Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 42


__ADS_3

Raisa langsung panik dan segera berontak dari pelukan Edgar. Bukan karena ia tidak mau dipeluk, tapi Raisa takut kalau Edgar sadar jantungnya berdegup sangat kencang ketika bersama laki-laki itu.


"Jangan peluk-peluk orang sembarang!" tukas Raisa ketika pelukannya sudah terlepas.


Tapi Edgar seperti tak peduli dengan ucapan Raisa. Laki-laki itu malah berjalan masuk seperti dia lah sang pemilik rumahnya. Bahkan dengan lantangnya ia memanggil si kembar.


"Twins, where are you?"


"I'm here Pi," jawab keduanya bersamaan sambil beranjak dari kegiatan mereka.


"Papi, kita rindu Papi."


Si kembar langsung memeluk Edgar bersamaan. Melihat itu, membuat hati Raisa sedikit sedih, karena biasanya dirinya lah yang selalu dipeluk duluan. Hanya karena kedatangan Edgar, dirinya merasa diabaikan oleh si kembar. Raisa pun segera pergi ke kamarnya dan membiarkan si kembar bermain dengan Edgar.


Beberapa menit kemudian pelukan mereka pun terlepas. Edgar merasa keheranan ketika tak melihat Raisa di sisinya.


"Mami kalian kemana?" tanya Edgar.


"Mami pergi ke kamar, Pi. Mungkin mau bersih-bersih dulu. Ayo Pi, aku sama Kia lagi ngerjain tugas sekolah. Ada beberapa yang kami tidak mengerti."


"Baiklah, mana Papi lihat."


Si kembar menuntun Edgar ke tempat mereka tadi lalu menunjukkan pr nya. Untungnya, Edgar bisa membantu si kembar, kalau tidak, dia merasa tidak berguna jadi seorang ayah.


Waktu terus berlalu, tapi Raisa tak kunjung keluar juga membuat Edgar jadi khawatir saja.


"Mia, coba panggil mami suruh kesini. Papi takut mami kalian sakit, soalnya dari tadi belum keluar-keluar juga."


"Oke Pi."


Mia pun pergi sesuai permintaan Edgar. Kini tinggal Kia dan Edgar disana. Kia teru memandangi wajah Edgar hingga membuat Edgar jadi salah tingkah sendiri.


"Kamu kenapa natap Papi kaya gitu? Ada yang aneh di wajah Papi?" tanya Edgar karena tak tahan dengan tatapan Kia.


"Aku cuma mau memastikan sesuatu. Apa Papi menyukai Mami? Kalau iya, lantas kenapa Papi bisa dekat dengan wanita lain? Bukankah yang seperti itu tidak boleh ya, Pi? Kita kan tidak boleh memiliki kekasih dua sekaligus."

__ADS_1


Ucapan Kia itu membuat Edgar terdiam. Dia benar-benar bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan itu.


"Aku memang senang ketika papi bilang kita akan bersama-sama. Tapi ketika sampai rumah dan melihat Mami, aku jadi tahu sendiri. Kami sudah bahagia meski tanpa kehadiran Papi. Semenjak bertemu Papi, Mami jadi sering bersedih dan berdiam lama di kamarnya. Di antara aku dan Mia, aku yang paling peka soal perasaan Mami. Kami memang ingin memiliki keluarga yang utuh, tapi kalau Mami tidak bahagia. Kami tidak akan memaksa kalian yang orang dewasa untuk bersama kalau itu menyakitkan. Seperti ini saja sudah cukup, Pi. Setidaknya aku dan Mia tahu kalau kita memiliki papi yang menyayangi kita."


Edgar tak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya bisa langsung memeluk Kia dan mengelus kepala putrinya itu. Sepertinya Kia jadi lebih dewasa dalam berpikir karena keadaan.


Edgar melepaskan pelukannya lalu menyakinkan Kia kalau dirinya akan membuat Raisa bahagia.


"Papi janji, papi akan membahagiakan mami. Bukan dengan paksaan tapi dengan sebuah ketulusan. Papi ingin melihat kalian tumbuh besar dalam pantauan Papi. Seberat apapun nantinya masalah yang akan papi hadapi, atau sekeraskepala apapun Mami kalian, Papi akan terus berjuang. Papi hanya butuh dukungan dari kamu dan Mia. Bisa kan?"


Kia mengangguk.


"Thank you, Pi. Aku berharap, papi benar-benar menjaga janji papi."


"Tentu saja. Papi akan menepatinya, apalagi kepada orang-orang yang begitu papi sayangi."


Tak lama kemudian, Mia dan Raisa datang. Tapi Raisa tak ikut nimbrung disana melainkan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Waktu terus berlalu, makan malam telah selesai, si kembar pun sudah menyelesaikan pr nya dan suka masuk ke dalam kamar mereka. Tinggallah Raisa dan Edgar berdua di ruang tamu.


"Sebaiknya kamu pulang sekarang, sebelum banyak warga yang mengira aku dan kamu berbuat mesum. Apalagi, bagi orang di sekitar sini, status janda itu begitu terlihat hina."


Bukannya senang mendengarkan ajakan yang membuat hatinya berbunga-bunga, Raisa justru malah merasa takut. Takut kebahagian itu hanya semu karena ada setelah merusak hubungan seseorang. Ajakan itu juga membaut Raisa yakin bahwa hubungan Tamara dan Edgar sudah berakhir.


"Apa kamu tidak takut ada karma setelah menyakiti orang yang mencintai kamu? Orang yang tersakiti, doanya akan segera terkabul."


"Kalau karma memang ada, tak apa-apa aku akan menerimanya. Lagipula, kalau terus diteruskan aku hanya akan terus menyakiti hatinya. Lagian, kamu dan anak-anak lebih penting bagiku. Kalianlah yang ingin aku bahagiakan.


Aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan kalian. Aku ingin melakukan banyak hal dengan kalian. Aku tak ingin melewatkan sedikit pun waktu yang aku punya tanpa kalian. Bisakah kamu pikir-pikir lagi ajakanku? Kalau kamu memang tidak mau, setidaknya pikirkan si kembar, pikirkan mereka yang ingin keluarga utuh.


Aku tidak memaksa, tapi aku akan terus bertanya setiap harinya. Aku akan berusaha sampai kamu menerimanya. Karena sudah aku bilang, aku tidak mau ada Papi lain yang disebut oleh mereka kecuali aku."


Setelah mengatakan itu, Edgar pergi dari rumah Raisa. Sebelum pergi dia mencuri kecupan di bibir Raisa hingga membuat Raisa membulatkan matanya.


"Masih manis seperti dulu."

__ADS_1


Edgar memberikan finger heart ke Raisa lalu membuka pintu dan menutupnya rapat-rapat.


Raisa langsung menaruh tangannya di atas dadanya.


Deg deg deg


Jantung Raisa berdegup begitu kencangnya. Tak bisa dia pungkiri, kehadiran Edgar selalu membuat dirinya tak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri. Meski menolak, tapi hatinya merasa ingin. Ingin yang lebih dari itu.


Sayangnya, akal pikirannya selalu berkata jangan, karena masih banyak hal yang tak bisa mereka satukan lagi karena sudah ada keretakan di dalamnya.


*


*


Edgar masuk ke dalam rumahnya dan langsung dihadang oleh Mama Ola.


"Kamu darimana Edgar? Kenapa baru pulang di jam segini? Kamu bahkan melewatkan jam makan malam."


"Dari rumah Raisa Ma, aku habis menemui si kembar dan kami makan malam bersama disana," jawab Edgar yang tak ingin sembunyi-sembunyi lagi dari keluarganya seperti sebelum-sebelumnya.


"Edgar! Kamu tahu apa yang kamu lakukan ini salah! Kamu sudah punya Tamara! Tamara, dia yang akan jadi istri kamu!"


Mama Ola menyadarkan Edgar siapa yang seharusnya lebih sering dikunjungi.


"Ma, aku sudah bilang, aku akan membatalkan rencana pernikahan itu. Dan ya, aku sudah bicara empat mata dengan Tamara. Dalam waktu dekat ini, aku akan secara resmi berkunjung ke kediaman orang tua Tamara. Aku ingin menyelesaikan ini dengan cara baik-baik."


"Edgar! Kamu nggak boleh begitu! Kamu akan menyesal setelah melepaskan Tamara dari hidup kamu. Wanita seperti Tamara sangat langka, Nak."


"Jadi mama pikir aku tidak menyesal setelah menceraikan Raisa? Aku menyesal Ma, sangat menyesal, apalagi aku baru tahu, kalau ketika kami berpisah, Raisa mengandung anak-anakku. Mama tahu sendiri keadaan Raisa saat itu, dia masih belum siap memiliki anak. Tapi dia Bernai mengambil keputusan untuk tetap melahirkan anak-anakku. Apa salah kalau aku ingin kembali? Apa salah kalau aku ingin ada bersama mereka? Apa salah kalau aku ingin jadi papi yang baik? Apa salah kalau aku ingin memberikan keluarga utuh untuk mereka? Jawab Ma! Jawab!"


Mama Ola terdiam tak menjawabnya. Dia malah langsung pergi dari hadapan Edgar.


*


*

__ADS_1


TBC


Jangan lupa tinggalkan komentar ya guys, supaya aku jadi rajin updatenya.


__ADS_2