
Mama Ola merasa lega karena Tamara sudah melakukan klarifikasi. Wanita atuh baya itu benar-benar berharap tak ada masalah yang terjadi ke Raisa.
"Sudah aku bilang, semuanya akan baik-baik saja Ma. Aku sudah minta tolong ke Tamara."
"Untungnya, Tamara wanita baik, kalau tidak, mungkin saja Raisa akan jadi bulan-bulanan orang di luar sana. Cepat ajak Raisa menikah lagi Edgar!"
Edgar hanya tersenyum tipis.
"Kalau mama meminta begitu, itu artinya publik akan menerka-nerka kalau apa yang diucapkan mamanya Tamara itu benar. Lagipula, tidak mudah membuat Raisa luluh lagi Ma. Aku saat ini masih berusaha. Doakan ya Ma."
"Haah! Benar juga. Ya sudah terserah kamu aja, pokoknya kamu harus bawa kembali Raisa dan si kembar ke rumah ini. Kalau gagal, kamu mau mama buang jadi anak."
"Ya ampun, teganya mama."
"Bodo amat."
*
*
Di kediaman keluarga Tamara, mamanya Tamara kesal dan marah akan konferensi pers yang dilakukan oleh putrinya. Dirinya benar-benar tak habis pikir, putrinya bisa sebaik itu ke orang yang sudah menyakiti hatinya.
"Tamara, kenapa kamu harus sebaik ini sih?"
"Aku tidak baik Ma, aku hanya tidak mau mama jadi terlihat buruk di mata orang lain. Sudah aku katakan Raisa tidak bersalah. Jangan lakukan hal bodoh lagi Ma. Aku mohon, aku juga akan menjalani hidupku lebih baik lagi," ucap Tamara yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.
"Huh!"
Mama Tamara menghela napasnya dan mengontrol emosinya. Dia memang masih marah dan kesal tapi dia pun tak mau beradu mulut lagi dengan Tamara.
"Aku sudah minta maaf ke Raisa atas apa yang Mama lakukan padanya. Tapi kalau Mama punya hati nurani, lebih baik Mama juga meminta maaf langsung padanya. Hidup kita akan damai kalau kita tak memiliki rasa dendam ke orang lain Ma. Aku hanya ingin hidup seperti itu."
Mama Tamara terdiam sambil memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut putrinya.
*
*
Suasana restoran sudah kondusif lagi, tak banyak orang yang membicarakan Raisa lagi atau menjelekkan Raisa di belakang Raisa lagi meskipun masih ada beberapa. Tapi setidaknya, suasana itu menjadi nyaman untuk Raisa bekerja tanpa adanya tatapan-tatapan orang yang mengintimidasinya.
Raisa mulai memasak pesanan pelanggan. Ia selalu bekerja dengan hatinya. Menciptakan masakan dengan cinta, agar orang yang menyantap masakannya bisa menerima ketulusan dari makanan yang dibuatnya.
__ADS_1
Di jam istirahatnya, tiba-tiba Edgar datang kesana menghampiri Raisa. Tentu saja Raisa kaget. Wanita itu buru-buru menarik Edgar ke tempat sepi agar tak menjadi gunjingan orang-orang disana.
"Mau apa kamu kesini Edgar? Kamu tahu, ini bisa menyulitkan aku. Gosip tentangku sudah mulai memudar, tapi kalau kamu tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan seperti ini, bisa saja gosip itu naik lagi. Apa kamu tidak bisa mengerti posisi aku?"
"Salah siapa ditelpon nggak diangkat, di kasih pesan pun tak pernah kamu balas. Kamu hanya membalas pesanku kalau itu berhubungan dengan si kembar. Jalan satu-satunya aku bisa mengobrol denganmu hanya dengan mengunjungimu ke tempat kerjamu. Kalau kamu tidak ingin aku kesini, makanya, rajin-rajinlah membalas atau mengangkat telpon dariku. Tidak susah, bahkan mudah sekali. Apa perlu aku ajari?"
Raisa mendengus sebal. Tapi sejujurnya ia merasa senang, hanya saja ia tak mau kesenangan itu akan jadi penghancur dinding yang telah ia buat.
"Kan sudah aku katakan, hubungan kita hanya sebatas orang tua dari si kembar. Jadi, kita komunikasi hanya tentang itu."
"Jahat sekali! Dari dulu kamu selalu jahat padaku Raisa. Apa aku harus mengejarmu seperti dulu lagi? Apa aku harus sampai berlutut dan berjanji kalau aku tidak akan mengecewakan kamu untuk kedua kalinya?"
"Jangan bicara omong kosong Edgar. Sudah, lebih baik kamu pergi. Kamu juga pasti sibuk dengan pekerjaan kamu. Aku dengan dari mama, kamu berusaha keras untuk mencari investor dari beberapa perusahaan. Karena setelah pembatalan nikah kamu kemarin banyak investor yang mencabut investasinya dari perusahaan keluargamu. Lebih baik kamu fokus kesitu, daripada mengejar orang yang belum pasti mau kembali padamu."
Edgar tersenyum kecut mendengarnya. Hatinya sedikit sakit tapi dia tak akan menyerah untuk membuat Raisa kembali bersamanya. Ia yakin cintanya dan Raisa belum usai. Kisahnya masih bisa dirajut kembali.
"Aku pergi, jangan lupa balas dan angkat! Kalau tidak, aku akan membuat onar disini. Kamu mengerti?!" ancam Edgar ke Raisa.
Raisa memalingkan wajahnya dan membiarkan Edgar pergi begitu saja, setelah bayangan Edgar tak terlihat lagi, Raisa justru menoleh.
"Apa iya kalau kita bersama lagi, kamu tak akan membuat aku kecewa lagi? Aku takut, Gar. Sangat takut. Orang yang aku percayai mengingkari janjinya lagi. Aku sadar cinta ini masih milik kamu. Tapi aku juga sadar, kepercayaanku tak sepenuhnya lagi mempercayaimu."
*
*
"Oma, kapan ya kita bisa tinggal serumah? Aku ingin sekali tinggal bersama mami, papi, oma, opa dan juga oma uyut."
"Kalau kamu ingin seperti itu, makanya kamu harus bantu mendekatkan mami dan papi kalian."
Kia langsung mend*sah pelan.
"Tidak semudah itu Oma. Mami itu orangnya keras kepala. Sulit didekati oleh laki-laki. Bahkan selama ini, Mami tak pernah mengenakan satu laki-laki pun ke pada kita. Yang Mami pikirkan itu cuma cari uang untuk biayain aku dan Mia. Itu saja."
"Makanya, kita harus punya rencana untuk mendekatkan mami dan papi kalian."
"Gimana Oma?" tanya Mia yang tak bisa berpikir.
Mama Ola mengangkat bahunya tak tahu karena dia pun belum memikirkannya.
"Ih, Oma, kirain aku Oma udah punya caranya."
__ADS_1
"Belum sayang, kita harus pikirkan sama-sama."
Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak Mia.
"Em, gimana kalau kita liburan bersama Oma? Aku, Kia dan Mami itu jarang sekali liburan, paling bisa diitung dengan jari dalam setiap tahunnya."
"Wah, boleh banget itu. Oma setuju. Nanti kita atur rencananya."
Ketiga orang itu tersenyum bahagia sambil memikirkan rencana di kepala mereka masing-masing.
*
*
Di sebuah cafe dekat dengan kantor agensi, Jena sedang duduk berdua dengan teman kuliahnya yang ternyata adalah Bian.
Mereka begitu akrab sampai minum kopi bersama. Jena memulai pembicaraan tentang pencarian jodoh untuk Bian yang diminta oleh Pak Baskoro.
"Kamu tahu, Om Baskoro tiba-tiba meneleponku dan meminta kenalan wanita untuk dikenalkan padamu. Katanya dia sudah menyerah ke wanita yang dipilihnya kemarin."
Bian tersenyum tipis. Selalu saja begitu. Memangnya dirinya barang yang selalu dipromosikan ke orang-orang.
"Papa mungkin menyerah tapi aku belum."
"Tunggu ... tunggu ... jadi kamu memang menyukai wanita yang dikenalkan papamu?"
"Ya, tanpa sadar aku menyukainya yang mandiri dan teguh pendirian."
"Siapa? Aku benar-benar penasaran dengan orangnya. Aku hanya tahu kamu dikenalkan ke wanita tapi aku tak tahu siapa namanya."
"Raisa."
"Raisa?"
Jangan-jangan, Raisa yang dimaksud Bian sama dengan Raisa yang ada di pikiranku?
*
*
TBC
__ADS_1
Yuk mampir ke ceritaku yang judulnya Take Me To Your Heart. Bisa langsung klik link di bawah ya. Dijamin ceritanya nggak kalah seru dari cerita ini.