Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 55


__ADS_3

Raisa tiba di rumahnya, dan Mama Ola masih berada disana. Dia awalnya terkejut karena Mama Ola yang belum pulang ke rumahnya, apalagi aura yang dikeluarkan Mama Ola sedikit menyeramkan.


"Mama kok belum pulang?"


"Nunggu kamu pulang, Mama nggak tega biarin si kembar cuma berdua di rumah. Apalagi kalau mereka tidur, duh yang ada di pikiran Mama, cuma takut ada maling atau penculik masuk ke dalam rumah."


"Nggak bakalan Ma, daerah sini aman kok. Aku sudah terbiasa. Mereka pun sudah terbiasa aku tinggal."


"Tapi tetap aja Mama was-was, Ca. Kamu tinggal bareng Mama aja ya? Ya?"


Raisa menggeleng.


"Apa kata orang kalau mantan suami istri masih tinggal serumah, itu nggak baik Ma."


"Makanya kalian nikah lagi aja," saran Mama Ola.


"Nikah itu bukan perkara gampang Ma. Aku sudah pernah gagal sekali. Aku tak mau gagal juga untuk kedua kalinya."


Mama Ola langsung sedih mendengar perkataan Raisa.


"Apa kamu tak percaya lagi ke Edgar?"


"Percaya, aku percaya kalau Edgar akan menjadi papi yang baik. Tapi aku belum bisa percaya lagi, kalau Edgar tak akan mengecewakan aku untuk kedua kalinya."


"Tapi, kamu akan kasih kesempatan Edgar kan?" tanya Mama Ola yang masih gencar ingin Raisa jadi menantunya lagi.


"Entahlah Ma. Aku belum memikirkannya."


Mama Ola menarik napasnya panjang-panjang. Dia pun menyandarkan kepalanya di sofa ketika Raisa masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


"Hatinya memang sekeras batu. Tapi batu pun kalau terus ditimpa air, dia akan hancur pada akhirnya. Semoga kamu juga begitu, Ca. Keluarga kami tak akan lengkap tanpa kehadiran kamu. Permata indah yang kami temukan dalam kubangan lumpur."


*


*


Edgar sudah mencari kesana kemari investor untuk membantunya, tapi ia hanya mendapatkan sedikit. Ia benar-benar pusing sekarang. Bahkan saking pusingnya, ia sampai melewatkan jam makan siangnya di hari itu.


Sampai ketika, pintu ruangan diterobos masuk oleh Levi. Dia hanya sendiri, karena Bimo masih kesal pada Edgar.


"Kalau kamu sedang kesusahan, cari aku ataupun Bimo. Memangnya kami ini bukan sahabat kamu? Kalau kamu meminta bantuan, dengan senang hati aku akan bantu."

__ADS_1


"Lev," panggil Edgar dengan sedikit menunduk.


"Apapun keputusan yang sudah kamu ambil, aku yakin itu yang terbaik, Gar. Itu juga pasti sangat sulit," ucap Levi sambil menepuk pundak Edgar.


Levi melirik ke arah meja kerja Edgar dan melihat proposal kerjasama.


"Aku ambil dan akan aku baca di rumah nanti."


Edgar benar-benar tak menyangka Levi akan membantunya. Padahal ia berpikir Levi akan berpihak ke Bimo yang lebih mendukung Edgar tetap melangsungkan pernikahan dengan Tamara.


"Aku tidak memihak siapapun. Aku hanya bersikap netral baik itu padamu atau pun Bimo," ucap Levi seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Edgar.


"Gimana Bimo? Apa dia baik-baik saja?" tanya Edgar yang penasaran keadaan Bimo.


"Namanya orang patah hati mana bisa dikatakan baik-baik saja. Tapi, Bimo tak akan lama patah hatinya. Paling cuma sebentar, habis itu dia akan cari gebetan baru lagi. Jangan terlalu dipikirkan."


Levi mencoba membuat Edgar agar tak terlalu memikirkan kondisi hati Bimo. Namanya jatuh cinta, harus siap jatuh ketika sudah cinta. Itulah konsekuensinya kalau hanya sebelah pihak yang mencintai.


"Terus kapan nikahnya? Kamu tidak mungkin tak memiliki rencana kan, Gar?" tanya Levi.


"Aku ingin secepatnya, tapi Raisa sepertinya sedang menutup rapat hatinya. Aku harus gimana, Lev? Aku menyesal dan merasa bodoh. Kalau saja dulu ... "


"Jangan terus mengungkit masa lalu, kamu boleh mengingatnya, tapi jangan terus diucapkan, yang ada kamu akan semakin terjebak disana."


"Aku percaya kalau sesuatu yang sudah ditakdirkan bersama pasti akan bersama lagi. Begitu juga dengan kamu dan Raisa. Kalian pasti memang sudah ditakdirkan, makanya dipertemukan kembali setelah delapan tahun lamanya tak bertemu. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Mungkin bukan sekarang, bisa bulan depan, tahun depan atau bahkan 5 tahun lagi."


Ucapan Levi di kalimat terakhir membuat Edgar merengut. Nunggu 5 tahun lagi keburu dia beruban. Keburu tua, dia kan ingin nambah anak lagi.


"Intinya banyakin sabar aja, soalnya selama ini kamu bisanya cuma ngeluh, ngeluh dan ngeluh doang."


Edgar manyun lagi. Entah kenapa ucapan Levi itu terdengar sangat benar di telinganya.


"Aku balik, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku. Aku bawa berkas ini, bye."


Levi pun pergi dari kantor Edgar. Edgar tampak menghela napasnya beberapa kali. Ia memandangi kota dari kaca ruangannya. Ia sadar kalau semuanya sudah berubah. Mungkin emang benar dirinya harus berjuang lebih keras dari sebelumnya.


*


*


Di malam yang gelap dan sepi itu, Raisa berjalan sendiriam mencari tukang martabak kesukaan si kembar yaitu cokelat kacang yang ditaburi dengan keju yang banyak. Jarak yang ditempuh ke tempat tukang martabak tak begitu jauh, makanya Raisa memilih berjalan kaki daripada mengendarai motornya.

__ADS_1


Tak sengaja disana, ia bertemu dengan Bimo yang mangkal di resto yang berada di sebelah tukang martabak. Raisa ingin menyapa duluan, tapi ternyata Bimo dulu lah yang menyapa Raisa.


"Hai, sudah lama tak bertemu," sapa Bimo.


"Ya, sudah lama memang," jawab Raisa.


"Sedang apa disini?" tanya Bimo basa-basi.


"Beli martabak untuk anak-anakku," jawab Raisa.


"Ah, begitu, anak-anak Edgar juga berarti ya?" Nada bicara Bimo langsung sedih.


"Hm, ya," jawab Raisa dengan tanpa keraguan. Karena Raisa yakin, Bimo sudah mendengar semua cerita itu dari Edgar. Raisa tahu bagaimana hubungan persahabatan Edgar, Levi dan juga Bimo.


"Kamu akan kembali bersama Edgar?"


Sebuah pertanyaan dari Bimo itu membuat Raisa diam tak menjawab.


"Aku nggak harus jawab, kan?"


"Hm, iya sih," jawab Bimo yang seolah-olah cuma asal tanya aja. Padahal sejujurnya ia membutuhkan jawaban itu. Hanya saja dia terlalu malu untuk menunjukkan rasa sukanya ke Raisa. Apalagi Bimo yakin, Raisa tak pernah melihat dirinya. Ia harus sadar sesadar-sadarnya kalau cintanya memang bertepuk sebelah tangan. Bimo pun pamit pergi dari sana.


Beberapa puluh menit kemudian, Raisa berjalan pulang karena martabaknya sudah jadi. Di tengah perjalanannya, dia bertemu dengan Edgar karena laki-laki itu tiba-tiba memberhentikan mobilnya. Mengajak Raisa untuk ikut masuk, tapi Raisa menolak.


"Jalan aja duluan, di rumah ada Roni kok," ucap Raisa.


"Ayo, cepat ikut masuk, Ca. Terlalu lama berjalan di malam hari nggak bagus. Apalagi cuacanya dingin begini. Terus kamu juga nggak pake jaket sama sekali. Kalau sakit gimana?"


"Jangan lebai. Ini masih dingin biasa."


"Ah, kamu itu emang keras kepala, Ca."


Edgar pun keluar dari mobilnya dan menggendong Raisa secara paksa untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Edgar! Edgar!" teriak Raisa.


"Jangan berisik, aku kan tidak menculikmu. Atau jangan-jangan kamu ingin aku culik? Biar cuma kita berdua saja nantinya?" goda Edgar yang membuat wajah Raisa sedikit bersemu merah.


*


*

__ADS_1


TBC


Jangan lupa ramaikan dengan komentarnya ya teman-teman, biar popularitasnya semakin naik, dan aku semakin semangat nulisnya, hehe.


__ADS_2