Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 61


__ADS_3

Sinar mentari menyapa Raisa di pagi harinya. Ia bangun dan membangunkan si kembar untuk mandi. Setelah mereka bergantian untuk mandi, mereka pun keluar dari kamar dan telah menemukan Oma Deli sudah duduk di meja makan. Raisa mendekat dan duduk di sebelah Oma Deli, sementara si kembar pergi ke kamar Edgar untuk membangunkan papi mereka.


"Oma sudah bangun rupanya, aku pikir masih belum ada yang bangun, karena memang ini masih pagi sekali. Apalagi, meskipun ini di area dekat pantai, cuacanya sangat dingin."


"Oma sudah terbiasa bangun pagi karena kebiasaan ketika kamu masih tinggal bersama keluarga Gautama. Oma bahkan masih melakukan aktivitas pagi yang kamu rekomendasikan dulu. Oma selalu menjaga pola makan dan tak lupa menyempatkan waktu untuk berjalan kaki minimal 30 menit sehari. Karena apa yang kamu sarankan ke Oma, rasanya tubuh Oma jadi semakin segar dan masih kuat sampai sekarang. Oma benar-benar bersyukur atas itu. Padahal teman-teman Oma yang seumuran, untuk berjalan aja mereka sudah bungkuk, bahkan ada yang sudah pakai kursi roda."


Mendengar hal itu dari Oma Deli, Raisa jadi ikut bersyukur karena Oma Deli diberi kesehatan yang di umurnya yang sudah tua renta.


"Kamu tahu, Ca? Semua orang di rumah, tak ada yang berani menyebut nama kamu setelah kamu berpisah dengan Edgar. Kamu tahu kenapa?"


Raisa spontan langsung menggeleng.


"Bukan karena benci, tapi karena takut tidak bisa menjalani hidup tanpa kamu. Terutama mamanya Edgar, karena sesuatu bila sering diingat dan disebutkan, akan terus teringat orangnya, kenangannya, dan semua tentangnya."


Mata Raisa sudah berair mendengarkan penjelasan dari Oma Deli. Ia benar-benar telah salah sangka pada Mama Ola. Ternyata benar, jangan selalu menyimpulkan dari sesuatu yang terlihat saja, karena pada kenyataannya, yang terlihat belum tentu apa yang terjadi sebenarnya.


Karena pada dasarnya, apa yang dirasakan itu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan dari sebuah kata saja bisa ditafsirkan dengan berbagai makna. Maka dari itu, butuh kepekaan dan pemahaman untuk bisa dimengerti.


"Harapan Oma cuma satu, hanya ingin kamu kembali ke keluarga ini. Jadi pelengkap di keluarga kami."

__ADS_1


Raisa langsung terdiam. Ucapan Oma Deli seolah membebani pikiran dan hatinya. Raisa begitu menyayangi Oma Deli, begitu juga dengan keluarga Edgar yang lainnya. Hanya saja, keputusan untuk kembali, sama sekali belum terpikirkan oleh Raisa.


"Jangan buru-buru menyimpulkan apa yang kamu rasakan sekarang. Kamu bisa memikirkan ulang dengan matang. Jangan merasa terbebani dengan ucapan Oma juga. Karena itu hanya harapan Oma, yang kalau terwujud Oma akan bahagia, dan jika tidak terwujud, mungkin itu sudah takdir dari Tuhan. Lagipula, kamu akan tetap jadi cucu Oma."


Raisa tak mampu berkata-kata. Ia langsung memeluk Oma Deli sebagai ungkapan rasa sayangnya. Pernah berada di dalam keluarga Edgar memang salah satu keberuntungan yang sangat indah bagi Raisa tetapi juga kemalangan yang menyakitkan.


Mama Ola muncul dengan masih mengenakan piyama tidurnya. Ia mengajak Raisa untuk berjalan-jalan di pagi hari di sekitaran pantai. Raisa pun setuju.


Kedua wanita berbeda usia itu berjalan di pantai tanpa mengenakan alas kaki. Kaki mereka langsung bersentuhan dengan pasir putih di pantai itu. Ombak yang menggulung membuat laut tampak indah.


"Pantai mengingatkan mama ketika dulu kamu menangis sambil menceritakan semua luka yang kamu alami. Awalnya mama memang tak begitu menyukai kamu ketika Edgar membawa kamu, tapi entah kenapa, hati kecil mama selalu berkata, 'Peluk dia, sayangi dia, wanita ini butuh seseorang untuk menyembuhkan lukanya.' Kamu terlihat menyedihkan, dan mama tak tahan untuk tidak memelukmu dan memberikan kasih sayang untuk kamu. Apa sekarang kamu masih suka ketakutan dan panik akan sesuatu seperti dulu?"


Mama Ola menaruh tangannya di bahu Raisa.


"Setelah ini, Mama janji akan menghilangkan semua rasa sakit yang kamu alami dan menggantinya dengan ingatan-ingatan yang indah. Apa selama ini kamu suka pergi ke psikiater?"


Raisa pun spontan menggeleng.


"Terakhir kalinya aku ke psikiater adalah ketika usia si kembar menginjak satu tahun. Karena aku sadar, aku tidak memiliki uang yang cukup nantinya untuk membesarkan si kembar. Walaupun aku juga tahu, kesehatan mentalku pun sangat penting untuk tumbuh kembang si kembar nantinya. Karena ibu yang sehat akan membuat anak sehat, dan ibu yang bahagia akan membuat anak pun bahagia."

__ADS_1


Mama Ola benar-benar bangga ke Raisa. Mungkin hidup Raisa memang tidak beruntung memiliki ibu yang jahat, tapi si kembar benar-benar beruntung memiliki ibu seperti Raisa. Karena dari rasa sakit yang Raisa alami, Raisa jadi memiliki banyak wawasan dan pembelajaran.


"Selain membutuhkan ibu yang sehat dan bahagia, anak juga butuh keluarga yang utuh dan harmonis. Mama tahu kalau seorang ibu itu bisa jadi sosok ibu dan ayah sekaligus. Tapi, jelas akan beda hasilnya jika diberikan oleh ayahnya secara langsung. Beri Edgar kesempatan kedua, Ca. Kalau yang kali ini dia melakukan kebodohan lagi, mama akan pecat dia jadi anak."


Raisa terdiam cukup lama. Sudah ada tiga orang termasuk Mama Ola yang meminta dirinya untuk kembali bersama Edgar. Namun, hatinya sama sekali belum goyah sedikit pun.


Di saat Raisa ingin menanggapi ucapan Mama Ola, Mama Ola malah melarangnya. Mungkin wanita paruh baya itu sudah bisa menebak apa jawabannya. Makanya di lebih memilih untuk tidak mendengar daripada merasa kecewa.


"Pikirkan baik-baik, jangan langsung menjawabnya."


Kedua wanita itu pun pergi dari pantai sambil bergandengan tangan. Tanpa mereka berdua ketahui, Edgar mengamati keduanya dari jendela vila. Meski tak mendengar apa yang dibicarakan keduanya, tapi Edgar benar-benar bersyukur hubungan Mama Ola dan Raisa telah kembali.


"Aku tidak akan melakukan kebodohan lagi, aku akan berjanji pada diriku sendiri."


*


*


TBC

__ADS_1


Yuk komentar sebanyak-banyaknya, jangan lupa kasih kembang ya guys.


__ADS_2