Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 53


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang tertutup, Raisa dan Tamara bertemu. Tempat tersebut Raisa pilih agar bisa menjaga privasi Tamara juga.


Raisa bukan tipe orang yang suka basa-basi jadi wanta itu langsung bicara pada intinya.


"Aku tahu kamu pasti sibuk. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menemuiku yang bukan siapa-siapa. Aku yakin kamu sudah tahu tentang video yang tersebar di media sosial. Apa yang kamu pikirkan sekarang?"


"Kenapa kamu menanyakan apa yang aku pikirkan? Bukankah itu tidak penting? Yang penting, harusnya kamu memintaku untuk melakukan klarifikasi tentang itu semua."


Raisa menggeleng, ia yakin dengan berjalannya waktu, berita itu pun akan tak dibicarakan lagi oleh orang-orang karena pastinya akan ada banyak berita-berita baru lagi. Tapi, tentang yang dipikirkan Tamara, itu penting baginya. Karena dirinya pun merasa bersalah akan keputusan Edgar padahal di pertemuan pertama mereka waktu itu, Raisa sudah menyakinkan Tamara kalau Edgar mencintai wanita itu.


"Aku tahu dan bisa melihat seperti apa kamu dari cara kamu bicara dan sikapmu. Kamu bukan orang yang seperti dikatakan oleh mamaku."


Raisa merasa lega mendengarnya.


"Sebagai putrinya, aku mewakilinya untuk meminta maaf padamu. Dia begitu menyayangiku sampai-sampai dia tak sadar apa yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan dengan membuat heboh dan memfitnah orang di depan umum. Aku harap kamu tidak membawanya ke jalur hukum."


"Aku tidak sejahat itu. Apalagi kamu sebaik ini. Edgar beruntung pernah memiliki kamu. Dia benar-benar pria bodoh karena sudah meninggalkan wanita sebaik kamu."


Tamara tersenyum tipis lalu berkata, "Mau aku sebaik apapun di mata orang lain, di mata Edgar kamulah yang dicintainya. Matanya tak bisa berpaling darimu. Bahkan ketika menceritakan si kembar, dia begitu antusias. Tergambar sangat jelas dia begitu menginginkan kembali bersamamu dan si kembar. Lantas aku bisa apa? Orang yang aku sukai tak mengharapkan aku. Aku sadar betul, jika terus meneruskannya, akulah yang akan paling tersakiti."


"Maaf, maafkan aku yang tiba-tiba muncul," ucap Raisa meminta maaf.


"Bukan salah kamu. Aku yakin inilah yang Tuhan kehendaki. Dia ingin aku menemukan jodohku yang sebenarnya dan Edgar bukanlah orangnya."


Raisa benar-benar kagum dengan Tamara. Hati wanita di depannya ini sungguh baik seperti malaikat. Bahkan dia tak mencaci maki dirinya ataupun menampar dirinya karena secara tidak langsung dirinya juga menjadi penyebab batalnya pernikahan Edgar dan wanita itu.


"Segeralah kembali dengan Edgar. Dia begitu mencintai kamu. Jangan sia-siakan kesempatan ini."


Raisa tampak terdiam setelah mendengarkan kata-kata dari Tamara.


"Kamu tenang aja, meski tanpa diminta pun aku akan meluruskan semuanya. Aku pun tak suka dengan apa yang sudah dilakukan oleh mamaku. Dia sudah sangat keterlaluan."


"Terima kasih, sekali lagi aku minta maaf atas semuanya."


Tamara pun mengangguk. Pada akhirnya keduanya masih terus berbincang disana. Bahkan terlihat sangat akrab seperti saudara.


*

__ADS_1


*


Mama Ola mengepalkan tangannya ketika membaca komentar-komentar jahat yang ditujukkan untuk Raisa. Rasanya ia ingin menelan mereka hidup-hidup. Sungguh, Mama Ola tidak terima Raisa dijelek-jelekkan seperti itu.


Dasar pelakor!


Wanita nggak tahu diri! Cuma koki mana bisa bersaing dengan artis. Pasti modal body!


Wanita tak punya harga diri! Tak punya hati, teganya melukai hati malaikat kami!


Itulah beberapa komentar yang dibaca oleh Mama Ola.


"Aku tak bisa diam saja melihat anakku diperlakukan begini!"


Mama Ola sudah geram sekali ingin bertindak. Mungkin ketika Edgar dalam kesulitan, ia tak bisa membantu karena posisinya Edgar memang salah, tapi Raisa? Wanita itu hanya korban dari keputusan yang telah diambil oleh Edgar.


"Pokoknya ini nggak bisa dibiarkan!"


Rasa amarah Mama Ola sudah berada di puncaknya dan sudah siap mengeluarkan apinya. Di saat ia akan menuju mobil dan keluar, tiba-tiba Edgar bertanya.


"Mama mau kemana?" tanya Edgar.


"Nggak usah Ma, udah biarin aja."


"Biarin aja katamu? Heh! Anak bodoh! Orang yang dihina itu ibu dari anak-anakmu, wanita yang kamu cintai. Kamu tak sedikit pun ada rasa ingin melindunginya? Hah? Apa sih yang bisa aku harapkan dari kamu. Andaikan aku punya anak laki-laki lagi, sudah aku pastikan aku akan menikahkannya dengan putraku yang satunya."


"Hih! Mama bicara apa sih? Jangan bisanya ngandelin emosi doang Ma. Ngandelin ini dong," ucap Edgar sambil menyentuh keningnya yang berarti otaknya.


"Semuanya akan segera berakhir Ma. Mama jangan khawatir. Aku tidak secuek itu juga kali."


"Bener kamu bantu Raisa?"


"Iya Ma," jawab Edgar untuk membuat Mama Ola percaya.


"Awas saja kalau Raisa masih dihujat oleh orang-orang di luaran saja. Nanti kamu yang kena omelan Mama."


Edgar cuma bisa manyun karena lagi-lagi dirinya dianak tirikan. Giliran Raisa dibela mati-matian. Lah dirinya dari kemarin punya masalah cuma bisanya dimarahi dan diomeli doang.

__ADS_1


*


*


Di malam itu tepat pukul 19.00, Tamara ditemani Jena managernya mengadakan konferensi pers dengan mengundang beberapa wartawan dan pihak media untuk meluruskan kekacauan di media sosial.


"Maaf atas video yang tengah viral saat ini. Apa yang dikatakan mama saya tidaklah benar. Keputusan pembatalan nikah antara saya dan Edgar tak ada hubungannya dengan orang ketiga. Ini semua murni karena memang kami yang tidak cocok. Jadi, saya mohon kepada seluruh masyarakat di luar sana. Stop membuly! Stop mempergunakan jari tangan kalian untuk menyakiti hati orang lain. Kata-kata dan kalimat kebencian yang kalian ketik di kolom komentar sungguh jahat. Bahkan kalau mau, pastinya dari pihak yang dirugikan bisa menggugat kalian semua. Sekian dari saya."


Acara konferensi pers pun selesai. Tamara keluar dari aula gedung dan duduk di ruang tunggu. Jena menghampiri Tamara lalu menepuk pundak Tamara.


"Good job! Kamu memilih jalan yang tepat."


"Tentu saja, mana bisa aku terus sakit hati hanya karena seorang pria. Lagian pria itu banyak. Ya, meskipun aku harus berusaha dulu untuk melupakannya yang tak akan semudah membalikkan telapak tangan."


"Mau aku kenalkan ke teman kuliahku?" tawar Jena.


"Ih, apaan coba?! Nggak, nggak ada."


"Ayolah, kata orang cara termudah melupakan orang yang kita cintai itu dengan menemukan yang baru. Siapa tahu saja kan setelah kalian bertemu nanti timbul benih-benih cinta dan perlahan kamu justru mencintainya. Cobalah Tam."


"Nggak! Pokoknya nggak mau."


Tamara masih terus menolak.


"Ya udah deh, nanti kalau tiba-tiba berubah pikiran hubungi aku ya. Soalnya papanya udah ngebet banget pengen anaknya cepet nikah. Katanya umurnya sudah tua, takut nggak bisa gendong cucu-cucunya kalau putranya kelamaan dapat jodoh."


"Udah, ih sana pergi aja, aku mau istirahat sebentar."


"Dia anaknya ganteng, nggak kalah ganteng dari Edgar Tam. Kamu pasti bisa langsung suka. Best pokoknya."


"Jena!"


Jena tertawa kecil lalu berlari keluar dari ruangan sebelum Tamara terus mengamuk dengan melempar benda yang ada di dalam ruangan.


*


*

__ADS_1


TBC


Yuk bisa yuk, 100 like dan 15 komentar


__ADS_2