
Bellinda Alya , Jumat pukul 09.00
Delova sejak tadi hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia masih menunggu instruksi dari atasannya,sudah beberapa hari ini ia tak pernah keluar hostel. Sebagai bawahan ia tak berani mengambil tindakan sebelum ada perintah dari atasnya.
Ia sudah beberapa kali menghubungi Pioli namun selulernya tak pernah aktif. Saat ini Delova hanya bisa melihat dunia luar melalui layar kaca dan internet, namun hal itu bukanlah persoalan penting baginya.Sebagai seorang agen intelijen ia telah terlatih menghadapi segala situasi, bahkan sesulit apapun.Tapi bagaimana dengan Clara dan Herlambang ?
Delova jadi merasa tak enak hati dengan mereka.Apalagi ia sudah terlanjur dekat,setidaknya dengan Clara, ia sudah menganggapnya sebagai keluarga.
Delova memutuskan untuk segera menghubungi Pioli, meski ia tak sepenuhnya yakin Pioli bisa dihubungi. Sejenak ia seperti ragu-ragu, namun akhirnya Delova memencet juga nomornya ,
“ Halo Delova....” jawab Pioli , ‘ Syukurlah....kali ini Pioli dapat dihubungi.’ Kata Delova dalam hati.
“ Halo Pak...apakah ada info lanjutan.,? “ tanya Delova.Ia agak gugup, bukan karena Pioli atasannya , melainkan kenapa tiba-tiba saja handphonenya sangat mudah dihubungi, sehingga ia tak sempat menyiapkan bahan pembicaraan.
“ Tentu saja , karena aku ingin memberi kabar bahwa hari ini kau harus pulang ke Roma karena ada tugas baru yang menunggumu...” jawab Pioli.Delova seperti bingung, ada apa dengan tugas yang mendadak itu , padahal semalam ia telah mengagendakan kunjungan ke distrik Cannaregio buat Clara dan Herlambang bahkan ia sudah menyusun jadwal acaranya. Tapi karena perintah atasan , mau tak mau ia harus melaksanakannya. Namun begitu Delova tetap berupaya agar Clara dan Herlambang dapat menikmati liburannya karena telah tertunda beberapa hari akibat kasus Capellietra.
“ Bagaimana dengan dua turisku pak ? “ tanya Delova.
“ Kau tak perlu khawatir Delova karena aku telah memikirkannya.Nanti biarlah Lusiana yang menggantikan tugasmu.” Jawab Pioli tenang. Delova agak khawatir karena Lusiana hanya memiliki sertifikat grade-4 , dan itu tidak cukup untuk mendampingi mereka , apalagi Lusiana tak bisa berbahasa Indonesia.
“ Pak... apa kau tidak salah memilih ketika menunjuk Lusiana ?” tanya Delova.
“ Tentu saja tidak Delova , aku mempertimbangkan Lusiana juga mempunyai potensi untuk berkembang , jadi biarlah dia kucoba untuk menangani turis seperti mereka.” Jawab Pioli.
“ Baiklah kalau begitu , kapan Lusiana tiba ?’ tanya Delova.
“ Mungkin sekitar 1 jam dari sekarang......” jawab Pioli datar. Satu jam ? Cepat sekali dia datang.Andaipun harus menggunakan pesawat butuh waktu sekitar 2 jam untuk tiba di sini. Aneh ...? kata Delova dalam hati.Apakah Luciana memang telah tiba di Venesia sebelumnya ? Atau akan ada lagi perintah mendadak lainnya ? Percuma saja kalau begitu ia membuat itenarery bagi kliennya, kalau semua dikerjakan serba mendadak.
Hal itu tak ubahnya peristiwa di Capellietra, tiba-tiba saja Pioli mengirim pesan akan ada sebuah operasi, meski ia tahu dan sekaligus menjadi operator dalam operasi Capellietra , namun yang ia tahu alasan Pioli saat itu hanya sebatas dendam lama antara dirinya dengan Roberto, dengan menjebak anak buahnya Kurtz dan Alenso.
Bahwa dalam pemberitaan selanjutnya muncul nama Clara dan Herlambang sebagai korbannya ia malah tak tahu sama sekali rencana itu. Ah sudahlah sebagai bawahan ia hanya menjalankan perintah, itu saja.
__ADS_1
Delova segera menghubungi Clara dan Herlambang agar mereka bersiap-siap.
Lusiana tiba di halaman Hostel Bellinda Alya tepat satu jam kemudian. Ia sepertinya terkejut melihat kondisi hostel yang kumuh. Ia tak pernah membayangkan ada hostel seperti ini , karena sudah pasti akan ditinggalkan wisatawan.Apalagi ia mendengar turis yang bakal ia pandu adalah salah satu orang terkaya di Indonesia.Tentu saja ini membuat kepalanya tambah ruwet.Ah..... dari pada menguras pikiran lebih baik ia segera menelpon Delova.
“ Halo bu Delova....saya Lusiana...” katanya.
“ Ya...apa kabar Lusi...? “ Delova balik bertanya.
“ Oh tentu saja baik bu....apakah mereka sudah siap ?” tanya Lusiana.
“ Mereka sudah siap sejak tadi...” jawab Delova.
“ Baiklah kalau begitu.... saya akan tunggu di lobby..” Lusiana menutup teleponnya. Ia berjalan sebentar ke arah luar, ia tak suka melihat pemandangan kumuh seperti ini.
Walau jam terbangnya tak sebanyak Delova, tapi sepanjang karirnya ia tak pernah menginap di hostel sekumuh ini.Bagaimana mungkin guide secantik aku bisa tidur di hostel seperti ini.... katanya dalam hati.
Tak lama kemudian Delova muncul bersama Clara dan Herlambang.
“ Del...jadi beneran kamu gak ikut ? “ tanya Clara kepada Delova.Delova hanya tersenyum pahit. Ia tak dapat membohongi hatinya.
“ Hai...aku Lusiana...Guide tour yang akan mendampingi kalian...” sapa Lusiana .
“ Hai aku Clara...dan ini suamiku..” kata Clara , seketika mata Herlambang mendelik.
“ Herlambang...! “ Herlambang menjawab sekenanya.
“ Hayoo.......tunggu apa lagi nanti keburu habis waktunya..!!!” ujar Lusiana. Clara dan Herlambang mengikuti Lusiana dari belakang. Delova mengiringi kepergian mereka dengan hati yang tak menentu, baginya Clara dan Herlambang tak ubahnya keluarga.
Delova tak langsung menuju ke kamarnya , hal itu akan membuat hatinya makin larut dalam kesedihan.
Delova menuju front table untuk menemui Valencia.
__ADS_1
“ Halooo nyonya Valencia....” sapa Delova. Valencia nampak sedang meracik kopi, ia masih saja terlihat cantik meski usianya sudah tak muda lagi.
“ Halo Delova........sudah lama kita tak pernah punya kesempatan ngobrol seperti ini.” Kata Valencia sambil menyodorkan kopi kental kepada Delova.
“ Ya terakhir setahun lalu...saat keponakan Perdana Menteri Malaysia...” jawab Delova.
“ Yaya aku ingat itu...” jawab Valencia sambil menghisap Parliament, kemudian mengepulkan asapnya ke udara.Ia seperti sedang mengenang sesuatu.
“ Kau seperti sedang banyak pikiran nyonya..?” tanya Delova.Ia melihat pandangan Valencia seperti kosong.
“ Aku hanya sedang mengingat-ingat sudah berapa banyak nyawa yang melayang karena pistolku....” seperti ada beban besar yang menghimpit dadanya. Delova hanya menarik nafas.
Hidup sebagai agen rahasia memang penuh dengan resiko sehingga dalam situasi terancam seringkali membunuh adalah langkah yang harus diambil.
Ia mendengar Valencia adalah tokoh intelijen papan atas .Reputasinya sudah tak perlu diragukan lagi.Ia sendiri pernah bertugas di banyak negara terutama wilayah Asia.Dia pula aktor yang ikut andil menggulingkan rezim Marcos di Fhilipina. Di hari tuanya ia hanya mengurus hostel sebagai mata pencariannya. Valencia melanjutkan pembicaraanya,
“ Kadang beberapa korban yang aku bunuh justru sahabatku sendiri, sampai saat ini bayangan mereka selalu saja menghantuiku.....” kata Valencia hampir menangis. Delova segera memeluknya. Ia tahu bagaimana perasaan Velencia saat ini.
“ Nyonya Valen....tentu saja itu bukan kemauanmu...” kata Delova berusaha menenangkannya.
“ Ya mereka semua mengatas-namakan tugas...!!” katanya lirih.
" Apakah ada sahabatmu yang kau bunuh ?" tanya Delova.
" Ya... Salah satunya bernama Cludia, demi merahasiakan sesuatu yang sangat penting... Aku diperintahkan oleh Kolonel Jim Carty membunuhnya...."
Suasana hening....
Kira-kira 30 detik kemudian terdengar beberapa kali dentuman, seperti sebuah bom yang meledak.
Keduanya saling berpandangan . Delova menarik nafas. Valencia melakukan gerakan salib.
__ADS_1
“ Suatu saat kau juga akan mengalami hal yang sama denganku Delova....” kata Valencia lirih.....kata-kata itu seperti ia tujukan untuk dirinya.
***