Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 66


__ADS_3

Edgar masih ada di dalam kamar Raisa. Kini keduanya duduk saling berhadapan.


"Kamu tahu Ca, aku pikir dengan melepasmu adalah keputusan terbaik supaya kamu tidak tertekan akan keinginan keluargaku tentang anak. Supaya kamu bisa bahagia menjalani kehidupan kamu lagi. Ternyata aku salah Ca. Keputusan itu membuat kita berdua sama-sama terluka. Maafkan aku," ucap Edgar dengan menggenggam tangan Raisa.


"Pada akhirnya, aku hamil dan memiliki anak Gar. Ternyata ketakutan itu harus dilawan bukannya diratapi. Aku malah bersyukur memiliki mereka yang mengisi hari-hariku tanpa hadirnya kamu."


Edgar melepas genggaman tangannya lalu memeluk Raisa.


"Setelah ini, kita akan menjaga dan membesarkan si kembar bersama. Kamu sudah tak sendirian lagi, Ca."


Raisa mengangguk di dalam pelukan itu.


*


*


Pagi harinya, kamar Raisa di ketuk dengan brutal oleh si kembar dari luar. Raisa terbangun dan bangun dari posisi tidurnya. Ia melihat ke sampingnya, rupanya Edgar tidur bersamanya semalam.


Raisa tersenyum tipis, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Ketika pintu terbuka, si kembar langsung nyelonong masuk aja seolah mencari sesuatu.


"Papi! Kenapa Papi yang tidur disini? Harusnya kan aku sama Mia!" teriak Kia tepat di telinga Edgar.


Edgar langsung terkejut dan terbangun dengan matanya yang masih mengantuk.


"Kenapa twins?" tanya Edgar.


"Harusnya kalau Papi tidur disini, kita juga ikut! Kita kan nggak pernah tidur bersama. Aku juga ingin tidur sama Mami dan Papi. Aku juga ingin dibacakan dongeng sebelum tidur atau dinyanyikan lagu sebelum tidur. Harusnya Papi izin dulu ke kita."


"Maafin Papi ya twins, tenang aja setelah ini kita bisa terus tidur sama-sama. Bahkan kalau kalian minta adik pun Papi akan kabulkan."


Mendengar itu mata Raisa langsung terbelalak dengan sempurna.


"Really? Papi nggak bohong, kan?"


Edgar mengangguk.


"Papi dan Mami memutuskan untuk kembali bersama. Jadi kita bisa jadi keluarga yang utuh. Kalian tidak usah iri dan bersedih lagi kalau lihat teman-teman kalian."


"Hore!!!" Keduanya bersorak lalu memeluk Edgar.


"Thank you Papi. Akhirnya Papi berhasil menaklukan hati Mami yang keras kepala."

__ADS_1


Sekarang ganti raut wajah Raisa berubah jadi kesal.


"Mi, sini, kita berpelukan. Biar kaya keluarga cemara," ajak Mia.


Karena tak ingin mengecewakan si kembar, Raisa pun mendekat dan memeluk mereka. Hangatnya kebersamaan itu terlihat dari luar oleh Mama Ola. Wanita paruh baya itu terharu Samapi meneteskan air mata. Edgar dan Raisa memang sudah ditakdirkan bersama mau sebesar apapun masalahnya, pada akhirnya semuanya akan teratasi.


"Semoga setelah ini keluarga kalian akan bahagia selalu. Maafkan mama yang dulu sempat membuat retak rumah tangga kalian," ucap Mama Ola kemudian pergi dari depan kamar Raisa.


*


*


Hari demi hari terus berlalu, Raisa pun sudah pulang dari Korea Selatan dan telah bekerja lagi. Aura wajahnya kini terlihat berbeda. Lebih banyak senyum dan banyak mengapa.


Awalnya Rani dan Kendra agak heran sendiri, karena takutnya, Raisa lagi banyak masalah. Konon katanya, orang paling banyak masalah itu orang yang paling banyak tertawa dan tersenyum. Namun, ketika diteliti lagi, ternyata memang Raisa sedang bahagia.


"Sepertinya ada kabar bahagia. Apa Mba Raisa dan Mas Edgar akan kembali bersama?" tanya Rani langsung ke intinya.


Tanpa ragu dan rasa malu, Raisa mengangguk. Rani pun tersenyum karena itu merasakan kebahagiaan. Walaupun dia adalah fans garis keras dari Tamara, tapi kebahagiaan Raisa, itulah yang terpenting.


"Semoga dengan kembalinya hubungan Mba dan Mas Edgar. Kalian akan lebih saling menyayangi dan menghormati."


"Iya, semoga Ran."


Raisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih juga ke Kendra.


Kedua partner kerjanya ini sangat perhatian padanya.


Di saat mereka sedang asyik-asyiknya mengobrol, Raisa dipanggil oleh manajernya untuk melayani langsung Pak Baskoro beserta putranya. Raisa pun langsung melaksanakan tugasnya.


"Selamat siang Pak Baskoro, lama tak bertemu dengan Anda."


"Ya, bukan lama tidak bertemu, tapi di saat beberapa hari lalu aku datang, kamu dengan ambil cuti. Katanya kamu sedang pergi liburan dengan anak-anakmu. Apa liburannya menyenangkan?"


"Tentu saja, banyak hal yang kami lakukan bersama. Tekstur kematangan dagingnya seperti biasa, kan?"


Pak Baskoro mengangguk.


"Apa kamu juga liburan bersama keluarga Edgar?" tanya Bian.


Raisa tak menjawabnya, karena memang itu tidak perlu.

__ADS_1


"Sepertinya ada hal baik yang terjadi disana ya? Apa pada akhirnya aku juga harus menyerah?"


"Sudah aku katakan sedari awal. Kamu tidak seharusnya menyukai aku."


Bian tersenyum tipis. Cintanya memang sudah bertepuk sebelah tangan sedari awal. Memang tak seharusnya dia jatuh cinta.


Pak Baskoro menepuk pundak Bian.


"Tenang, masih banyak wanita di luar sana. Papa bisa carikan lagi yang lainnya."


Obrolan di antara ketiga orang itu pun sempat terhenti karena pembahasan tentang itu. Namun, tak lama kemudian langsung tersambung lagi dengan membahas hal yang lainnya.


"Kalau kamu ada kenalan wanita yang masih single. Bolehlah dikenalkan ke Bian. Putraku itu orangnya sangat sulit dekat dengan wanita. Kalaupun ada, pasti sudah dia anggap saudara."


Seketika Raisa teringat dengan Pamela yang masih jomblo sampai sekarang. Wanita itu belum mau berhubungan dengan laki-laki karena katanya takut salah pilih jodoh yang pada akhirnya akan berpisah.


Kalau dilihat-lihat sikap Bian ini sangat cocok dengan Pamela, Bian bisa menenangkan Pamela yang mudah meledak dan banyak bicaranya.


"Jangan ditanggapi ucapan papaku. Aku masih bisa cari jodoh sendiri. Lagipula, aku juga butuh waktu untuk melupakan, kan?"


Niatnya ingin mengenalkan Pamela ke Bian pun kandas. Ya, memang lebih baik bertemu jodoh dengan sendirinya


*


*


Malam harinya, Edgar, Levi dan Bimo bertemu di tempat biasa. Disana Edgar menceritakan tentang kembalinya dia dengan Raisa. Dua sahabatnya langsung ikut senang dan mendoakan semoga ini yang terakhir.


"Tentu saja. Raisa emang cinta pertama dan terakhir ku. Rencananya aku akan menikah sebentar lagi. Aku sih maunya sebulan lagi, tapi Raisa menolak karena dia mau mengurus dulu kontrak kerjanya sampai habis di restoran. Aku sudah mau menikah untuk kedua kalinya, lah kalian kapan?" tanya Edgar ke Levi dan Bimo.


"Kata siapa kedua? Ini ketiga kalinya kamu merencanakan pernikahan. Hanya saja yang kedua gagal, dan yang ini, semoga tidak ada satu halangan sedikit pun. Urusan nikah mah gampang, aku sih siap-siap aja kalau ada calonnya. Masalahnya meskipun aku playboy begini, kalau untuk calon istri mah aku maunya yang baik-baik. Masa iya aku cari istri yang kerjanya di club malam? Yang ada nanti kalau aku punya anak, diajarinnya yang enggak-enggak lagi."


"Aku kira kamu tak akan berpikir sampai kesana Bim, haha," ujar Levi sambil tertawa. "Tapi, jujur aku pun inginnya seperti tu," tambah Levi lagi.


"Semoga kalian segera dipertemukan dengan jodoh kalian juga."


*


*


TBC

__ADS_1


Yuk ramaikan dengan komentar


__ADS_2