
Andini masih menghisap Esse Menthol. Dalam..... dalaaam sekali, ia seperti berharap asap yang ia hirup itu bisa membuang semua gelisah. Berkali-kali ia tampak gugup, pikirannya berkecamuk seperti ada perang Bharatayuda yang maha dahsyat di kepalanya.
Ia masih ingat kisah dan latar belakang perang itu. Saat ia masih kelas 6 SD dan masih tinggal di Menteng, eyang kakung selalu menceritakan kisah-kisah pewayangan. Saat itu Clara baru kelas 2.
Ada tokoh Gatutkaca, Patih Sengkuni, Bhatara Kresna, Dewi Arimbi.... juga ada punakawan yang lucu. Andini sendiri suka dengan Gareng, sedangkan Clara suka tokoh Bagong. Ketika itu Yang Kung juga sering mengikuti gaya tokoh-tokohnya. Ia dan Clara sering tertawa saat Yang Kung memerankan tokoh Gareng dan Bagong.
Di ujung cerita Yang Kung selalu menyelipkan nasehat, bahwa yang baik itu selalu menang dan yang jahat pasti akan kalah.....perang Bharatayuda memberi pesan tentang hal itu.
Kini setelah ia mengenyam pendidikan di Barat, ia menyadari betapa pentingnya nilai-nilai ketimuran , budi pekerti, sopan santun, persaudaraan, unggah ungguh.... dan seterusnya.
Setelah dari Barat ia mirip kupu-kupu yang lupa pada kepompong. Betapa naifnya hidup seperti itu.
Andini kembali menghirup asap yang tak bertepi, sekali lagi ia mencoba membuang gelisah... Tapi yang ada hanya sia-sia.
Penyesalan memang tak ada gunanya. Ia yang kini jadi ke barat-baratan telah tega menghabisi teman bermainnya saat kecil..... sepupunya....... sekaligus juga saudaranya, ia telah terkontaminasi oleh ambisi hegemoni materialisme. Tak ada lagi ukuran baik-buruk, benar-salah.... kecuali rasa haus dan sifat rakus terhadap harta.
Andai saja waktu bisa diputar, ia ingin kembali ke watak budaya timur, bahwa barat lebih pintar pada sisi ilmiah empiris Andini sepakat, tapi jika ada klaim barat lebih maju dalam segala hal anggap saja itu angin lalu. Barat yang maju di bidang ilmiah sejatinya seperti daun-daun kering yang mudah terbakar... karena tak ada lagi benteng moral dan akhlak.
Andini melempar puntung rokok ke arah dinding........
"Kriiiiing.... Kriiiing...." hp nya dipanggil seseorang.
Beberapa kali hp itu berdering namun Andini tak menggubris. Ia sedang tidak ingin dihubungi.
Meskipun kematian Clara dan keluarga akibat niat jahatnya, tak urung peristiwa tersebut membuat Andini sangat syok dan terpukul.
__ADS_1
***
Hudson tiba di kantornya di Roma Senin pukul 12.00. Sebelumnya ia menyarankan agar Rosetta dan Roberto untuk sementara menetap di Swiss. Tindakan itu ia ambil mengingat situasi belum kondusif.
Hudson memiliki banyak teman di sana, tentu saja bukan teman sembarangan, melainkan teman-teman yang bisa diandalkan, mereka sering membantunya dalam beberapa operasi rahasia. Salah satunya adalah nyonya Wellington si penjual koran itu.
Jika Rosetta kembali ke Roma, situasinya sangat tidak aman, agen polisi sedang bekerja mencarinya. Saat ini status red notice pasti sudah dikeluarkan oleh pihak kepolisian.
Sebenarnya dari yang ia baca di media-media Venesia, Nicola Parety sebagai Kapolda di sana menyatakan kasus ini adalah murni kriminal...... soal balas dendam, tapi ketika korbannya adalah WNA maka ada kelompok (kepentingan) kasus ini jadi bergeser atau sengaja digeser-geser ke arah politik, ujungnya akan melibatkan pihak Interpol.
Hudson sebenarnya ingin beristirahat sejenak saat tiba di Roma, tapi niat itu ia urungkan. Ada rasa penasaran yang besar sehingga ia ingin langsung mengikuti jejak kasus ini secepatnya.Banyak sekali pertanyaan yang harus segera ia jawab dalam kasus ini.
Sejak awal, ia memang sudah menduga ada yang tidak beres, setidaknya ini bukan semata-mata tindakan balas dendam, Hudson mencium ada motif lain di balik terbunuhnya 2 WNA.
Kemarin saat Hudson memintai keterangan, Rosetta mengatakan kepadanya bahwa ia tak ada niat sedikitpun membunuh Herlambang, pun jika kekasihnya itu terlibat affair dengan wanita lain..... sepanjang Herlambang juga mencintai wanita itu lalu menyatakannya secara terbuka, dari pada main belakang.
Rosetta juga mengatakan ketika Roberto ia tugasi menjaga apartemen Lungotevere itu dalam kontek mencegah....... bukan melarangnya jalan dengan wanita lain.
Ia terlalu mencintai Herlambang.. sehingga ia tak punya keberanian sedikitpun melukainya, bahkan ia akan selalu menjaga bayi di dalam rahimnya sebagai bukti cintanya yang dalam, berbeda dengan janin hasil hubungannya dengan Nicholas yang ia aborsi ke dokter Carolline.
Selain itu Herlambang tak pernah merepotkannya, dari segi materi dia bukan orang yang ambisius seperti Nicholas yang menghambur hamburkan uangnya dengan wanita lain, oleh sebab perasaan tersakiti karena dikhianati akhirnya membawa Rosetta melenyapkannya.
Rosetta sangat mencintai Herlambang adalah fakta, namun jika Herlambang menyintainya itu belum tentu, ini bisa ia baca dari sikap Herlambang. Herlambang adalah laki-laki yang sangat menghargai wanita, pada titik tertentu ia tidak bisa menolak saat Rosetta menginginkan sesuatu, katakanlah meminta Herlambang untuk menyintainya.............
"Jadi aku tak akan mungkin membunuh orang yang sangat aku cintai.... orang yang telah membuat aku bisa hidup kembali saat Nicholas mengelabuiku dengan cinta palsu......" begitu kata Rosetta kemarin.
__ADS_1
Hudson berhenti sejenak, keterangan Rosetta membawanya pada kesimpulan sementara, bahwa bukan Rosetta otak pembunuhan itu.............
***
Delova sedang bersedih, sangat bersedih.... Andai saja ia bisa mengetahui nasib seseorang ia akan berkata... "Jangan pergi Clara kau akan mati.......!!" .paling tidak kalimat itu bisa menunda kematiannya.
Tapi kenyataan yang ia lihat Clara telah mati, ia menyaksikan kantong jenazahnya dibawa masuk ke dalam ambulan bersama jenazah Herlambang dan Luciana.
Delova melangkah menuju pot Mawar di teras rumahnya yang asri, ia ingin memetik kelopak yang kering. Kelopak itu jadi seperti suasana hatinya saat ini.
Hp nya berdering... Andrea memanggilnya.....
" Delova..... Apa kabarmu ?" tanya Andrea entah di mana. Delova ingin berteriak gembira seperti biasanya...tapi ia tak mampu. Duka masih kental menyelimuti hatinya.
" Hai... Ndrea.... Kau di mana..?" tanya Delova, Andrea adalah mantan kekasihnya...tak ada suara dari ujung telpon.... Suasana hening sejenak.
" Ada yang ingin bicara denganmu......" kata Andrea. Delova masih bersedih dia cuma menjawab...
" Ok...." Delova tak mendengar lagi suara Andrea... cuma samar-samar Delova mendengar isak tangis suara wanita.......mungkin wanita itu sedang berada di dekat Andrea...
tetapi Delova yakin itu bukan suara Brigitte Alison istri Andrea.
Wanita itu entah siapa, ia tak melihat wajahnya....namun ia hapal suara itu..... Clara....!!!!!
" Clara....!!! ?" Delova tak mendengar wanita itu menjawabnya.... Ia masih terisak-isak.
__ADS_1
" Claraaaa.....!!! Apakah benar kau Clara.. ?" Delova hampir teriak tapi ia cuma mendengar isak tangis....
***