
Grunes Gebaude-Munchen 29 November , pukul 08.00
Grunes Gebaude adalah bangunan 3 lantai yang diberikan R.Prastowo kepada Andini sebagai hadiah ulang tahun sekaligus hadiah kelulusannya setelah menyelesaikan study S2 di LMU. Sebelum ia memutuskan untuk mengurusi Dubai Syndicate, ia menghabiskan banyak waktu di gedung ini dan banyak berkenalan dengan beberapa anggota dewan di sana.Jalan mulusnya mendekati pejabat-pejabat di Kanselir tak lepas dari keberadaan bisnis orang tuanya yang telah dikenal luas di Jerman terutama di kota Munchen.Papanya R.Prastowo dan pamannya R.Soebandi ( ayah Clara ) terkenal dengan sebutan The Great Importir dari Indonesia yang sering membeli peralatan pengeboran minyak lepas pantai.
Di sanalah ia berkenalan dengan Franz Bauken pemuda Jerman yang bekerja untuk dinas intelijen Rusia –KGB.Belakangan Franz malah menjadi “ kekasihnya”. Franz memiliki perawakan tinggi besar, ia adalah laki-laki yang dapat diandalkan Andini dalam berbagai hal. Termasuk urusan biologis dan kebutuhan Andini sebagai wanita karier.Meski Franz adalah kekasihnya tak urung Andini tetap saja menganggapnya jongos yang kapanpun ia mau dapat ia tendang.Tentu saja karena ia seorang wanita yang kaya raya.
Andini menyibak gordyn dari ruang Vice Room di lantai 3. Nampak satu persatu mobil warna hitam memasuki halaman parkir . Franz telah menjemput teman-teman bisnisnya.Satu mobil yang berada di tengah berisi Franz,Pierlo,Pioli dan Romanio.Sedang mobil yang berada di depan dan di belakang adalah para pengawal bayaran.
Bagi Andini mereka adalah orang penting , yang bisa memuluskan beberapa agenda jangka panjang, dan hari ini ia akan mengatur semuanya dari Grunes Gebaude, sebuah tempat yang selalu memberinya banyak inspirasi.
***
Hudson membawa Rosetta untuk bertemu Roberto, dari spion kabin Hudson melihat wajah Rosetta nampak gelisah, tentu saja ia mengerti jika Rosetta gelisah. Ia berinisiatif untuk segera menelpon Roberto.
“ Berto kau di mana ?” tanya Hudson pada orang di ujung telepon. Rosetta masih juga gelisah. ‘ Benarkah yang ia telepon itu Roberto ? ‘ tanya Rosetta dalam hati. Hudson mengaktifkan loudspeaker.
“ Aku masih bingung ke mana aku harus mencarinya Hudson...” jawab Roberto. ‘ Ya benar....itu suara Roberto !!’ kata Rosetta dalam hati.Hudson kembali memperhatikan wajah Rosetta dari kaca spion kabin, kali ini wajah Rosetta sudah tampak tenang.
“ Teman katakan kau di mana , aku akan segera menyusulmu..!”
“ Aku bingung harus ke mana jadi aku putuskan untuk kembali ke cafe yang tadi...” Roberto belum selesai menjawab , Hudson segera berbicara,
“ Baiklah aku segera ke sana , kau tunggu saja....dan tenanglah karena Rosetta sudah bersamaku...”
“ Apa....?” kata Roberto tak percaya.Ia masih belum percaya. Jika apa yang diucapkan Hudson itu benar, ia harus mengakui bahwa kapasitas Hudson memang berada di atasnya.
“ Lihat saja nanti.........!! “ telepon di tutup.Roberto masih tak habis pikir bagaimana caranya ?
Hudson kembali melihat Rosetta dari spion kabin, ia mendapati wanita itu sudah tidak gelisah,tapi ia masih terlihat sedang menyimpan luka yang teramat dalam.
__ADS_1
“ Kau percayakan bahwa aku teman Roberto ?” tanya Hudson pada Rosetta. Rosetta nampak tersenyum kecil.
“ Ya..tentu saja..tapi masih ada yang mengganjal di benakku.” Jawab Rosetta.
“ Apa itu..?” tanya Hudson
“ Bagaimana secepat itu kau bisa menemukanku “ jawab Rosetta. Hudson jadi ingin tertawa mendengar pertanyaan itu.
“ Tentu saja , karena Wellington telah memberitahuku...”
“ Apakah si penjual koran itu ? “ Tanya Rosetta.
“ Ya....dia seniorku di FBI... ia sedang bertugas di sana .” jawab Hudson.
“ Apa ?? Tapi bagaimana dia tahu soal identitasku....” kata Rosetta seperti menyelidik.
“ Saat aku minum di cafe bersama Roberto... Ia mengirim fotomu......kemudian aku forward ke semua informan dan agenku di sini.” Jawab Hudson.
“ Ya tentu saja karena Zurich adalah zona putih. Sehingga siapapun yang berbuat onar atau kejahatan di sini mereka akan berhadapan dengan dunia....”
“ Ya aku tahu soal itu.” Jawab Rosetta. Rosetta jadi berpikir , bahwa ada baiknya sikap selalu bersikap hati-hati kepada siapapun.
Mobil itu terus melaju membelah kota Zurich yang nyaman. Rosetta sudah sedikit tenang.
***
Burj Khalifa lantai 108 pukul 19.00
R.Soebandi dan istrinya masih menikmati makan malamnya di ruang tengah. Ia berhenti sejenak saat handphonenya berdering, ia ingin mengangkat telepon namun nyonya Rahayu istrinya melarang.
__ADS_1
“ Nantikan bisa telepon balik pah, sekarang makan saja dulu..” R.Seobandi mengurungkan niatnya. Tak berselang lama, handphone berdering lagi,ia melihat siapa yang memanggil.
“ Andini bu...biarlah aku angkat, biasanya ada kabar penting sampai dia menelpon berkali-kali.” Kata R.Soebandi. Istrinya seperti tak suka, namun akhirnya ia mengiyakannya.
“ Halo Andini.....apa kabar Nak...?” jawab R.Soebandi kepada keponakan satu-satunya itu.Ia menyayangi Andini seperti ia menyayangi Clara, karena pada akhirnya mereka berdualah yang akan meneruskan bisnisnya.
“ Halo om...Dini baik-baik saja kok...btw Dini kirim Tart Swenson kesukaan Om dan Tante...”
“ Oya ? Apa kau dari Paris ?” tanyanya. ‘ Ah baik sekali kau Nak...Clara saja jarang membelikannya....’ katanya dalam hati.
“ Ya... nanti Dini suruh Rasjid mengantarnya...”
“ Baiklah kalau begitu om tunggu....”. Jawab R.Soebandi . Ia dan istrinya kembali melanjutkan makan malamnya.
Rasjid dan Franz membawa Tart Swenson ke kamar R.Soebandi . Saat Wilujeng pembantu pribadi R.Soebandi membuka pintu cuma Rasjid yang masuk, tentu saja Wilujeng sudah hapal wajah Rasjid , namun saat Wilujeng ingin menutup pintu Franz dengan segera mendorong pintu hingga Wilujeng hampir terpental , melihat itu Rasjid ingin menolong pembantu yang juga sahabatnya itu.Namun Franz lebih dulu menembak kepalanya dengan pistol yang telah menggunakan suppressor untuk mengurangi suara letusan dan kilatan cahaya,
“ Dlep...Dlep...Dlep...” tiga peluru bersarang di kepala Rasjid, Wilujeng ingin berteriak namun nasibnya sama dengan Rasjid yang telah tewas.Mendengar ada suara gaduh R.Soebandi dan Rahayu keluar, mereka kaget melihat Rasjid dan Wilujeng yang sudah tersungkur bersimbah darah, mereka spontan ingin berlari......namun Franz dengan cekatan menembaknya dari belakang.
“ Dlep...Dlep....Dlep....Dlep....Dlep....” lima peluru mengejar R.Soebandi dan Istrinya.Keduanyapun tewas mengenaskan.
Franz mengunci pintu apartemen , ia berjalan ke arah belakang dan memeriksa seisi ruangan.Ia tak mendapati satu orangpun di ruangan itu. Tak lama kemudian ia menelpon anak buahnya.
“ Cepat datang ...!!! “ kata Franz setengah berteriak.
“ Baik Bos....” jawab suara di ujung telepon. Tak lama kemudian datang 2 petugas berseragam kebersihan datang dengan membawa trolly. Mereka melempar keempat jenazah ke dalam trolly seperti membuang sampah.
“ *****....!!” Franz marah saat melihat salah satu anak buahnya melepas sarung tangan yang bersimbah darah ketika ingin membersihkan lantai.
“ Cepat pakai lagi....!!! ingat jangan sekali-kali melepas sarung tanganmu...!! “ pemuda itu mengangguk lalu melanjutkan pekerjaaannya. Franz terlihat duduk tenang sambil menonton televisi.Tak sedikitpun ada rasa takut di wajahnya, apalagi rasa penyesalan .Franz terus menonton televisi dan hanya sesekali saja ia mengawasi anak buahnya bekerja membersihkan ruangan.
__ADS_1
Setelah semua urusan beres, Franz dan dua anak buahnya mendorong trolly berisi mayat itu ke basement, lalu mengangkutnya dengan truck bertuliskan "Dinas Kebersihan",
***