
Di hari itu, Tamara sedang melakukan foto shoot iklan produk minuman dari salah satu brand ternama. Ia tidak tahu kalau ternyata pemilik brand itu adalah keluarga dari Bian. Ia baru tahu setelah foto shoot itu selesai.
Rupanya yang dulu dibicarakan Bian dan Jena adalah pekerjaan ini.
"Terima kasih sudah mau jadi brand ambassador dari produk ini. Semoga dengan adanya power dari aktris terkenal seperti kamu. Brand minumanku jadi semakin terkenal dan produksinya semakin meningkat."
"Sama-sama. Aku tidak menyangka aja, ternyata kamu adalah seorang pengusaha."
"Memangnya, kamu kira aku bekerja jadi apa?" tanya Bian ke Tamara.
"Entah," jawab Tamara sambil mengangkat bahunya enggan memikirkan itu.
Tak lama kemudian Jena datang dengan membawa minuman dingin dan kipas portabel kecil untuk Tamara.
"Itu adalah minuman paling best seller dari merk produk minuman yang aku produksi. Aku yakin, kamu akan suka. Rasanya peraduan antara teh dan buah."
"Selain bisa menebak isi hati orang, rupanya kamu pintar mempromosikan produkmu sendiri."
Bian hanya tersenyum tipis aja tanpa mau menanggapi lagi.
"Ya kamu tuh gimana sih Tam, ya sebagai owner nya kita kan harus tahu banyak tentang produk yang kita punya. Kalau nggak gitu, gimana kita mau promosiin ke orang? Semenjak putus cinta, otak kamu jadi agak lemot, Tam. Sana gih cari pasangan baru, biar pinter lagi."
Tamara mendengus sebal lalu duduk di kursi yang sudah disediakan. Dia membuka tutup botol minumannya, tapi tak bisa-bisa terbuka.
"Kalau butuh bantuan itu bilang, jangan sungkan-sungkan."
Bian mengambil minuman yang ada di tangan Tamara lalu membuka. Setelah terbuka, Bian memberikan lagi ke Tamara.
"Terima kasih," ucap Tamara.
Bian mengangguk kemudian pamit pergi untuk mengurus pekerjaannya yang lainnya.
Jena langsung mendekat ke Tamara dan duduk di samping Tamara.
"Gimana menurut Kamu, Tam? Nggak kalah ganteng dari Edgar, kan? Baik pula anaknya, berasal dari keluarga yang terpandang juga sama seperti kamu. Pokoknya cocok deh."
Tamara melayangkan tangannya untuk menutup mulut Jena agar diam dan tak banyak bicara.
"Mau seganteng apapun orangnya, kalau hati belum klik, mana bisa aku suka sama orangnya. Udah, jangan terlalu keras mendekatkan aku dengan laki-laki. Mending kamu cari aja buat diri kamu sendiri."
Jena pun mengerucutkan bibirnya. Karena selama ini yang Jena pikirkan cuma gimana caranya membuat nama Tamara semakin bersinar karena karyanya. Masalah dirinya itu urusan belakangan.
*
*
__ADS_1
Berbeda dengan Pamela yang mulai jenuh dengan kehidupannya sebagai influencer. Apalagi banyak sekali orang yang suka pura-pura baik cuma agar produk mereka dipromosikan oleh Pamela. Rasanya Pamela ingin berhenti dari bidang itu, dan bekerja jadi karyawan saja di perusahaan.
Satu-satunya hiburan bagi Pamela adalah bertemu dengan si kembar. Celotehan lucu dari dua anak itu selalu membuat mood Pamela naik kembali.
Di siang itu, Pamela menjemput si kembar dari sekolahnya. Dia duduk menunggu di mobilnya sampai si kembar keluar dari gerbang sekolah.
Tak berselang lama, si kembar telah keluar dan Pamela pun segera keluar dari mobilnya. Tiba-tiba ...
Brug!
"Aduh! Kalau jalan lihat-lihat dong!" kesal Pamela sambil memegang sikunya yang terasa sakit karena dia mendarat di jalan yang beraspal.
"Sorry, sorry nggak sengaja," ucap laki-laki itu yang membuat Pamela bertambah kesal. Gimana nggak kesal coba, laki-laki yang menabraknya sampai jatuh itu adalah Bimo.
"Bimo! Ngapain kamu disini?" tanya Pamela sambil berusaha bangun dari posisinya.
"Menurutmu?"
"Aku yang jemput si kembar hari ini. Aku sudah bilang ke Raisa," ucap Pamela.
"Aku juga udah minta izin ke Edgar buat jemput si kembar. Aku bahkan sudah minta izin untuk mengajak mereka jalan-jalan."
"Mana boleh begitu."
"Ya boleh lah, orang udah izin sama papi mereka."
Suara Mia menyadarkan keduanya kalau si kembar sudah ada di depan mereka.
"Nggak kok sayang, Aunty sama Om Bimo nggak berantem kok. Iya kan, Om?"
Pamela memberikan kode ke Bimo untuk kongkalikong dengannya.
"Iya, kami nggak berantem kok."
"Masa sih? Kok aku nggak percaya ya?" Kia mulai bersuara sambil memperhatikan Pamela dan Bimo.
"Jadi siapa yang akan nganterin kami berdua pulang hari ini?" tanya Kia.
"Aunty."
"Om Bimo."
Pamela dan Bimo menjawab bersamaan membuat Mia dan Kia sedikit kesal.
"Ih, Bimo! Aku duluan yang datang kesini? Jadi aku yang bakalan jemput mereka. Udah kamu pulang aja."
__ADS_1
"Enak aja mana bisa begitu."
Ketika Bimo dan Pamela memperebutkan siapa yang akan mengantar si kembar pulang, si kembar malah saling bisik-bisik.
"Orang dewasa itu emang aneh ya Kia. Tadi bilangnya mereka nggak berantem, tapi sekarang mulai lagi. Sikap sama mulut sangat berbeda."
"Iya, emang aneh. Tapi jadi kelihatan lucu, Mia. Kaya anak kecil yang lagi memperebutkan sesuatu. Daripada kita tenangkan, mending nonton aja sampe selesai."
"Ide bagus."
Bimo dan Pamela masih terus saja berdebat, sampai keduanya pada akhirnya berhenti.
"Lah, kok udah selesai? Kan seru liatnya," ucap Mia.
Pamela jadi mengerucutkan bibirnya. Kemudian wanita itu bertanya ke si kembar mau sama siapa pulangnya.
"Pilih Aunty Lala atau Om Bimo?"
Si kembar langsung lihat-lihatan untuk menyatukan pilihan.
"Kenapa nggak dua-duanya aja. Kita kan jadi bisa jalan-jalan lagi kaya waktu itu."
"Ayo, Om emang mau ngajak jalan-jalan kalian berdua. Soalnya suntuk banget sama kerjaan."
Mia langsung menyambut uluran tangan Bimo. Pada akhirnya keduanya pergi ke tempat bermain dengan Mia di mobil Bimo dan Kia di mobil Pamela. Supaya salah satu tidak iri.
Sesampainya di tempat bermain. Si kembar mengajak Pamela dan Bimo untuk ikutan bermain. Kedua orang itu pun menurut saja, karena memang mereka bertemu si kembar untuk saling menghilangkan penatnya.
Tanpa sadar disana mereka tertawa bersama. Bahkan sampai lupa kalau keduanya adalah rival dalam hal merebut hati si kembar.
"Kia, Aunty Lala sama Om Bimo serasi banget. Kayanya kalau kita bantu mempersatukan mereka, bakalan bagus deh. Mami sama Papi aja jadi bersatu lagi."
"Iya, bener banget Mia. Lumayan kita jadi punya banyak Om. Apalagi Om Bimo ini kalau soal duit, nggak pelit sama sekali. Apa yang kita mau, selalu dibeliin, hihi. Sama banget kaya Aunty Lala. Beda sama Mami yang suka perhitungan begitu juga dengan Om Roni. Kalau Papi sih asal kita suka, dia beli."
Mia mengangguk setuju dengan ucapan Kia.
"Kalian lagi membicarakan apa?" tanya Pamela ke si kembar.
"Nggak ada kok Aunty, cuma lagi cari cara buat nyatuin kucing sama anjing."
Pamela tidak sadar, apa yang disebutkan Kia itu mengarah ke dirinya dan Bimo.
*
*
__ADS_1
TBC
Jangan lupa komentar dan bunganya guys.