
Pernikahan berjalan dengan lancar tanpa satu halangan apapun. Para tamu undangan pun hadir dan menyaksikan Raisa dan Edgar yang bersatu kembali. Kebanyakan yang hadir adalah tamu dari keluarga Edgar.
Semua orang tampak bahagia melihat kedua orang yang sudah lama terpisah itu bersatu kembali. Bahkan di pernikahan kali ini, rasanya begitu berbeda. Walaupun Raisa masih belum ingin diketahui publik wajahnya. Ya, pernikahan itu dilakukan secara privat.
Raisa masih tidak menyangka, dirinya akan berada di posisi ini udah kedua kalinya. Namun, ia bahagia karena memang Edgar lah sang pemilik hatinya.
Raisa tersenyum ke arah Edgar di kala laki-laki itu sedang melihat ke arah lain. Namun, untuk beberapa saat, Edgar pun melihat ke arah Raisa. Keduanya saling bertemu pandang.
"Kenapa? Apa kamu merasa kalau ini hanya mimpi?" tanya Edgar.
"Iya, ini terlalu indah untuk jadi kenyataan," jawab Raisa.
Edgar lalu tersenyum dan dengan tangannya, Edgar menarik pinggang Raisa hingga berhimpitan dengannya.
Cup!
Satu ciuman Edgar berikan ke Raisa tanpa aba-aba. Mata Raisa melotot karena saking terkejutnya.
"Kalau ini mimpi, pasti ciuman barusan tak terasa. Tapi kamu, pasti merasakannya, kan?" ucap Edgar sambil tersenyum miring ke arah Raisa.
Yang ada di pikiran Raisa bukan itu sebenarnya, tapi anak-anaknya, kalau melihat dia dan Edgar berciuman, itu sangat tidak layak diperlihatkan.
"Kamu! Kita kan sudah berjanji tidak ada kecup-kecup bibir begitu. Kalau nanti anak-anak lihat dan meniru bagaimana?"
Edgar tersenyum tipis. Dia pun tahu, dan tak mungkin melakukan sesuatu hal yang merugikan anaknya.
"Anak-anak lagi ambil makanan, jadi mereka tidak lihat ketika aku menciummu tadi," jawab Edgar dengan senyum jahil.
"Aku juga masih anak-anak, kenapa kalian seenaknya memperlihatkan ciuman itu ke orang yang jomblo?!"
Suara itu berasal dari Bimo yang menaiki pelaminan untuk memberikan selamat.
"Anak-anak gundulmu?! Masa iya anak-anak tiap Minggu ganti-ganti cewek! Ingat umur Bim!" balas Edgar yang tak rela Bimo mengklaim diri sendiri sengaja anak-anak.
Bimo hanya manyun lalu mengulurkan tangannya ke Raisa.
"Selamat atas pernikahan kedua ini. Semoga langgeng sampai tua."
Saat hendak turun dari sana, Edgar bersuara.
"Kamu tidak mengucapkannya juga padaku?"
"Itu tadi sekalian untuk kalian berdua," ucapnya lalu pergi mencari si kembar.
__ADS_1
Edgar mendengus sebal. Raisa menepuk pundak Edgar pelan.
Tak lama Pak Baskoro dan Bian pun mendekat. Edgar langsung memasang wajah waspada nya, karena ia masih ingat betul wajah pria yang dulu pernah mengantar Raisa pulang.
"Selamat ya untuk kalian berdua. Semoga pernikahan kedua ini awet tanpa ada perceraian lagi," ucap Pak Baskoro.
"Iya, terima kasih doanya, Pak."
Ketika Bian akan mengucapkan selamat juga ke Raisa dan mengulurkan tangannya, Edgar langsung membalas uluran tangan itu menggantikan Raisa.
"Terima kasih sudah datang," ucap Edgar yang membuat Raisa jadi tersenyum tipis akan tingkah Edgar.
"Ya, jaga Raisa dengan baik, tenang saja, aku tidak akan merebutnya darimu. Jadi, tidak usah cemburu seperti ini," ucap Bian lalu melepaskan tangannya dari tangan Edgar.
Kemudian Pak Baskoro dan Bian turun.
Raisa melihat ke Edgar sambil tersenyum tipis. Rasanya dicemburui ternyata asik juga. Dia bisa melihat wajah Edgar yang terlihat kesal.
"Kamu tahu kan kalau aku tak mungkin berpaling dari kamu?"
"Tahu, dan sangat tahu. Tapi tetap aja, aku nggak suka kalau kamu disukai laki-laki lain," ucap Edgar.
Raisa menggenggam tangan Edgar untuk memberikan rasa nyaman dan agar tidak cemburu lagi.
Rasanya Edgar ingin langsung menerkam Raisa saat itu juga akan tetapi ia sadar sekarang berada dimana. Dia harus menunggu sampai acara selesai baru setelah itu ia akan merealisasikan apa yang ada di pikirannya.
"Jangan memancingku, Ca. Kamu tahu sendiri, aku bisa lepas kendali."
Mendengar hal itu, Raisa langsung meneguk air salivanya sendiri dan hendak turun dari pelaminan.
"Kamu tak akan pernah bisa lari dariku, Ca."
*
*
Acara sudah selesai, kini hanya tinggal beberapa orang saja disana. Si kembar pun sudah dibawa pulang oleh Mama Ola. Tentunya, itu dilakukan agar malam pertama Raisa dan Edgar tak akan terganggu nantinya.
"Aku pulang dulu ya, Ra. Nikmati malam pertamamu. Jangan lupa pakai hadiah pernikahan kedua dariku," ucap Pamela dengan disertai senyum penuh arti.
"Gar, jaga Raisa dengan baik. Aku sudah membiarkan dia kembali pada orang yang sama. Padahal bisa saja luka yang sama bisa terjadi lagi, tapi aku meyakinkan diriku, bahwa kamu tidak mungkin melakukan itu. Jadi, jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan Raisa dan pergunakan dengan baik "
"Tenang saja, aku akan berusaha sebaik semampuku."
__ADS_1
"Bagus, jangan lupa buatkan aku ponakan laki-laki yang lebih lucu dari si kembar. Aku sudah nggak sabar mau ngurus bayi lagi."
"Yee!! Daripada ngurus anak orang lain, sanah nikah aja! Umur udah tua juga! Tuh si Bimo nganggur!" ucap Edgar sambil melirik ke arah Bimo yang sudah berdiri tak jauh darinya.
"Apa-apaan bawa-bawa nama orang!" decak Bimo yang kini sudah ada di hadapan Bimo dan Raisa.
"Nikah aja, udah sana kalian berdua!"
"Dih Nggak mau!" jawab keduanya kompak.
"Amazing sekali, kompak banget. Pantes aja si kembar bilang kalian itu serasi. Emang sih kelihatan banget serasinya."
"Idih, serasi dari Hongkong! Udah ah, aku mau balik aja, jangan lupa sama permintaanku tadi pokonya."
Pamela pun segera pergi dari sana sebelum lebih banyak lagi obrolan mengenai dirinya. Begitu juga Bimo yang malah ikut pergi dan berjalan di belakang Pamela.
Edgar dan Raisa yang melihat itu malah tersenyum. Sepertinya sudah ada sinyal-sinyal cinta dari Bimo.
*
*
Edgar dan Raisa sudah sampai di hotel. Keduanya bahkan sudah duduk di ranjang.
"Aku atau kamu dulu yang mandi? Atau mau mandi bareng aja?"
"Aku dulu yang mandi!" jawab Raisa yang kemudian buru-buru pergi ke kamar mandi.
Edgar tertawa kecil karena merasa lucu dengan tingkah Raisa. Bahkan wanita itu sampai lupa membawa pakaian gantinya. Setahunya, di kamar mandi itu hanya ada handuk kecil yang disediakan. Karena itu memang permintaan dari Edgar sendiri.
"Aku jadi nggak sabar, bagaimana nanti kamu keluarnya Raisa, hihi."
Sambil menunggu Raisa selesai mandi, Edgar membuka koper yang sudah disiapkan oleh Mama Ola. Ternyata isinya kebanyakan lingerie beda model dan warna, juga beberapa celana pendek untuk Edgar. Sementara pakaian atau kaosnya cuma dua setel saja.
"Mama tahu aja apa yang anaknya mau. Thanks Ma. Aku janji, akan segera buatkan mama cucu baru."
*
*
TBC
Komentar yang banyak ya guys biar popularitasnya makin naik.
__ADS_1