Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 76


__ADS_3

Dengan dibantu oleh Levi, Edgar mengantarkan Tamara pulang ke rumahnya setelah wanita itu mabuk berat. Hampir 5 menit mengetuk pintu, tak kunjung dibukakan pintu dari dalam. Ya wajar juga sih, pasti orang di rumah Tamara sudah terlelap semua. Mana lampu di dalam sudah mati seluruhnya.


"Lama banget, nggak ada yang bukain, Gar. Bawa dia ke apartemennya aja deh," saran Levi ke Edgar.


Edgar menolak, karena kalau di apartemen, Asti tidak ada yang mengurus Tamara. Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah dari dalam, pintu pun terbuka. Bukan pelayan di rumah itu yang membuka melainkan mama Tamara sendiri.


Edgar sempat gugup karena takut dituduh yang tidak-tidak, tapi Levi dengan inisiatifnya malah langsung menjelaskan apa yang terjadi kepada mamanya Tamara.


"Terima kasih karena kalian sudah membawa Tamara pulang ke rumah. Kalau nggak ada kalian, Tante nggak tahu gimana nasib Tamara disana."


Edgar benar-benar bersyukur mamanya Tamara tidak marah. Mereka pun akhirnya berpamitan setelah mengantarkan Tamara pulang akan tetapi, Edgar dipanggil yang membuat Edgar membalikkan tubuhnya.


"Tante tahu kamu laki-laki yang baik, tapi Tante mohon, jangan perlihatkan kepedulian kamu ke Tamara. Karena dengan kamu masih memperlihatkan kepedulian itu, bukannya membuat Tamara lupa, tapi semakin ingat dan bisa berharap lagi. Tamara sudah berusaha payah untuk melupakan kamu."


Edgar pun mengerti dan membalikkan tubuhnya lagi lalu berjalan ke mobil dan duduk di kursi kemudi. Dia melihat ke kursi belakang dimana Bimo sedang teler karena kebanyakan minum. Berbeda dengan Levi yang menatapnya penuh tanya.


"Mamanya Tamara bilang apa?"


"Hanya sekedar nasehat," jawab Edgar yang tak mau bicara panjang lebar.


*


*


Edgar telah sampai di kediamannya. Dia dan Levi memapah tubuh Bimo sampai masuk ke dalam kamar tamu. Tenaganya cukup terkuras habis, karen habis mengurus dua orang yang mabuk berat. Untungnya, Tamara tipe orang yang mabuknya adalah tidur, tidak seperti Bimo yang meracau tidak jelas dan bertingkah aneh.


Edgar membiarkan kedua temannya istirahat di ruang tamu. Tanpa disangka, Levi justru malah ikut keluar kamar dan mengajak Edgar bicara berdua di teras.


"Kenapa keluar? Harusnya langsung tidur aja."


"Aku butuh udara segar untuk memulihkan mabuk ku," jawab Levi.


Ya sebetulnya Levi juga mabuk, tapi cuma sedikit. Jadi kesadarannya masih dia miliki walau tidak sepenuhnya.


"Aku buatkan air madu sebentar," ucap Edgar lalu pergi ke dapur.


Tak lama, Edgar pun membawa segelas air madu hangat untuk meredakan mabuknya Levi. Levi langsung meminumnya dalam beberapa kali tegukan.


"Aku punya satu pertanyaan untuk kamu."


"Apa?"

__ADS_1


"Kepedulian mu kepada Tamara bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan, kan?"


Edgar tertawa kecil. Dia kira Levi mau bertanya apa, rupanya itu.


"Seharusnya kamu tahu dan bisa menebaknya sendiri. Aku hanya menggila pada Raisa."


"Aku lega. Aku takut kamu benar-benar jadi penerus Bimo selanjutnya. Ingat Gar, kamu satu-satunya pria baik di antara kita bertiga. Jangan sampai julukan itu tiba-tiba sirna karena ulah kamu sendiri."


*


*


Sarapan di pagi hari jadi ramai karena ketambahan dua personil yaitu Bimo dan Levi. Apalagi kalau urusan bicara manis, Bimo lah ahlinya. Laki-laki itu terus memuji Oma Deli yang masih terlihat cantik walaupun sudah sangat tua sekali.


"Jangan dengerin dia Oma. Mulutnya manis banget," ucap Edgar menasehati Oma Deli.


"Nggak papa, kalau sudah tua-tua begini, Oma juga mau dipuji, biarlah itu tidak sesuai kenyataan tapi buat hati Oma senang."


"Dengerin tuh Gar. Pujian itu tetap harus diberikan. Betul kan, Oma?"


Oma Deli mengangguk.


"Sabar, ini lagi menikmati dulu. Kerja mah bisa dibawa santai aja," jawab Bimo lalu menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


Sarapan pun berlalu, Levi dan Bimo sudah pergi dari rumahnya dengan mengenakan pakaiannya dulu. Sementara Edgar masih belum berangkat ke kantornya karena masih merapihkan berkas-berkas yang harus ia bawa ke kantor. Mendekati hari pernikahan, Edgar jadi semakin banyak pekerjaannya. Ya karena kalau mau libur panjang, Edgar harus mengerjakan pekerjaan untuk satu minggu ke depan.


*


*


Hari pernikahan semakin dekat bahkan hitungannya dalam satuan jam. Raisa begitu gugup menantikan hari esok. Walaupun ia sudah pernah menikah, tapi tetap saja, rasanya masih sama seperti dulu, bahkan gugupnya pun sama.


Pamela yang malam itu menginap di rumah Raisa mencoba membantu Raisa menghilangkan rasa gugup yang dialami oleh Raisa.


"Nih minum dulu, biar pas bangun langsung glowing," ucap Pamela yang sebetulnya minuman yang Pamela berikan cuma vitamin biasa.


Ya namanya juga orang gugup, kadang otak itu tak bisa berpikir dengan jernih bahkan cenderung halu.


"Kontrol emosi dalam diri kamu. Tarik napas, buang, tarik napas, buang," ucap Pamela sambil mempraktekannya.


"Masih gugup juga?"

__ADS_1


Sontak saja Raisa langsung mengangguk.


"Udah mending tidur aja. Biar rasa gugupnya hilang," saran Pamela.


"Saking gugupnya aku tuh nggak bisa tidur, La. Gimana ini? Masa iya di hari pernikahanku, mataku bengkak dan menghitam karena kurang tidur."


"Dipaksa Ra, harus dipaksa. Coba tutup mata dulu."


Raisa pun menuruti apa yang diucapkan oleh Pamela, tapi tetap saja rasanya dia tak bisa mengangguk dan tidur.


"Coba lagi Ra."


Pamela masih terus meminta Raisa untuk tidur. Sampai pada akhirnya Raisa pun berhasil tidur dengan memakai penutup mata.


Esok harinya, pagi-pagi sekali, Pamela membawa si kembar dan Raisa ke gedung tempat pernikahan Raisa dan Edgar akan dilangsungkan. Mereka langsung masuk ke ruangan yang sudah disewa khusus untuk ruangan make up Raisa dan yang lainnya.


Raisa tak pernah menyangka dirinya akan didandani jadi pengantin sampai dua kali. Padahal sebelumnya, dia tak pernah berharap ke sebuah pernikahan sama sekali. Kehadiran Edgar dalam hidupnya benar-benar merubah semuanya.


"Wow, Mami cantik banget!" puji Mia yang baru saja keluar dari ruang ganti untuk mengamankan gaunnya.


"Iya Mami cantik banget, aku hampir saja tidak mengenali kalau itu adalah Mami," ucap Kia membenarkan pujian Mia.


"Terima kasih sayang, kalian juga cantik apalagi dengan mengenakan gaun itu. Jadi keliatan kaya princess."


Tentu saja dipuji seperti itu membuat Mia sangat senang. Beda dengan Kia yang terlihat biasa saja.


"Anak-anak ayo duduk disini, Aunty akan merias wajah kalian biar tambah cantik dan menggemaskan."


Mia langsung mendekatkan diri ke Pamela. Gadis kecil itu sudah siap untuk dirias wajahnya.


"Jadiin aku kaya princess ya Aunty."


"Siap laksanakan!"


Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Raisa pun akan keluar dari persembunyiannya dan menampilkan betapa cantiknya dia ke para tamu undangan yang hadir dan pada tujuan utamanya yaitu Edgar.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2