
Herlambang menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Pandangannya menatapi langit-langit kamar.....hanya ada wajah Clara di sana. Ia berputar ke arah dinding , lagi-lagi cuma ada wajah Clara.. Herlambang berdiri ke arah jendela, ia ingin membuang wajah Clara ke luar, ternyata gedung gedung juga telah berubah menjadi Clara.
Persis !! Perasaan itu sama ketika ia pulang dari gunung Salak, setelah acara hacking bertema "Untukmu Kami Bicara", cuma bayangan Clara yang selalu ia dapati kemanapun ia pergi.
Ia sempat bertanya pada Kevin, soal gak bisa lepas dari bayang-bayang.... jawabannya :
" Menurut buku psikologi yang gue baca Her... Itu karena lu cuma memegangi tangan Clara.. jadi muncul-lah psikologi penyesalan ...!!! "
" Psikologi penyesalan ? Tu buku author nya siapa.. ?" tanya Herlambang.
" Soalnya gue masih asing dengan istilahnya.." tanya Herlambang lagi.
" Asli gue lupa pengarangnya cuy....tapi dalam buku itu disebutin untuk menghindari adanya gejala -psikologi penyesalan- dalam menjalani pacaran seorang cowok harus lebih agreaif dari sekedar menggenggam jemari tangan ceweknyaaa..." gayanya mirip Dosen.
" To de poin ajaa... Nyium pipi..atau lebih gitu .. ?" skak Herlambang.
" Yaaah minimal nyium pipi laaaah...! "kata Kevin sambil menyambit trotoar
" Jiaaaaah moduus luuuu.. " kata Herlambang, Kevin cuma bisa nyengir.
Sampe hari ini jujur saja Herlambang gak pernah dengar tuh ada seorang pakar psikologi memakai teori "psikologi penyesalan " versinya si Kevin. Heeem...dasar otak mesum.
Apapun teorinya, yang jelas Herlambang memang sulit melupakan saat saat indah bersama Clara, setidaknya sampai dia menjalani kehidupan bersama Rosetta, sedikit demi sedikit ia bisa melupakannya itupun tidak sepenuhnya.
Setahun "pacaran" dengan Clara, tak pernah satupun kata cinta ia ucapkan. Begitupun Clara. Ia atau mungkin Clara hanya ingin suatu ketika waktu membuktikan cinta yang mereka punya.
Sampai suatu ketika, dua tahun sebelum ia diwisuda Andini memintanya bertemu sebelum ia kembali ke Jerman. Satu dua kali Herlambang memang pernah bertemu Andini setelah Clara mengenalkannya.
" Her...gue tahu gimana perasaan lu saat mendengar permintaan gue tadi.. Tapi ini adalah jalan terbaik untuk lu dan Clara... ."
Herlambang masih menimbang-nimbang permintaan Andini agar hubungannya dengan Clara saat itu hanya sebatas sahabat.Tadinya ia berpikir Andini punya tujuan lain.
" Her... Cinta memang bisa membutakan pemiliknya, cinta itu indah sekaligus kejam...gue pernah mengalaminya... ." kata Andini sambil menyeruput kopi Gayo. Sesekali ia mengisap Evolution untuk menutupi kesedihannya.
__ADS_1
Saat itu Andini bercerita dari A sampai Z kerajaan bisnis orang tuanya dan orang tua Clara.Bahkan dia juga menceritakan kejadian pahit yang menimpanya semasa kuliah, bahwa ia pernah menjalin tiga kali percintaan, tragis semua cowoknya mati karena kecelakaan !!
Sampai Andini menarik sebuah kesimpulan bahwa kematian ketiganya bukanlah hal yang terjadi kebetulan, melainkan sudah direncanakan. Informasi itu ia dapat dari salah satu detektif swasta yang ia bayar. Atas pertimbangan tertentu kasus itu ditutup karena melibatkan orang kuat.
" Lu bisa bayangin kan ? Makanya gue gak mau lu dan Clara mengalami hal yang sama ...gue dan Clara sudah didisain untuk menjadi penerus kerajaan bisnis keluarga..!!" kata Andini masih dalam suasana sedih.
Saat itu sangat berat bagi Herlambang memenuhi permintaan Andini. Di saat cinta mulai bersemi, kehilangan seseorang yang dicintai bisa berakibat fatal.
" Mang lu dan Clara gak boleh jatuh cinta ?"
Tanya Herlambang, ia masih ragu dengan alasan yang diberikan Andini.
" Gila lu.. Tentu saja boleh, cuma ada waktunya..." kata Andini. Ia memantik api lagi untuk menghisap Evolution.
" Kapan ?"
" Setelah semua urusan kuliah kelaaar.. alias bereees... alias selesai...!! " kata Andini.
"Jadi gimana ? Deal ?" tanya Andini.
" Good...!! Sebagai ucapan terima kasih gue bakal tanggung semua biaya kuliah lu.." Herlambang terperanjat dengan ucapan Andini.
" Gak usah Din... Gue ma nyokap masih bisa kok.. "
" Kenapa ? Lu tersinggung dengan ucapan gue ?" tanya Andini.
" Gaklah Din, cuma gak usahlah sampai segitu repotnya...." pinta Herlambang.
" Her.. Gue bukan orang yang suka basa-basi... Jadi please lu jangan tolak keinginan gue... " Akhirnya Herlambang cuma bisa mengiyakan. Jujur saja saat itulah dia baru tahu siapa Clara sebenarnya.
" Jadi lu baru tahukan siapa Clara ?" tanya Andini. Herlambang mengangguk.
" Emang dia bilang apa ma lu soal keluarganya ?" Herlambang mesem-mesem. Andini mulai curiga.
__ADS_1
" Gak bilang apa-apa, dia cuma pernah bilang kalo bokapnya itu tukang pijet...."
" Nah lu taukan dodolnya tuh anak ?" kata Andini. Herlambang sudah tak kuasa menahan tawa. Andini juga ikut ketawa.
" Dasar kuntilanak..." kata Andini sewot. Sebelum bubaran, Andini mengeluarkan cek...
" Gak usah Din..."
" Ini bukan buat lu... Tapi buat nraktir anak tukang pijet...!! " katanya. Herlambang jadi ketawa lagi.. begitu pula Andini. 'Jadi soal anak tukang pijat itu hanya ngibul, pantes aja dia bisa nginap di kos-kosan mahal di daerah Margonda, heeem dasar kuntilanak " kata Herlambang dalam hati.
Mereka berdua berpisah. Dua hari setelah itu Andini mengabarkan kalau dia sudah di Jerman.
*******
Depok, 17 Agustus pukul 19.00.
Herlambang mengajak Clara untuk menemaninya makan malam. Baru kali ini ia berani ngajak Clara, sebelumnya selalu Clara yang ngajak dia jalan.
Seperti biasa Herlambang menjemput Clara di Pondok Putri, sebuah tempat kos milik bu Nella yang terkenal memiliki fasilitas lengkap setara bintang lima.Ada deretan mobil milik penghuni dan satu motor bebek milik Surti pembantu kos.
Sebenarnya pertama kali Herlambang tahu tempat kos Clara ia punya pikiran yang rada aneh, pertama yang dia tahu penghuni kos di situ selalu anak orang kaya, kedua kalo gak kaya ya berati... "Ah gue yakin Clara bukan yang kek gituan." tapi tololnya kenapa dia percaya gitu aja Clara anak tukang pijat tanpa cek n ricek.
" Cieilaa... Tumben rapi bener lu...." kata Clara saat melihat Herlambang di teras kos.Herlambang mesem.
" Ah biasa aja kaleee.. . Anak tukang jahit mau kek gimana lagi coba.. ?" kata Herlambang.Malam itu Clara benar-benar suka dengan penampilan Herlambang.
Buat Clara Herlambang tidak sekedar ganteng,tapi ia juga" laki" banget. Dia tipe cowok yang bisa menghargai dan menjaga pasangannya, bukan cuma dari ancaman pihak ketiga tapi juga ancamana dari kenakalan Herlambang sendiri.
Selama ini yang ia lihat banyak kaum adam setelah merasa jadi pacar sering kurang ajar, yang minta kissinglah, pegang tanganlah, posesiflah, gencatan senjatalah alias marah marah gak jelas yang ujungnya pelecehan... waaalah pokoknya banyak kejadian gak ngenakin setelah berpacaran. Bahkan Clara pernah dengar dari Lisna cowoknya tuh dikit-dikit melakukan KDRP... kekerasan dalam rangka pacaran...dikit-dikit maen tangan.
Tapi selama jalan dengan Herlambang, Clara gak pernah tersentuh, apalagi berani kurang ajar. Sebagai cewek, kadang jengkel juga sih...dia juga pengen seperti teman-temannya...cuma satu kali ia dipegang tangannya saat di gunung Salak itu... Setelah itu end dan klir... Gak pernah sama sekali !!
Sering Clara mancing-mancing agar Herlambang menyentuhnya... Setidaknya pegang tangan, tapi upaya itu selalu gagal. Sampai suatu ketika Clara berucap,
__ADS_1
" Enak banget ya mereka Her.. Jalan sambil gandengan tangan..." kata Clara sambil menunjuk sepasang kekasih. Gilanya... Herlambang cuma senyum enteng tanpa sedikitpun bereaksi !! "Ah andai saja aku bisa. .." kata Herlambang dalam hati.
******