
Roni, si kembar dan Raisa pun pulang dari rumah sakit. Di perjalanan, Mia terus bertanya kenapa Raisa tidak ikut masuk, padahal tadi papi mereka menanyakan maminya. Karena ternyata ketika dijenguk, Edgar telah sadar.
"Kan tadi udah om bilang, mami kalian ada urusan."
"Iya sih Om, tapi tetap aja apa nggak bisa cuma liat bentar doang gitu?"
"Maaf ya sayang."
Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Raisa. Di sepanjang jalan Raisa terus diam sambil melihat ke arah jalanan yang dilewatinya. Apalagi si kembar yang terlihat lelah sampai tertidur di dalam mobil.
"Mba, aku tahu Mba emang belum siap, tapi siap tidak siap, Mba pasti akan bertemu dengan Tante Ola pada akhirnya."
"Iya aku tahu, Ron. Hanya saja kalau tadi rasanya terlalu cepat. Aku benar-benar belum siap dengan ekspresi yang akan ditunjukannya."
*
*
Kini hanya tinggal Mama Ola dan Edgar saja di dalam ruang rawat Edgar, karena yang lainnya sudah pulang ke rumah. Disana, Mama Ola masih terus memaksa Edgar untuk kembali saja ke Tamara.
"Gar, harusnya kamu tak mengambil keputusan seperti ini. Harusnya kamu ... "
Belum juga selesai bicara, Edgar menyela pembicaraan Mama Ola karena sudah tahu ke arah mana pembicaraan yang akan dibicarakan itu.
"Harus bagaimana aku menjelaskannya ke Mama? Padahal aku sudah sangat jelas sejelas-jelasnya. Keputusan yang aku ambil ini demi keluarga kecilku. Keluarga yang tak aku ketahui sebelumnya. Keluarga yang ternyata begitu aku inginkan sejak dulu. Tidak bisakah mama mendukung dan berada di belakangku saja?"
"Tapi kita akan merugi Edgar."
"Aku tidak peduli Ma. Mau aku miskin sekalipun, aku benar-benar tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya ingin membangun kembali keluarga kecilku. Karena aku percaya, meski aku terjatuh, aku akan bisa bangkit lagi asalkan ada Raisa, si kembar, mama, papa, dan keluarga kita yang lainnya."
"Terserah!"
Setelah menjawab itu, Mama Ola keluar dari kamar rawat Edgar untuk mendinginkan kepalanya. Kalau terus berada di dalam, ia dan Edgar bisa saja tak akan berhenti berdebat.
Mama Ola duduk di sebuah kursi kosong. Wanita paruh baya itu terus memikirkan kata-kata Oma Deli dan Edgar yang terngiang di kepalanya. Tetapi, baru juga berpikir sejenak, ia malah langsung merasa semakin benci ke Raisa.
"Haah! Tak ada gunanya aku bertanya pada hatiku sendiri."
*
__ADS_1
*
Dua hari pun berlalu, artikel tentang gagalnya rencana pernikahan Edgar dan Tamara sudah trending di dunia maya. Banyak netizen yang bertanya-tanya alasan kenapa keduanya batal menikah padahal hubungan mereka sangat-sangat didukung oleh fans Tamara.
Di dalam artikel tersebut hanya disebutkan pembatalan rencana pernikahan tanpa disebutkan alasannya secara gamblang. Hanya disebutkan kalau keduanya sudah tidak cocok. Bahkan ketika ada orang yang mengecek akun media sosial Tamara, Tamara sengaja menonaktifkan komentar di postingannya.
Artikel tersebut sudah sampai dibaca oleh Rani yang memang sangat mendukung hubungan Edgar dan Tamara. Wanita itu juga benar-benar dibuat penasaran. Ia bahkan sampai mengajak Kendra dan Raisa untuk bergosip ketika jam istirahat kerja.
"Kenapa ya, pasangan yang sangat serasi ini malah gagal nikah? Aku benar-benar penasaran apa alasannya. Padahal selama ini mereka terlihat baik-baik saja. Bahkan wajah bahagia terus terpancar dari postingan-postingan yang ada di akun sosial media mereka."
"Sudah dibilang tidak cocok, ya berarti emang tidak cocok. Kenapa kamu harus ngegosip itu sih? Kaya nggak ada bahan pembicaraan lain aja," ujar Kendra.
"Ah, kamu mah nggak asik Ken. Gimana menurut Mba?"
"Aku no kome," jawab Raisa yang memang tak mau membahas hal itu. Karena dirinya sadar salah satu alasan Edgar adalah si kembar dan dirinya.
"Ih, Mba sama Kendra benar-benar nggak asik deh. Aku kan disini jadi sedih sebagai fans setia hubungan mereka."
"Daripada mikirin hubungan orang lain, mending mikirin hubungan kehidupan kamu sendiri."
"Diam, kamu Kendra!"
Kendra pun langsung terdiam karena diteriaki oleh Rani.
"Cepat kamu temui orang yang ngamuk-ngamuk di dalam!"
"Siapa?" tanya Raisa yang benar-benar tak tahu.
"Nanti kamu tahu sendiri, pokoknya cepat kamu temui saja dan selesaikan masalah kamu!"
Rani dan Kendra pun jadi ikut penasaran. Kedua orang itu pun mengikuti Raisa yang pergi menemui orang yang membuat keributan.
"Oh, ini yang namanya Raisa Anggraini," ucap seorang wanita paruh baya.
"Maaf, Ibu siapa ya? Kok bisa tahu nama saya?" tanya Raisa yang memang tak mengenal wanita paruh baya itu.
"Kamu tanya aku siapa? Aku adalah ibu dari wanita yang sudah kamu rebut calon suaminya."
Mendengar hal tersebut Raisa langsung tahu siapa wanita tua di hadapannya. Dialah Astrid ibu dari Tamara.
__ADS_1
"Mari Bu, kita bicarakan baik-baik dengan kepala dingin dan sambil duduk tenang. Kalau ibu teriak-teriak dan membuat keributan seperti ini, akan membuat pelanggan kami merasa terganggu."
Raisa mencoba menawarkan bicara baik-baik dengan ibu Tamara. Tapi rupanya ibu Tamara tak mau.
"Apa? Kenapa aku harus bicara baik-baik? Apa kamu malu kalau kamu adalah orang yang merebut calon suami orang?"
Kalau ditanya seperti itu, jujur ia memang malu, karena dirinya tak pernah melakukan hal itu. Tapi ia sangat tidak suka jadi pusat perhatian orang-orang karena hal itu mengingatkannya akan masa lalunya yang selalu dihina dan diremehkan serta dipandang tak suka oleh orang lain.
"SEMUANYA! DENGARKAN BAIK-BAIK! WANITA INI ADALAH WANITA JAHAT! WANITA MURAHAN! WANITA PENGGODA! DIA SUDAH MEREBUT CALON SUAMI ANAK SAYA, TAMARA!"
Semua orang yang ada disana terkejut bukan main. Yang dari awal sudah sadar siapa ibu tersebut, ada yang merekam kejadian itu, ada juga yang tak tahu dan langsung menatap sinis ke Raisa.
"CUKUP! SAYA BUKAN WANITA SEPERTI ITU!" teriak Raisa yang tak terima dirinya dihina dan dipermalukan di depan banyak orang.
"Wanita seperti kamu tidak pantas dibandingkan dengan putriku! Bahkan wajah saja masih lebih cantik putriku! Apa coba yang dilihat Edgar dari kamu! Dasar murahan! Penggoda!"
"CUKUP! AKU BILANG CUKUP!"
"Apanya yang cukup? Aku belum cukup puas untuk menyakiti kamu. Kamu tidak tahu betapa sakitnya hati putriku."
"Kumohon cukup! Jangan katakan apapun lagi!"
Hanya kata itu terus yang diucapkan oleh Raisa, karena Raisa benar-benar tenggelam dalam ingatan masa lalunya. Apalagi tatapan orang di sekitarnya yang sudah tak lagi bersahabat. Dia mendengar bisikan orang-orang yang menyebutnya wanita penggoda, tidak cantik mungkin modal jual tubuh makanya bisa dipilih oleh Edgar. Raisa benar-benar tak sanggup mendengarnya. Ia merasa sesak di dadanya. Di saat dia akan pergi dari sana, tangan Ibu Tamara menariknya kemudian menampar pipi Tamara di kanan dan kirinya.
"Tamparan itu bahkan tidak sepadan dengan rasa sakit yang diderita putriku. Aku harap kamu akan terus merasa bersalah sepanjang hidupmu!"
Raisa langsung berlari pergi dari sana tanpa memperdulikan lagi pekerjaannya. Yang diperlukannya hanya ketenangan. Ia memang tak menangis, tapi matanya sudah berkaca-kaca.
Rani dan Kendra yang sedari tadi ada disana langsung dibuat terdiam.
"Ken, apa kamu juga terkejut?"
Kendra mengangguk.
"Menurutmu bagaimana bisa Mba Raisa kenal dengan Edgar?"
*
*
__ADS_1
TBC
Yuk! Komentar yang banyak biar aku rajin updatenya.