Cinta Di Venesia

Cinta Di Venesia
" Persahabatan "


__ADS_3

Setelah lama berbicara dengan Velencia, Delova mengemasi barang bawaannya. Ia menatap kamar-kamar di seberang kolam renang, kamar Clara, kamar Herlambang... namun kamar Clara lah yang dipandangi lebih lama.Hemm... Ada cerita indah di sana, katanya dalam hati.


Delova memacu kendaraan dengan perasaan tak karuan. Ia masih ingat saat Clara dan Herlambang sedang berada di mobilnya ketika berangkat. Namun saat pulang ia merasa kesepian. Tak ada lagi canda tawa mereka.


Tiba-tiba saja, ia harus memperlambat laju kendaraannya, karena beberapa polisi sedang sibuk mengatur lalu lintas. Dari jarak 100 meter Delova melihat kepulan asap hitam dan sisa api yang masih menyala dari sebuah mobil yang terbakar.


Ada firasat yang tak enak di hati Delova. Ia segera menepikan mobilnya, dan berlari ke arah tempat kejadian.


" Ada apa ini ?" tanya Delova kepada salah satu petugas.


" Bom mobil...!!" jawab petugas tadi. Delova hampir jatuh pingsan ketika ia melihat sisa mobil yang meledak. Dalam melakukan tugas ia tak pernah takut apapun, namun kali ini ia merasa gentar saat melihat mobil yang meledak itu.......


Itu mobil yang ditumpangi Clara !!


Astaga apa sebenarnya yang sedang terjadi ? Delova tak bisa menjawab.


Saat ini Delova makin tak kuasa untuk melawan kesedihan.... Apalagi ketika ia menyaksikan tiga kantung jenazah dibawa masuk ke dalam ambulance.


Clara... Maafkan aku karena tak sempat melindungimu... Kata Delova dalam hati.


***


Kantor pusat Pioli Agente - pukul 23.00


Pioli sedang asyik menikmati berita di televisi. Sebuah mobil yang meledak sekaligus merenggut 3 nyawa.


Negosiasinya pada Andini saat di Munchen membuahkan hasil. Dan itu berkat otaknya yang cemerlang. Andai saja ia membunuh Clara dan Herlambang saat di Capellietra hasil yang ia dapat tidak akan maksimal, karena targetnya sudah terbunuh.


Ia paham betul setinggi apa nilai Clara di mata Andini, karena itu ia berusaha menaikan bargaining posisinya.


Untuk itu biarlah mereka hidup sementara, kecuali Andini bersedia mengembalikan sepenuhnya Pioli Agente kepadanya. Hasilnya Andini setuju asalkan Clara dilenyapkan,alasan Andini sederhana saja.... setelah orang tua Clara mati, Clara juga mati dan Rosetta dihukum mati, maka ia akan sepenuhnya memiliki Dubai's Syndicate sekaligus menarik perjanjian hak konsensi Augusto Propierta. Itu artinya Andini memiliki dua perusahaan penting. Dubai dan Augusto.


Pioli beberapa kali tersenyum puas.Ia tak peduli dengan Dubai dan Augusto, ia cuma ingin Pioli agente kembali kepadanya.


Sesekali kakinya naik ke atas meja. Beberapa kali ia memutar-mutar kursi yang ia duduki,kemudian ia berulang kali menghisap Marlboro lalu mengepulkan asapnya ke udara. Ia seperti sherif yang baru saja mengeksekusi penjahat.


Ia ingin mengucapkan terimakasih pada orang yang telah menjalankan tugasnya dengan baik.


" Andrea... Kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik..." kata Pioli saat selulernya terhubung dengan Andrea Naravova.


" Ya pak... Itu sesuai perintahmu.." jawab Andrea.


" Baiklah... Kapan kau mau ambil komisimu ?" tanya Pioli sambil tersenyum sendirian.

__ADS_1


" Terserah kau saja pak... " jawab Andrea. Pioli menutup telepon. Ia memang hanya ingin mengucapkan itu saja pada Andrea.


***


Markas Polizia - pukul 22.00


Romanio memasuki markas polisi Venesia sendirian. Itu tak seperti biasanya. Sebagai wakil gubernur,(sebenarnya kurang tepat istilah wakil gubernur, karena Venesia adalah provinsi yang berbentuk republik.... mungkin lebih tepat wakil presiden) kemanapun ia pergi negara pasti mengawalnya, setidaknya ia akan dikawal oleh satu ajudan.


Beberapa opsir seperti terkejut melihat kedatangannya. Mereka mengira Romanio sedang melakukan sidak. Bisa jadi, sebagai wakil gubernur ia merasa bertanggung jawab atau.... merasa malu soal kejadian di Capellietra yang menewaskan 2 WNA.


Banyak komentar dari pengamat politik menyatakan kejadian itu seperti menampar wajah pemerintah daerah (Republik) Venesia dengan keras, karena tragedi Capellietra telah merusak reputasi Venesia sebagai ikon wisata kelas dunia. Mereka umumnya menyesalkan, menyayangkan, atau menggunakan bahasa halus lainnya yang pada ujungnya memojokkan pemda di sana.


Catarina merasa aneh dengan kedatangan Romanio yang terkesan mendadak dan tanpa protokoler.Catarina adalah kepala unit Reserse dan Kriminal Khusus. Padahal baru tadi siang ia mengirimkan berkas penyelidikan kasus itu. Meski belum P-21, ia diperintahkan untuk selalu memberikan laporan secara berkala kepada Romanio, dan itu selalu dilakukannya tepat waktu. Jika malam-malam begini ia datang (apalagi sendirian) pasti ada sesuatu yang sangat penting.


Romanio masuk ke ruangan Nicola Parety. Ia adalah Kepala Polisi Daerah (Kapolda) untuk wilayah Venesia. Nicola tidak terkejut.


Rungan itu sangat luas. Ada satu set sofa warna coklat yang sangat empuk. Biasanya di sinilah Nicola duduk untuk menerima tamu-tamu penting.


" Apakabar Nicola..." tanya Romanio pada Nicola.


" Siap.. Tentu saja baik pak... Silahkan duduk..." kata Nicola. Romanio melihat arlojinya. Ia seperti ingin membatasi waktunya.


" Langsung saja, aku ingin pada pokok persoalan...aku sedang dikejar waktu..." kata Romanio memulai pembicaraan.


" Siap... Begini pak.. Kasus ini sudah banyak menyita perhatian publik, seperti anda lihat, setiap hari banyak komentar yang menyudutkan pemda... " kata Nicola.


" Siap... Intinya aku butuh dana besar untuk menutupi kasus ini pak... "kata Nicola. Romanio mengangkat alisnya.


" Aku suka itu.. Aku suka intinya..." kata Romanio sambil membetulkan jasnya. Nicola hanya manggut-manggut. Romanio melanjutkan kata-katanya,


" Tak percuma aku mengangkatmu sebagai kapolda....Nicola tugasmu hanya menutup kasus ini dengan ending yang cantik dan buat opini bahwa ini kasus kriminal murni yang dilakukan oleh Rosetta....soal ormas, pengamat, lsm dan...... anak buahmu uruslah baik-baik ....!!"


" Siap pak.... Laksanakan..!! " Nicola hanya bisa siap,karena ia sedang berhadapan dengan politisi yang mengangkatnya ke puncak karir.


Romanio mengeluarkan cek dari dalam jasnya dan menyerahkan kepada Nicola.


" Cek ini cuma ditandatangani, kau tinggal isi jumlah yang akan kau butuhkan......." kata Romanio.


" Siap.... Baik pak laksanakan...!!"


Tak lama kemudian Romanio pergi meninggalkan ruangan itu. Nicola menarik nafas. Ia sedang mengira-ngira berapa besar keuntungan yang didapat Romanio hingga menggelontorkan Euro begitu banyak.


Keesokan harinya Nicola mengadakan jumpa pers :

__ADS_1


Saudara-saudara sekalian, berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti yang kami kumpulkan, kami menyimpulkan bahwa otak pembunuhan di Capellietra adalah Rosetta Avaldea


Untuk itu kami meminta Sdri. Rosetta Avaldea untuk segera menyerahkan diri sebelum kami melakukan tindakan lebih jauh.


Terimakasih.


***


Gedung Senat Republik, pukul 11.30


Pierlo sedang mengadakan rapat dengan beberapa anggota senat bidang hukum dan perundang-undangan . Dua dari senator itu adalah senator seumur hidup. Konstitusi khusus di Italia memang memungkinkan diangkatnya senator seumur hidup atas pertimbangan tertentu, Ciegna dan Francisco adalah warga negara Italia yang beruntung karena jabatan itu.


Pierlo sangat membutuhkan dukungan mereka untuk menggoalkan RUU mengenai mekanisme pengalihan asset pelaku tindak pidana pembunuhan. Pierlo menginginkan asset milik terpidana mati dirampas untuk negara, harapannya dengan sedikit "polesan" cepat atau lambat asset-asset itu berubah status menjadi barang hibah. Ia tinggal menentukan pihak mana saja yang akan mendapatkannya, atau dengan kata lain ia ingin merampok namun menggunakan bahasa yang halus.


" Ini tidak mungkin Pierlo, ini palanggaran terhadap Hak Individu..." kata Ciegna. Ciegna berbadan tambun dan berambut putih. Usianya hampir 70 tahun.


" Ya betul aku setuju dengan Ciegna... Bagaimana bisa kita melakukan itu... Sama saja kita bunuh diri.. " Kata Francisco menimpali.


Pierlo berpikir sejenak, ia juga setuju dengan pendapat mereka, tapi ini menyangkut uang banyak. Saat ini hampir tak ada satupun senator di dunia yang murni membela rakyat. Tak ada. Benar-benar tak ada. Semua didasari hukum dagang.... untung atau rugi.... Pada akhirnya tak ada satupun orang di dunia ini yang mau rugi.


Jika senator atau politisi berteriak- teriak demi rakyat... Anggap saja mereka sedang berbohong, kecuali dibalik teriakan itu ada keuntungan.


Bagi Pierlo yang statusnya adalah "sapi perah" bagi Rosetta, ini jalan terakhir untuk membunuh pemiliknya. Jadi ia akan sekuat tenaga untuk meyakinkan teman-temannya itu.


"Saudaraku... dari lubuk hatiku yang paling dalam.. Bisa aku katakan bahwa aku pun tak setuju dengan gagasan itu, tapi lihatlah... Italia selalu saja menghadapi masalah... Itu bukan karena kita tak bisa kerja..melainkan kita terlalu lembek dan tunduk kepada pemilik modal.... " kata Pierlo dengan lembut sambil memajukan kursinya ke dekat meja perundingan. Ia seperti ingin terlihat punya niat yang baik.


" Menurutku itu bukan alasan yang masuk akal.... " kata Vargiali senator dari kelompok kiri.


" Bukan tak masuk akal... Tapi sudut pandang kitalah yang salah.... Selama ini kita sudah terlalu baik pada mereka, tapi lihatlah seperti apa balasanya... Seringkali mereka menari-nari di atas kepala kita... " bantah Pierlo. Ia merapikan dasinya, lalu melanjutkan kata-katanya,


" Kalian tahu tragedi Capellietra? Apa kurangnya perlakuan kita pada Rosetta ? Pada akhirnya ia hanyalah pembunuh... Kalian bisa bayangkan.. Betapa nyawa tak ada artinya...."


" Pierlo... tentu saja itu bukan alibi yang kuat untuk mendorong RUU ini ke badan legislatif... " jawab Ciegna.


" Tentu saja kalau aku sendiri yang mengusahakannya... Tapi jika persahabatan kita yang berbicara.. bisa jadi lain cerita..." kata Pierlo diplomatis.


Mereka saling memandang. Wajah mereka masih tetap sama, wajah yang sudah lama saling mengenal, wajah yang terikat oleh persahabatan.


" Memang betul.. pada akhirnya hal terpenting yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan diri..." Kata Francisco.


" Baiklah... Tentu saja ini bukanlah hal yang sia-sia... Secara pribadi akupun tak mau ada makan siang gratis....." kata Pierlo masih diplomatis.


Mereka tertawa... Mereka telah mengerti jalan pikiran Pierlo.

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu.....!! " jawab mereka.


****


__ADS_2