Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 57


__ADS_3

Tamara melakukan syuting seperti biasanya. Wanita itu selalu bekerja secara profesional meskipun pada kenyataannya, kisah cintanya kandas dan membuat dirinya patah hati. Hanya saja, patah hati bukan alasan dirinya harus meratapi kegagalan cintanya.


"Terlalu banyak tersenyum dan ketawa itu nggak baik, tapi terlalu banyak bersedih juga nggak baik. Aku cuma ingin kamu jujur kalau lagi sedih ya keluarin kesedihan kamu. Kalau lagi senang, perlihatkan juga, jangan pura-pura senyum tapi sedih. Kalau seperti itu terus, aku bingung Tam. Bingung gimana cara bedain perasaan kamu yang sebenarnya."


"Nggak usah berusaha buat bedain mana perasaan aku yang sesungguhnya. Aku aja bingung sama diriku sendiri. Tapi, aku akan selalu melakukan yang terbaik dalam segala hal yang sudah aku pilih. Karena dikecewakan oleh orang yang kita percaya itu sakit, Jen. Sakit banget."


Tamara mengucapkan kata sakit sambil menaruh tangannya di depan dada. Ia memang sedang berusaha merelakan, tapi pada prosesnya, akan ada banyak fase yang ia jalani.


"Makanya, sudah aku saranin ketemu temanku dulu. Dia hampir sepadan lah sama Edgar."


"Stop buat kenalin siapapun sama aku, Jen. Biar aku fokus berkarier aja."


Jena menghela napasnya sambil meminta maaf di dalam hati ke ayah temannya.


Maaf Om, kayanya aku belum bisa bantuin Om cari jodoh buat anak Om.


*


*


Di kantor Edgar, laki-laki itu sudah bisa sedikit bernafas lega, karena sudah ada beberapa investor yang mau ikut berinvestasi di proyek yang dibuatnya. Padahal ia sudah pesimis karena dari pihak perusahaan papanya Tamara sudah keluar.


Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dengan sangat keras. Memunculkan Bimo dengan tampang bengis dan cueknya. Ia bahkan langsung duduk di sofa sebelum Edgar mempersilahkannya.


Edgar Langsung beranjak dari meja kerjanya dan menghampiri Bimo. Jujur, Edgar agak bingung dengan kedatangan Bimo ke kantornya. Tapi di dalam lubuk hatinya, ia sangat berharap perseteruannya dengan Bimo bisa segera berakhir dan Bimo memahami keputusan yang diambilnya. Bukan hanya karena cintanya yang memang masih utuh untuk Raisa, melainkan ada dua hati lainnya yang harus ia lindungi.


"Tak banyak berubah setelah beberapa waktu lalu aku kesini. Aku kira kamu akan segera bangkrut," ucap Bimo asal.


"Sebangkrut-bangkrutnya aku nantinya, aku akan tetap bisa berjuang."


"Ya, karena begitulah sifatmu, Gar. Berjuang untuk sesuatu yang pantas diperjuangkan," ucap Bimo.


"Kamu sudah tak marah lagi?" tanya Edgar tiba-tiba karena ia sudah gatal ingin bertanya itu.


"Pada akhirnya aku sadar, cinta tak harus memiliki, tapi di atas cinta itu sendiri, aku memiliki persahabatan yang jauh lebih berharga. Mana mau aku kehilangan sahabat seperti kamu. Cinta mah bisa aku dapatkan dengan mudah, tapi sahabat? Kamu tahu sendiri lah aku seperti apa orangnya. Aku tak mudah percaya dengan orang."


Edgar pun langsung tersenyum mendengarnya. Ternyata apa yang dikatakan Levi memang benar. Bimo pasti akan mudah mencari gebetan baru.

__ADS_1


"Tapi, bisa kali ya, aku gebet si Tamara, hihi," celetuk Bimo sambil tertawa kecil.


Dengan cepat, Edgar langsung melempar pulpen ke arah Bimo.


"Kalau cuma buat main-main jangan cari wanita baik-baik, aku nggak setuju. Tamara sudah sakit hati olehku, kalau kamu hanya ingin dekat lalu mencampakkannya, lebih baik jangan. Tamara sudah aku anggap seperti adikku sendiri yang harus aku jaga."


"Ceilah, becanda kali."


"Terkadang becanda mu suka kelewatan, Bim."


"Mending lah, daripada kamu, yang sekarang udah ada bibit brengseknya. Awas aja kalau kamu sampai nggak jadi balik lagi dengan Raisa. Bakal aku pelet terus dia. Soalnya janda lebih menggoda."


Nyali Bimo langsung menciut ketika mendapatkan lirikan tajam dari Edgar.


"Becanda, Gar. Becanda. Ya elah, serius amat sih, heran deh!"


"Jangan becanda soal perasaan, Bim."


"Iya, iya. Sebenarnya aku kesini tuh cuma mau bilang kalau aku sudah menyerah dan aku juga ingin membantumu. Enak aja cuma si Levi doang yang nanam modal disini, aku juga mau. Kali aja lima tahun ke depan aku jadi direkturnya, ahay. Jadi kaya melimpah deh!"


"Nih!"


Edgar menyerahkan proposal ke Bimo. Bimo tampak membacanya dengan seksama sambil mengamati isi tiap halamannya.


"Deal, aku akan menginvestasikan uangku untuk proyek ini. Cuma orang bodoh yang nggak mau nyumbangin duitnya ke proyek ini. Aku yakin dalam jangka waktu satu sampai dua tahun, proyek ini akan jadi besar."


"Semoga, aku pun berharap demikian. Terima kasih sudah percaya."


Bimo mengangguk, lalu menaikan satu kaki dengan posisi menyilang.


"Ngomong-ngomong, sampai saat ini, kamu belum pernah kenalin anak-anak kamu ke aku dan Levi. Kapan bisa bertemu mereka? Aku penasaran, mereka lebih mirip Raisa atau kamu dalam hal sikap. Kalau dari wajah dan garis wajah aku sudah tahu jawabannya."


"Aku akan cari tempat dulu, karena sangat tidak mungkin aku mengajak anak-anakku ke tempat nongkrong kita."


Seketika Bimo langsung tertawa, ya benar juga. Masa iya, Bimo memperlihatkan sikap tak terpujinya di hadapan anak kecil yang masih imut-imut di dan pikirannya masih polos itu.


"Kalau sampai kamu melakukan itu, fix kamu ayah yang buruk!"

__ADS_1


Edgar mendengus sebal.


"Aku akan kasih informasi waktu dan tempatnya. Kamu dan Levi hanya tinggal datang aja."


"Oke deh kalau gitu."


Bimo pun berdiri dari duduknya begitu juga dengan Edgar. Sebelum berpamitan pergi, Bimo dan Edgar saling memeluk tanda persahabatan mereka telah kembali.


*


*


Semenjak berbaikan dengan Mama Ola, wanita paruh baya itu, sekarang jadi penjemput sekolah tetap dari si kembar. Terkadang ia langsung membawa si kembar ke rumah Raisa, atau jalan-jalan ke mall, atau kadang dibawa ke kediaman Gautama. Seperti saat ini, si kembar sedang bercanda Ria dengan Mama Ola di kediaman Gautama.


"Hihi, Oma kaya badut, haha." Mia terus tertawa karena melihat wajah Mama Ola yang dipenuhi dengan coretan spidol di wajahnya.


Ya, mereka tadi bermain dan yang kalah mendapatkan coretan, dan Mama Ola lah sang pemenang coretan itu karena terus menerus kalah bermain.


Tapi Mama Ola tidak sedih, ia malah senang karena cucu-cucunya terlihat senang, apalagi tawa renyah mereka membuat hidupnya jadi berwarna lagi.


"Oma, Oma, gimana kalau liburannya ke Korea Selatan aja. Mumpung lagi musim dingin, pasti lagi banyak saljunya," usul Mia.


"Menurut kamu gimana Kia?"


"Nggak tahu Oma, belum kepikiran. Tapi ide Mia boleh juga."


Ketiga orang itu pun langsung merencanakan sesuatu agar Raisa dan Edgar bisa bersatu kembali. Mereka masih terus tertawa dan saling bercanda satu sama lainnya. Oma Deli yang melihat pemandangan itu dari luar pun tak kuasa menahan tangisnya.


"Tanpa kamu keluarga ini memang tidak akan lengkap, Ca. Apalagi ditambah dengan kehadiran si kembar yang penuh keceriaan. Keluarga ini akan semakin dilimpahi kebahagiaan. Oma akan selalu berdoa yang terbaik."


*


*


TBC


Komentar sebanyak-banyaknya ya guys!

__ADS_1


__ADS_2