
Hari demi hari telah berlalu, minggu demi minggu pun telah berganti. Hari pernikahan Edgar dan Raisa semakin dekat. Kabar itu pun tak luput dari pendengaran Tamara. Tamara yang memang belum sepenuhnya melupakan masih merasakan sakit di dalam hatinya. Hanya saja dari luarnya, Tamara tak menunjukkan itu.
"Tam, kamu nggak papa?" tanya Jena yang ingin memastikan keadaan Tamara. Kalau Tamara merasa tidak baik, dia akan mengantar ulang jadwal Tamara.
"I'm okay. Setiap hari kabarku selalu baik-baik saja."
"Maksud aku, hati kamu baik-baik aja? Pasti kamu sudah mendengar beritanya kalau Edgar akan menikah. Tentunya kamu sudah bisa menebak dengan siapanya, walaupun di dalam berita belum disebutkan siapa wanitanya."
Tamara hanya tersenyum tipis.
"Lantas kalau aku bilang hatiku tidak baik-baik aja, aku harus gimana, Jen? Aku tetap harus menjalani hidupku, kan? Tenang, aku bisa mengatur hatiku jadi semua pekerjaan tidak perlu kamu atur ulang. Karena kalau aku diam aja yang ada malah terus kepikiran."
Jena benar-benar kagum dengan Tamara. Sebagai seorang aktris dia selalu tampil ceria dan paripurna meski hati terkoyak-koyak.
Aku berharap, kamu akan segera mendapatkan pengganti Edgar, Tam.
Sama halnya dengan Bian, laki-laki itu pun sama patah hatinya seperti Tamara. Dia memang sudah menyerah untuk mendapatkan Raisa. Tapi, di hati kecilnya tetap saja ada rasa sedih ketika tahu berita itu.
Pak Baskoro menepuk pundak Bian sambil berkata, "Mati satu tumbuh seribu. Mungkin sekarang kamu emang gagal, tapi bisa saja beberapa hari atau bulan kemudian, banyak wanita yang mengantre untuk jadi calon istri kamu. Tetap semangat!"
*
*
Di saat dua hati terluka, ada dua hati lain yang sedang berbahagia. Edgar dan Raisa kini tengah melakukan fitting gaun pernikahan. Kalau dulu mereka hanya berdua, kini ditemani oleh si kembar.
Si kembar dipersilahkan memilih gaun yang mereka inginkan. Bahkan si kembar sudah mencoba beberapa gaun. Tapi masih belum menemukan yang mereka sukai, lebih tepatnya Mia lah yang paling sulit untuk memilih sendiri.
"Mi, aku bingung pilih yang mana. Semuanya bagus-bagus."
"Pilih yang kamu sukai aja."
"Kalau semuanya aku suka gimana Mi?"
"Ya udah ambil semua aja," ucap Edgar dengan mudahnya.
"Jangan dengerin Papi. Nanti Mami bantu pilihin ya, setelah Mami selesai pilih gaun untuk Mami."
"Oke Mi."
Raisa pun menjatuhkan pilihan pada gaun tanpa lengan yang menutupi dada. Sekali pilih, Edgar langsung setuju karena memang pilihan Raisa selalu sesuai dengan selera Edgar. Setelah itu, Raisa membantu Mia untuk memilih gaunnya.
__ADS_1
"Kalau menurut Mami, gaun ini sangat cocok untuk kamu."
"Beneran Mi? Aku akan terlihat cantik kan kalau pakai ini?"
"Kamus selalu cantik di mata Mami."
"Gimana Pi?" tanya Mia meminta pendapat Edgar.
"Pilihan Mami itu nggak pernah salah sayang. Gaun itu emang cocok buat kamu."
"Ribet banget cuma soal gaun doang. Padahal cuma sekali pakai aja," celetuk Kia yang sudah tidak betah berada disana.
"Mia kapan pulangnya? Aku mau nonton kartun kesukaanku. Kalau kesorean keburu abis Mi."
"Iya sebentar lagi kita akan pulang kok."
"Dasar kartun terus tontonan nya."
"Yee, kamu juga sama, Barbie terus."
Keduanya jadi beradu mulut yang membuat Raisa jadi pusing dan malu sendiri.
"Maaf Mi," ucap keduanya yang merasa bersalah.
*
*
Raisa dan si kembar sudah sampai di depan rumah mereka. Mereka masuk ke dalam rumah begitu juga dengan Edgar. Di dalam rumah sudah ada Roni yang sedang nonton berita. Kia langsung mendekat ke Roni dan mengambil remote televisi untuk mengganti saluran televisinya. Sayangnya, kartun kesayangannya telah selesai dan sudah ganti dengan acara lain.
Kia kecewa, tapi ya mau gimana lagi.
"Udah nggak papa, besok juga ada lagi," ucap Roni untuk menenangkan Kia.
"Tapi kan besok mah lanjutannya Om. Aku nggak akan bisa lihat yang episode hari ini," ucap Kia lagi dengan wajah sedihnya.
Kia pun berjalan ke dalam kamarnya dengan lesu lalu disusul oleh Mia yang mencoba menghibur kembarannya.
Kini tinggallah tiga orang dewasa disana. Saling memandang tanpa kata lalu pada akhirnya Edgar mulai bersuara.
"Setelah Raisa menerima lamaranku, kita belum pernah bertemu lagi karena kamu jarang ada di rumah. Kali ini aku akan meminta izin lagi untuk menjaga kakak kamu."
__ADS_1
"Tanpa perlu meminta izin pun, aku selalu mengizinkan siapapun untuk dekat dengan Mba Raisa, Mas. Yang terpenting bagi aku adalah kebahagiaan Mba Raisa. Mas Edgar harus janji bukan cuma ke Mba Raisa aja tapi ke si kembar dan diri Mas juga kalau Mas nggak akan pernah membuat mereka terluka dan menangis. Kalau sampai itu terjadi, aku akan membawa mereka menjauh sejauh-jauhnya. Karena tidak akan ada lagi yang namanya kesempatan ketiga."
Ucapan Roni ini sudah termasuk ancaman dan peringatan pada Edgar agar tak melakukan hal yang sama lagi untuk kedua kalinya.
"Aku akan berusaha untuk membahagiakan mereka dan menebus waktu yang hilang tanpa aku."
"Semoga Mas selalu menjaga apa yang telah Mas Edgar ucapkan. Semoga lancar-lancar sampai hari H ya. Aku benar-benar senang melihat kalian bersama lagi."
Setelah badai berlalu, kini satu per satu warna pelangi mulai terlihat.
"Terima kasih Ron, kamu selalu menjaga dan melindungi Mba juga di kembar. Tanpa kamu Mba mungkin nggak bisa melewati ini semua."
"Kalau bicara terima kasih, aku yang sangat berterimakasih Mba. Mba adalah sosok ibu dan kakak di mataku selama ini. Mana tega aku biarkan Mba terpuruk terlalu lama. Kita sudah terbiasa dengan luka, tapi kita juga harus mulai terbiasa dengan rasa bahagia."
Raisa langsung memeluk Roni dan sedikit meneteskan air matanya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah tentang kehidupan adiknya nanti setelah dia sudah menjadi istri dari Edgar lagi.
"Mba nggak usah mikirin aku, aku sudah dewasa Mba. Tinggal sendirian pun tak masalah. Yang terpenting Mba jangan lupa untuk sering-sering mampir kesini atau menginap disini."
Raisa mengangguk sambil mengusap air matanya agar tak terlihat oleh Roni. Raisa pun melepaskan pelukannya.
"Apa kamu mau tinggal bareng lagi aja sama Mba? Keluarga Edgar tidak akan keberatan kalau kamu tinggal bersama lagi seperti dulu."
Roni langsung menggeleng.
"Mba sudah menemukan keluarga kecil Mba sendiri. Jadi, aku juga akan mencari keluarga kecilku sendiri. Seperti yang sering Mba perintahkan."
Seketika Raisa langsung jadi mode detektif ke arah Roni.
"Kamu udah punya pacar?"
Roni menggeleng.
"Belum Mba, aku masih jomblo seratus persen."
Seketika wajah Raisa langsung berubah kecewa. Dia pikir adiknya sudah punya pacar, padahal Raisa benar-benar menantikan adiknya membawa wanita ke hadapannya.
*
*
TBC
__ADS_1