
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Masa libur sekolah si kembar pun telah tiba. Sesuai permintaan si kembar, Raisa pun izin beberapa hari untuk liburan ke Korea Selatan. Sebelum berangkat, mereka menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa untuk berlibur.
Selama ini Raisa selalu mengajarkan kepada si kembar untuk berhemat, makanya mereka bisa pergi ke Korea Selatan dengan uang Raisa sendiri. Hanya saja, beberapa hari sebelum keberangkatan, semua biaya yang dikeluarkan Raisa telah kembali ke Raisa. Karena Mama Ola mengembalikan semua uang yang dipakai Raisa.
"Anggap aja ini sebagai hadiah dari Mama karena kamu sudah berjuang sangat keras selama ini."
Itulah kalimat yang diucapkan oleh Mama Ola. Raisa pun tak bisa menolaknya.
Semua barang sudah siap, Roni mengantarkan Raisa dan si kembar ke bandara. Sesampainya di bandara, mereka bertemu dengan keluarga besar Gautama. Liburan ini seperti sudah direncanakan bersama dengan keluarga itu. Raisa jadi tidak enak sendiri karena dirinya sudah tak menjadi bagian dari keluarga itu tapi malah ikut liburan.
"Sayang, kalian aja ya yang pergi? Lagipula banyak keluarga dari Papi. Nggak papa, ya?"
"Enggak mau, pokoknya kita mau Mami ikut," kekeh Mia yang membuat Raisa pun menurut.
"Iya, masa kamu tega biarin si kembar liburan tanpa kamu, kasian mereka, Ca," ucap Mama Ola.
"Tapi, aku beneran nggak enak Ma, sudah dibayarin semuanya oleh Mama dari mulai tiket sampai ke penginapannya."
"Sudah jangan dipikirin."
Mama Ola menarik tangan Raisa untuk menuju ke tempat check-in. Setelah proses check-in selesai, mereka pun menunggu di kursi tunggu.
*
*
Mobil berhenti di sebuah vila mewah di dekat pantai. Mereka masuk ke dalam vila lalu menempati kamar masing-masing. Raisa satu kamar dengan si kembar. Ia menarik kopernya untuk masuk ke dalam kamar kemudian duduk di ranjang yang sangat empuk itu.
Ketika membuka jendela kamar, pemandangan yang terlihat langsung adalah pantai yang sangat indah. Membuat Raisa terhanyut dalam suasana itu dan terus memandang kesana. Kalau bicara tentang pantai, yang ada di ingatan Raisa hanyalah kebersamaan yang indah dengan Edgar ketika mereka dulu masih bersama. Masa-masa dimana dirinya begitu bahagia setelah mendapatkan banyak luka dari kehidupannya.
"Mi," suara Mia membuyarkan pikiran Raisa.
"Iya sayang," jawab Raisa sambil menoleh ke anaknya.
"Aku mau ke kamar Papi dulu ya Mi."
__ADS_1
"Nggak mau istirahat dulu? Kalian nggak capek perjalanan?" tanya Raisa.
"Nggak Mi."
"Ya udah, tapi ingat, jangan ganggu kalau papi kalian capek."
"Siap Mi."
Raisa pun ditinggal oleh si kembar di kamarnya sendirian. Raisa melihat ke arah pantai lagi sambil duduk di atas ranjang.
Tiba-tiba pintu kamar Raisa diketuk dari luar, Raisa pun mempersilahkan orang itu untuk masuk. Ternyata orang itu adalah Elsa yang mengajak Raisa untuk duduk di pinggiran kolam.
Kaki mereka di masukkan ke dalam kolam sambil digerak-gerakkan. Elsa memandang ke arah Raisa.
"Sudah lama banget kita nggak liburan bersama Mba. Terakhir kali mungkin sekitar 10 tahun yang lalu. Bedanya, sekarang kita sama-sama membawa anak kita."
"Ya, ternyata waktu cepat sekali berlalu. Aku sampai tidak menyangka akan berada di satu tempat yang sama dengan keluarga kamu lagi. Delapan tahun lalu, aku selalu bersembunyi dan menghindar tiap kali melihat salah satu orang dari keluargamu. Tapi, kini suasana sudah berbeda."
"Padahal Mba tidak usah sampai seperti itu."
Raisa tersenyum tipis lalu menatap ke dalam air kolam.
"Tapi sekarang sudah tidak lagi kan, Mba? Aku ingin keluarga kita kembali seperti dulu. Apalagi kehadiran si kembar menambah keceriaan dan melengkapi keluarga ini. Aku harap Mba dan Mas Edgar kembali bersama. Aku tahu dan bisa memahami ketakutan Mba. Tapi, aku yakin, kali ini Mas Edgar pasti tak akan membuat kesalahan lagi. Kalau sampai itu terjadi, aku lebih memilih membuang dia jadi kakakku."
"Jangan terlalu berharap padaku Elsa."
Jawaban Raisa membuat Elsa sedikit kecewa. Tapi, ia sangat berharap Raisa akan berubah pikiran setelah pulang dari sini. Karena ini baru permulaan, masih ada beberapa rencana lainnya.
Ya, misi mempersatukan Edgar dan Raisa kembali sudah dimulai. Elsa ada di dalam rencana itu beserta keluarga Elsa yang lainnya.
*
*
Malam tiba, semua orang tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang buat bumbu, ada yang bakar-bakar, ada yang bermain, ada pula yang cuma duduk diam dan menunggu makanan selesai dibuat.
__ADS_1
Edgar mendekati Raisa yang sedang membantu Papa Daniel membakar ayam. Ia berpura-pura ingin membantu Raisa, tapi Raisa selalu menghindar.
"Kalian ini, jangan bikin kepala papa pusing deh. Nih, lanjutin aja kalian yang bakar-bakar!" ucap Papa Daniel memberikan kuas dan capit ke Edgar lalu pergi dari sana.
Di saat Raisa ingin ikut pergi juga, Edgar melarang.
"Kamu mau biarin aku sendiri membakar ayam sebanyak ini? Kamu mau kita makan makanan yang gosong semua? Kamu tahu sendiri bagaimana aku, Ca. Aku tak akan mampu melakukan banyak hal tanpa kamu. Karena kamu adalah pelengkap hidupku. Tanpa aku, hatiku hampa."
"Jangan banyak bicara omong kosong, Edgar. Mulutmu terlalu manis, sampai aku ingin muntah sekarang. Aku bukan pelengkap hidupmu karena kamu sudah sempat mencari pelengkap hidupmu yang lain kemarin."
Senyum Edgar sedikit terangkat, ia yakin betul kalau kini Raisa tengah cemburu karena dirinya pernah menjalin hubungan dengan wanita lain.
"Aku hanya kehilangan arah sebentar. Tapi ketika bertemu denganmu untuk pertama kalinya waktu itu, aku sadar, hatiku milik siapa. Kamu dan cuma kamu yang bisa menggoyahkan hatiku sampai hampir gila rasanya."
Raisa tak menanggapi ucapan Edgar itu, dia fokus pada ayam-ayam di depannya yang sudah hampir matang.
"Jangan bicara terus, ayam ini harus kita perhatikan biar rasanya enak ketika dimakan nanti."
"Aku iri dengan ayam itu yang kamu perhatikan dan kamu kasih bumbu. Aku juga ingin diperhatikan dan diberikan cintamu lagi, Ca."
"Daripada ucapan kamu semakin ngawur, lebih baik kamu kembali ke tempat mu aja. Aku bisa menyelesaikan ini sendirian."
Tentu saja Edgar tak mengiyakan ucapan Raisa itu, karena dengan dia mengiyakan, kesempatan untuk mendekati Raisa takan ada lagi di hari itu.
"Mami, Papi, udah matang belum ayamnya? Aku sudah lapar!" teriak Mia
"Sebentar sayang, sebentar lagi matang kok," jawab Raisa dengan sedikit berteriak juga.
"Sayang? Kapan kamu mau panggil aku dengan sayang lagi?"
Pertanyaan Edgar membuat Raisa menatap Edgar dengan tajam.
*
*
__ADS_1
TBC
Yuk ramaikan dengan komentar