Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 75


__ADS_3

Tamara pulang kerja langsung ke rumah kedua orang tuanya. Biasanya Tamara pulang ke rumah itu kalau ada sesuatu yang penting atau keadaannya sedang tidak baik-baik saja.


Astrid yang melihat anaknya tampak murung lalu mendekat.


"Nggak papa, semuanya akan segera berakhir. Kamu pasti akan cepat melupakan Edgar. Maaf waktu itu mama sempat membuat kekacauan. Tapi, sekarang mama sudah sadar. Harusnya mama memang mendukung keputusan kamu dan membantu kamu untuk melupakannya."


"Terima kasih, terima kasih karena mama sudah menyesal dan sadar atas kesalahan mama."


Astrid memeluk Tamara sambil mengelus punggung anaknya. Patah hati memang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi kalau terus terpuruk di keadaan itu.


"Mama sudah mendengar kabar pernikahan Edgar yang ada di media. Kamu harus kuat Tam."


Tamara mengangguk di pelukan mamanya itu.


Pelukan pun terlepas, Tamara langsung pergi dan berjalan menuju kamarnya. Wanita itu langsung membuka laci meja riasnya dan menemukan banyak foto dirinya dan Edgar disana. Tamara menatap foto itu sekilas lalu menyimpannya dalam sebuah kardus besar. Yang artinya, Tamara sudah sangat rela untuk melepaskan dan akan memulai kehidupannya yang baru. Kalau Edgar bisa bahagia, kenapa dia tidak?


*


*


Pak Baskoro menatap iba ke arah putranya. Dia merasa bersalah sudah mengenalkan Raisa ke Bian. Harusnya sebelum itu, dia mencari tahu lebih dulu tentang kehidupan Raisa seperti apa baru mengenalkan ke Bian.


Apalagi sedari tadi, Bian hanya bolak-balik melihat undangan pernikahan dari Raisa.


"Wanita masih banyak, jangan terus terpuruk dan bersedih," ucap Pak Baskoro sambil menepuk bahu Bian.


"Aku tidak bersedih Pa. Aku hanya berusaha melepaskan semuanya. Lagipula pertemuan dan perkenalanku dengannya sangat singkat. Aku saja yang terlalu percaya diri, padahal Raisa sudah menolak dan memperingati aku sejak awal."


"Walaupun singkat, yang namanya cinta ya tetap cinta. Biar papa aja yang datang ke pernikahan Raisa, kamu tidak usah."


Bian menggeleng.


"Aku akan datang bersama papa. Aku juga ingin melihat Raisa bahagia."


"Ya sudah, terserah kamu aja. Yang penting nanti jangan nangis di acara nikahan orang," ledek Pak Baskoro yang membuat Bian mengerucutkan bibirnya.


*


*

__ADS_1


Hari pernikahan Raisa dan Edgar semakin dekat. Bahkan tinggal dihitung dengan jari saja. Karena itu, Pamela mengajak Raisa untuk melakukan perawatan dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Tak lupa, Pamela pun mengajak si kembar juga kesana.


"Ih, ngapain bawa aku kesini, La? Ngabisin uang tahu nggak?"


"Udah jangan nolak pokoknya," ucap Pamela yang tak ingin ditolak.


"Iya Mi, jangan nolak, enak tahu perawatan disini," ucap Mia yang mendukung Pamela.


"Tuh, anak kamu aja suka."


Pamela menarik Raisa untuk masuk ke tempat perawatan. Pada akhirnya Raisa cuma bisa pasrah saja. Lagipula, menolak Pamela itu tidak akan bisa. Dia pasti akan terus-menerus dipaksa sampai mau.


Raisa berada di beda ruangan dengan Pamela dan si kembar karena memang mereka memilih paket yang berbeda. Raisa dipilihkan paket all body sementara ketiga orang itu cuma paket perawatan kuku saja.


Waktu berlalu dengan cepatnya, Raisa pun telah selesai dengan perawatannya. Pamela melambaikan tangannya ke Raisa agar wanita itu cepat masuk ke dalam mobilnya.


Raisa berjalan ke arah Pamela sambil celingak-celinguk mencari keberadaan si kembar.


"Mereka ketiduran karena lama nungguin kamu. Gimana perawatannya? Enak kan?"


"Ya gitu, tapi malu," ucap Raisa dengan memalingkan wajahnya.


Sementara Pamela cuma senyum-senyum geli aja.


Raisa mengangguk lalu membuka pintu mobil Pamela dan melihat si kembar yang sudah tidur dengan sabuk pengaman yang sudah dipasangkan oleh Pamela.


"Mari kita pulang," ucap Pamela sambil melajukan mobilnya.


*


*


Di rumahnya, Edgar kedatangan Bimo dan Levi yang entah ada urusan apa. Pasalnya mereka jarang sekali berkunjung kesana.


"Ya ampun, kalian kemana aja? Kenapa jarang banget datang kesini?" tanya Mama Ola yang melihat ada Bimo dan Levi.


"Hehe, maklum orang sibuk Tante," jawab Bimo mewakili.


"Sibuk main cewek Ma," sahut Edgar yang membuat Bimo mencubit tangan Edgar.

__ADS_1


Mama Ola hanya tersenyum tipis. Dia sudah tahu bagaimana kelakuan sahabat-sahabat Edgar, tapi meski begitu, Mama Ola selalu percaya kalau Edgar tak akan meniru yang buruknya.


"Ya sudah Tante tinggal dulu ya. Ngobrol-ngobrol aja kalian."


"Siap Tante," jawab Bimo sambil menaruh tangannya di pelipisnya.


Setelah ditinggal pergi Mama Ola ke kamar, Bimo dan Levi menarik Edgar ke teras samping rumah. Mereka duduk di ayunan rotan yang ada disana.


"Kenapa? Ada sesuatu yang mau kalian bicarakan?" tanya Edgar tanpa mau berbasa-basi.


"Aih, mentang-mentang sebentar lagi mau nikah, jadi tambah ngeselin aja," ucap Bimo ke Edgar.


"Kita kesini cuma mau main aja, sebelum kamu nikah dan waktumu habis sama anak-anak dan istrimu. Kayanya kita butuh ngadain party untuk melepas masa lajang mu," ucap Levi memberikan saran ke Edgar.


"Enggak, enggak ada party-party-an. Yang ada nanti aku yang dibuat repot sama kalian."


Levi dan Bimo malah cemberut mendengarkan jawaban dari Edgar. Pokoknya Edgar harus mau, kalau tidak mau, mereka bisa membawa Edgar secara paksa.


Karena Edgar terus menolak, Bimo dan Levi pun mengikat tangan Edgar dan menggotongnya ke dalam mobil. Mereka berdua membawa Edgar ke club tempat biasa mereka minum-minum. Disana Bimo menyewa beberapa wanita cantik untuk menemani dirinya begitu juga dengan Levi.


Edgar merasa tak nyaman dan rasanya ingin pulang saja. Ia takut, Raisa salah paham akan kedatangannya ke club, tapi ketika ia berdiri dan hendak meninggalkan kedua sahabatnya, matanya tertuju ke seorang wanita yang duduk di depan meja bartender.


Tamara, wanita itu ada disana sendirian. Edgar menghampiri Tamara karena takut ada orang yang menyakiti Tamara dan mengambil keuntungan dari Tamara. Apalagi Tamara ini aktris terkenal.


"Tam," panggil Edgar sambil menepuk pundak Tamara.


Tamara menoleh dan tak menyangka akan bertemu Edgar lagi setelah beberapa waktu berlalu.


"Ngapain kesini sendirian? Jena mana? Kamu tidak takut dibuntuti wartawan?" tanya Edgar yang membuat Tamara tersenyum tipis.


"Please, harusnya kamu jangan kesini, Gar. Kamu masih terlihat begitu peduli padaku, tapi aku tahu kepedulian itu bukan cinta. Jangan buat aku jadi berharap lagi. Lebih baik kamu kembali ke teman-teman kamu," pinta Tamara sambil mendorong tubuh Edgar.


"Aku memang masih peduli sama kamu Tam. Kamu sudah aku anggap adikku sendiri."


"Ya, ya, ya, jangan diperjelas lagi. Btw, semoga lancar pernikahannya," ucap Tamara lalu meneguk wiski nya.


*


*

__ADS_1


TBC


Jangan lupa komentarnya guys


__ADS_2