
Waktu demi waktu telah berlalu, acara pentas seni di sekolah si kembar pun sudah tiba waktunya. Tak hanya Edgar dan Raisa saja yang datang, rupanya Roni, Mama Ola pun ikut datang juga. Mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan di depan panggung.
Si kembar yang berada di belakang panggung terlihat sangat gugup. Keduanya menyiapkan diri dan mental mereka sebelum acara pentas seni di mulai.
Acara dimulai dengan beberapa penampilan nyanyi, tarian dan juga puisi, lalu dilanjutkan dengan drama bawang putih dan bawang merah.
Di kursi penonton, Raisa tersenyum bangga kepada si kembar. Bahkan rasanya dia ingin menangis saja disana. Namun, dia sadar dimana dia berada sekarang.
"Akting mereka bagus, entah turunan dari siapa," ucap Edgar.
"Dari kamu lah, kata Mama pas kecil kamu juga suka akting, cuma pas besarnya aja jadi pindah haluan."
Edgar tertawa kecil, ternyata Raisa sudah tahu dari Mama Ola. Padahal tadinya dia mau meledek Raisa tapi malah nggak jadi.
"Setelah pentas selesai, aku mau kasih hadiah untuk mereka. Boleh kan?" tanya Edgar meminta izin dulu ke Raisa.
"Iya boleh kok."
Acara pun selesai, beberapa murid dan orang tuanya sudah banyak yang pulang dari sekolah. Hanya tersisa beberapa murid dan orang tua di sekolah salah satunya ya si kembar dan keluarganya.
"Karena kalian sudah menampilkan yang terbaik dan buat Mami hampir nangis, awww!"
Edgar tiba-tiba merintih kesakitan karena dicubit lengannya oleh Raisa.
"Ayo kita rayakan, kita makan sama-sama di restoran tempat Mami kalian bekerja dulu. Nanti silahkan pesan apapun yang kalian mau sebagai hadiahnya."
"Hore!! Makasih Pi," jawab si kembar bersamaan.
"Sama-sama sayang."
Si kembar pun berjalan lebih dulu di depan Raisa dan Edgar sedangkan Raisa masih menatap kesal ke Edgar.
"Kamu kenapa bilang kaya tadi di depan si kembar?"
"Loh, kan emang bener. Nggak salah, kan?"
"Ih, tetap aja nggak boleh."
"Udah sih nggak usah gengsi-gengsian. Nangis di depan anak itu nggak papa juga kali. Lagian kamu nangis bukan karena sedih tapi karena bangga. Mereka pasti senang kalau alasannya itu."
"Iya." Raisa hanya menjawabnya dengan singkat.
__ADS_1
*
*
Edgar memesan ruangan tertutup yang ada di restoran itu. Mereka dilayani langsung oleh Rani dan Kendra sesuai permintaan Raisa.
Mia malah pamer ke Rani dan Kendra kalau dirinya habis pentas drama di sekolah. Bahkan Mia menunjukkan video yang direkam oleh Roni dan memperlihatkan ke Rani dan Kendra.
"Aku pinter akting kan Om, Tan, lihat saja, ketika aku besar nantinya aku mau jadi aktris terkenal."
"Iya jago banget. Tante dukung kalau kamu mau jadi aktris. Tante akan jadi fans garis keras pokoknya."
"Thank you Tante."
"Kamu nggak mau memuji diri sendiri juga?" tanya Kendra ke Kia.
"Buat apa? Aku udah tahu kualitasku, aku tidak perlu mendapatkan pujian dari orang. Emangnya Mia yang haus pujian," jawab Kia sambil meledek Mia.
Mia langsung menatap tajam ke arah Kia.
"Sudah, sudah, kalian ini, jangan berdebat terus. Ayo makan," ucap Raisa melerai Mia dan Kia.
Makan-makan di hari itu berjalan dengan baik. Si kembar pun terlihat senang karena bisa makan apapun yang mereka sukai.
"Iya sayang."
"Oma diajak nggak?"
"Diajak dong Oma, sekalian kita aja Opa dan Oma uyut juga. Pokoknya aku suka kalau lagi rame. Karena biasanya sepi terus. Makanya selama ini aku suka berulah dan membuat Kia kesal, hehe."
Edgar dan Mama Ola menggelengkan kepalanya. Sikap Mia itu sama persis ketika Edgar kecil dulu yang suka mengerjai Elsa.
"Om pulang duluan ya, ada pekerjaan yang harus Om lakukan di rumah," pamit Roni
"Yah, padahal aku mau mengajak Om ke rumah lagi. Mau nunjukin mainan-mainanku."
"Kapan-kapan aja ya? Om janji bakalan ke rumah kalian lagi."
"Em, iya deh."
"Aku pamit dulu."
__ADS_1
Roni pun pergi meninggalkan semua orang. Mama Ola pun pergi dengan supirnya sementara Edgar, Raisa dan si kembar akan mampir ke taman bermain lebih dulu.
*
*
Pamela datang ke rumah orang tuanya dengan membawa Bimo. Dia memutuskan untuk menerima tawaran Bimo sebagai kekasih pura-puranya. Lagipula dia memang tak punya pilihan dan tak bisa mencari orang lain lagi.
"Pokoknya nanti kamu jawab aja sesuai yang aku kasih tahu. Jangan berlebihan dan jangan buat papaku marah. Kalau dia marah ataupun kesal, pasti dia tidak akan percaya dan merestui kita."
"Kamu meragukanku? Aku sudah berpengalaman dalam urusan seperti ini, Pamela. Kebanyakan orang tua sangat menyukai aku dan berharap aku akan jadi menantu mereka. Tenang saja, orang tua kamu pasti akan menyukai aku."
"Jangan terlalu percaya diri, orang tuaku tidak seperti kebanyakan orang tua di luar sana yang menyukai wajah menantu tampan dan kaya. Mereka lebih suka laki-laki yang bertanggungjawab dan pekerja keras. Tampan dan kaya itu bonus."
Pamela pun membuka pintu rumahnya. Dia mulai bersandiwara ketika pintu terbuka. Pamela menggandeng tangan Bimo dan membawanya ke hadapan orang tuanya.
Papa Pamela melihat laki-laki yang dibawa putrinya itu. Bukannya bertanya nama, Papa Pamela malah bertanya tentang pekerjaan.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Papa Pamela.
"CEO di perusahaan keluarga Om."
Papa Pamela tersenyum kecut.
"Jadi kamu memilih laki-laki yang yang bisa menjabat di perusahaan keluarganya sendiri? Lantas kalau dia bukan dari keluarga kaya apa iya dia akan jadi CEO? Carilah yang berjuang dari nol atas usahanya sendiri Pamela. Hidup itu keras, kalau dia dari kecil sudah bergantung pada kekayaan yang dimiliki keluarga. Percuma, dia tidak bisa apa-apa nantinya."
Jleb!
Baru kali ini Bimo mendapatkan penilaian seperti itu dari seseorang. Rasanya dia ingin marah dan kesal karena apa yang diucapkan oleh Papanya Pamela tidaklah benar. Dia mampu jadi CEO juga karena usahanya sendiri ya meskipun ada sedikit previlage dari orang tuanya.
"Pa, Bimo tidak seperti itu. Makanya papa kenali dia dulu. Jangan hanya menilai orang dari asumsi papa sendiri. Intinya aku datang untuk menolak perjodohan itu. Aku sudah punya kekasih Pa."
"Kamu yakin dia bisa membahagiakan kamu? Gimana kalau nantinya dia jauh miskin? Apa iya kamu akan membiayainya dengan uangmu? Dari tampangnya saja, papa yakin dia ini bukan orang yang bekerja keras. Tampilannya seperti orang yang suka seenaknya sendiri. Orang seperti itu tidak cocok dengan kepribadian kamu, yang ada kamu akan selalu bertengkar. Kamu itu butuh seseorang yang mampu mengatur tingkah lakumu."
"Pokoknya aku tidak mau berpisah dari Bimo. Papa harus segera batalkan perjodohan itu. Papa sudah berjanji padaku waktu itu."
"Papa akan batalkan perjodohan itu, tapi bukan berarti papa merestui hubungan kalian berdua."
Papa Pamela pergi dari hadapan Pamela. Bimo masih merasa tercengang. Ternyata apa yang diucapkan Pamela benar. Orang tua Pamela tidak seperti kebanyakan orang tua yang ditemuinya.
*
__ADS_1
*
TBC