Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 59


__ADS_3

Hari itu, Pamela bertugas menjemput si kembar dari sekolahnya. Mama Ola nggak bisa, Roni nggak bisa dan Raisa pun begitu. Untungnya, Pamela sedang tak memiliki jadwal bertemu dengan kliennya.


"Aunty kita mampir ke timezone dulu yuk! Udah lama banget nggak kesana!" ajak Mia.


"Boleh, ayo!"


Pamela mengiyakan begitu saja. Mobil Pamela melaju dan berhenti di sebuah mall besar. Si kembar yang begitu tak sabar ingin bermain malah berlari kecil disana, padahal banyak sekali pengunjung yang berjalan kesana-kemari. Pamela hampir kewalahan untuk mengejar si kembar yang sangat lincah itu.


"Huh! Gara-gara jarang jalan kaki, aku jadi cepat capek," keluh Pamela.


"Kemana lagi mereka? Kalau sampe ilang, bisa cekek mati aku sama Raisa."


Pamela pun mencari-cari keberadaan si kembar.


"Cepet benget ngilangnya kaya tuyul."


Sampai pada akhirnya, Pamela menemukan si kembar yang sedang mengobrol dengan Bimo di depan toko sepatu.


"Aunty!" panggil si kembar sambil melambaikan tangannya ke Pamela.


Pamela pun menghampiri mereka.


"Kalian ini, kalau kalian hilang atau tersesat gimana? Jangan jauh-jauh dari aunty."


"Tenang aja Aunty, kalaupun kami tersesat, Mami sudah mengajarkan kita gimana menghadapi situasi darurat itu. Di dalam tas kita berdua ada alamat rumah sama nomor telepon Mami. Jadi aman terkendali," jawab Kia yang membuat Bimo dan Pamela takjub. Rupanya Raisa telah mengajarkan banyak hal. Ya mungkin Raisa sadar dirinya tak mampu terus menjaga si kembar ketika sedang jauh, makanya Raisa mengajarkan cara bertahan dalam situasi genting.


"Memang terbukti anak Raisa. Pintarnya nular ke kalian. Jangan ikutin Papi kalian yang bodoh."


Celetukan Bimo itu membuat Bimo sedikit meringis karena mendapatkan cubitan di tangannya dari Pamela.


"Kalau bicara sama anak kecil itu jangan yang jelek-jelek!"


"Apa sih! Orang kenyataannya begitu! Heran, udah sana kamu pulang aja! Biar si kembar mainnya sama aku aja."


Bimo menyamakan tingginya dengan si kembar.


"Mau kan main sama Om Bimo yang gantengnya melebihi Papi kalian?"


"Papi paling ganteng Om. Valid, no debat-debat!" ucap Mia yang tak terima ada orang yang mengaku tampan melebihi Edgar.


"Ah, kamu ini. Gimana mau main sama Om, nggak?"


Si kembar melihat ke Pamela seolah meminta persetujuan.


"Kalau ingin main sama Om, boleh kok. Nanti akan tetap Aunty awasi takutnya dia tiba-tiba makan kalian berdua saking gemasnya sama kalian."


"Sialan ni cewek satu!"

__ADS_1


"Language Om! Kata Mami kita itu nggak boleh bicara kasar. Mau itu sama orang yang lebih tua, lebih muda, berbeda gender. Intinya bicara itu yang bagus."


"Sukurin! Emang enak diomelin anak kecil, haha."


Pamela tertawa bahagia.


"Iya deh, iya. Tadi kelepasan aja kok. Yok kita cus!"


Bimo menggandeng tangan si kembar di sebelah kanan dan kirinya, sementara Pamela berjalan di belakang mereka.


Hampir dua jam mereka menghabiskan waktu disana. Pamela pun akhirnya membawa si kembar ke restoran untuk makan siang. Tentunya Bimo masih bersama dengan mereka.


Ketika Pamela sedang pergi ke kamar mandi, Kia memulai pembicaraan mengenai Pamela.


"Gimana menurut Om, Aunty Lala? Baik, dan cantik, kan?"


"Nggak, dia itu cerewet, suka bikin kesel kalau ketemu. Orang yang paling malas Om temui itu yang seperti Aunty Lala itu."


"Padahal Om sama Aunty terlihat sangat serasi kalau bersama. Lucu aja liatnya, kaya kucing sama tikus, hihi," celetuk Mia sambil tertawa kecil.


Bimo manyun karena kesal disamakan dengan kucing dan tikus. Tak lama, Pamela pun kembali dan ikut mengobrol bersama disana.


"Jadi, selama ini kamu membantu Raisa untuk bersembunyi dari keluarga Edgar. Wah benar-benar tak terpikirkan olehku."


Di saat anak-anak kecil sedang mengobrol membicarakan dunia mereka, dua orang dewasa itu pun membicarakan masalah orang dewasa juga.


"Ancamanmu begitu menyeramkan, tapi harusnya kamu bicara itu ke Edgar, bukan aku."


"Kamu sahabatnya, setidaknya kamu bisa jadi alarm berjalan supaya Edgar tak membuat kesalahan untuk kedua kalinya."


"Haish!!"


*


*


Di lokasi syuting, Tamara sedang beristirahat sebentar setelah melakukan beberapa pengambilan scene nya. Ia bersandar di sofa sambil memejamkan matanya. Baru beberapa saat memejamkan mata, Jena sudah mengganggu Tamara hingga membuat wanita itu kesal.


"Kamu ini, suka banget gangguin orang, Jen. Baru aja aku akan terlelap."


"Hehe, sorry Tam. Habis aku mau minta bantuan kamu. Temenin ketemu sama temenku ya, please!"


"Nggak mau, pasti kamu mau jodoh-jodohin aku, kan?"


"Enggak Tam, enggak. Negatif thinking banget sama aku. Temenin ya, please!"


Karena Jena sampai memohon-mohon seperti itu, Tamara pun jadi tak tega dan akhirnya dia menemani Jena untuk bertemu dengan teman Jena di cafe terdekat.

__ADS_1


"Jen!" panggil Bian sambil mengangkat satu tangannya.


Jena dan Tamara pun menghampiri Bian yang duduk sendirian.


"Sorry ya Bi, aku agak lama. Oh, iya kenalin ini sahabatku, namanya Tamara."


"Ah, iya, aku tahu, dia sangat terkenal. Aku Bian."


Kedua orang itu pun saling berkenalan. Di saat Jena dan Bian mengobrol membahas kerja sama, Tamara cuma bisa diam sambil melihat ke sekeliling. Agak menyesal sih, harusnya dia tak menemani Jena disana.


Jena permisi ke toilet sebentar setelah pembicaraannya dengan Bian berakhir. Kini tinggal Bian dan Tamara berdua disana.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bian.


"Tanya ke aku?" Tamara balik bertanya.


"Siapa lagi orang yang ada di depanku selain kamu?"


"Kita tak begitu saling kenal. Jadi aku tak harus menjawabnya, kan?"


Bian pun terdiam sejenak. Lalu membuka obrolan lagi.


"Aku turut prihatin atas gagalnya pernikahan kamu. Aku juga salut karena kamu masih bersikap seolah baik-baik saja di depan banyak orang. Padahal sakit hati itu sungguh menyiksa."


"Jangan pura-pura mengerti akan sesuatu yang sebenarnya tak kamu pahami."


Bian tersenyum tipis.


"Hati kita sama-sama terluka. Bedanya kamu sudah berusaha melepaskan, tapi aku belum."


Tamara menatap Bian sedikit sinis. Wanita itu tampak tidak suka dengan sikap Bian yang terlalu mudah bicara soal hati, padahal ini kali pertama pertemuan mereka. Apalagi, Bian bersikap seolah-olah tahu segalanya. Tamara sangat tidak menyukai hal itu.


"Sepertinya kamu terlalu banyak bicara ya."


"Tidak, aku bicara sesuai dengan kenyataan. Aku mungkin memang masih asing bagi kamu, tapi ketahuilah, aku sudah banyak tahu tentang kamu," ucap Bian sambil tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, Jena datang dan menggoda keduanya.


"Wah, udah banyak ngobrol aja. Udah saling nyambung ya? Jodoh kali ya?"


*


*


TBC


Yuk komentar sebanyak-banyaknya, jangan lupa kasih kembang tujuh rupa, wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2