
Di tempat lain, keluarga Gautama sedang dipusingkan dengan banyaknya investor yang mencabut investasi mereka dari proyek yang sedang dijalankan oleh Edgar. Selama kondisi Edgar masih belum pulih seutuhnya, Papa Daniel lah yang mengurus semuanya. Sebetulnya Edgar sudah pulang dari rumah sakit, hanya saja wajahnya masih ada lebamnya. Jadi, Edgar hanya bekerja dari rumah.
Belum lagi Mama Ola yang ngomel-ngomel sana-sini. Wanita itu tak bisa diam setelah diberitahukan tentang saham perusahaan keluarga mereka yang menurun.
"Semua ini gara-gara Raisa!"
Masih saja Mama Ola menyalahkan Raisa. Padahal sebenarnya akar masalahnya ada pada putranya sendiri.
"Berhenti nyalahin Raisa, Ma! Ini semua resiko yang harus aku tanggung karena keputusan aku sendiri! Aku bisa menghadapi ini semua."
"Haaah! Mama nggak bisa diam aja!"
Mama Ola langsung pergi dari rumah tanpa mengatakan apapun ke Edgar dia mau pergi kemana.
*
*
Di restoran, suasana masih ramai dengan cibiran dan perkataan orang-orang mengenai Raisa. Mereka bahkan terus membicarakan hal tersebut padahal lagi makan.
Berbeda dengan Rani dan Kendra, keduanya jadi merasa bersalah karena tadi mereka hanya diam tanpa membantu Raisa sama sekali.
"Ken, harusnya tadi kita bantu Mba Raisa, kan?"
Kendra mengangguk.
"Saking terkejutnya dan saking takutnya sama ibu-ibu yang marah-marah tadi, aku jadi nggak bisa berkutik Ran. Apalagi dia adalah ibunya Tamara. Tapi aku rasa apa yang diucapkannya tadi tidak benar. Mana mungkin Mba Raisa jadi perusak hubungan anak si ibu itu. Mba Raisa kan sudah punya anak. Eh, tunggu ... "
Tiba-tiba ucapan Kendra terhenti setelah mengatakan kata anak. Dirinya ingat betul kalau mantan calon suami Tamara adalah duda. Pikirannya langsung tertuju kalau Edgar adalah mantan suami Raisa dan anak-anak Raisa sudah pasti adalah anak-anak Edgar.
"Wah! Kalau pemikiran ku ini benar. Gila sih!"
__ADS_1
"Apanya yang gila, Ken? Kamu mikirin apa?" tanya Rani yang keheranan.
"Mikir kalau ternyata Mba Raisa itu mantan istrinya Edgar. Maka dari itu, Edgar memilih untuk membatalkan pernikahannya dengan Tamara."
"Apa? Jangan ngawur deh! Mba Raisa aja nggak pernah cerita apa-apa soal mantan suaminya ke kita. Tahu namanya aja juga nggak?"
"Ya aku tahu, Ran. Tapi apa coba yang menghubungkan Mba Raisa sama Tamara kalau bukan Edgar? Nggak ada kan? Lagipula Mba Raisa kan cuma koki di restoran, sementara Tamara aktris terkenal. Satu-satunya penghubung ya Edgar."
Tiba-tiba Rani jadi terdiam memikirkan kembali kata-kata dari Kendra. Memang benar apa yang diucapkan oleh Kendra. Tapi, masa iya sih? Apa jangan-jangan karena itu juga Raisa selalu tak mau memberikan komentar tentang hubungan Tamara dan Edgar.
"Apa ucapan kamu emang bener ya, Ken? Aku juga jadi kepikiran."
"Nah, kan. Tapi kalau emang bener, kalau aku jadi Edgar, aku juga akan pilih Mba Raisa. Meskipun Tamara emang cantik dan kelihatan sempurna, tetapi kalau untuk sebuah pernikahan, aku lebih pilih yang kayak Mba Raisa, yang sederhana dan keibuan."
"Udah ah, aku nggak mau ikut mikir-mikir lagi. Yang sekarang aku pikirin tuh, tadi Mba Raisa pergi kemana? Dia bahkan bawa motornya ngebut banget. Aku khawatir Ken. Tapi kita kan nggak bisa nyusulin dia."
Rani seketika merengut sedih.
"Percaya deh, Mba Raisa pasti sekarang lagi menenangkan dirinya."
*
*
Rasanya dihina, diremehkan dan dipermalukan di depan umum. Bukannya ia tak bisa membela dirinya, hanya saja ketika dia berusaha membela diri, orang-orang pasti akan menganggap itu sebagai alibi untuk menutupi sebuah fakta.
Padahal selama ini, Raisa pikir, dirinya sudah baik-baik saja. Ternyata, ia salah, ia hanya menyembunyikan semuanya dari kata baik-baik saja itu. Semua rasa sakitnya terkubur di hatinya yang terdalam dan kini muncul lagi ke permukaan dengan rasa sakit yang jauh lebih besar.
Kalau seperti ini jadinya, Raisa merasa dirinya tak layak untuk menjadi seorang ibu. Ia masih belum bisa menghadapi rasa sakitnya.
"Aku bukan wanita penggoda! Aku bukan wanita murahan! Aku bukan orang seperti itu!"
__ADS_1
Raisa mengucapkan kalimat itu dengan memukul dadanya sendiri. Karena kalimat itu juga ia jadi teringat masa lalu. Dirinya selalu diejek karena anak dari seorang pelacur dan tak tahu siapa ayahnya. Kini terulang lagi.
"Kia, Mia! Maafkan Mami yang orang sakit! Maafkan Mami, huhu."
Akhirnya tangisnya keluar juga ketika teringat kepada si kembar. Raisa ingin mencontohkan yang baik-baik saja pada si kembar dan memperlihatkan keadaan dirinya yang baik-baik juga. Tapi kali ini, Raisa tak mampu lagi menahannya.
"Maafkan Mami, sepertinya Mami akan memilih untuk menghilang lagi. Maafkan Mami karena akan memisahkan kalian dari papi kalian, huhu."
Saking sedihnya, Raisa sampai tak mendengar suara pintu rumah yang terbuka. Ia bahkan memeluk lututnya dan berurai air mata disana. Untungnya si kembar masih berada di sekolah dan dia pun sudah meminta Pamela untuk membawa si kembar pergi bersama wanita itu dan jangan pulang ke rumah dulu, sebelum dirinya merasa baik-baik saja.
"Jadi, ini yang mau kamu perlihatkan padaku, Raisa?"
Suara itu, suara orang yang selama ini ingin ia hindari. Raisa mendongak dengan mata yang sudah membengkak. Tak ada kata yang diucapkan oleh Raisa. Raisa sungguh takut akan kena semprotan lagi dari Mama Ola. Ia sudah sangat sakit mendengar hinaan dari ibunya Tamara.
Yang awalnya ingin marah-marah ke Raisa karena hubungan putranya kandas, Mama Ola jadi bungkam. Hatinya begitu sakit ketika melihat Raisa dengan keadaan yang terpuruk. Seketika dirinya langsung sadar, kalau memang rasa bencinya tak sebanyak rasa sayangnya ke Raisa. Meskipun dari mulutnya selalu berkata benci, pada kenyataannya, dia tak sanggup berkata-kata kasar apapun di depan Raisa. Bahkan tanpa sadar, Mama Ola sendiri lah yang mengulurkan diri lagi untuk pertama kali memeluk Raisa.
Raisa yang memang merindukan pelukan Mama Ola langsung membalas pelukan itu juga. Ia bahkan menumpahkan semua tangisnya disana. Seolah-olah di antara keduanya tak pernah terjadi apapun. Seolah-olah mereka kembali pada masa dimana mereka saling menyayangi, dan masa Raisa yang selalu menceritakan apapun yang dialaminya ke Mama Ola.
"Aku bukan wanita murahan! Aku bukan wanita penggoda! Aku tidak seperti itu!"
Raisa mengungkapkan itu lagi di depan Mama Ola setelah melepaskan pelukan Mama Ola.
"Kamu tahu, seharusnya aku tak seperti ini padamu. Seharusnya aku menampar dan menyalahkan kamu atas kandasnya percintaan putraku! Seharusnya aku membencimu! Seharusnya aku tak melunak seperti ini! Tapi kenapa kamu malah memperlihatkan diri kamu yang menyedihkan di mataku, Raisa? Kenapa? Padahal aku berharap kamu benar-benar bahagia di kehidupan kamu."
"Maafkan aku, seharusnya aku memang tak pernah muncul lagi. Seharusnya aku memang menghilang jauh dari keluarga Tante."
"Tante?"
*
*
__ADS_1
TBC
Yuk ah komentar yang banyak, siapa tahu aku khilaf bisa double up hari ini, haha