Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 69


__ADS_3

Siang itu yang menjemput si kembar adalah Edgar. Edgar tak langsung membawa si kembar pulang ke rumah, melainkan membawa mereka ke kantornya.


Setelah tiba di kantor Edgar, si kembar benar-benar takjub dengan gedung yang menjulang tinggi ke langit.


"Pi, ini beneran tempat kerja Papi? Gede banget. Aku sampe nggak bisa berkedip. Beda banget sama tempat kerja Mami yang cuma dua lantai doang."


"Iya bener, apalagi ini gedungnya tinggi banget. Berapa lantai Pi?" tanya Kia.


"Ada 7 lantai sayang. Ruangan Papi ada di lantai 7 nya. Kalian mau lihat?"


"Boleh emangnya Pi?" tanya Mia.


"Tentu aja boleh. Apa sih yang nggak boleh buat anak-anak kesayangan Papi."


Keduanya pun tersenyum senang. Si kembar masuk ke dalam gedung dengan digandeng tangannya oleh Edgar. Semua karyawan langsung tertuju ke dua gadis kecil yang bersama dengan Edgar. Soalnya setahu mereka Edgar tidak memiliki anak dan keponakan Edgar pun laki-laki bukan perempuan. Lantai siapa dia gadis kecil itu? Apalagi wajahnya mirip dengan Edgar.


"Perhatian semuanya."


Edgar mulai bersuara, laki-laki itu hendak mengumumkan kalau si kembar adalah anak-anaknya. Tak lupa, sebelum itu Edgar meminta karyawannya terlebih dulu untuk berkumpul disana. Sampai hampir seluruh karyawan berkumpul, Edgar baru mengumumkannya.


"Kalian lihat dua gadis kecil yang sedang saya gandeng kan? Mereka adalah gadis-gadis kecil saya. Anak kandung saya."


Suasana disana mulai riuh dan tak percaya. Gimana bisa Edgar duda tanpa anak memiliki anak? Beberapa dari mereka saling bertanya-tanya anak dari wanita mana dua gadis kecil itu.


"Mereka adalah anak dari mantan istri saya. Saya tidak tahu kalau ternyata mantan istri saya mengandung ketika kami bercerai dulu. Intinya kalau kalian melihat anak-anak saya berkeliaran di gedung ini. Tolong perlakukan keduanya dengan baik. Karena kalau kalian sekali aja membuat mereka terluka bahkan menangis, ganjarannya adalah dipecat. Saya tidak peduli selama apa kalian bekerja disini, atau sebagus apa pekerjaan kalian. Paham!?"


"Paham Pak!" jawab semuanya bersamaan.

__ADS_1


"Coba kenalkan diri kalian semua ke karyawan Papi."


"Oke Pi," jawab si kembar bersamaan.


"Halo om dan tante-tante semua. Aku anaknya Papi Edgar. Namaku Mialisa Anggika, panggil aja Mia. Oh iya, kenalin ini kakakku namanya Kiana Larisa. Kami adalah kembar, aku tahu pasti om dan tante sulit membedakan kami kalau dari wajah. Tapi tenang aja sikap kami berbeda kok. Aku lebih cerewet dan Kia lebih ke kaya kulkas karena banyak diamnya. Sekian, terima kasih," ucap Mia diakhiri dengan senyuman termanisnya.


Beberapa karyawan mulai gemas dengan keimutan dan paras cantik dari si kembar. Apalagi perlakuan Edgar ke anaknya itu bapakable banget. Sangat berbeda dengan mode Edgar yang adalah seorang bos.


Setelah memberikan pengumuman itu, Edgar langsung membawa si kembar ke ruangannya.


Bisik-bisik kekaguman para karyawan ke dua gadis kecil terus terdengar di sepanjang kantor.


Katanya si kembar imut, lucu, gemesin. Bahkan sampai ada yang menduga-duga kalau batalnya pernikahan Edgar karena hadirnya dua gadis kecil itu. Tapi itu hanya asumsi orang saja. Bahkan mereka pun tak mampu bertanya tentang kebenaran itu ke Edgar karena takut dipecat.


Yang masih jadi misteri bagi mereka adalah wajah dari mantan istri Edgar yang tak pernah diperlihatkan sama sekali.


*


*


"Belum, belum pernah sama sekali Mami kalian masuk ke ruangan Papi. Paling Mami kalian cuma sampai depan gedung aja."


"Kenapa? Kok belum pernah masuk Pi?"


Kini yang bertanya adalah Kia.


"Karena Mami kalian sendiri yang nggak mau," jawab Edgar.

__ADS_1


Padahal yang sebenarnya terjadi, Raisa yang dulu, tak ingin diperkenalkan kepada karyawan Edgar. Bahkan dia tak mau wajahnya diperlihatkan di media perusahaan sama sekali. Raisa ingin jadi istri Edgar yang wajahnya tak dikenali oleh orang sama sekali kecuali keluarga edgar itu sendiri. Karena apa? Karena Raisa takut akan perkataan orang-orang terhadapnya. Lebih baik tak jadi pusat perhatian demi hidupnya daripada jadi pusat perhatian tapi membuatnya terus tertekan. Dan untungnya, keluarga Edgar tak keberatan akan hal itu.


"Pi, kalau nanti Mami dan Papi bersama lagi. Kita tinggalnya dimana? Apa di rumah yang kami tinggali bersama Mami?" tanya Kia.


"Ya enggak dong sayang. Kita akan tinggal di rumah kita sendiri. Mungkin untuk sementara kita tinggal di rumah Oma dan Opa dulu sampai Papi nemu rumah yang bagus."


"Apa Mami akan tetap bekerja Pi?" Kini giliran Mia yang bertanya.


"Masalah itu, terserah Mami kalian aja. Papi menurut aja."


"Aku ingin Mami di rumah aja, biar Papi yang kerja. Selama ini Mami selalu bekerja keras buat cari uang untuk kami bahkan sampai pulang malam. Mami selalu membatasi apapun yang kami inginkan, karena selain karena keuangan Mami, Mami juga mengajarkan apa artinya berhemat. Makanya terkadang aku dan Mia selalu minta apapun ke Aunty Lala. Karena dia pasti akan kabulkan apapun keinginan kami. Cuma kasian juga, kadang Aunty Lala suka dimarahin sama Mami juga. Intinya, aku dan Mia inginnya Mami di rumah. Biar pas kami pulang sekolah, kami tak cuma berdua di rumah tapi ada Mami juga."


Mendengar curahan hati anaknya itu, Edgar jari terenyuh. Mungkin si kembar tak mampu mengeluarkan isi hati mereka langsung ke Raisa karena takut Raisa bersedih. Apalagi kalau mereka mengucapkan ingin Mami mereka di rumah aja, lantas siapa yang cari uang? Edgar merasa bersalah karena kenapa baru bertemu si kembar setelah delapan tahun berlalu.


"Maafkan Papi ya sayang. Maafin Papi yang datang sangat terlambat. Papi janji, Papi akan menebus waktu yang telah berlalu itu dengan banyaknya kebahagiaan. Kita akan jadi keluarga bahagia."


"Janji? Nggak bohong Pi?"


"Iya sayang, sini peluk Papi dulu."


Si kembar pun memeluk Edgar dengan sayang. Begitu pula dengan Edgar yang begitu menyayangi si kembar. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk jadi papi dan suami yang baik nantinya. Kejadian di masa lalu sudah membuatnya sadar kalau apa yang terbaik menurutnya belum tentu menjadi yang terbaik untuk orang lain. Sebuah keputusan tak bisa hanya diputuskan oleh satu pihak melainkan kedua belah pihak supaya tak ada lagi yang terluka.


Terima kasih kalian sudah hadir ke kehidupan Papi. Tanpa kalian, mungkin kisah Papi dan Mami benar-benar telah usai. Mungkin Papi akan menyesal seumur hidup Papi kalau teringat dengan Mami kalian. Kalian benar-benar jadi penyatu bagi Mami dan Papi.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2