Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 44


__ADS_3

Hari yang dinantikan Edgar pun tiba, dimana di hari itu, Tamara mengirimkan pesan ke Edgar mengajak untuk membicarakan tentang pembatalan pernikahan mereka ke orang tua Tamara. Meski hatinya senang, tapi ada sedikit rasa sedih dan bersalah karena menyakiti wanita baik seperti Tamara. Tapi ia juga tak bisa melanjutkan karena tak mau menyakiti terlalu dalam. Lagipula, dari sebuah pilihan yang diambil pasti akan ada resikonya.


Kini Edgar sudah berada di halaman rumah keluarga Tamara. Dia dan Tamara berdiri tegak di sebelah sebelum melangkah mendekat ke pintu.


"Biar nanti aku yang bicara," pinta Tamara.


Edgar menolak, karena dirinyalah yang seharusnya bicara.


"Tidak, Tam. Kamu hanya bicara kalau diperlukan, untuk semuanya biar aku yang selesaikan."


"Tapi ... " Ucapan Tamara terhenti karena dipotong lebih dulu oleh Edgar.


"Aku sudah menyakitimu, Tam. Aku akan bertanggungjawab atas keputusanku sendiri. Aku sudah siap dengan apa yang nantinya akan aku terima dari Om Galih."


"Papaku sangat protektif terhadap aku Gar. Kalau dia mendengar putrinya batal nikah seperti ini, aku tidak aku akan semarah apa dia. Jadi, lebih baik aku saja yang bicara agar aku bisa meredam amarahnya."


Edgar tetap menolak. Tamara pun akhirnya pasrah saja, karena Edgar yang keras kepala.


Edgar dan Tamara masuk ke dalam rumah keluarga Tamara. Papa Tamara langsung menyambut kehadiran Edgar dengan sangat baik dan mempersilahkannya duduk.


"Aku jadi penasaran tentang apa yang ingin kamu bicarakan, karena putriku bilang ini sangatlah penting. Memangnya sepenting apa? Apa tanggal pernikahan kalian akan dimajukan?"


"Bukan Om," jawab Edgar.


"Lantas apa?"


"Sebelumnya saya mau minta maaf dulu Om."


Alis Papa Tamara langsung terangkat karena tak mengerti kenapa Edgar harus meminta maaf? Padahal Edgar tak memiliki kesalahan apapun padanya.


"Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."


Mata Papa Tamara langsung membulat sempurna. Ia berdiri dari duduknya sambil memukul meja yang ada di depannya.


"APA MAKSUDMU BILANG SEPERTI ITU, EDGAR!?" Papa Tamara murka.


"Maaf, tapi saya memang tidak bisa melanjutkannya."


"KENAPA!? HARUSNYA ADA ALASAN KENAPA KAMU INGIN MEMBATALKANNYA? APA KAMU MENCINTAI WANITA LAIN?"


Edgar tak membalas ucapan itu karena ia tak mau Raisa jadi terseret ke dalam masalahnya. Karena memang ini keputusannya sendiri.

__ADS_1


"HAHAHA, WANITA MANA YANG BISA MENYAYANGI PUTRIKU!?"


Papa Tamara langsung bisa menebaknya karena Edgar yang terdiam. Hatinya sungguh sakit dan kecewa atas kelakuan Edgar.


"TAMARA! JELASKAN APA MAKSUD SEMUA INI? APA KAMU SETUJU UNTUK MEMBATALKAN PERNIKAHAN INI?"


Tamara menunduk lalu mengangguk. Dia menambahkan kata-kata.


"Aku tidak mau mengambil kasih sayang seorang ayah untuk anak-anaknya. Biarlah aku yang sakit hati dengan merelakannya untuk pergi. Jadi aku mohon pa, jangan lakukan apapun yang membuat Edgar terluka."


Papa Tamara tak habis pikir dengan anaknya yang masih bisa membela Edgar yang jelas-jelas sudah menyakitinya. Anaknya benar-benar sudah dibuatkan oleh cinta.


"Lihat, bahkan putriku masih tak ingin kamu menderita padahal kamu sudah menyakiti hatinya. Mungkin kalau kamu mengkhianati kepercayaanku dalam hal bisnis, aku bisa lebih mudah memaafkan mu, tapi kalau urusannya dengan putriku, aku tidak bisa. Lantas apa maksudnya dengan anak-anak? Jadi kamu memiliki anak dengan mantan istrimu? Kenapa kamu membohongi kami semua tentang dirimu?


"Om boleh melakukan apapun, karena saya memang bersalah disini karena sudah menyakiti Tamara. Iya saya memang memiliki anak dengan mantan istri saya. Tapi saya baru tahu beberapa waktu terakhir ini. Saya mohon jangan lakukan apapun yang bisa menyakiti mereka, yang salah adalah saya. Jadi, sayalah yang sepantasnya Om sakiti."


Papa Tamara tertawa kecut lagi. Dia bertambah marah dan kesal. Di saat anaknya membela dan melindungi Edgar, Edgar malah melindungi mantan istri dan anak-anaknya. Dia sudah tak tahan lagi.


Plak!


Sebuah tamparan melayang ke pipi kanan Edgar sampai membuat ujung pipi Edgar berdarah.


"Apa? Kamu jangan membela dan melindungi dia lagi! Dia tidak pantas kamu lindungi!"


Bukan hanya menampar Edgar saja, Papa Tamara menarik kerah kemeja Edgar lalu mendorongnya hingga terbentur di lantai. Dia memukul Edgar dengan sangat keras sampai membuat wajah Edgar babak belur.


Tamara sudah berusaha menghentikannya, tapi selalu dihalangi oleh papanya. Dia menangis tersedu-sedu melihat orang yang masih dicintainya terluka.


Mama Tamara yang sedari tadi ada disana hanya terdiam dengan tatapan mata yang kosong, seolah tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh Edgar. Dia bahkan membiarkan Edgar dipukuli oleh suaminya, seolah bisa mewakili hatinya yang sakit karena putri yang dicintainya telah disakiti.


"Ma! Bantu aku! Bantu aku untuk menghentikan Papa! Edgar bisa mati, Ma!"


"Untuk apa? Dia juga sudah menyakiti kamu?"


"Ma, please!"


Tamara bahkan sampai memohon ke mamanya sambil berlutut di depan mamanya. Melihat anaknya yang memohon seperti itu, membuat Mama Tamara bersedih. Pada akhirnya, Mama Tamara menghentikan aksi kekerasan suaminya ke Edgar.


"Lebih baik sekarang kamu pergi, sebelum suamiku memukulmu kembali," usir Mama Tamara.


Edgar berdiri dengan sekuat tenaga. Tubuhnya terasa lemas karena terus dipukuli oleh papanya Tamara. Ia memang sengaja tak membalas pukulan itu karena ia memang pantas untuk dipukuli.

__ADS_1


Jalannya lunglai, darahnya terus menetes ke lantai. Ia tersenyum sebelum pergi ke Tamara dan memberikan hormat ke kedua orang tuanya Tamara.


Ketika Tamara ingin membantu Edgar, untuk mengantarkan laki-laki itu keluar dari rumahnya, Mama Tamara langsung melarang.


"Jangan berhubungan lagi dengan Edgar! Buang apapun yang berkaitan dengan dia!"


"Ma,"


"Jangan membantah Tamara! Dia sudah menyakitimu! Dia sudah memilih wanita lain! Kamu harus sadar itu, Tamara! Sadar! Jangan terus mengejarnya lagi!"


Tamara pun pergi dari sana menuju ke kamarnya sambil menangis.


Papa Tamara masih mengepalkan tangannya. Dia masih belum puas memukul Edgar.


"Kenapa mama melarang papa?" tanya Papa Tamara ke Mama Tamara.


"Dia sudah babak belur Pa, aku tidak ingin papa membunuh orang."


"Tapi, aku belum puas melampiaskan rasa kesal dan sakitku!"


"Tenang Pa, masih ada cara lain. Kita bisa membuatnya menderita karena telah salah mengambil keputusan. Dia harus menerima akibatnya karena telah menyakiti putri kita tercinta. Mama juga tidak bisa terima putri kita dicampakkan hanya karena mantan istri Edgar. Memangnya secantik dan sebaik apa dia, bisa bersaing dengan putri kita yang sempurna? Mama tidak akan tinggal diam juga Pa."


"Mama benar, papa akan mencabut investasi kita dari perusahannya."


"Mama akan mencari tahu siapa mantan istri Edgar itu. Karena selama ini Edgar terlalu melindungi identitas mantan istrinya itu."


*


*


Edgar sampai di rumahnya dengan keadaan yang bertambah lemah. Jalannya tertatih-tatih, suaranya lirih dan pandangannya mulai kabur. Edgar terjatuh di ruang tamu rumahnya.


"Edgar!" teriak Oma Deli.


*


*


TBC


Komentar yang banyak skuy!

__ADS_1


__ADS_2