
Dua tenda didirikan disana. Satu tenda besar dan satunya tenda kecil. Tenda besar itu didirikan oleh Edgar dan Raisa sementara yang kecilnya dialih didirikan oleh Bimo dan Pamela. Selama pemasangan tenda itu kedua kucing dan anjing itu selalu saja adu mulut. Bahkan ketika tenda Raisa dan Edgar selesai dibuat, Pamela dan Bimo masih saja berkutat dengan tenda yang belum berdiri.
"Pamela! Kamu gimana sih? Sudah aku bilang ikat talinya ke tanah biar tendanya berdiri tegak sempurna."
"Berisik deh! Aku juga udah usaha dari tadi, tapi emang susah tahu!"
"Huh!"
Bimo menarik napasnya kasar lalu mengambil tugas Pamela itu.
"Aunty, Om kapan selesainya? Aku udah lapar tahu," ucap Mia.
"Sebentar ya sayang, bentar lagi kok," jawab Pamela.
"Hm, iya deh," jawab Mia yang lalu duduk di kursi kecil yang dibawa dari rumah. Matanya masih terus tertuju ke Bimo dan Pamela. Hal itu membuat Pamela dan Bimo merasa diawasi.
"Cepat Bim!" pinta Pamela.
"Iya, iya bawel!"
Lima belas menit kemudian, tenda sudah berhasil didirikan. Bimo dan Pamela pun bernapas lega. Kedua orang itu pun ikut bergabung duduk ditikar yang sudah digelar oleh Raisa. Sudah ada banyak menu makanan disana.
"Horee! Saatnya makan!" ucap Mia dengan riang gembiranya.
Raisa yang melihat itu pun tersenyum bahagia.
Suasana makan terasa sangat ramai karena Mia yang terus-menerus mengoceh tentang dia yang mau memancing di empang yang ada di dekat sana.
"Emang kamu bisa mancing?" tanya Bimo ke Mia.
"Bisa, kan Papi yang mancing, hehe," jawab Mia dengan mudahnya.
"Papi kamu aja nggak pernah mancing sama sekali. Mana mungkin nanti dapat ikannya."
Mendengar jawaban itu dari Bimo, Mia langsung menatap Edgar dan menanyakan secara langsung.
"Emang iya Pi?"
Edgar menaruh tangannya ke belakang kepalanya sambil tersenyum sembari memperlihatkan deretan giginya.
"Belum sayang."
Bibir Mia mengerucut karena merasa sedikit kecewa. Dia kira papinya bisa segalanya, rupanya ada juga yang tidak papinya bisa.
__ADS_1
"Tapi, buat kamu Papi akan berusaha dapat ikan yang besar, biar nanti malam kita bakar-bakar ikan."
"Bener ya, Pi?"
Edgar mengangguk membuat senyuman terlihat kembali dari bibir Mia.
*
*
Menggunakan alat pancing yang sudah disediakan tempat wisata, mereka pun memancing disana dengan dibuat 3 kelompok. Edgar dengan Mia, Kia dengan Bimo, Pamela dengan Raisa. Sudah hampir menunggu setengah jam, tapi satu pun dari mereka belum ada yang dapat ikan satu pun. Bimo sempat dapat ikan, hanya saja ketika akan dilepas dari kailnya, ikan itu loncat lagi ke air.
"Ah, lama banget, keburu malam ini," gerutu Mia sambil meluruskan kakinya.
"Bentar lagi, pasti umpan Papi dimakan. Tunggu aja," ucap Edgar.
"Dari tadi, bilangnya bentar lagi, bentar lagi aja Pi, tapi nggak pernah dapat-dapat, huh!"
"Om! Itu ikannya udah makan umpannya, ayo tarik!" teriak Kia yang melihat pancing Bimo bergerak.
"Oh, oke."
Ternyata ikan yang didapatkan Bimo cukup besar. Jenisnya yaitu ikan nila. Kia memamerkan ikan yang sudah ada di dalam ember itu ke Mia.
"Hih! Lihat aja, aku juga nanti dapat yang lebih besar dari itu!" jawab Mia yang tak mau kalah.
"Pi, ayo semangat!" Mia menyemangati Edgar agar lebih semangat lagi memancingnya.
"Aaaa, tarik, Ra, tarik!" Kini giliran Pamela yang berteriak.
"Hore! Aunty juga dapet!" teriak Pamela ketika ikannya sudah masuk ke dalam embernya.
Mia semakin cemberut karena dirinya dan Edgar lah yang masih belum dapat.
Waktu pun semakin berlalu. Langit sudah berwarna kemerahan, Edgar hanya mendapatkan 1 ikan, Bimo 3 dan Raisa 2. Walaupun sedikit kecewa, tapi tak apa-apa karena ikan yang didapat jumlahnya sudah pas dengan jumlah orangnya.
Bimo dan Edgar membakar kayu bakar untuk nanti diambil sarangnya untuk membakar ikannya. Sementara yang wanita membersihkan ikan hasil tangkapan tadi. Kalau si kembar ya cuma jadi pengawas aja sambil berlari-lari kecil di sekitar sana.
Ikan bakar sudah siap disantap. Si kembar pun sangat antusias untuk mencoba memakannya. Rasanya sangat enak karena memang Raisa yang pintar memasak.
Ketika malam sudah semakin larut, si kembar sudah masuk ke dalam tenda dan tertidur dengan lelap, sementara orang dewasa kini sedang duduk berjejer di depan tenda sambil menatap ke langit.
Posisi duduk mereka yaitu, Edgar, Raisa, Pamela dan Bimo. Di saat pasangan suami istri malah bermesraan dengan saling berpegangan tangan dan senderan kepala, Pamela dan Bimo cuma bisa makan hati aja.
__ADS_1
"Bener-bener nggak tahu kondisi banget," gerutu Bimo sambil melempar batu kerikil ke depan.
"Kalau iri ya itu kamu lakuin juga dengan Pamela. Kalian kan berpacaran," ucap Edgar dengan sedikit meledek.
"Hih! Nyebelin!" Bimo malah semakin kesal.
Bimo pun melirik ke Pamela yang tampak diam saja. Tanpa sengaja keduanya saling bertemu pandang sejenak lalu saling memalingkan wajahnya setelahnya.
Sial! Kenapa tadi Pamela terlihat sangat cantik sih! Padahal dia lagi bare face sekarang.
Bimo meletakkan tangannya di dada, merasakan denyut jantungnya yang berdebar tak karuan. Dia pun berdiri untuk menjauh sejenak dari sana. Tanpa Bimo sadari ternyata Pamela pun ikut menjauh karena tak mau jadi obat nyamuk jika terus berada di antara Edgar dan Raisa.
"Hih! Ngapain ikut-ikut!" tanya Bimo dengan sedikit kesal.
"Nggak ngikut, cuma nggak mau disana aja. Tahu sendiri lah, gimana kalau jadi orang ketiga di antara dua orang yang saling bucin. Yang ada aku makan hati."
Ya benar juga, tapi kini Bimo lah yang harus menetralkan jantungnya. Setahunya, ketika dia menyukai Raisa dulu, jantungnya tak berdetak secepat ini. Apa jangan-jangan dia tiba-tiba punya penyakit jantung?
Bimo langsung pamit dan terus mer*ba-r*ba dadanya sendiri. Pamela yang melihat itu langsung merasa heran.
"Kamu kenapa? Aneh banget!"
"Coba kamu letakkan tanganmu disini, rasanya jantungku berdetak lebih cepat. Aku takut tiba-tiba aku jantungan dan mati disini. Kan tidak lucu!" pinta Bimo sambil menunjuk dadanya sendiri.
"Hih, mana coba, aku periksa," ucap Pamela yang mau membantu. Kan tidak lucu kalau tiba-tiba Bimo mati di dekatnya. Bisa-bisanya dirinya dijadikan tersangka utama kalau Bimo benar-benar mati jantungan.
Pamela pun mendekat ke Bimo dan meletakkan tangannya di dada Bimo. Bukannya mereda, jantung Bimo berdetak jadi lebih cepat.
"Bim, kamu nggak punya riwayat jantung, kan?" tanya Pamela.
Bimo menggeleng pelan, tapi dia juga was-was. Sejenak kemudian suasana berubah hening karena Pamela terlihat terdiam. Pamela menjauhkan tubuhnya dari Bimo lalu bertanya.
"Bim, kamu nggak mungkin berdebar karena ada aku di dekatmu, kan? Kamu kan nggak suka aku."
Deg!
*
*
TBC
Yuk ramaikan teman-teman kolom komentarnya.
__ADS_1