
Delova jadi salah tingkah. Dalam situasi seperti ini, ia bingung apa yang harus diperbuat karena Herlambang dan Clara terus terlibat pembicaraan serius.
" Heem.. Heeem..." Delova berdehem, seolah memberi sinyal. Herlambang dan Clara terus asyik berbicara.
" Her... gak nyangka ya kita bisa ketemu di sini.." kata Clara. Wajahnya tampak sumringah. Matanya berbinar-binar, senyumnya merekah.... dan perasaan hatinya gak karuan.
" Asli gue kayak ngimpi Ra... "
" Samalah.. Btw gimana critanya lu bisa nyasar ke sini " tanya Clara.
" Gaya lu kayak reporter aja Ra..." Ledek Herlambang. Clara ingin mencubit, tapi gak jadi. Bagaimanapun gue harus jaim... kalo bisa sejaim-jaimnya, katanya dalam hati.
" Ciyuuuus... Gue gk nyangka aja anak tukang jahit bisa tinggal di Eropa kek gini..." Entah kenapa saat itu Clara bangga melihat Herlambang, padahal dia bukan siapa-siapanya.Kalau ada yang bilang mereka pacaran, tidak ada ucapan apapun, kecuali di malam penuh kabut itu, Herlambang menggenggam jemarinya, sangat erat sekali .. seolah mengungkapkan bahwa ia takut kehilangan dirinya.
Ah, tapi itukan hanya perasaanku saja, kata Clara dalam hati.
" Panjang Ra critanya... Terakhir gue denger dari Winda lu ke Jerman ?"
" Bener.... Gue sudah satu tahun di sana."
" Enak ya jadi orang tajir... Mau apa juga bisa.."
" Sejak kapan lu jadi baperan kek gitu...?" Clara seperti tidak nyaman dengan sebutan tajir, bagi Clara yang kaya itu ayahnya. Sepuluh detik berlalu.
" Forget it lah.. " potong Herlambang, ia tahu sifat kepala batu Clara. Itulah yang membuat Herlambang punya penilaian lebih untuk Clara, sebagai anak super kaya, setelah SMA, bisa saja dia langsung kuliah di Standford, Harvard atau apalah, tapi dia lebih memilih UI, katanya PTN di Indonesia juga gak kalah kok mutunya.
" Sudah gak usah dipikirin..." kata Clara, ia seperti tahu apa yang sedang dipikirkan Herlambang.
" Ehemmm... Eheeeem..." kali ini sinyal dari Delova agak sedikit keras. Clara dan Herlambang tersenyum.
" Astaga... Jadi lupa sama Delova.." Clara salting. Delova tersenyum pahit.
" Maaf... Maaf..."
" Gak apa-apa anggap aja di dunia ini gak ada orang.." kata Delova sambil cemberut. 'benar-benar guide profesional, yang bisa menghidupkan suasana...' kata Clara dalam hati.
" Btw...Her kenalkan Delova..!" Herlambang menjabat tangan Delova.
" Delova..."
" Hercules..." kata Herlambang. Delova dan Clara tertawa. Delova mengangkat bahu lalu katanya..
" Emang bener... dunia sudah berputar terlalu jauh...sampai-sampai Hercules bisa jatuh cinta sama kuntilanak...wkwkwkkw...." Clara mencubit Delova.
Mega-mega di kota Roma.. seakan menjadi saksi sebuah CLBK... sebuah cinta lama yang belum kelar.
*******
Pioli menelpon sahabatnya di Berlin.
" Hallo... Franz..! "
" Hai Pioli, ada kabar baikkah untukku ? "
" Tentu saja Franz... Sesuai permintaanmu, anak buahku sudah bekerja dengan baik."
" Apakah itu berarti Nona Clara dan Herlambang sudah bertemu ?" tanya Franz penasaran.
" Ya sesuai arahanmu, kemarin mereka sudah bertemu di sebuah cafe,.. Cafe le Fozza. "
" Good.. Senang bekerja denganmu Pioli..tapi kau perlu memastikan Nona Clara selalu aman."
__ADS_1
" Tak perlu kuatir Franz, semua agen terbaikku telah bekerja mengawasi Nona Clara selama 24 jam... "
" Good..aku akan segera mentransfer komisimu.. "
" Apa yang harus aku lakukan lagi untukmu Franz ? "
" Segera kuberitahu setelah aku menelpon bosku."
" Baiklah kalau begitu. " Pioli menutup telpon.
*******
Dubai, gedung Burj Khalifa pukul 08.00.
Andini turun dari lift berkecepatan 10,5 meter perdetik, sehingga untuk turun dari kantornya yang terletak di lantai 108 ia hanya memerlukan waktu kurang dari 12 detik.
Hari ini agenda pertamanya bertemu dengan Sheikh Suleman Haritz, deputy senior asosiasi tranportasi. Pemerintah di sana berencana mengirim 10 juta ton minyak mentah ke Fhilipina, sebagai bagian kontrak pembelian kerjasama bilateral. Menurut Andini, setidaknya ia harus menyiapkan kapal sekelas Knock Nevis agar biaya yang dikeluarkan dapat ditekan.
Dalam usianya yang masih muda, Andini sangat dihormati oleh pengusaha Uni Emirat , umumnya mereka mengapresiasi Andini bukan semata-mata urusan financial, melainkan kejeniusannya dalam mengelola bisnis.
Mobil hitam seri 'New Shark' melaju di belantara gedung pencakar langit, tiba-tiba hp di tasnya berdering. Ada Franz di ujung telepon. Andini memencet tombol auto switch, tak lama kemudian pembatas antara penumpang dengan pengemudi yang terbuat dari carbon bergerak naik. Ia tak ingin pengemudi mendengar pembicaraannya.
" Hallo Franz.. Bagaimana kabarmu ?"
" Trimakasih Nona Andin, tentu saja kabar baik."
" Langsung saja Franz, saya tak punya banyak waktu." kata Andini sambil melihat arlojinya.
" Baiklah kalau begitu, Clara dan Herlambang sudah bertemu kemarin, apa yang harus saya kerjakan lagi Nona Andin...? "
" Good.. Kerja bagus Franz, sekarang buat Clara bahagia... Atur segalanya agar mereka bisa bernostalgia dengan nyaman... Kau tahukan Clara adalah saudaraku satu-satunya... "
" Baik Nona.. " telp ditutup.
*******
Sebuah mobil Audi Quattro memasuki halaman parkir basement apartemen Lungotevere. Mesin mobil masih menyala beberapa detik, sebelum pemiliknya turun.
" Singnore Herlambang..." sapa Andrea. Herlambang sedikit terkejut. Ia belum pernah bertemu orang itu sebelumnya.
" Buona notte.. Apa ada yang bisa saya bantu ?" tanya Herlambang.
" Tidak ada tuan, saya hanya menyampaikan ini." Herlambang menerima amplop berwarna pink.
" Baiklah, grazie signore.." kata Herlambang. Andrea berlalu. Herlambang masih kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.
*******
Hari ini ada dua kegembiraan di hati Herlambang. Pertama Pierlo telah menandatangi pembelian 20 unit suite room senilai 8 juta dollar, kedua pertemuannya dengan Clara kemarin siang.
Herlambang tak henti-hentinya bernyanyi kecil ;
" Suara...
Dengarkanlah aku
Apa kabarnya
Pujaan hatiku..
Aku di sini menunggunya
__ADS_1
Masih berharap
Di dalam hatinya...
Di sini aku masih sendiri
Mengarungi hari-hari sepi
Meski tanpamu...meski tanpamu.."
Tetapi Herlambang masih mengutuk dirinya yang tak berani menanyakan nomor hp Clara kemarin siang. Entahlah di hadapan Clara hilang semua keberaniannya, setidaknya sampai detik ini.
Ah Clara.. jimat apa yang kau punya, sehingga aku selalu merasa tak ada artinya di hadapanmu, katanya dalam hati.
Herlambang penasaran dengan isi di dalam amplop berwarna pink itu, ia segera membacanya...
Ciremai, 28 Maret..
Tuhan kenapa tak kau beri aku keberanian
hanya sekedar mengucapkannya
di malam berselimut kabut
ketika bintang - bintang bertebaran
di dinding langit ketika itu
padahal Hercules telah menggenggam
begitu erat jemari tanganku
apakah itu salahku ?
Tuhan kenapa pula tak kau selipkan
keberanian itu padanya
untuk mengecup keningku
agar kuat keyakinanku
bahwa ada cinta di hatinya
untukku...
aku ingin berteriak
untuk meluapkan cinta yang bergejolak
namun tak ada suara yang kudengar
hanya kerlip kunang kunang
dari mata teduh yang kulihat
mata miliknya..
mata yang ingin kumiliki
untuk selamanya...
__ADS_1
Mata Herlambang telah tergenang dengan airmata. Untuk kedua kali ia mengutuk dirinya.
*******