
Pamela dan Raisa pergi ke mall untuk mencuci mata. Sudah lama sekali mereka tak jalan-jalan berdua. Pamela mengajak Raisa untuk masuk ke toko sepatu dan mencoba beberapa sepatu yang ada disana. Tak lupa Pamela juga meminta Pamela untuk mencoba.
"Pas banget di kaki kamu. Aku beliin ya."
"Eh, nggak usah La. Sepatu aku masih bagus juga di rumah."
"Udah jangan nolak. Sekarang itu kamu udah jadi istrinya Edgar lagi. Penampilan kamu harus ada sedikit yang dirubah, jangan terlalu sederhana," ucap Pamela.
"Lagipula, tak ada orang yang tahu kalau aku istri Edgar La. Buat apa coba?"
Pamela meletakkan sepatu yang dipegangnya lalu memegang bahu Raisa yang ada di hadapannya.
"Dengar aku baik-baik Raisa. Kamu tidak mungkin selamanya menyembunyikan diri kamu dari orang luar. Orang-orang juga perlu tahu siapa istrinya Edgar agar tak banyak rumor-rumor aneh atau pelakor yang berdatangan. Kamu harus berani, kamu harus siap. Lawan ketakutan kamu."
Raisa terdiam sejenak sambil memikirkan ucapan Pamela.
"Aku belum siap," jawab Raisa sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Kapan siapnya? Masa iya cuma Edgar yang berkorban banyak? Mana pengorbanan kamu buat dia? Edgar juga pasti ingin memamerkan istinya di depan banyak orang."
Raisa terdiam lagi.
"Kapan kamu mulai konsul ke psikiater lagi?"
"Rencananya mulai Minggu depan aku ke psikiater di temani mama."
"Bagus lebih cepat sembuh emang lebih baik. Kamu harus menyembuhkan luka kamu lebih dulu."
Setelah melihat dan membeli sepasang sepatu, kedua wanita itu pindah ke toko pakaian. Disana Raisa membeli tiga pakaian untuk anak-anak dan Edgar, sementara untuk dirinya sendiri, dia selalu lupa.
Selesai belanja, Pamela dan Raisa menjemput si kembar di sekolah. Si kembar tampak ceria dan senang. Karena biasanya yang menjemput mereka hanya salah satu dari Raisa atau Pamela, kini mereka dijemput oleh kedua wanita dewasa yang disayangi mereka.
"Aku senang sekali, Mami dan Aunty jemput kita," ucap Mia sambil terus tersenyum.
"Hal seperti ini sangat langka, ya kan?"
Si kembar mengangguk ketika mendapatkan pertanyaan itu dari Pamela.
"Maka dari itu, gimana kalau kita jalan-jalan aja," ajak Pamela yang langsung disetujui oleh si kembar.
__ADS_1
"Mau! Mau banget Aunty!"
"Let's go!"
*
*
Raisa dan si kembar telah sampai rumah sebelum jam makan malam. Meskipun disana sudah ada pelayan, akan tetapi untuk kebutuhan si kembar, Raisa akan selalu turun tangan langsung. Mama Ola pun tak melarang hal tersebut, malah Mama Ola pun ikut membantu Raisa untuk memasak di dapur. Karena itu juga, hubungan Raisa dan Mama Ola semakin harinya semakin membaik.
Raut wajah senang dari si kembar tak pernah padam. Bahkan keduanya terus menceritakan apa yang dilakukan mereka ketika jalan-jalan tadi ke Mama Ola dan Oma Deli.
Sejak si kembar tinggal di kediaman Gautama, rumah jadi lebih ramai dan tak pernah sepi sama sekali. Apalagi drama-drama sebelum berangkat sekolah yang selalu ada saja yang dilakukan oleh si kembar. Dari mulai, ketinggalan buku pelajaran, salah memakai baju seragam karena tertukar satu sama lain, sampai tingkah Mia yang ingin pakai br* seperti Raisa.
"Mi, abis makan, bantuin aku hapalin dongeng si kancil ya. Soalnya besok disuruh cerita dongeng di depan kelas," pinta Mia.
"Iya sayang, nanti Mami bantu. Kamu gimana sayang? Mau Mami bantuin juga?" tanya Raisa ke Kia.
"Nggak usah Mi, aku bisa sendiri," jawab Kia.
"Idih, sok pinter!"
"Aku emang lebih pinter dari kamu, wlee!" ledek Kia sambil menjulurkan lidahnya.
"Kalian ini ada aja perdebatan tiap harinya. Cucu-cucu Oma itu pintar-pintar. Ayo, cepat habiskan makan, abis itu Oma mau dengar kalian mendongeng di depan Oma."
"Siap Oma," jawab si kembar bersamaan.
*
*
Sejak peran Jena diganti oleh Bian, Tamara jadi merasa kesal sendiri. Gimana nggak kesal, laki-laki itu rupanya sangat cerewet akan banyak hal. Tamara pikir, awalnya cuma akan diantar pulang saja, ternyata ditemani syuting juga dan diurusi segala kebutuhannya.
"Kata Jena kamu jangan makan yang digoreng-goreng sama yang manis-manis terlalu banyak. Takut berat badan kamu bakalan naik. Jadi, malam ini nyemilnya kacang rebus aja. Udah aku belikan saat kamu syuting tadi."
"Ih, udah sanah pulang aja. Bukannya menuruti kemauanku, kamu malah menuruti perintah Jena! Cerewet banget, sama kaya Jena."
"Aku dan Jena itu sudah lama kenal dan bergaul bersama, wajar kalau hampir mirip sikapnya. Ini demi kebaikan kamu. Apalagi kalau makan di malam hari begini, badan kamu bisa cepat sekali naiknya karena aktivitasnya nggak sebanyak pas siang hari. Jena cerewet bukan tanpa alasan tapi dia peduli."
__ADS_1
Tamara seolah tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Bian, karena pada kenyataannya dia suka memesan ayam goreng krispi lewat online.
"Minta tolong ambilkan pesanan makanan di depan dong! Kasian pengantar makanannya udah nunggu di depan," perintah Tamara yang Bian pun menurutinya.
Tak lama kemudian, Bian datang dengan membawa pesanan makanan Tamara. Laki-laki itu meletakan di meja.
"Thank you."
Walaupun tak terlalu suka dengan kehadiran Bian, Tamara tahu caranya berterimakasih. Dia langsung membuka makanannya dan isinya adalah ayam goreng crispy bagian paha. Tamara langsung melahapnya dengan nikmat. Setelah satu potongan ayam habis, Tamara ingin mengambil lagi untuk potongan kedua. Sayangnya, Bian langsung mengambil makanan itu dari Tamara.
"Satu aja, aku nggak kasih kamu makan banyak," ucap Bian yang kemudian memakan ayam goreng milik Tamara yang membuat Tamara jadi merasa kesal.
"Hih! Menyebalkan! Aku belum kenyang."
Bian menyodorkan kacang rebus untuk Tamara yang membuat Tamara manyun dan langsung disumpal dengan ayam goreng yang sudah dimakan oleh Bian sebagian.
"Bian!"
Tamara berteriak kesal. Karena dirinya tak pernah sekalipun berbagi makanan dengan orang yang tak begitu dikenalnya, apalagi itu bekas. Oh No!
"Kenapa? Kan itu bukan dari mulut aku."
Tetap saja walau begitu, Tamara tidak suka. Tamara pun pergi dari sana dan menggerutu sepanjang jalan. Yang tak disadari oleh Tamara adalah, Bian mengikutinya dari belakang sambil makan ayam goreng. Sampai ketika Tamara berhenti berjalan, Bian pun tanpa sengaja menabrak Tamara dan menjatuhkan saos di tangannya hingga membuat baju Tamara ada bekas saosnya.
Tamara berbalik dan menatap tajam ke arah Bian.
"Jangan ikuti aku lagi!"
Sudah diacam begitu, tapi Bian maish saja mengkor karena bekas saos di baju bagian belakang Tamara yang belum dibersihkan.
Tamara yang merasa masih diikuti, membalikkan tubuhnya lagi.
"Itu ada saos di baju kamu," ucap Bian yang membuat Tamara mencubit lengan Bian saking kesalnya. Tamara pun pergi ke toilet untuk mengeceknya sendiri. Sementara Bian hanya tertawa geli, karena tingkah Tamara yang lucu ketika sedang kesal.
*
*
TBC
__ADS_1
Yuk baca ceritaku yang lain!