Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 86


__ADS_3

Di hari itu, Raisa ditemani Mama Ola pergi ke psikiater yang dulu pernah membantu Raisa untuk berjuang dari traumanya.


"Lama nggak bertemu ya Raisa, mungkin sekitar 8 tahun lebih ya. Gimana kabar kamu sekarang?"


"Baik Dok," jawab Raisa.


Psikiater itu pun tampak tersenyum tipis.


"Kalau baik, kamu tak akan pernah datang lagi kesini. Ceritakan aja apa yang membuat kamu tak tenang. Saya akan selalu mendengarkan."


Raisa pun menceritakan tentang semua kecemasan yang dialaminya selama ini. Kecemasan tentang masa lalunya yang bisa saja membuat keluarga Edgar jadi down usahanya. Kecemasan dia yang tak bisa mendidik dan membesarkan si kembar dengan baik, dan kecemasan-kecemasan lainnya.


"Kamu tahu, rasa cemas dan takut itu harus dilawan. Kalau kamu hanya diam di tempat saja, tak akan merubah apapun. Lawan semua ketakutan kamu sedikit demi sedikit. Saya ingat betul dulu kamu pernah cerita takut memiliki seorang anak. Tapi, apa buktinya sekarang, kamu bahkan sudah memiliki anak, bahkan bukan cuma satu melainkan dua. Itu artinya kamu sudah berhasil melawan satu ketakutan kamu, tinggal melawan ketakutan kamu yang lainnya."


Raisa terdiam sambil mendengarkan ucapan psikiaternya.


"Sejujurnya, menurut saya, kamu sudah hampir sembuh dari semua luka yang kamu miliki, buktinya tanpa kamu pergi ke psikiater pun kamu masih bisa hidup dengan tenang. Jadi, intinya lawan dan lepaskan semuanya. Perlahan-lahan saja."


Sesi pertemuan dengan psikiater pun selesai. Di perjalanan, Mama Ola menggenggam tangan Raisa.


"Mama percaya, kamu akan bisa melepaskan semua rasa sakit itu. Jangan takut lagi."


"Terima kasih Ma," ucap Raisa.


Mama Ola pun mengangguk.


*


*


Hujan mengguyur kota dengan derasnya. Pamela yang semula ingin berkunjung ke kediaman Gautama pun harus menepi lebih dulu ke sebuah restoran daripada terjadi sesuatu yang buruk di jalan.


Tanpa disangka, disana ada Bimo juga yang menepi. Bimo malah memilih untuk duduk satu meja dengan Pamela.


"Ngapain kesini?" tanya Pamela dengan ketus.


"Galak banget! Inget loh aku tuh masih pacar kamu," ucap Bimo mengingatkan.


"Cuma pura-pura," ucap Pamela mengingatkan.


"Tetap aja di mata papa kamu, tidak begitu. Jadi kapan kita ke rumah papa kamu lagi?"


Pamela mengangkat bahunya tidak tahu.


"Ayolah, aku akan perlihatkan betapa pintarnya aku mengurus bisnis. Aku akan buktikan kalau aku itu berbakat dan punya value bukan cuma ngandelin nama besar keluarga doang."


"Nggak sekalian kamu pamer seberapa banyak mantan pacarmu?"


"Aku jamin, kalau sikap kamu terus seperti ini. Nggak bakalan ada cowok yang mau. Kamu akan jadi perawan tua seumur hidup kamu, Pamela."

__ADS_1


Ucapan Bimo tersebut lantas membuat Pamela kesal dan memukul lengan Bimo yang ada di meja.


"Kalau bicara tuh jangan sembarangan."


"Nggak loh, itu kan nyata."


"Dasar nggak sadar diri! Kamu aja belum menikah sampai sekarang."


"Setidaknya aku udah nggak perjaka lagi, aku udah ngerasain cewek, aww ... "


Mulut Bimo langsung ditabok oleh Pamela karena bicaranya tanpa filter.


"Kamu bangga dengan kamu yang udah nggak perjaka itu? Wow! Dasar laki-laki aneh!"


Pamela pun berdiri dari duduknya karena melihat hujan yang sepertinya sudah mereda. Ia pun membayar pesanan minuman dan pergi dari sana.


"Ternyata nggak cuma bapaknya aja yang sulit ditaklukan, anaknya juga," ucap Bimo sambil melihat Pamela yang masuk ke dalam mobilnya lalu perlahan-lahan menghilang dari penglihatannya.


*


*


"Aunty Lala!" teriak si kembar ketika melihat Pamela yang datang ke rumah.


"Hai, gadis-gadis kecil Aunty yang cantik. Kangen nggak?"


"Kangen banget Aunty!" jawab si kembar bersamaan.


Pamela mengeluarkan dua buah bingkisan untuk si kembar. Si kembar tampak senang dan langsung membawa hadiah itu masuk ke dalam kamar mereka.


"Kamu masih aja suka beliin mereka barang mahal La. Padahal sudah aku kata-"


Ucapan Raisa terpotong karena Pamela tak mau mendengarkan ceramah dari Raisa.


"Udah ya, jangan banyak melarang ya Raisa. Mereka aja seneng kok."


Raisa menarik napasnya dengan kasar.


"Sebentar lagi si kembar kan akan berulang tahun yang ke 8, kamu akan menyiapkan apa untuk mereka?" tanya Pamela.


"Ya seperti biasanya. Biasanya juga cuma nasi kuning aja sama tiup lilin."


Pamela menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapan Raisa.


"Sekali-kali kamu harus rayakan secara besar-besaran ulang tahun mereka. Apalagi keluarga Edgar pun pasti ingin yang mewah untuk mereka. Nggak bisa dong, kalau cuma nasi kuning sama lilin aja. Semuanya sudah berubah Sa. Kamu harus bisa beradaptasi lagi."


"Tapi, aku nggak ingin kalau nantinya mereka terlena dengan kemewahan, La. Aku ingin mereka tetap jadi orang yang sederhana meskipun bergelimang harta. Karena bagiku attitude lebih penting."


"Ya, ya, aku tahu keinginanmu, tapi sesekali itu nggak papa. Aku yakin kok, mereka itu cukup tahu. Apalagi mereka itu dewasa sebelum waktunya."

__ADS_1


"Lihat saja nanti deh, aku juga belum bicarakan ini dengan keluarga Edgar."


Pamela mengangguk. Kedua sahabat itu masih terus mengobrol bersama sampai ketika Edgar dan Bimo datang ke rumah.


Wajah Pamela langsung dibuat kesal melihat Bimo lagi.


"Kenapa dari banyaknya tempat, aku harus ketemu dia lagi disini sih?" gumam Pamela.


"Duduk dulu, Bim. Aku mau ganti baju dulu sebentar," ucap Edgar yang langsung memeluk istrinya yang lagi duduk dan pamit ke kamar.


"Kamu ada urusan apa Bim sama Edgar?" tanya Raisa.


"Urusan negara, Ra. Aku nggak bisa cerita, hehe," jawab Bimo dengan memperlihatkan deretan giginya.


"Heleh, palingan juga minta rekomendasi cewek cantik, atau nggak lagi mau ajak suami kamu ke bar, Ra."


Bimo langsung membantah mentah-mentah ucapan Pamela.


"Jangan percaya ucapan Pamela, Ra. Ini murni urusan negara bukan urusan wanita. Kita juga mau bicara di rumah kok, nggak keluar, tenang aja."


Raisa pun percaya. Karena semenjak menikah, Edgar lebih banyak mengabaikan waktunya di rumah setelah pulang kerja.


"Masalah pacaran pura-pura kalian gimana? Masih berlanjut?" tanya Raisa tiba-tiba.


"Masih dong," jawab Bimo dengan tanpa malu-malu.


"Kenapa nggak pacaran beneran aja sih kalian berdua?"


"Ogah!" jawab Pamela.


"Hati-hati nanti jawabannya berubah," ucap Bimo dengan sedikit senyum yang terangkat.


"Jangan sampe," ucap Pamela yang tidak mau.


"Benci sama cinta itu katanya beda tipis loh," ucap Bimo lagi yang membuat Pamela melempar bantal ke Bimo.


"Jangan asal bicara. Kita berdua itu saling bersebrangan. Jangan ngadi-ngadi deh."


Raisa yang cuma jadi penyimak disana hanya bisa geleng-geleng kepala. Sepertinya bakalan lucu kalau keduanya benar-benar jadi pasangan yang sesungguhnya.


"Sa, kamu pungut dimana deh temen kaya dia ini? Di dalam got ya?"


Lagi-lagi Bimo dihantam bantal oleh Pamela. Keduanya pun berantem layaknya anak kecil.


"Terus Om, ayo pukul!" ucapan Mia itu lantas membuat Bimo dan Pamela pun menghentikan kegiatan mereka.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2