Cinta Di Venesia

Cinta Di Venesia
" On The Way "


__ADS_3

Blinvand loundry itu memasuki halaman ruko berlantai dua. Antara ruko dengan jalan tidak ada pagar sedikitpun.Hanya saja persis di halaman ruko tumbuh beberapa pohon Sylvestris, sejenis pohon pinus. Gress menurunkan trolly-nya.


" Sudah bisakah aku turun Gress ?" tanya Herlambang dari dalam trolly. "ia sudah mulai pengab sejak di dalam box mobil.


" Ssst.. Nanti saja kalau kau sudah di dalam... " kata Gress setengah berbisik. Dari balik pohon Syilvestris itulah Gress masih dapat melihat mobil warna hitam yang membuntutinya sejak dari apartemen. Mobil itu, kini terparkir di seberang jalan.


Gress segera mendorong trolly masuk ke dalam ruangan. Herlambang langsung segera turun dari trolly sebelum Gress menyuruhnya turun. Beruntung ruangan di dalam bersuhu sangat dingin, sehingga Herlambang sedikit lebih nyaman.


" Hemm... Kau keterlaluan Gress.. Di box mobil pengab sekali..." kata Herlambang sambil membersihkan pakaiannya.


" Aku kira kau akan menurunkan aku setelah tiba di parkiran apartemen..."kata Herlambang menambahkan. Gress hanya tersenyum kecil.


" Andai saja situasinya aman aku pasti sudah menurunkanmu di sana... " kata Gress sambil menurunkan pakaian kotor.


" Oyaa...? "


" Kau pasti mendengar pembicaraanku dengan orang yang berada di dalam lift tadi... "kata Gress. Ia tampak tenang sekali.


" Ya tentu saja, terakhir orang itu mengatakan kau beruntung mendapat banyak cucian kotor.. " kata Herlambang. Gress tersenyum sambil mengangkat bahu.


" Orang itu adalah agen intelijen Roma...namun entahlan saat ini dia bekerja untuk siapa."


" Kau mengenalnya Gress ?" tentu saja tidak. Tapi aku tahu bau-nya. Kata Gress bercanda. Herlambang tersenyum ringan.


" Ah kau ada-ada saja Gress..." kata Herlambang.


" Sekarang kau baru boleh keluar...!!"


Kata Gress. Herlambang bergegas ke arah pintu depan.


" Signore... Lewat pintu itu..!!" kata Gress sambil menunjuk ke arah pintu belakang.


" Ada apa Gress..?" tanya Herlambang keheranan. Gress segera mengajak Herlambang, ia menyingkap sedikit gordyn...


" Lihat mobil hitam itu... Mereka membuntutiku sejak dari apartemen.. " Herlambang terperanjat.


" Grezie Gress... Sampai ketemu lagi..." kata Herlambang sambil melambaikan tangan. Ia merasa Gress telah berjasa pada dirinya.


" Hati-hati signore...!" balas Gress.


*******


Melalui pintu belakang, Herlambang menaiki tembok untuk sampai di jalan belakang. Kakinya hampir saja terpeleset karena tembok itu ditumbuhi banyak lumut. Di iklim mediterania seperti Roma, lumut memang tumbuh subur.


" Bruuugk..!!! " Herlambang melompat dari tembok setinggi 2 meter. Untung saja ia mantan pecinta alam sehingga bisa mendarat dengan baik dan lentur. Dengan kebingungan ia mengendap - endap di balik tembok.


Dari kejauhan Herlambang melihat dua penumpang mobil hitam itu turun menuju ke arah ruko.


" Sepertinya mereka menuju ke tempat Gress..." Herlambang sudah tak pikir panjang, ia segera berlari untuk menjauh.

__ADS_1


*******


" Haloo Delova....." Delova sedikit kaget saat menerima telpon dari nomor baru. Tapi ia tak pernah untuk tidak mengangkatnya, karena bisa saja itu adalah awal pintu rejeki.


" Delova ini aku... Herlambang...!!" kata Herlambang, seolah ingin meyakinkannya.


" Hercules... ? Darimana saja kau ?" tanya Delova. Clara yang sedang duduk di sebelahnya nampak terkejut, namun seketika raut wajahnya jadi berbunga-bunga saat Delova menyebut nama Herlambang.... 'Ah lu Her... Gak tahu apa gue ude bete nungguin kabar lu.. ' katanya dalam hati.


" Nanti aku crita.. Panjang critanya.!"


Delova baru kaget. 'Ada apa ini ?' gumamnya.


" Apakah kau mau bicara dengan Clara ?" tanya Delova.


" Tidak usah...!" jawab Herlambang di ujung telepon. 'Jiaah jaim lagi...' gumam Clara.


" Ada yang bisa aku bantu Her ?"


" Itu yang aku tunggu...kau bisa menjemputku ?"


" Apa sih yang gak bisa buat Hercules... " jawab Delova sambil meledek ke arah Clara. Clara cuma cembetut.


" Okelah... Aku serlok yaa..."


" Oke GPL yaaa..." kata Delova.


" Ra..Hercules ngerti gak tuh aku bilang GPL... dia maen ok ok aja...!" kata Delova.


" Emang luu... Kuper..!" jawab Clara.


" Jiaaah reseh lu... " kata Delova. Clara nyengir... 'sejak kapan ada orang Itali kenal reseh dan GPL....!' kata Clara dalam hati.


*******


Herlambang menunggu di tepi jalan. Beberapa kali ia pernah melewati jalan itu. Ia ingat tak jauh dari tikungan ada kedai kopi. Kedai itu bukanlah kedai pavorit bagi orang sekelas dia, sehingga relatif lebih aman untuk sembunyi sambil menunggu Delova datang.


" Mi scusi signore.." sapa Herlambang pada barista di kedai itu. Ia kurang lebih seusianya. Ia menggunakan pet warna krem khas Italia.


" Silahkan tuan....pesan apa ?"


" Caffè freddo...." jawab Herlambang, sesaat ia memandang ke arah Herlambang. Herlambang memandangi jalanan.


" Baiklah... Kau seperti bukan orang Italia..." katanya. Sesekali ia menyendok beberapa toples yang ada di depannya. Ia sedang meracik Caffè freddo, kopi mocca yang disajikan dalam keadaan dingin.


" Yaaa... Sono Indonesiano.." jawab Herlambang. Ia baru saja ingin memesan Pizza, tapi niat itu ia urungkan. Tak jauh dari kedai, mobil yang tadi membuntutinya nampak berhenti. Seseorang turun dan melihat ke sekeliling, seolah sedang mencari sesuatu.


Orang itu malah berjalan ke arah kedai. Herlambang ingin segera berdiri, jantungnya seolah berhenti... tiba-tiba orang di dalam mobil berteriak...


" Abramo... Tak usah... Roberto baru saja telepon...Herlambang ada di dalam kamarnya...!!" tak lama kemudian mobil itu melesat ke arah jalan raya.

__ADS_1


*******


De Romano Cafe, pukul 18.00.


Roberto menyicip kopi kental di hadapannya. Alenso duduk di sebelahnya. Beberapa kali keduanya tampak menghisap cigarette.


Sambil memandang ke arah luar, Roberto menanyakan sesuatu pada temannya,


" Kau yakin tak ada wanita di kamar Herlambang saat mati lampu..?"


" Ya aku yakin sekali... Bahkan aku sempat membuka lemarinya..."


" Molto bene.. Aku heran Rosetta sangat takut kehilangan dia.." gumam Roberto.


" Tentu saja... Angelica pacarku bercerita laki-laki itu telah menghadiahi lukisan yang sangat indah, lukisan itu seharga 1 juta dolar... "


" Mengagumkan.. Kenapa rata-rata orang Indonesia itu kaya raya... " kata Roberto seolah ia menyesali terlahir di Italia.


" Tentu saja karena Indonesia itu negara kaya.. "jawab Alenso.


" Saat makan siang Pablo agen yang aku tugaskan di Lugotevere bertemu Jean, tetangga Herlambang itu mengatakan sedang memesan makanan untuknya, karena ia sedang malas keluar rumah... " kata Roberto.


" Tentu saja.. Angelica juga bercerita untuk melahirkan lukisan yang indah saat melukis biasanya pelukis - pelukis Indonesia itu akan sangat fokus...agar lukisannya memiliki jiwa... " kata Alenso serius. Roberto manggut-manggut mendengar cerita Alenso.


" Bahkan mereka akan berdiam diri untuk beberapa hari di kamar tanpa mau diganggu sedikitpun ..!! " Roberto makin terkjub mendengar ucapan Alenso. Saat ini ia mulai yakin bahwa Herlambang sedang berada di kamarnya.


Tak seberapa lama mereka asyik berbicara dua orang yang telah membuntuti Herlambang sejak dari apartemen datang dan nimbrung di sana.


" Ciao amico... Amaaan !! " kata salah satu pengendara mobil hitam itu.


" Apakah kau sudah periksa semua bagian dalam loundry ?" tanya Roberto.


" Tentu saja bos... Di sana aku hanya mendapati baju kotor milik orang Indonesia itu..." jawab yang lainnya.


Kini barulah Roberto merasa tenang dan yakin bahwa pelukis itu benar-benar sedang berada di kamarnya....


*******


" Tiiiiin.... Tiiiin.... Tiiin....!!" Delova memencet klakson saat tiba di depan kedai. Di era yang serba canggih, dengan beberapa aplikasi tertentu seseorang dengan mudah memberitahukan di mana letak posisinya berada.


Herlambang bergegas membayar kopi yang baru saja ia minum.


" Kembalinya tuan..." kata si barista.


" Tak usah kau ambil saja...anggap itu tip dariku... !" kata Herlambang. Sang Barista nampak senang di masa sulit seperti sekarang tip sebesar 20 Euro bukanlah nilai yang kecil... 'luar biasa ternyata apa yang selama ini aku dengar memanglah kenyataan...Banyak orang kaya di sana.' katanya dalam hati.


Sekarang Herlambang, Clara dan Delova sedang mengarah ke tujuan semula Venesia.. Ya mereka sedang on the way...


*******

__ADS_1


__ADS_2