka Angelica sampai mengetahui isi hatinya.
Angelica tak salah, saat itu kejadian yang sangat menyedihkan sedang terjadi dalam hidupnya. Nicholas pujaan hatinya menjalin affair dengan wanita lain setelah Rosetta mengorbankan segalanya.
" Baiklah kalau begitu, beri aku waktu untuk memutuskannya... " kata Rosetta. 'Kupikir aku tak akan pernah menjualnya.. Lukisan itu adalah hadiah paling indah yang pernah aku terima.' kata Rosetta dalam hati. Mereka terus berjalan ke arah belakang rumah.
*******
Pertemuannya dengan Clara di Santa Marinella membuat hatinya gusar. Ia sama sekali tak pernah menyangka akan bertemu dengan "kekasihnya" di tempat yang sangat jauh.
Ah bukan, Clara bukan kekasihnya. Tidak ada pernyataan apapun yang terucap sehingga mengokohkan status Clara sebagai kekasihnya,atau sebaliknya, tak ada ucapan dari Clara yang menyatakan ia bisa dianggap kekasihnya. Atau memang selama ini Clara hanya menganggap semua ini persahabatan ?
Entahlah. Menutupi fakta adalah pekerjaan yang mustahil dan sia-sia. Hatinya bergetar saat menatap mata bening milik Clara tadi siang, mata itu tak berubah. Sama seperti dulu. Mata yang memancarkan aura kasih yang tulus.
Apakah ini waktu yang tepat untuk menyingkap tabir selama ini ? Tabir yang tanpa sengaja menutup isi hati masing-masing.
Herlambang menepis keinginan untuk mencintai apalagi memiliki Clara. 'Sesuatu yang mustahil' katanya dalam hati. Situasi itu masih mungkin, tapi dulu bukan sekarang. Apapun keadaannya, ia sudah bukanlah Herlambang yang suci, ia sudah tercemar oleh debu... Bahkan ia sudah mirip ******* karena menjalin hubungan terlalu jauh dengan Rosetta.
Mungkin saja bagi sebagian laki-laki bisa bermain di dua kaki atau selingkuh, tapi itu tak berlaku dalam hidupnya. Ia tak ingin martabat diri dan keluarganya hancur. Apapun alasannya perselingkuhan adalah perbuatan keliru yang bisa melukai dua belah pihak, Clara atau Rosetta.
Saat ini ia di posisi sulit, merajut cinta dengan Clara sudah tak mungkin. Pilihan terbaik adalah melanjutkan hubungannya dengan Rosetta meski ia akan di hantui bayangan Clara seumur hidupnya, karena cinta pertama selalu mengisi mahkota hati. Ia tak akan bisa tergantikan.
Hp Herlambang beberapa kali berdering. Rosetta . Ia enggan untuk mengangkatnya. Bukan karena ia telah bertemu Clara, melainkan ia harus mereview sikap apa yang harus dia ambil besok. Ia masih bingung menentukan alasan apa yang tepat kepada Rosetta bila ia "terpaksa" harus pergi dengan Clara ?.
__ADS_1
Rosetta memanggil lagi.
" Ya... Hanny.. Maaf aku baru saja selesai mandi..." jawab Herlambang berbohong.
" Tak masalah...aku hanya ingin menyampaikan kabar.. Bahwa aku harus mengurus beberapa pekerjaan mungkin untuk beberapa hari ke depan aku tak dapat mengunjungimu hanny..." kata Rosetta lembut.
" Hemm.. Baiklah Ros..itu bukan masalah..." jawab Herlambang.
" Kau tidak menanyakan kemana aku akan pergi....?" tanya Rosetta.
" Hemmm... Aku baru akan menanyakannya...tap..."
" Aku akan ke Swiss... " .
'Seperti ada yang berbeda' kata Rosetta sambil bergumam.
" Baiklah ada lagi yang ingin kau sampaikan Ros.. ?"
" Tidak ada.. Jaga dirimu baik-baik selama aku tak ada di samping mu... " kata Rosetta.
" Grazie Ros...kau juga yaaa... " pinta Herlambang. Telepon ditutup. Herlambang lega...tidak akan ada kesulitan !!
' OMG...!! Mungkin ini hadiah terindah buatku' teriak Herlambang dalam hati.
********
" Halo Roberto..? " tanya Rosetta di ujung telpon.
" Haloo Madame Ross... Apakah ada tugas untukku ?" tanya Roberto.
" Tentu saja..."
" Baiklah Madame.. Apa yang harus kukerjakan ?"
" Malam nanti kau ke Lungotevere..cek apakah ada wanita di dalam suite room nomor 128..." kata Rosetta.
" Baiklah.. Bukankah itu kamar Signore Herlambang ?"
__ADS_1
" Tentu saja... Aku hanya ingin memastikan..!! " telepon di tutup.
*******