Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 41


__ADS_3

Keesokan harinya, Tamara tak bisa dihubungi oleh Jena. Panggilannya masuk tapi tak kunjung diangkat oleh wanita itu. Jena bahkan sudah ada di depan apartemen Tamara, sayangnya, kata sandinya sudah dirubah oleh Tamara. Jena jadi cemas dan khawatir ke Tamara.


"Ya Tuhan, kamu ini kenapa sih Tam? Tak biasanya kamu begini?"


Kalau sudah begini, dirinya harus segera mengatur ulang agenda syuting Tamara yang diadakan hari ini. Mau tak mau daripada Tamara kehilangan pekerjaannya. Untungnya, beberapa dari klien tak masalah dengan hal itu. Jena jadi merasa lega walaupun sesungguhnya perasaannya tak pernah lega melihat Tamara yang susah dihubungi.


Di dalam kamarnya, Tamara menangis semalaman. Rupanya sudah tak bisa dijelaskan seperti apa. Intinya, lingkar hitam di bawah matanya begitu terlihat, matanya sayu dan hidungnya pun sudah memerah karena seringnya dia menangis.


"Nggak bisa! Aku belum bisa menerima ini semua. Aku belum siap dan rasanya aku tidak sanggup harus kehilangan Edgar. Satu-satunya pria yang bisa membuat aku jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya, huhu."


Nada dering ponselnya masih terus berbunyi. Tamara melihat siapa nama yang tertera di layar, tapi ia masih belum mau menerima panggilan dari siapapun.


Tapi, ketika ia mendapatkan satu pesan dari Edgar, Tamara langsung membalasnya.


Edgar


Tam, rencananya nanti sore aku akan mendatangi keluarga kamu untuk membicarakan semuanya. Aku harap kamu juga ada disana.


Tamara


Please jangan hari ini Gar. Apa tidak bisa kamu jangan secepat ini? Apa kamu tidak bisa berikan aku waktu untuk menerimanya walau susah? Kalau kamu begini, aku jadi merasa seperti orang yang dibuang karena tak berharga.


Edgar


Baiklah, katakan saja, kapan kamu siapnya. Aku akan coba memahami kamu.


Membaca pesan dari Edgar itu membuat Tamara jadi menangis lagi. Apanya yang dicoba untuk memahaminya? Seharusnya Edgar tak usah mengirimkan pesan itu. Kalau begitu jadinya, dia akan semakin sulit untuk melupakan, dan malah jadi berharap pernikahannya tak jadi batal.


"Arghhh!"


*


*


Di dapur restoran, Raisa sedang memasak beberapa pesanan untuk pelanggan. Dia bahkan menghiraukan beberapa kali panggilan dari Rani ataupun Kendra yang mengajaknya untuk istirahat.


Raisa ingin menghilangkan beban pikiran di kepalanya dengan terus berkerja. Dengan begitu ia tak terlalu memikirkan tentang Edgar yang membuatnya pusing.

__ADS_1


Sampai waktu pulang bekerja pun tiba, Raisa langsung pulang tanpa mampir kemana-mana lagi. Tiba-tiba di tengah jalan, motor yang dipakainya mogok padahal bensinnya masih penuh.


"Aduh! Kenapa ya ini? Mana jauh dari mana-mana lagi. Bengkel juga masih sekitar 3 km, kalau aku dorong, bisa langsung pegal semua badanku."


Raisa benar-benar bingung, ia mencoba menelpon Roni untuk meminta tolong tapi tak dijawab sama sekali.


"Kemana sih kamu, Ron? Apa dia belum pulang kerja ya?"


Lalu Raisa mencoba menelpon Pamela, tapi sama saja tak diangkat. Dia benar-benar dalam posisi sulit. Pada akhirnya, Raisa mencari kontak Edgar untuk dimintai bantuan, karena mau bagaimana lagi tak ada orang yang menjawab panggilannya. Ketika akan menekan tombol panggil, ada sebuah mobil yang berhenti di depannya.


"Motor kamu mogok?" tanyanya pada Raisa.


Raisa mengiyakan lalu melihat ke orang yang bertanya padanya.


"Mau aku bantu?" tanya Bian padanya.


"Apa itu tidak merepotkan kamu?"


"Tentu tidak. Aku akan minta mekanik kenalanku untuk membawa motor kamu dan membawanya ke bengkel. Kamu pulang biar aku antar saja."


"Benar tidak merepotkan?" Raisa memastikan sekali lagi karena tak mau merepotkan orang lain. Tapi di samping itu, ia lebih khawatir ke anak-anaknya yang ditinggal sendirian di rumah.


Bian langsung menghubungi kenalannya dan meminta bantuan.


"Sekitar 10 menit lagi dia akan sampai."


Sepuluh menit pun sudah berlalu, kenalan mekanik dari Bian sudah datang dan menaikan motor Raisa ke mobil dereknya. Setelah motor Raisa dibawa pergi, Raisa langsung masuk ke dalam mobil Bian.


Di perjalanan, Bian dan Raisa mengobrol layaknya teman sebaya walaupun pada kenyataan, usia Bian jauh lebih muda darinya.


"Kamu pasti sangat mengkhawatirkan anak-anak kamu. Terlihat jelas sekali kamu ingin cepat-cepat pulang."


"Tentu saja, aku tidak tenang membiarkan mereka terlalu lama sendirian. Aku takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan."


"Kenapa tak mencoba mencari pasangan baru? Dengan begitu kamu tidak usah bekerja lagi, kamu bisa fokus menjaga mereka."


Raisa tersenyum kecut.

__ADS_1


"Aku tidak yakin orang lain akan menyayangi anak-anakku. Daripada memikirkan pasangan baru, aku lebih memilih untuk membahagiakan mereka dengan caraku. Lagian mana ada orang yang mau dengan janda."


"Kamu salah besar kalau berpikiran begitu. Pasti akan ada orang yang menerima status kamu dan anak-anakmu. Seperti aku misalnya."


Raisa hanya tertawa mendengarnya. Ia berpikir kalau Bian sedang bercanda.


"Jangan ngawur kalau bicara. Kalau dari segi usia, kamu itu sama dengan adikku. Lagipula, pasti banyak wanita yang mendekatimu. Ya kali kamu malah maunya sama janda sepertiku. Benar-benar tak bisa dibandingkan. Tolonglah berhenti bicara omong kosong."


"Aku serius."


Mendengar nada bicara Bian yang tampaknya memang serius, Raisa yang tadinya tertawa langsung terdiam. Ia menghela napasnya sebelum mengucapkan sebuah kalimat.


"Aku yakin kamu hanya dipaksa oleh papa kamu untuk segera menikah. Tapi, ingatlah yang menjalani semua nantinya adalah kamu bukan papamu. Cintailah orang yang benar kamu cintai, menikahlah karena kamu ingin bukan karena paksaan."


Mobil berhenti tepat di depan rumah Raisa. Ia mengucapkan terima kasih ke Bian karena sudah mau direpotkan olehnya. Tak lupa Raisa juga meminta nomor mekanik tadi agar bisa menghubungi kalau motornya sudah selesai diperbaiki.


Sebelum pergi, Bian mengatakan sesuatu dulu padanya.


"Mungkin awalnya aku memang tak tertarik sedikit pun padamu. Apalagi papa yang selalu mencekoki aku banyak hal tentang kamu. Tapi entah kenapa aku malah jadi penasaran, karena papa selalu menceritakan tentang kamu dengan bahagia. Baru kali ini papa berbicara satu wanita dalam beberapa kali waktu. Dan pada akhirnya aku mengerti kenapa papa begitu menginginkan kamu. Kamu wanita baik, kamu ibu yang hebat dan kamu cantik."


Mobil Bian melaju meninggalkan Raisa disana yang masih terdiam. Sebuah suara mengejutkan Raisa sampai tak sadar menaruh tangannya di depan dada.


"Siapa laki-laki tadi? Kamu tidak berniat untuk menjadikannya papi baru untuk si kembar kan?"


Edgar langsung cemburu melihat ada laki-laki lain yang mengantarkan Raisa pulang. Padahal dirinya juga ingin mengantar jemput Raisa berangkat dan pulang kerja. Hanya saja ketika menawarkan itu, Raisa selalu menolaknya.


"Jangan harap kamu bisa menggantikan posisi aku bagi si kembar. Aku tak akan membiarkan kamu menikah dengan laki-laki manapun."


"Apa sih!? Aneh tahu nggak! Ngapain kamu kesini?"


"Kalau aku bilang, aku rindu, apa kamu percaya?"


Raisa benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Edgar. Tentu saja dia takkan percaya itu, meski hatinya sedikit mengharapkannya. Kaki Raisa mulai melangkah masuk ke dalam rumahnya. Edgar pun mengikutinya sampai ia yang menutup pintu itu lalu dengan sengaja menarik Raisa ke dalam pelukannya.


*


*

__ADS_1


TBC


Maaf ya aku belum bisa update banyak, kalau lagi pulang kampung jadi banyak urusan, hehe. Semoga tetap setia membaca ceritaku ini.


__ADS_2