
Di hari itu, si kembar di jemput oleh Mama Ola di sekolahnya. Raut wajah Mia seketika bersedih, membuat Mama Ola jadi kebingungan sendiri. Kalau raut wajah Kia sih memang setiap harinya begitu.
"Mia kenapa Kia?" tanya Mama Ola.
"Pengen punya adik Oma. Gara-gara teman-teman di kelas ada yang pamer foto adiknya dan menceritakan betapa senangnya punya adik. Padahal aku malah kerepotan," ucap Kia dengan jujurnya.
"Ya ampun, ada-ada aja deh. Ya udah masuk mobil gih. Mami kalian di rumah lagi nyiapin menu makan siang yang enak."
Kia mengangguk kemudian masuk mobil dan duduk di samping Mia yang terus memalingkan wajahnya.
"Sudah aku bilang, punya adik itu nggak semuanya bikin senang. Kamu harus rela berbagi banyak hal sama dia."
"Diam kamu Larisa!"
Ya begitulah Mia ketika marah pasti akan memanggil nama belakang dari Kia.
Mama Ola yang melihat itu semua pun jadi menghela napasnya. Seolah-olah ia teringat lagi masa kecil Elsa yang sama seperti Mia yang suka merajuk.
"Jalan Pak," pinta Mama Ola ke supirnya.
*
*
Raisa sudah menyajikan menu makan siang di atas meja makan. Dia kini sedang duduk menunggu si kembar pulang di ruang tamu. Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah, Raisa sudah bisa menebak bahwa itu mobil yang menjemput si kembar.
Raisa mulai berdiri untuk menyambut kepulangan si kembar dari sekolahnya.
"Mami! Aku mau punya adik!" teriak Mia yang baru saja membuka pintu rumah.
"Ya ampun Mia, jangan teriak-teriak sayang. Nggak bagus," ucap Raisa menasehati.
"Iya, maaf Mi, tapi aku beneran ingin punya adik. Telingaku rasanya bosan banget, teman-teman di kelas ceritanya tentang adik mereka terus. Aku kan nggak punya adik, jadi nggak bisa ikut pamer juga. Aku iri Mi."
Raisa menggelengkan kepalanya lalu mensejajarkan tingginya dengan Mia.
"Jangan pernah iri dengan apa yang orang lain punya sayang. Kamu tahu, jadi kakak itu banyak sekali tanggungjawabnya. Kamu harus menjaga adik kamu, memberikan contoh yang baik untuk adik kamu, dan jangan biarkan dia melanggar aturan yang ada di dalam rumah. Emang udah sanggup? Mia aja masih suka ngomel-ngomel kalau kakak Kia menasehati."
Seketika Mia jadi terdiam memikirkan perkataan Raisa.
"Tuh dengerin ucapan Mami! Jadi orang tuh jangan sukanya ikut-ikutan yang lagi rame di luar. Kamu aja masih manja, mana bisa jadi kakak. Yang ada adik kita nantinya nggak keurus gara-gara kamu yang terlalu manja," ucap Kia yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan Mama Ola.
Mia mendengus sebal lalu berlari masuk ke dalam kamarnya. Ketika Raisa hendak mengejar, Kia melarang.
"Udah Mi, nggak usah dikejar. Nanti juga dia baikan sendiri. Kalau sampai malam masih begitu, tenang aja aku yang tangani."
"Terima kasih ya sayang. Untung ada kamu."
__ADS_1
Kia mengangguk lalu memeluk Raisa sebentar dan masuk ke dalam kamarnya.
Mama Ola menepuk pundak Raisa pelan. Lalu membantunya untuk berdiri dan duduk di sofa ruang tamu.
"Anak kecil emang begitu. Jangan terlalu dipikirkan keinginan Mia. Walau sejujurnya mama pun menginginkan cucu lagi, tapi mama tidak akan memaksa kamu. Kamu lebih penting, mama tidak ingin membuat kamu tertekan lagi."
"Makasih Ma, makasih sudah mau mengerti. Aku bukannya tidak mau memiliki anak lagi, hanya saja, bayang-bayang ketika dulu aku mengandung mereka selalu terlihat jelas di kepalaku. Aku takut jadi khawatir berlebihan yang pada akhirnya akan membahayakan anakku sendiri."
"Iya mama paham."
*
*
Malam harinya, suasana makan malam terasa sepi karena Mia yang masih tak mau bicara, sampai pada akhirnya Edgar yang turun tangan sendiri.
"Kenapa, hm? Kayanya dari tadi Papi lihatnya wajah kamu jelek banget. Senyumnya hilang."
"Ih, Papi! Aku tuh cantik tahu."
"Lebih cantik lagi kalau wajahnya nggak usah ditekuk begitu."
"Iya Pi," jawab Mia.
"Emangnya ada apa?" tanya Edgar yang sebenarnya sudah tahu dari Raisa. Hanya saja dia ingin mendengarkan langsung dari Mia.
"Tentu aja bisa," jawab Edgar yang membuat Mia jadi sedikit senang.
"Papi nggak bohong?" tanya Mia lagi takutnya Edgar berbohong.
"Emang kapan Papi bohong? Tapi ada banyak hal yang harus kamu lakukan."
"Apa Pi?" tanya Mia dengan antusiasnya.
"Kalau ingin punya adik, kamu harus belajar melakukan apapun sendiri. Jangan dikit-dikit manggil mami. Jangan tiba-tiba bikin heboh serumah. Harus belajar dari yang terkecil misalnya kalau habis pakai baju, minimal digantung kalau sekiranya masih bersih, atau langsung dimasukkan ke keranjang baju kotor kalau sekiranya emang udah kotor. Jangan ditaruh sembarangan."
"Emang harus ya Pi?" tanya Mia.
"Harus dong. Makanya dimulai dari sekarang harus belajar mandiri. Papi pun akan berjuang biar kamu punya adik."
"Terus kalau aku udah mandiri, kapan adiknya datang Pi?" tanya Mia lagi.
Sebetulnya Edgar pun bingung gimana menjelaskannya ke anak kecil. Tak mungkinkah dia menjelaskannya secara gamblang, yang ada Mia malah bingung.
"Sekitar 9 bulan lebih," jawab Edgar.
"Lama banget Pi."
__ADS_1
Wajah Mia langsung tertunduk lesu.
"Iya emang lama."
"Lalu kalau aku udah sabar nunggu selama 9 bulan itu, apa aku bisa langsung ajak main adik kecilnya nanti?"
Edgar menggeleng pelan.
"Masih terlalu kecil sayang. Mereka masih belum bisa apa-apa. Kamu juga pas kecil dulu begitu."
"Maaf ya Pi, kayanya aku terlalu banyak minta ya?"
Wajah Mia berubah jadi sedih lagi.
"Nggak sayang, itu wajar kok, tapi Mia harus ingat pesan papi tadi."
"Iya Pi, makasih ya Pi."
Edgar mengangguk lalu memeluk putri kecilnya itu.
Beberapa saat setelah bicara dengan Edgar, Mia berjalan menghampiri Raisa. Bahkan Mia langsung memeluk Raisa dari belakang.
"Forgive me Mi. Maaf aku udah diam terus sepanjang hari ini. Maaf buat Mami dan semuanya jadi khawatir. Aku nggak akan minta adik lagi, karena aku akan belajar dulu jadi kakak yang baik, terus abis itu baru minta adik."
Raisa melepaskan tangan kecil yang merengkuh tubuhnya lalu berbalik menghadap si kembar. Ia meraih wajah mungil itu dan mengusapnya.
"Mami maafkan, tapi lain kali kalau ngambek atau permintaannya nggak diturutin, jangan mendiamkan mami dan semuanya seperti ini lagi. Mengerti?"
"Mengerti Mi. Thanks Mi, Mami nggak marahin aku."
Raisa memeluk putri kecilnya itu lalu mengelus kepalanya.
Doakan Mami supaya sembuh sayang, dengan begitu Mami bisa kabulkan permintaan kalian secepatnya.
"Mami! Kok pelukannya cuma berdua? Aku ikut!" teriak Kia yang tiba-tiba ada disana.
"Sini sayang," pinta Raisa yang langsung disambut oleh Kia.
Jadilah mereka bertiga berpelukan. Pemandangan yang indah itu dilihat oleh Edgar dengan senyuman. Memang tak salah dia mengambil keputusan ini. Hidupnya jadi berwarna lagi karena kehadiran Raisa ditambah dengan kehadiran si kembar yang membuat warna itu semakin cerah.
*
*
TBC
Yuk banyakin komentarnya teman-teman. Biar aku jadi semangat updatenya
__ADS_1