
Keesokan harinya, Pamela berkunjung ke kediaman Gautama. Wanita itu hendak menceritakan masalahnya.
Raisa memilih untuk mendengarkan cerita Pamela di taman yang ada di samping rumah. Suasana yang tenang dan ada angin yang berhembus akan membuat pikiran jadi jernih dan bisa bercerita dengan lancar.
"Aku harus gimana? Perjodohanku emang sudah dibatalkan, tapi papaku tidak menyukai Bimo. Kalau sampai berminggu-minggu Bimo tak mampu menaklukan hati papa. Bisa-bisa aku dijodohkan lagi dengan kandidat baru. Haaah, pusing aku, Sa," curhat Pamela sambil menyandarkan kepalanya di pohon besar yang ada disana.
"Kamu dan Bimo memangnya berpacaran?" tanya Raisa yang memang belum dikasih tahu.
Pamela menepuk keningnya sendiri karena lupa kalau dirinya memang belum cerita tentang pacaran pura-puranya dengan Bimo di depan orang tuanya. Lalu Pamela pun menceritakan semuanya ke Raisa.
"Daripada pura-pura kenapa nggak pacaran beneran aja? Lagipula kalian sama-sama jomblo."
"Ya ampun Sa, Bimo itu walaupun jomblo gebetannya dimana-mana terus tampang ganteng plus kaya dia aja ditolak oleh papaku. Gimana jadinya kalau papaku tahu dia itu playboy kelas kakap? Bakalan langsung dibalcklist dari kandidat Sa."
"Ya aku tahu sih. Tapi kalau bagi kamu sendiri tanpa melihat papa kamu, kamu mau sama Bimo?" tanya Raisa lagi yang penasaran.
Pamela mengangkat bahunya seolah menjawab tidak tahu.
"Tuh, kamu aja kaya gitu kalau ditanya. Papa kamu itu menjodohkan kamu karena mengingat usia kamu sudah nggak muda, La. Udah jadi perawan tua. Usia kamu itu udah 38 La. Sudah lebih dari cukup, malah tua banget buat menikah. Coba deh, kamu mulai memikirkan itu."
"Haahhhh."
Pamela menarik napasnya dalam-dalam.
"Aku benar-benar nggak tertarik untuk berhubungan dengan pria. Karena aku sudah bisa segalanya. Cari uang bisa, ngurus diriku sendiri bisa. Pokoknya sendiri pun aku mampu. Kenapa coba harus ada yang namanya pernikahan? Kalau pada akhirnya banyak pasangan yang bercerai?"
"Ya, kamu memang bisa melakukan segalanya sendirian, tapi kalau mau punya anak, kamu butuh laki-laki, La. Emang kamu mau sendiri terus sampai tua? Nggak mau punya anak dari darah daging kamu sendiri? Hampa nanti kamu di hari tua."
Pamela cuma bisa manyun mendengar perkataan Raisa. Kalau dipikir-pikir ya bener juga apa yang diucapkan Raisa.
"Tau lah, aku nggak mau mikirin itu Sa. Mending hari ini kita jalan-jalan aja. Udah lama banget nggak pernah jalan-jalan berdua. Mumpung kamu udah nggak kerja dan si kembar masih sekolah. Yuk Keluar!" ajak Pamela yang langsung diiyakan oleh Raisa. Namun, tentu saja Raisa akan meminta izin dulu ke Edgar.
"Ini salah satu aku malas punya hubungan dengan laki-laki Sa. Harus minta izin kalau mau keluar. Keluar mah ya keluar aja."
Raisa hanya bisa geleng-geleng kepala. Ya wajar juga sih Pamela begitu, soalnya sudah sejak pas kuliah Pamela tinggal sendiri dan tak pernah minta izin kalau pergi ke kedua orang tuanya.
*
__ADS_1
*
Di kantor, Edgar kedatangan tamu yang tak diundang. Bimo tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Edgar dengan banyak pertanyaan yang dilontarkan laki-laki itu.
"Gar, emang aku kelihatan banget nggak bisa apa-apa kalau tanpa nama keluargaku?"
"Em ... "
Baru juga akan menjawab, Bimo sudah bertanya lagi.
"Kamu tahu kan, kalau aku ini pekerja keras dan bertanggungjawab?"
"Iya, kecuali soal wanita, kamu sangat-sangat tidak bertanggungjawab."
"Haaah."
Bimo menarik napasnya dalam-dalam.
"Baru kali ini, aku merasa rendah diri dan tertantang akan sesuatu. Aku tidak mau diremehkan."
"Papanya Pamela."
"Papanya Pamela?" Edgar mengucapkan kata yang diucapkan Bimo lagi karena merasa heran. Soalnya apa hubungannya Papanya Pamela dengan Bimo? Dekat saja dengan Pamela tidak.
"Aku sedang jadi pacar pura-pura Pamela untuk membatalkan perjodohan. Bukannya diterima oleh papanya Pamela. Aku malah diremehkan nggak bisa apa-apa kalau bukan karena nama keluargaku."
Seketika Edgar langsung tertawa karena merasa lucu. Baru kali ini seorang Bimo diremehkan dan uring-uringan seperti ini. Karena biasanya Bimo akan dipuji-puji karena kaya dan tampan.
"Jadi, tampangmu tidak berguna untuk mendapatkan restu dari papanya Pamela, haha. Sepertinya papanya Pamela memiliki kriteria tinggi untuk calon menantunya. Mengingat Pamela pun bukan orang sembarangan. Dia influencer terkenal."
Bimo mengerucutkan bibirnya karena kesal ke Edgar. Bukannya memberinya solusi, dia malah ditertawakan. Rasanya percuma saja curhat dengan Edgar. Mungkin seharunya ia mendatangi Levi saja, akan tetapi jika mengingat kelakuan Levi, pasti dirinya akan mendapatkan tanggapan yang lebih parah dari Edgar.
"Lagian nih ya, kan kalian itu cuma pura-pura. Jadi kenapa harus uring-uringan segala? Beda halnya kalau hubungan kamu dan Pamela emang beneran. Kamu kan pandai tuh berakting manis dan merebut hati para wanita. Coba saja tunjukkan ketulusan kamu ke Pamela di depan papanya Pamela. Setidak setujunya seorang ayah, kalau melihat anaknya bahagia dan dicintai dengan tulus, pasti pada akhirnya akan luluh juga."
"Masalahnya, gimana mau tulus? Aku saja nggak mencintai Pamela tuh! Aku cuma merasa tertantang aja mau naklukin papanya Pamela. Aku ingin dia mengakui kehebatanku."
"Lalu setelah papanya Pamela nanti merestui hubungan kamu dan Pamela yang cuma pura-pura itu dan kalian diminta untuk menikah. Kamu mau bagaimana? Mengiyakan atau menolaknya? Secara perasaan itu kan tidak ada. Yang ada kamu akan membuat papanya Pamela kecewa. Hati orang tua sebetulnya lembut, dia hanya terlihat keras di luarnya saja. Aku berkaca dari mamaku sendiri."
__ADS_1
Seketika Bimo langsung terdiam memikirkan perkataan yang diucapkan oleh Edgar.
"Tau lah, pusing kepalaku!" ucap Bimo sambil mengacak-acak rambutnya.
"Aku numpang tidur disini. Siapa tahu aja, dapat wangsit dari penunggu ruangan ini."
Tanpa mendapatkan jawaban iya dari Edgar, Bimo langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan Edgar. Laki-laki itu menutup matanya dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Bim, Bim, baru segitu aja kamu udah pusing. Gimana kalau kamu jadi aku? Banyak sekali masalah yang terjadi di dalam hidupku."
*
*
Tamara sedang beristirahat dari syutingnya. Ia meneguk minuman dingin lalu berjalan mencari Jena.
Wajahnya berubah masam ketika melihat Jena yang ternyata sedang mengobrol dengan Bian. Entah kenapa, dia dan Bian jadi sering bertemu seolah-olah Tuhan menakdirkan keduanya untuk bersama.
"Eh, Tam, kamu udah selesai syuting nya? Maaf ya, aku ninggalin kamu sendirian. Aku ada urusan, hehe," ucap Jena meminta maaf ke Tamara.
Tamara cuma mengangguk saja.
"Oh iya, aku mau kasih tahu sesuatu. Hari ini aku nggak bisa antar kamu pulang. Jadi, aku minta tolong ke Bian untuk antar kamu pulang."
"Hah? Kenapa harus dia? Lagian aku sendiri pun nggak papa, Jen."
Jena menggeleng.
"Nggak boleh Tam. Hari ini tuh syuting kamu selesainya malam. Kalau kamu pulang sendirian, bahaya. Pokoknya harus mau dan nggak usah nolak. Bian nya juga udah bersedia."
"Aku nggak bakalan menggigit kok," ucap Bian tiba-tiba yang membuat Tamara memalingkan wajahnya.
*
*
TBC
__ADS_1